
Keesokan harinya Deep terbangun dan mencium aroma tidak sedap dari kamarnya, Deep mengingat jika semalam mayatnya belum dieksekusi. Deep mengambil air putih dan memakan sebungkus roti terlebih dahulu sebelum memotong-motong para mayat itu.
Setelah semua mayat ia potong-potong dan kemas rapi, Deep membawanya ke mobilnya untuk ia jadikan suplai makanan dan minuman di restorannya.
Dalam perjalanan menuju The Deep Restaurant, ia mendengar suara gaduh. Deep memberhentikan mobilnya dan mencari asal suara gaduh yang terdengar hingga ke jalanan itu.
Nampak seorang pria yang tengah menyiksa anaknya perempuannya yang masih kecil. Anak itu menangis sesenggukan tapi pria itu terus memukulinya dengan sapu hingga sapu itu patah. Tidak puas sampai disitu, pria yang merupakan ayah dari gadis kecil itu mengangkat televisi yang tergeletak di lantai lalu melemparkannya ke kepala gadis kecil itu. Darah mengalir membanjiri lantai, entah bagaimana kondisi gadis kecil itu. Deep yang melihatnya sontak menutup mulutnya. Tangannya bergetar disusul dengan tubuhnya yang ikut gemetar. Ekspresi wajah Deep juga berubah, dari yang semula terkejut menjadi murka. Deep mengatur pernafasannya dan berusaha untuk tenang, lalu mengetuk pintu rumahnya.
"Tokk! Tokk!"
"Assalamualaikum, apa ada orang di dalam?" tanya Deep sembari mengetuk pintu.
"Haduh! siapa lagi yang datang!" gerutu pria itu melihat ke arah pintu.
Pria itu langsung membopong tubuh putrinya dan menyembunyikan mayatnya di dalam kamar, lalu melebarkan kain hitam diatas darah putrinya agar tidak ada yang mencurigai dirinya.
"Assalamualaikum! pak! bu! apa ada orang di dalam?" ucap Deep mengetuk pintu.
"Wa'alaikumsalam, anda siapa ya?" tanya pria itu.
"Saya Deep pak, tetangga baru bapak, saya tinggal di belakang sana"
"Oh tetangga baru ya! silakan masuk!"
"Makasih!"
"Itu apa pak? kenapa ada di tengah-tengah gitu? emang desain rumahnya seperti itu? dan kok rumahnya berantakan banget ya?"
"Hm enggak sih! tadi anak saya numpahin air di situ, baru pengen saya pel eh ada tamu makanya saya gelar doang di situ, jangan di injak ya licin! nanti kepleset! berantakan karena tadi saya niatnya mau beres-beres barang tidak terpakai ke gudang, makanya saya taruh di situ aja"
"Oh gitu!"
"Iya! silakan duduk! saya ambilkan minum dulu ya! jangan ke mana-mana ya! sebentar doang kok!" ucap pria itu gugup.
"Iya pak!"
Deep tersenyum kecil menatap kepergian pria itu.
"Hm dasar bodoh! kamu pikir aku tidak tahu hm? mau serapat apapun kamu menyembunyikannya, Deep akan selalu tahu rahasia yang disembunyikan oleh orang lain! kegugupan mu saat melihatku datang, ditambah aku juga telah menyaksikan sendiri, bagaimana cara kamu menghabisi putrimu itu, membuatku yakin untuk menjadikan mu sebagai target ku selanjutnya! tenang saja gadis kecil! nyawa dibalas nyawa bukan? ayahmu itu bisa membunuhmu tetapi kamu tidak bisa membunuh ayahmu karena kamu telah tiada, aku yang akan membantumu gadis kecil! aku yang akan membunuh ayahmu untuk membalaskan dendam mu itu! aku tahu jika kamu dendam padanya karena dia telah membunuh mu! kamu tidak perlu mengatakan apapun lagi, semuanya sudah jelas kok! tunggulah sebentar lagi! aku akan membuatmu tenang untuk pergi ke alam barumu setelah ayahmu mengantarkan mu pergi! ayahmu tidak boleh pulang, ayahmu harus ikut bersama mu! akh tidak! tidak! kamu masih kecil, tempatmu adalah si surga tapi ayahmu itu tidak pantas untuk ikut bersamamu ke surga, tapi aku akan mengantarkan ayahmu ke pemakaman saja ya! di mana kamu dan ayahmu akan digotong oleh warga menuju ke TPU terdekat, dan setelah itu kalian berpisah jalan! ayahmu pasti akan langsung masuk ke neraka jahanam! karena seorang ayah seharusnya menjadi panutan yang baik untuk ayahnya, bukan malah menjadi malaikat pencabut nyawa untuk anaknya sendiri, seorang ayah seharusnya memberikan surga dunia yang indah untuk anaknya, bukan malah neraka dunia yang menyakitkan bagi anaknya sendiri, aku tidak tahu apa kesalahan mu, tetapi yang jelas, seorang ayah yang mendidik anaknya sendiri dengan kekerasan tidak pantas untuk hidup bebas menikmati udara segar! aku akan membuat udaramu terasa panas, lama kelamaan kamu akan tersedak, hingga terasa seperti tercekik, lalu menghembuskan nafas terakhir mu!" batin Deep tersenyum kecil.
