
Prim mendengar ada suara langkah kaki dan langsung mengambil garpu rumput yang ada di sana lalu bersembunyi sembari mengecilkan nada dering ponselnya, di tengah ketakutan, Prim mematikan nada dering ponselnya dan memberitahu pada teman-temannya jika ia mendengar suara langkah kaki yang datang dan bersembunyi di dalam lemari, karena tidak tahu harus bersembunyi di mana lagi.
"Ada suara langkah kaki yang mendekat ke gw, gw ngumpet di dalam lemari, cepat kalian ke sini please! tolongin gw! gw takut banget!" notifikasi WhatsApp Prim. Jane dan Rima membaca notifikasi WhatsApp yang Prim kirimkan dan segera berlari.
Prim menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara sedikitpun, ternyata yang datang itu adalah Deep yang menggunakan jaket berlumuran darah dan membuka jaket itu lalu meletakkannya di sebuah kotak yang ia simpan di dalam lantai yang ternyata bisa terbuka dan tertutupi oleh kayu jati. beserta karpet merah. Semua lantai di rumah Deep memang tertutupi oleh karpet merah, namun sepertinya tidak ada satupun orang yang menginjak lantai itu, atau tidak ada yang menyadarinya jika lantai itu mengandung rahasia kotor Deep. Prim menyaksikannya sendiri di balik lubang kecil lemari itu, Prim mencoba merekam Deep dari celah kecil itu, namun ponselnya tidak dapat merekam video. Prim semakin panik dan ketakutan sampai akhirnya ia mendengar suara Jane dan Rima datang.
Prim memanfaatkan kesempatan itu untuk mengirimkan WhatsApp kepada kakak laki-lakinya yang merupakan seorang polisi yang bertugas di Indonesia setelah ia mengikuti beberapa ujian kepolisian di Indonesia karena sang kekasih merupakan orang Indonesia, makanya abang Prim sampai nekat jauh-jauh dari Canada ke Indonesia hanya demi melamar pekerjaan di Indonesia untuk bertemu dengan kekasihnya yang selama ini menjalani hubungan jarak jauh dengannya. Prim mengirimkan lokasi rumah Deep pada kakak laki-lakinya.
"Deep!" panggil Jane dan Rima kompak.
"Iya!" jawab Deep.
"Bang cepat ke sini, aku dan teman-temannya terjebak di rumah seorang psikopat! tolong bantu kita keluar dari sarang psikopat ini bang!" notifikasi WhatsApp dari Prim.
"Oke dek, kamu dan teman kamu tidak boleh berpencar, kalian harus tetap bersama, ya udah abang ke sana sekarang ya! jangan takut!"
"Iya bang!"
"Deep gw lapar nih! makan di luar yuk!" ajak Jane.
__ADS_1
"Ayok!" jawab Deep antusias karena memang ia mencintai Jane.
Kakak laki-laki Prim langsung mengajak polisi lain untuk menyelamatkan Prim adiknya dan juga teman-teman Prim dari kediaman Deep Akhtara.
Jane dan Rima berhasil mengajak pergi Deep ke luar, dan Prim pun segera ke luar dari persembunyiannya mengumpulkan bukti-bukti. Prim ingin membuka lantai tempat Deep menyimpan jaket berlumuran darah yang tadi ia pakai, namun ia mengingat perkataan kakaknya jika dia menyentuh tanpa sarung tangan akan meninggalkan sidik jarinya. Prim langsung mencari sarung tangan di sekelilingnya dan menemukan sarung tangan yang terbuat dari kain yang sangat tebal. Prim membukanya lalu mengambil video dan mengirimkannya pada kakak laki-lakinya beserta sobekan kain yang menyangkut di paku tadi. Kakak laki-lakinya langsung mengunduh barang bukti yang Prim kirimkan kepadanya. Prim menelusuri setiap sudut rumah Deep bahkan ia juga membuka garasi mobil Deep dengan membuka kuncinya menggunakan jepit rambut yang ia pakai dan betapa terkejutnya ia saat melihat kepala Acha dan Becky tergantung diantara beberapa kepala orang lain. Prim menguatkan dirinya dan segera mengambil video itu. Prim mengirimkan video itu kepada kakaknya lalu pergi sejauh mungkin dari kediaman Deep. Abang Prim yang melihat video kiriman Prim pun sontak terkejut jika adiknya benar-benar terperangkap di rumah psikopat. Prim yang berlari nyaris tertabrak oleh mobil abangnya dan untung saja teman abangnya mengerem tepat waktu sehingga Prim tidak tertabrak. Abang Prim segera turun bersama dengan rombongan polisi lain. Melihat kedatangan abangnya, sontak Prim yang ketakutan langsung memeluknya dan meneteskan air mata. Tubuh Prim bergetar hebat dan mengeluarkan keringat dingin, abangnya berusaha menenangkannya.
