
Deep pergi untuk mengejar mobil James.
"Kemana lagi tuh mereka pergi? cepat banget deh hilangnya!" ucap Deep memukul setir mobilnya.
"Akh sial! pakai lampu merah segala lagi!" gerutu Deep.
Deep memberhentikan mobilnya dan menatap ke sekelilingnya.
"Dika, tahan ya!" ucap Axcel menepuk pundak Andika.
Andika terlihat sangat lemah karena banyaknya tusukan yang ia dapatkan dari Deep. Andika berbaring dengan kaki Axcel sebagai bantalnya. Axcel menekan tubuh Andika yang terluka agar darahnya tidak semakin banyak keluar.
"Kok gak hijau-hijau sih? terobos aja lah James!" pinta Gerry.
"Terobos? apa lu gila hah? lu gak liat tuh di sudut jalan ada polisi, yang ada nanti tambah panjang urusannya" jawab James.
"Gw yakin polisi itu pasti mengerti setelah melihat kondisi Andika, James cepat lakukan! pilih polisi itu atau nyawa Andika hm? lu gak kasian sama Andika hah? dia keliatan lemes banget, cepet James!" ucap Gerry.
"Benar kata Gerry, terobos aja James" sambung Andika.
James melihay kondisi Andika yang sangat lemah dan menatap Zellyn di sampingnya. Zellyn tersenyum kecil menganggukkan kepala dan James akhirnya menerobos lampu merah. Polisi di sudut jalan yang melihat mobil James menerobos lampu merah pun mengejarnya. Mobil James terkepung dan diberhentikan oleh polisi.
"Akh sial!" gerutu James.
"Cepat buka pintunya!" pinta pak polisi.
"Iya pak" ucap James membuka kaca mobilnya.
"Cepat keluar dari mobil anda!"
"Hm iya pak"
James memberikan kode pada Zellyn dan teman-temannya untuk turun.
"Kalian aja yang turun, gw jaga Andika" ucap Axcel.
"Gw enggak turun, susah keluarnya ada Axcel sama Andika, lu sama Zellyn aja yang turun" sambung Gerry.
"Kalian lihat kan jika itu lampu merah? mengapa kalian menerobos lampu merah?"
"Sabar pak" jawab James.
James merangkul petugas itu dan membuka pintu mobilnya.
"Saya menerobos lampu merah karena teman saya sedang terluka parah, dia mengeluarkan banyak darah karena tusukan dari seseorang" ucap James menunjuk Andika yang terbaring lemah.
"Ya sudah kalau gitu, kita bawa dia ke rumah sakit sekarang, kami akan mengiringi mu m, agar teman mu segera mendapatkan penanganan dokter"
"Terimakasih atas pengertiannya pak" ucap James menganggukkan kepala dan tersenyum kecil.
James dan Zellyn kembali ke dalam mobilnya dan kedua mobil polisi mengiringi mobil James.
Sesampainya di rumah sakit, James segera berlari mencari keberadaan dokter dan suster untuk membantu menurunkan Andika dari dalam mobilnya.
"Dokter! suster!" teriak James melihat sekelilingnya.
__ADS_1
"Suster tolong, di dalam mobil itu ada pria yang terluka parah" ucap pak polisi pada suster yang melintas.
"Baik pak" jawab suster itu segera berlari mengambil hospital bed.
Beberapa suster menghampiri mobil James dan menurunkan perlahan Andika yang terluka parah.
Dokter langsung menangani luka Andika sedangkan James mengurus administrasi rumah sakit.
Axcel, Gerry, Zellyn yang menunggu di depan ruang penanganan merasa sangat khawatir dengan kondisinya.
"Gimana keadaan Andika?" tanya James menghampiri teman-temannya.
"Andika masih ditangani dokter" jawab Axcel.
"Axcel, mending lu ganti baju sama celana dulu sana, baju sama celana lu berlumuran darahnya Andika, kasian nanti kalau ada yang ketakutan liat lu begitu, belum lagi kalau mereka mikir yang enggak-enggak" ucap James.
"Tapi gw mau disini" ucap Axcel.
"Mandi, ganti baju terus kesini lagi"
"Mandi dimana?"
"Mandi di toilet rumah sakit ini lah, tapi jangan lama-lama mandinya, kasian pasien lain kalau ada yang mau ke kamar mandi"
"Di dekat rumah sakit ini ada kantor polisi, kamu bisa mandi disana saja, kalau mandi disini takut kelamaan pasien lain menunggumu" ucap pak polisi.
"Udah sana ikut aja" ucap James.
"Hm oke, ayok pak, tapi saya ngambil baju dulu di mobil" ucap Axcel.
"Oke"
Ketika sampai di kantor polisi di dalam langsung menatap Axcel yang berlumuran darah.
