Pain Is Art

Pain Is Art
Deep Kembali Membunuh


__ADS_3

Pagi harinya Deep terbangun dan langsung membuka laptop miliknya. Deep tampak senang melihat namanya diterima di salah satu SMP Negeri.


"Alhamdulillah aku keterima di SMP Negeri" ucap Deep tersenyum dan bergegas untuk mandi.


Setelah selesai mandi, Deep turun ke bawah untuk sarapan dan mengajak bi Rika sebagai walinya karena Deep merupakan seorang anak yatim piatu.


"Pagi bi" sapa Deep tersenyum dan membalik piring.


"Pagi juga tuan" jawab bi Rika tersenyum menganggukkan kepala.


Anak buah Deep satu persatu datang untuk sarapan bersama.


"Tuan" sapa pak Zainal tersenyum menganggukkan kepala dan duduk di samping Deep.


"Iya pak" jawab Deep tersenyum dan menoleh ke sampingnya.


"Hm bi Rika, nanti habis sarapan temani saya ya ke sekolah, bibi bantu saya untuk mengurus berkas-berkas disana, untuk semua keperluan sudah saya siapkan, bibi mau kan menjadi wali saya?" tanya Deep.


"Mau tuan" jawab bi Rika tersenyum menganggukkan kepala.


"Ya udah makan bi, makan pak" ucap Deep tersenyum menganggukkan kepala menatap bi Rika dan para anak buahnya, satpam, serta tukang kebun di rumahnya.


"Iya tuan" jawab mereka kompak.


Tidak ada obrolan lagi di meja makan, mereka semua fokus untuk menghabiskan makanannya masing-masing.


"Hm pak Rudi, tolong keluarkan mobil ya, saya ke atas dulu untuk mengambil berkas-berkasnya, bi Rika siap-siap ya, pak Rudi juga, pak Rudi ikut dengan kami ya kesana" pinta Deep.


"Baik tuan" ucap pak Rudi tersenyum menganggukkan kepala.


Deep pergi ke kamarnya, bi Rika mencuci semua piring kotor lalu kembali ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya dan anak buah Deep yang lain pergi meninggalkan tempat itu. Pak Rudi pergi ke luar untuk mengeluarkan mobil dan pak Jaka membukakan pintu pagar.


"Udah siap bi?" tanya Deep melihat bi Rika yang sedang merapihkan pakaiannya.

__ADS_1


"Iya tuan" jawab bi Rika tersenyum menganggukkan kepala.


"Ya udah kita jalan sekarang aja" ucap Deep tersenyum dan berjalan mendahului bi Rika.


"Baik tuan" jawab bi Rika menganggukkan kepala dan berjalan di belakang Deep.


Deep dan bi Rika keluar dan pak Rudi segera membukakan pintu mobil untuk mereka. Pak Rudi segera berlari ke kursi pengemudi dan mengemudikan mobilnya.


Pak Rudi mengantarkan Deep dan bi Rika ke sekolah Deep. Sesampainya disana bi Rika mengurus semua berkas-berkas sebagai wali murid.


"Apa ibu orangtuanya Deep Akhtara?" tanya guru di tempat pendaftaran.


"Bukan bu, saya hanya sebagai walinya tuan Deep Akhtara" jawab bi Rika tersenyum kecil menganggukkan kepala.


"Orangtuanya kemana emang bu?" tanya guru itu.


"Hm orangtuanya telah lama meninggal dunia bu" jawab bi Rika menatap Deep yang langsung menundukkan kepalanya.


"Iya bu, gak apa-apa kok" jawab Deep tersenyum menganggukkan kepala.


Hati Deep terasa sakit dan ia pun langsung pergi dari tempat itu. Deep pergi ke tempat sepi untuk menenangkan pikirannya. Deep meneteskan air matanya sembari memukul dinding. Seketika wajah Deep berubah memerah dan hasratnya untuk membunuh kembali mencuat.


"Kamu kenapa disini?" tanya seorang anak perempuan.


Deep perlahan menoleh ke belakang dengan wajahnya yang memerah. Anak perempuan itu ketakutan ketika melihat Deep. Anak perempuan itu melangkah perlahan ke belakang. Deep melihat sekelilingnya untuk mencari sesuatu. Deep menemukan sebuah sapu lidi dengan gagang kayu panjang. Deep melangkah cepat dan dan langsung memukulkan gagang kayu itu kepadanya.


"Arghhhh!" teriak anak perempuan itu.


Deep mencekik leher anak perempuan itu.


