
"Aku harus bisa keluar dari tempat ini, tapi gimana caranya?" tanya Deep celingukan mencari ke sekelilingnya.
"Hm mas Data, ya kali aja dia bisa bantuin aku untuk ke luar dari ini" ucap Deep mengambil ponselnya.
Deep mengirimkan WhatsApp pada mas Data untuk membawakan alat-alat yang akan ia gunakan untuk melarikan diri dari rumah sakit jiwa.
"Assalamualaikum mas data"
"Wa'alaikumsalam tuan, ada apa?"
"Hm mas Data aku mau minta tolong nih sama mas Data"
"Minta tolong apa ya tuan?"
"Hm mas Data bisa tolong antarkan palu sama bor baterai sekalian sama charger bornya ke rumah sakit jiwa
"Untuk apa ya tuan? dan kenapa ke rumah sakit jiwa?"
"Sudah antarkan saja!"
"Baik tuan!"
Mas Data menyiapkan alat-alat yang Deep pesan dan ia pun pergi ke rumah sakit jiwa. Tidak ada penjagaan ketat di rumah sakit itu, mas Data pun dengan mudah memberikan alat-alat itu ditemani oleh petugas, tanpa dicurigai sedikitpun.
"Ini tuan" ucap mas Data memberikan pesanan Deep.
"Makasih ya mas Data"
"Sama-sama tuan"
"Sudah selesai?" tanya petugas sembari mengusap matanya yang ngantuk dan menguap.
"Sudah pak, makasih ya pak"
"Sama-sama"
Mas Data pun meninggalkan rumah sakit jiwa dan kembali ke rumah. Petugas yang mengantuk itu pun berbaring di bangku dan tertidur.
"Aku akan menjalankan rencanaku besok pagi, terlalu biasa jika melakukan rencana di malam hari, aku ingin sesuatu yang ekstrim" ucap Deep tersenyum kecil.
Deep pun menyembunyikan palu dan mengecas bor dan ia tutupi dengan selimutnya.
Keesokan paginya Deep mencabut charger bor dan menyembunyikannya. Petugas rumah sakit masuk membawakan makanan serta obat untuk Deep, Deep menatapnya tajam dan menatap sesuatu yang petugas itu bawa.
Diatas piring terdapat garpu yang bisa ia manfaatkan untuk melarikan diri dari rumah sakit jiwa.
"Makanlah! obatnya jangan lupa diminum! aku akan menunggumu di sini" ucap petugas itu.
Deep mengambil alih piring dan mengaduk-aduk makanannya dengan sendok dan garpu. Ketika petugas itu lengah, Deep dengan cepat menusukkan garpu yang ia pegang ke mata petugas.
"Ah!" teriak petugas itu kesakitan saat garpu mendarat di matanya.
__ADS_1
Deep segera melarikan diri dari sana. Deep memukul setiap petugas yang berusaha untuk menangkapnya dengan palu dan juga bor yang telah ia persiapkan semalam. Deep pun berhasil keluar dari rumah sakit jiwa itu dan semua pegawai rumah sakit jiwa jatuh terkapar bersimbah darah, tak lupa Deep mengunci pintu rumah sakit jiwa. Deep pun kembali ke rumahnya.
Petugas yang masih sadar pun berusaha berdiri dan meraih telepon yang ada di atas meja yang ada di depannya.
Baru saja meraih telepon, petugas itupun t
Jatuh tersungkur.
"Pak Jaka buka pintunya cepat!" teriak Deep.
"Tuan? tuan bukannya lagi di rumah sakit ya?" tanya pak Jaka.
"Terus? bisa diam tidak anda? udah awas ah minggir!" perintah Deep mendorongnya.
Deep masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil kunci mobilnya.
"Bi Rika siapkan makanan, aku lapar" teriak Deep.
"Lho! tuan kok udah pulang sih?" tanya bi Rika.
"Tidak usah banyak bicara kamu ya! cepat siapkan aku makanan! kamu tidak ada hak untuk ikut campur dalam urusan ku! panggil pak Jaka dan yang lainnya, aku ingin berbicara dengan mereka"
"Baik tuan!"
Bi Rika menyiapkan sarapan terlebih dahulu untuk Deep sebelum memanggilkan pak Jaka dan yang lainnya.
"Ini tuan sarapannya" ucap bi Rika.
"Bibi mau panggil pak Jaka dan yang lain dulu ya tuan!"
"Ya udah sana! suruh kumpul di sini!"
"Baik tuan!"
Bi Rika mencari ke sekeliling rumah Deep dan bertemu dengan pak Farel.
"Pak Farel" panggil bi Rika.
"Iya, ada apa?"
"Yang lain ke mana?"
"Di depan mungkin, kenapa emang?"
"Kamu sama yang lain di tunggu tuan Deep di dapur, aku di suruh tuan Deep kasih tahu ke kalian"
"Oh gitu, ya udah gw ikut lu cari mereka, gak berani gw kalau sendirian nemuin tuan Deep"
"Ya udah ayok!"
"Iya!"
__ADS_1
Setelah semua berkumpul, mereka pun bergegas pergi ke dapur menemui Deep Akhtara.
Mereka saling memberikan kode dengan mata agar memanggil tuan Deep yang tengah memainkan ponselnya, akhirnya pak Jaka yang memanggil tuan Deep.
"Tuan!" panggil pak Jaka.
