Pain Is Art

Pain Is Art
Kerjasama Dua Psikopat


__ADS_3

"Assalamualaikum bi" ucap Deep mengetuk pintu kamarnya.


"Wa'alaikumsalam tuan, lho pak Rafly kemana tuan?"


"Entahlah, tadi dia pamit pergi, makanya tadi aku pulang sendiri"


"Oh gitu, gak tanggung jawab banget sih jadi orang! kurang ajar banget! masa atasan sendiri ditinggal sendirian begitu!" gerutu bi Rika.


"Sabar bi, lagipula orang itu juga telah pergi"


"Iya tuan"


"Astagfirullahaladzim, oh iya ada yang ketinggalan, tadi kan aku mau beli buat melukis ya, kenapa aku langsung pulang, haduh bodohnya! bi aku pamit ya bi, mau beli alat melukis, kelupaan soalnya tadi"


"Iya tuan"


"Assalamualaikum bi" ucap Deep yang langsung pergi berlari meninggalkan bi Rika.


"Wa'alaikumsalam tuan, hati-hati"


"Iya bi" ucap Deep menoleh ke belakang sembari berlari.


Deep membeli alat-alat yang akan ia gunakan untuk melukis korban-korbannya selama ia berada di pulau Bali. Deep kembali ke penginapan dan langsung melukis pak Rafly yang kini sudah menjadi kenangan.


"Tuan, bibi keluar sebentar ya, kan biasanya tuan kalau lagi melukis tidak mau ada yang menganggu, jadi bibi keluar aja ya tuan, biar tuan bisa lebih fokus melukisnya" ucap bi Rika tersenyum menatap Deep yang tengah melukis.


"Hm iya bi, makasih atas pengertiannya ya bi"


"Iya tuan, bibi pamit, assalamualaikum" ucap bi Rika tersenyum menganggukkan kepala.


"Iya bi, wa'alaikumsalam" jawab Deep tersenyum menatap bi Rika.


Bi Rika pergi berkeliling penginapan, sedangkan Deep melanjutkan lukisan pak Rafly.


Deep membuka galeri ponselnya dan menaruh ponselnya di penyangga kanvas sebagai acuan dia dalam melukis. Setelah beberapa jam melukis pak Rafly, kini lukisan itu telah selesai. Deep tersenyum dan memandangi hasil lukisannya serta mayat pak Rafly di ponselnya.

__ADS_1


Notifikasi WhatsApp masuk ke ponselnya.


"Permisi, saya ingin memberitahukan jika paket daging yang ada kirimkan melalui ekspedisi kami kini telah sampai di tempat tujuan yaitu "The Deep Restaurant" dan sudah diterima oleh "pak Data" selaku nama yang anda cantumkan" notifikasi WhatsApp dari nomor tak dikenal.


"Oke makasih" jawab Deep.


"Sama-sama" jawab kurir paket.


"Cepat sekali ya ekspedisi itu, baru beberapa jam pengiriman sudah langsung sampai saja, tapi bagus deh, kalau terlalu lama nanti takut kualitas daging itu memburuk, kalau memburuk kan sia-sia saja aku memotongnya jika tidak bisa aku gunakan" ucap Deep.


Tidak ada angin, tidak ada hujan, ekspresi wajah Deep berubah seketika. Deep menggeleng-gelengkan kepala seperti seseorang sedang kesurupan setan, wajahnya pun berubah memerah yang menandakan hasrat membunuh Deep kembali bangkit.


"ARgh!" teriak Deep yang langsung bangkit dari kursinya dan mengambil alat perkakas yang tadi ia gunakan untuk membunuh pak Rafly.


Deep mengunci pintu kamarnya dan membawa kunci kamar itu lalu pergi mencari korban selanjutnya, di tengah perjalanan, Deep kembali bertemu dengan pria yang tadi ia temui saat menuju ke kamarnya. Deep mengatur pernafasannya dan menghampiri pria itu.


"Kamu yang tadi bertemu denganku bukan?" tanya Deep tersenyum.


"Iya, ada apa ya?"


"Hm tidak apa, aku hanya ingin bertanya padamu, siapa tahu saja kamu tahu jawaban dari pertanyaan ku ini"


"Apa seseorang terlihat aneh ketika ia tersenyum dengan seseorang yang tidak ia kenal?" tanya Deep menatap pria itu.


"Hm tidak! kenapa kamu menanyakan hal itu padaku?"


"Hm tidak apa! lantas mengapa tadi kamu terlihat sangat aneh ketika aku tersenyum menatap mu?"


"Gawat! ternyata dia tahu!" batin pria itu yang mulai ketakutan.