"Mending lu bawa adek lu pulang deh! kasian adek lu!" ucap salah satu rekannya.
"Iya! ayok dek!"
"Jane dan Rima masih bersama dengan Deep si pembunuh itu, mereka tengah pergi ke luar untuk makan bersama karena Jane dan Rima menolong ku yang berada di ruangan yang sama dengan Deep pada awalnya! tolong selamatkan Jane dan Rima ya! aku sudah kehilangan Acha dan Becky setelah psikopat itu membunuh mereka! rumah Deep psikopat itu ada di dalam sana, rumah paling mewah, paling besar dan paling bersih di sana, kalian telusuri saja jalan itu, rumahnya memang agak ke tengah, tapi mudah untuk ditemukan karena hanya rumah dia yang tertata dengan rapih dan bersih" ucap Prim dengan suara bergetar.
"Bang tolong kirim foto Jane sama Rima di hp ku ya! ambil aja hp nya di jaket ku!"
Abang Prim pun mengambil ponsel adiknya dan Prim memberitahukan mana foto Jane dan Rima. Abangnya mengirimkannya ke ponselnya sendiri lalu mengirimkannya pada rekan-rekannya.
"Ayok dek kita pulang!" ajak abangnya memapah Prim, namun Prim sudah tidak kuat lagi berdiri dan ia pun jatuh pingsan.
Abangnya segera menggendongnya dan membawanya ke rumah sakit, sementara rekan-rekannya berpencar mengumpulkan barang bukti fisik di rumah Deep sesuai dengan petunjuk yang Prim jelaskan pada mereka sebelum ia jatuh pingsan, sedangkan sisanya pergi mencari keberadaan Jane dan Rima sahabat dari Prim yang ikut bersama dengan Deep dan tidak tahu jika Deep benar-benar seorang psikopat sesuai dengan firasat Acha sebelum mereka masuk ke dalam rumah Deep.
__ADS_1
Mereka ditemani oleh dua rekan polisi menuju ke rumah sakit terdekat, namun pemukiman terbengkalai itu membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di jalan utama. Abang Prim nampak sangat khawatir dengan kondisi Prim dan masih terus membangunkannya dengan minyak kayu putih yang ia letakkan dibawah lubang hidung Prim.
Sesampainya di jalan utama, ternyata jalanan itu macet.
"Haduh pakai macet segala lagi!" gerutu Aaron.
"Gak macet, di depan lampu merah! lihatlah!"
Ketika sedang panik-paniknya, kendaraan yang ada di depan mulai berjalan. Kebetulan jalanan menuju rumah sakit tidak padat kendaraan, sehingga mereka bisa tiba lebih cepat di rumah sakit terdekat. Aaron menggendong Prim masuk ke dalam IGD rumah sakit. Suster segera memasang infus dan juga selang pernapasan untuk Prim dan dokter memeriksa kondisinya. Detak jantung Prim yang lemah membuat ia harus menggunakan alat kejut jantung dan juga memakai tabung oksigen. Detak jantung Prim kembali stabil yang membuat Aaron merasa lega melihat kondisi adiknya.
"Detak jantungnya sudah mulai stabil, tapi ada baiknya pasien jangan diganggu dulu, biarkan dia beristirahat, jika ingin menunggunya silakan saja, dan keluarga pasien bisa mengurus kamar ranap dulu untuk pasien, keluarganya yang mana ya? apa keluarganya ikut bersama kalian?" tanya dokter.
"Saya kakak kandungnya dok" jawab Aaron.
"Baiklah, mas bisa ikut saya biar saya beritahu prosedurnya, untuk rekan kerja mas mungkin bisa menjaga adik mas di ruangan ini saja, takutnya nanti adik mas kenapa-kenapa ditinggal sendirian"
"Gw titip adek gw ya! jangan ditinggal-tinggal pergi! awas aja lu pada sampai adek gw ditinggalin sendirian!" ancam Aaron menunjuk kedua rekannya.
"Iya! udah sana! kita tunggu di sini, gak ke mana-mana!" ucap salah satu rekan.
__ADS_1