"Diamlah! jangan berteriak seperti itu! aku akan mempermudah jalan mu untuk keluar dari sini" ucap Deep yang langsung tertawa kencang.


Anak perempuan itu terlihat sangat kesakitan. Wajahnya sudah mulai berubah pucat, karena Deep masih terus mencekik lehernya. Deep semakin mengeratkan tangannya hingga akhirnya anak itu pun terjatuh.

__ADS_1


Deep meletakkan jarinya di depan lubang hidung anak itu dan tersenyum ketika tidak ada hembusan nafas lagi dari anak itu.


"Aku membunuhnya?" tanya Deep yang langsung berubah ekspresi wajah ketakutan.


"Dia mati?" tanya Deep tersenyum kecil.


"HAHAHA! dia mati! dia mati! aku membunuhnya!" ucap Deep tertawa kencang sembari sesekali menatap mayat anak itu.


"Kamu mengatakan jika kamu ingin bertaubat? inikah pertaubatan yang kamu maksudkan itu Deep Akhtara? bertaubat untuk kembali membunuh? taubat macam apa yang kamu maksud itu Deep?" tanya Dimas teman sekolahnya yang telah mati di tangannya.


"Dimas?" tanya Deep ketakutan saat melihat Dimas ada di belakangnya.


"Ada apa Deep? mengapa kamu seperti sedang ketakutan begitu saat melihat ku? apakah seorang pembunuh seperti mu mempunyai rasa takut?" tanya Dimas tersenyum kecil.


"Kamu sudah mati! pergi kamu!" usir Deep menunjuk Dimas.


"Tidak! aku tidak akan pergi! aku tidak akan pernah pergi, karena kamu tidak menguburkan jasad ku" ucap Dimas tersenyum.


"Aku sudah membakar tubuh mu hingga menjadi abu, untuk apalagi kamu disini?"


"Aku seorang muslim bukan kristian, mengapa kamu membakar ku? kamu seharusnya menguburkan jasad ku, dan sesama muslim seharusnya kamu tidak membunuh ku" ucap Dimas tersenyum kecil menatap Deep.


"Aku sebenarnya tidak ingin membunuh mu, karena permasalahan ku hanya dengan Zorya dan teman-temannya, tapi kamu malah kembali dekat dengan mereka, kamu malah membongkar semua tentang ku ke mereka, jadi aku terpaksa juga membunuh mu, tadinya aku ingin menghukum mereka dulu, merenggut akal sehatnya lalu merenggut nyawanya, tapi kamu sudah merusak rencana ku, dan lebih baik jika kamu mati Dimas Seabert, semua harus berjalan sesuai dengan keinginan ku, tapi kamu telah merusak semua rencana yang sudah aku susun rapi untuk membuat mereka semua gila" ucap Deep tersenyum kecil mengangkat alisnya.


"Kamu memang benar-benar sudah gila Deep!"


"Iya aku gila! memang benar kata mu itu, aku memang orang gila dan kamu tahu siapa yang telah membuat ku menjadi seseorang yang gila seperti ini?" tanya Deep tersenyum menatap Dimas mengangkat alisnya.


"Siapa?"


"Zorya dan teman-temannya, teman-teman kelas kita yang sudah membully ku, mengatakan jika aku adalah anak psikopat, papah ku memang pembunuh tapi dia bukan seorang penjahat, karena selama ini papa ku selalu mengerti perasaan ku, selalu ada untuk ku, papa ku bukan seorang penjahat dimata ku, dan tidak ada satupun orang yang boleh mengatakan hal seperti itu pada papa ku! apa kamu mengerti Dimas Seabert? sudahlah! tidak penting berbicara dengan mu! hanya membuang-buang waktu saja jika berbicara dengan arwah gentayangan seperti mu itu!" kata Deep tersenyum kecil dan mengangkat mayat anak perempuan itu.


Deep melihat sekelilingnya untuk memastikan apakah ada orang yang melihatnya atau tidak. Deep menaiki sebuah taksi dan kembali ke rumahnya. Deep membawa tubuh anak perempuan itu ke ruang bawah tanah. Deep memotret tubuh anak perempuan itu sebelum memotong-motong tubuhnya. Deep menjadikan tubuh anak perempuan itu sebagai bahan dasar makanan di restorannya kembali dan menjadikan darahnya sebagai sirup. Deep memasukkan tubuh yang telah ia potong-potong ke dalam freezer, memasukkan darah yang telah ia jadikan sirup ke kulkas, membersihkan kamar dan tubuhnya, mengganti pakaiannya dan kembali ke sekolah.

__ADS_1


__ADS_2