"Ini minumnya diminum dulu, makanannya juga dimakan!"
__ADS_1
"Makasih!"
"Oh iya, nama kamu siapa?"
"Saya Deep pak!"
"Oh Deep!"
"Iya pak!"
"Unik sekali ya nama kamu!"
"Makasih pak!"
"Sama-sama, oh iya nama saya Irwan!"
"Pak Irwan udah lama tinggal di sini?"
"Belum terlalu lama sih, dari istri saya hamil"
"Tadi bapak bilang anak bapak numpahin air, terus sekarang anak bapak ke mana? lagi main sama teman-temannya ya?"
"Hm iya!" jawab pak Irwan gugup.
"Cewek, umur lima tahun"
"Oh umur lima tahun, berarti beda tujuh tahun umurnya sama saya"
"Emang kamu umur berapa?"
"Saya dua belas pak"
"Dua belas tahun?"
"Iya pak! kenapa?"
"Kamu tinggal sama siapa di rumah? sendiri atau sama otangtua?"
"Sendiri pak, saya anak yatim piatu"
"Oh! turut berdukacita ya dek! kalau ada apa-apa ke rumah om aja, daripada kamu sendirian di rumah kan?"
__ADS_1
"Hm iya om!"
"Ayok silakan dinikmati! daritadi asik ngobrol aja, gak dimakan-makan nih!"
"Hm iya pak!"
Deep melihat ada sebuah pisau di pinggir piring buah apel, lalu melirik pak Irwan. Pak Irwan tersenyum dan menganggukkan kepala. Deep pun membalasnya sembari melihat celah yang ada. Deep melihat cincin yang terpasang di jari pak Irwan. Deep mengambil sebuah apel dan mengupasnya dengan pisau sembari menatap pak Irwan.
"Cincin bapak bagus!" ucap Deep tersenyum menganggukkan kepala menatap cinta yang pak Irwan pakai.
"Makasih! ini cincin paling langka sih, gak semua orang punya!"
"Itu berlian ya pak?"
"Iya, ini berlian merah keunguan, harganya juga mahal banget, tapi wajar sih karena ini langka"
"Emang harganya berapa pak?"
"Hampir empat puluh miliar"
"Wow! mahal banget! saya boleh lihat dari dekat gak pak?"
"Iya, tapi sebentar aja ya!"
"Jangan dilepas pak cincinnya, tangan bapak taruh atas meja aja sini dekat saya, saya mau lihat cincinnya"
"Oh oke!"
Pak Irwan menuruti permintaan Deep dan meletakkan tangannya diatas meja depan Deep duduk.
Deep pura-pura menunduk melihat cincinnya.
"Wow! bagus banget ya pak!" ucap Deep tersenyum kecil dan langsung memotong lima jari pak Irwan dengan pisau, namun ibu jarinya hanya terpotong setengah saja.
"Akh!" teriak pak Irwan kesakitan.
"Apa-apaan ini? kenapa kamu motong jari saya?"
"Kenapa kamu bunuh anak kamu? apa kamu pikir aku tidak tahu? aku melihat semua kejadian saat kamu memukuli anakmu dengan sapu, lalu melemparkan televisi ke kepala anakmu hingga dia tewas, tapi kamu beralasan jika putrimu itu sedang bermain bersama teman-temannya, kain yang kamu gelar itu untuk menutupi darah putri mu bukan? dan kamu menyembunyikan putrimu di dalam kamar"
Ekspresi wajah pak Irwan langsung berubah menjadi panik, takut dan nampak gugup.
__ADS_1
"Tidak usah takut seperti itu! apa pada saat kamu membunuh anak mu itu kamu merasakan ketakutan berlebih seperti itu? tidak kan? lantas mengapa saat ini kamu ketakutan seperti itu? aku tidak akan melaporkan mu ke pihak kepolisian, karena yang aku mau adalah nyawa mu! nyawa dibalas nyawa! darah dibalas darah! luka dibalas dengan luka! itu adil bukan?" tanya Deep tersenyum kecil menatap pak Irwan dan mendekat ke wajahnya.
Pak Irwan memejamkan mata ketakutan melihat Deep.