"Kalian tidak perlu mencurigainya, kami membawanya kesini hanya untuk membersihkan tubuhnya, itu darah temannya yang terluka parah, kami yang menemani dia langsung ke rumah sakit dekat kantor ini, temannya berbaring di kakinya dan itu sebabnya dia berlumuran darah" ucap salah satu polisi yang menemani Axcel.
"Jadi dia ke kantor polisi hanya untuk menumpang mandi?" tanya salah satu polisi.
"Iya, kami membawanya karena jika dia membersihkan tubuhnya di rumah sakit akan membuat pasien lain yang ingin menggunakan toilet menunggu terlalu lama"
"Ya sudah kalau begitu, cepat bersihkan tubuh mu itu, dan kalian bisa mengantarkannya lagi ke rumah sakit"
"Oke"
"Cepat bersihkan tubuh mu itu, kamar mandinya ada disana" ucap salah satu polisi menunjuk arah kamar mandi.
Axcel menatap pak polisi itu ketakutan.
"Apa kamu takut? tenanglah! mereka tidak akan menangkap mu, ya sudah kalau kamu masih takut, biar kami temani, ayok" ucap pak polisi menepuk pundak Axcel.
Axcel berjalan di tengah-tengah polisi dan menatap sekelilingnya ketakutan.
Axcel mengunci pintu kamar mandi dan membersihkan tubuhnya, sedangkan polisi yang menemaninya menunggu di luar kamar mandi.
Beberapa menit kemudian Axcel keluar dari dalam kamar mandi dengan membawa bajunya yang berlumuran darah.
__ADS_1
"Ayok kami antarkan lagi kamu ke rumah sakit" ucap salah satu polisi yang sedari tadi menunggu Axcel selesai mandi.
Axcel hanya menganggukkan kepala ketakutan, karena ini kali pertamanya ia menumpang mandi di kantor polisi.
Axcel turun dari mobil polisi ketika tiba di rumah sakit, semua orang yang melintas menatapnya tajam.
Axcel menuju mobilnya untuk menaruh baju bekasnya di dalam.
Polisi yang mengiringi Axcel menyadari jika Axcel terpengaruh oleh tatapan tajam mereka.
"Abaikan saja mereka dan fokus saja pada teman mu yang sedang sakit, cepat masuklah! kami tidak bisa mengantarkan mu sampai dalam lagi, karena kami masih ada pekerjaan" ucap salah satu polisi.
"Hm iya pak makasih" ucap Axcel tersenyum kecil menganggukkan kepala.
"Bilang ke teman-teman mu di dalam kalau kami pulang duluan, titip salam untuk mereka, semoga teman mu itu cepat sembuh" ucap salah satu polisi tersenyum kecil.
"Aamiin, terimakasih pak, nanti saya sampaikan salam kalian ke teman-teman saya" jawab Axcel tersenyum kecil menganggukkan kepala.
"Sama-sama, ya sudah kita pulang dulu, assalamualaikum" ucap salah satu polisi tersenyum menganggukkan kepala.
"Wa'alaikumsalam" jawab Axcel tersenyum kecil menganggukkan kepala.
Para polisi itu pergi dari rumah sakit dan Axcel masuk ke dalam untuk menghampiri teman-temannya.
"Assalamualaikum, gimana Andika?" tanya Axcel menghampiri teman-temannya.
"Wa'alaikumsalam, dokter daritadi belum keluar, kita gak tahu gimana kondisi Andika di dalam, lu sendiri? para polisi itu kemana?" tanya James.
"Tadi mereka pamit pulang, katanya masih banyak pekerjaan, tadi mereka juga titip salam buat kalian, doain Andika juga" jawab Axcel tersenyum menatap teman-temannya.
"Oh gitu" jawab James.
"Benar kan apa kata gw? polisi juga punya hati kali, ya kita emang menerobos lampu merah, tapi kan ada keadaan yang urgent, mereka pasti ngerti, buktinya aja Axcel dibawa ke kantor polisi tapi gak ditahan, kan mereka tahu Axcel sama kita" ucap Gerry.
"Iya tapi gw deg-degan pas baru masuk kan berlumuran darah baju gw, polisi di dalam pada ngeliatin gw, akhirnya mereka nungguin gw selesai mandi di depan pintu WC"
"Penakut lu?" tanya Gerry tertawa kecil.
"Iya lah! takut dikira habis bunuh orang gw" ucap Andika.
Gerry yang mendengar perkataan Axcel pun menertawakannya.
"Kok lu ketawa sih?" tanya Axcel kesal.
"Udah! udah! bukannya mikirin kondisi Andika di dalam, kalian malah pada ribut" ucap James.
"Gerry duluan tuh!" ucap Axcel menunjuk Gerry.
"Habis lu lucu!" ucap Gerry kembali menertawakan Axcel.
"Gerry udah!" bentak James menatap tajam.
"Hm, iya! iya!" jawab Gerry yang langsung menundukkan kepala.
"Sini lu duduk!" ucap James menatap Axcel menepuk bangku kosong di sampingnya.
__ADS_1
Axcel pun duduk di samping James.