"Hm iya, bagus deh kalau kalian udah pada datang, aku mau bilang beberapa hal penting ke kalian yang harus kalian turuti, jika tidak, aku akan membuat kalian hanya tinggal nama saja!"
Mendengar perkataan Deep sontak membuat bi Rika terkejut, karena bi Rika sudah mengetahui jika Deep adalah seorang psikopat yang kejam.
"Hm, apa maksud tuan Deep?" tanya pak Jaka.
"Kamu tidak perlu banyak tanya, yang penting turuti saja permintaan ku!"
"Hm, baik tuan!"
"Dengarkan perkataan ku ini, kalian harus menutupi kebenaran ini jika sampai ada polisi yang datang ke tempat ini, aku tidak ingin sampai ada polisi yang tahu jika aku melarikan diri dari rumah sakit jiwa dan pernah kembali ke rumah ini, kalian bilang saja tidak tahu jika aku melarikan diri dari rumah sakit jiwa, bilang saja jika aku tidak pernah kembali ke rumah, makanya kalian gak tahu, katakan saja kalian tidak mengetahui ke mana aku pergi, aku akan pergi ke suatu tempat, tapi aku akan terus memantau kalian dan juga kedua bisnisku, apa kalian mengerti?"
"Mengerti tuan!"
"Bagus! ya sudah kalau begitu, aku mau pergi dulu, aku ada urusan!"
"Oke tuan!"
Deep pun pergi meninggalkan rumah untuk menjalankan rencananya.
Deep pun pergi ke daerah Jawa Timur dengan mobilnya.
"Kenapa tuan Deep ngomongnya ngelantur banget ya? tuan Deep kenapa sih? masa dia pakai segala bilang tinggal nama doang, maksudnya apa coba? dia mau ngebunuh kita? ya walaupun tuan Deep itu bos kita, tapi kan dia tetap saja masih anak-anak, umurnya masih dua belas tahun, berani sekali dia mengancam kita seperti itu! kita seharusnya jangan mau diperbudak oleh anak kecil itu!" ucap pak Zainal.
"Jangan gitu ngomongnya! biar gimanapun juga tuan Deep itu bos kita! kita harus menghormatinya walaupun dia lebih muda dari kita!" ucap pak Jaka.
"Benar kata pak Jaka, kita hanya bawahannya tuan Deep saja, kita tidak boleh membantahnya! apalagi..." ucap bi Rika menghentikan perkataannya.
"Apalagi apa hm?" tanya pak Zainal.
"Ya apalagi kita kan udah bekerja dari lama di sini, dari semenjak tuan Dark dan nyonya Yasmin masih ada, masa ketika tuan Dark dan nyonya Yasmin tiada terus kita meninggalkan tuan Deep begitu saja, apa kamu tidak kasian padanya?" tanya bi Rika.
"Gw lebih kasian sama kalian yang mau diperbudak oleh anak kecil itu! pasti ada sesuatu yang tuan Deep sembunyikan hingga tuan Deep sampai bawa-bawa polisi seperti itu, aku tidak mau lagi bekerja di sini! bukan karena aku tidak kasian pada tuan Deep, tapi aku lebih kasian pada keluargaku di rumah jika sampai terjadi apa-apa padaku karena aku membantu tuan Deep untuk menutupi kebohongan itu, jika kalian tetap ingin berada di pihak tuan Deep silakan saja! tapi aku sudah tidak mau lagi ada di pihak tuan Deep! aku rasa ada sesuatu hal yang besar terjadi dan tuan Deep menyembunyikannya dari kita, aku tidak tahu apa itu, yang terpenting aku tidak ingin lagi bekerja dengan tuan Deep, mumpung tuan Deep lagi pergi ke luar, aku akan pergi dari sini sejauh mungkin membawa keluargaku, agar tidak terjadi sesuatu padaku dan keluargaku, aku mencurigai tuan Deep dari perkataannya itu, aku akan mengadukan hal ini pada pihak yang berwajib sebelum sesuatu yang tidak di inginkan terjadi!" ucap pak Zainal pergi ke kamarnya dan mengemas barang-barangnya.
Pak Jaka dan yang lain pun mengikuti pak Jaka.
"Aku tahu kekhawatiran mu itu, aku juga merasa khawatir dan takut dengan perkataan tuan Deep tadi, tapi apa kamu yakin ingin pergi dari sini?" tanya bi Rika.
"Aku yakin! jangan halangi aku pergi! sampaikan ucapan terima kasih ku pada tuan Deep nanti kalau tuan Deep sudah kembali ke rumah!" jawab pak Zainal.
"Hm oke baiklah! jika kamu ingin meninggalkan rumah ini silakan saja! aku akan sampaikan nanti pada tuan Deep kalau tuan Deep udah pulang ke rumah!" ucap bi Rika.
"Terima kasih atas kebaikan kalian semua, tapi maaf aku tidak bisa lagi bersama kalian! aku pamit! assalamualaikum" ucap pak Zainal tersenyum kecil dengan tatapan mata sedih.
"Wa'alaikumsalam" jawab pak Jaka dan yang lainnya tersenyum kecil dengan tatapan mata sedih.
__ADS_1
Pak Zainal pun pergi meninggalkan rumah Deep Akhtara, nampak raut wajah kehilangan terpancar dari wajah pak Jaka dan yang lain ketika harus berpisah dengan pak Zainal yang sudah lama bekerja dengan mereka di rumah tuan Deep Akhtara.