
Setelah melakukan perjalanan, akhirnya Deep dan rombongan tiba di bandara.
"Sebentar ya pak, saya mau ke toilet" ucap Deep.
"Oke tuan" jawab pak Rafly.
Ketika semuanya sibuk, Deep pergi ke mobilnya. Deep mencari alat-alat yang bisa ia gunakan untuk memuaskan hasratnya.
"Pisau lipat? untuk apa ada pisau lipat disini? dan ini apa?" tanya Deep menatap kebingungan salah satu alat yang ia pegang.
Deep mengeluarkan ponselnya dan mencari informasi mengenai benda apa itu dan ternyata benda itu adalah bor tanpa kabel.
"Jadi ini bor? bagaimana cara menyalakan alat ini?" tanya Deep menatap alat itu dan memencet salah satu tombol.
Ketika bor itu menyala, ekspresi wajah Deep langsung berubah, Deep nampak sangat terkejut dengan alat yang baru pertama kali ia pegang itu.
"Akh aku tau untuk apa bor ini, dan pisau ini juga bisa berfungsi" ucap Deep yang masih terus mencari alat di dalam box yang ada di bagasi mobil.
Deep mengambil sebuah palu dan sekotak paku lalu menatapnya tajam.
Deep memasukkan palu, paku, bor dan pisau lipat ke dalam tote bag dan menutup kembali bagasi mobilnya.
Deep mengelilingi bandara, menelusuri tempat sepi untuk memuaskan hasratnya dalam membunuh manusia sebagai bahan dasar restorannya dan untuk lukisan indahnya yang mahal itu.
Deep mengeluarkan palu dan memukul kepala belakang seorang pria yang melintas.
"ARgh!" teriak pria itu kesakitan memegangi kepalanya yang mengeluarkan banyak darah.
"Apa-apaan ini hah?" tanya pria itu dengan nada tinggi.
__ADS_1
Deep tersenyum kecil dan menatap tajam pria itu. Deep mengeluarkan pisau lipat dan langsung melemparkannya ke arah pria itu. Pisau itu menancap tepat di dada pria itu. Deep mendekati pria itu dengan tatapan mata tajam dan tersenyum kecil. Pria itu memundurkan langkahnya untuk menjauhi Deep, namun dengan cepat Deep menarik pisau itu dan menusukkannya lagi di tempat yang sama hingga darah menyembur dengan deras. Deep menusukkan pisau itu berkali-kali dan pria itu terjatuh.
Deep membungkuk dan mengeluarkan bor miliknya. Deep menancapkan bor itu di mata kanan sang pria yang lemas dan menarik bor itu hingga matanya tertarik keluar bersamaan dengan keluarnya bor itu. Deep mematikan bor miliknya dan mengambil mata pria itu dengan tangan kosong tanpa sarung tangan. Deep menatap lama mata pria itu dan pria yang masih tersadar itu terkejut dan semakin merasa takut melihat Deep.
Deep menempelkan mata pria itu ke tengah kening sang pria lalu mengeluarkan kotak paku. Deep menempelkan paku dan memukul paku itu dengan palu hingga paku itu menancap di tengah kening sang pria.
Deep tersenyum melihat hasil karyanya itu dan mengambil foto pria itu.
"Ayok senyum mas" pinta Deep tersenyum.
Pria itu hanya terdiam dan menatap dengan tatapan lemah.
"Senyum!" bentak Deep.
Pria itu akhirnya menuruti permintaan Deep untuk tersenyum.
Deep menusukkan pisau di dada pria itu dan menyayat perlahan membentuk sebuah love.
"Ikh bagus! kayak emoticon hati warna merah tapi kalau emoticon kan merahnya gambar kalau ini merah alami dari sumbernya, ayok foto lagi mas, mas pegang ini ya" ucap Deep memberikan sayatan tubuh pria itu.
"Udah gila ini orang!" ucap pria itu pelan.