"Ada apa? aku bertanya kepada mu, seharusnya kamu menjawab pertanyaan ku, bukan hanya terdiam seperti itu, aku butuh jawaban dari bibir indah mu itu! bicaralah! aku menunggu mu untuk menjawab pertanyaan ku!" ucap Deep tersenyum menepuk pundak pria itu.


Pria itu terkejut dan memundurkan langkahnya.


"Tidak perlu takut! aku hanya bertanya padamu bukan? apakah dimata indah mu itu, aku terlihat seperti monster bagimu? hingga kamu terlihat ketakutan seperti itu saat aku mendekati mu, aku hanya ingin teman bicara saja, aku baru ditempat ini, aku bukan orang asli sini, aku dari Jakarta, ya kan beda tempat pasti beda adatnya, jadi aku hanya ingin tahu lebih dalam lagi tentang tempat ini" ucap Deep tersenyum menatap pria itu.

__ADS_1


Pria itu menundukkan pandangannya karena tidak berani menatap senyum Deep yang nampak menyeramkan itu.


"Jika kamu takut bercerita denganku ditempat ini, maka ikutlah denganku, kita cari tempat yang sepi, agar kamu bisa jauh lebih leluasa dalam bercerita, ayok!" ajak Deep menarik tangan pria itu.


Pria itu diam mematung dan tidak mau ikut dengan Deep.


"Ada apa? kamu tidak ingin ikut denganku? sudah ku bilang padamu bukan? jika aku hanya menginginkan teman untuk berbicara saja, tidak lebih dari itu, atau kamu takut jika aku adalah penyuka sesama jenis begitu? tidak perlu takut! aku bukanlah orang yang mencintai orang sesama jenis denganku, ayok! ikutlah denganku, dan ceritakan kepadaku seindah apa Bali hm!" ucap Deep tersenyum menatap pria itu.


"Oke baiklah! aku akan ikut dengan mu, tapi jangan berani macam-macam padaku, atau kamu akan tahu apa akibatnya nanti!" ancam pria itu menunjuk Deep.


"Hm, oke baiklah!"


Lagi-lagi Deep berhasil menipu calon korbannya dengan kata-kata manis yang ia ucapkan.


Deep membawa pria itu ke hutan tempat ia membunuh pak Rafly dan juga tempat yang mempertemukannya dengan keluarga psikopat gila.


"Mengapa kamu membawaku ke hutan?" tanya pria itu.


"Lihatlah di sekeliling mu! tempat ini sangat sepi, dan cocok dijadikan tempat untuk kamu bercerita, ayolah! ceritakan padaku betapa indahnya tempat ini" pinta Deep tersenyum menatap pria itu.


Deep melihat keberadaan James yang bersembunyi di balik pohon yang tepat berada di belakang mereka. James tersenyum menatap Deep dan Deep mengedipkan mata sebagai kode untuk James. James yang mengerti pun langsung bersiap-siap untuk menarik tali. Ternyata James sudah merancang tempat itu untuk tempat yang akan mereka gunakan sebagai membunuh para korbannya. Pria itu pun terjerat jaring ke atas karena James menarik tali yang ia injak. Dibawah terdapat wadah yang sangat besar, sepertinya wadah itu yang akan mereka gunakan untuk menampung darah para korbannya.


"Turunkan talinya" pinta Deep menatap James.


James memberikan suntikan dan obat. Deep langsung menyuntikkan obat yang diberikan oleh James kepada pria itu, dan dalam sekejap pria itu pun tak sadarkan diri. Deep dibantu James melepaskan jeratan jaring itu dan mereka mulai memotong-motong, memisahkan daging dari kulitnya, dan kulit dari tulangnya. Setelah semua selesai, Deep mengemas potongan-potongan itu ke dalam sebuah wadah yang mirip seperti yang dijual di supermarket.


Deep mengolah darah pria itu hingga menjadi sirup manis yang lezat serta tidak berbau amis. Deep meminta James untuk mencobanya dan James pun tersenyum menganggukkan kepala yang menandakan jika ia suka dengan sirup buatan Deep.


Deep memasukkan sirup darah itu ke botol dan memberikan tiga botol pada James untuk dirinya, Zellyn istrinya, dan Sam anaknya.


"Ini untukmu, terimakasih telah banyak membantu ku" ucap Deep tersenyum memberikan tiga botol sirup darah pada James.


James tersenyum menganggukkan kepala dan berlari pergi dengan membawa tiga botol sirup darah.


"Dengan apa aku membawa ini semua?" tanya Deep melihat sekelilingnya.

__ADS_1


"Itu ada gerobak, aku pakai itu saja untuk membawa ini semua" ucap Deep yang langsung berlari menghampiri keberadaan gerobak itu.


Deep mendorong gerobak itu dan memakainya untuk membawa beberapa botol sirup darah, dan potongan-potongan daging, tulang, kulit, organ dalam pria itu.


__ADS_2