"Apa mas? bisa di ulang lagi, mas ngomongin aku apa tadi? gila? kalau iya kenapa? hm tapi tidak! aku tidak gila mas! apa mas tahu, aku pernah ke psikiater, dan dia mengatakan kalau aku itu punya gangguan mental skizofrenia dan psikopat, entah kenapa dia mengatakan hal itu, padahal itu tidak benar kan kak?" tanya Deep dengan ekspresi wajah polos.
"Dia tidak salah, kamu memang benar-benar sudah gila!" ucap pria itu.
"Tidak! aku tidak gila!" ucap Deep dengan nada tinggi menggelengkan kepala.
"Kamu sudah gila! tapi kamu tidak mau mengakuinya!"
__ADS_1
"Diam! diam kamu! jangan berkata seperti itu lagi!"
"Kamu tidak waras!"
"DIAM!" teriak Deep yang langsung mengambil dan menyalakan bor.
Deep menusukkan bor itu ke perut sang pria dan mengambil pisau lipatnya, dengan cepat Deep menyayat leher pria itu dengan pisau. Deep menarik bor itu dan menusukkannya tepat di tengah leher pria itu. Deep menarik bor itu perlahan hingga membuat leher pria itu terlepas. Deep memegang leher yang telah terputus itu tanpa rasa takut atau jijik sedikitpun. Satu tangannya ia gunakan untuk menyalakan ponselnya. Deep mengambil foto dirinya dan kepala pria itu. Deep meletakkan kepala pria itu di bawah dan membuat jarak agar terlihat di kamera kepala pria itu yang sudah terputus karena perbuatannya. Deep berdiri untuk mengambil foto dirinya dengan mayat pria itu.
Deep melihat jam tangannya dan waktu penerbangan masih lama. Deep menyeret tubuh pria itu dan membawanya ke mobil. Deep kembali ke rumahnya yang tak jauh dari bandara. Deep meletakkan tubuh pria itu langsung di freezer lain yang masih kosong. Deep membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya lalu kembali ke bandara.
"Tuan Deep kemana ya? lama banget ke kamar mandinya" ucap bi Rika cemas.
"Ini udah mendekati waktu penerbangan juga, tiket sama tuan Deep semua" sambung pak Rafly.
"Jam berapa sekarang?" tanya Deep yang tiba-tiba muncul di belakang mereka.
"Sebentar lagi waktu penerbangan tuan" jawab bi Rika.
"Ya sudah ayok kita ke sana sekarang"
"Baik tuan" ucap bi Rika.
Tidak ada yang menyadari jika pakaian Deep berbeda dari pakaian awal mereka menuju bandara bersama tadi. Deep yang berjalan di depan pun tersenyum puas karena hasratnya untuk membunuh manusia tersalurkan oleh pria itu.
Tidak lama kemudian, pesawat Deep dan rombongan lepas landas. Deep mengeluarkan ponselnya dan mendengarkan sebuah lagu menggunakan earphone.
"Oh iya, aku lupa membawa alat-alat perkakas itu lagi, dengan apa nanti aku membunuh? tujuan ku ke Bali hanya untuk mencari mangsa baru, bukan untuk berlibur, hm mau tidak mau sesampainya disana nanti aku harus beli alat-alat baru lagi deh buat membunuh, buang-buang duit sih tapi ya sudahlah, udah kejadian juga, lagipula aku juga punya banyak uang, untuk uang segitu sih gak akan menguras isi rekening ku, tapi susah gak ya nyari toko bangunan disana? akh udahlah itu gampang nanti bisa cari mutar-mutar kalau udah sampai di sana, di pantai kan banyak orang pasti enak deh bunuh orang disana hm, aku juga belum pernah bunuh orang di pantai kan? mau coba sensasi baru dengan semilir angin pantai yang menenangkan dan deburan ombak yang menambah indah suasana" batin Deep tersenyum kecil dan menganggukkan kepala.
Deep kembali menikmati lagu yang tengah ia dengarkan dan memejamkan matanya agar semakin terhanyut dalam lagu.
__ADS_1