Pain Is Art

Pain Is Art
Belanja Kebutuhan Sekolah


__ADS_3

"Mas Data" panggil Deep.


"Iya tuan" jawab mas Data.


"Tolong bantu bawa stok resto ke dalam ya" pinta Deep.


"Baik tuan!"


Mas Data dan para chef membantu Deep membawa stok ke dalam.


Setelah semua stok masuk ke dalam lemari pendingin, Deep pergi untuk mencari pemburuannya.


"Oh iya, besok kan aku udah mulai masuk sekolah ya? haduh belum beli seragam dan lain-lain, ya udah deh beli aja dulu nanti baru berburu, berburu di malam hari sepertinya lebih enak, ya udah deh!" ucap Deep sembari mengemudikan mobilnya.


Deep memarkirkan mobilnya di tepi jalan dan turun untuk membeli seragam dan yang lainnya.


"Bu, ada seragam SMP?" tanya Deep.


"Ada, size apa ya dek?" tanya penjual.


"Hm, gak tahu deh bu, kalau untuk saya size apa ya yang muat?"


"Cobain yang ini dek" pinta penjual memberikan salah satu size seragam.


"Ada ruang gantinya?"


"Ayok ikut saya"


"Iya"


Deep membuka pakaian yang ia kenakan dan mencoba seragam sekolahnya. Deel menatap dirinya di cermin panjang. Deep keluar dengan membawa bajunya.


"Gak ada yang lebih besar lagi bu? pas sih ukurannya, tapi saya maunya yang lebih besar satu size dari saya"


"Ya sudah coba yang ini"


Deep mengambil size seragam baru yang penjual berikan. Deep kembali ke ruang ganti untuk mencobanya.


Deep membuka seragam yang ia coba dan mengganti dengan pakaiannya.


"Saya ambil yang ini aja bu" ucap Deep memberikan baju seragam yang terakhir ia pakai.


Penjual membungkus baju seragam Deep dan memberikannya.


"Sama baju Pramuka size itu juga ya"


"Ini dicobain dulu" ucap penjual memberikan satu set seragam Pramuka.


Deep mencoba seragam itu dan mengambilnya.


"Hm, disini jual buku tulis atau binder gak ya bu?" tanya Deep melihat sekelilingnya.


"Ada, ayok ikut saya" ajak penjual membawa plastik berisi seragam Deep yang belum dibayar.


Penjual menunjukkan beberapa buku dengan ukuran dan merk yang berbeda.


"Deep" panggil seorang wanita yang entah ada dimana.


Mendengar suara seorang wanita memanggilnya membuat Deep mencari ke sekelilingnya.


"Siapa?" tanya Deep melihat sekelilingnya.


"Ini mama nak" ucap seorang wanita yang tiba-tiba muncul di sampingnya.


"Mama" ucap Deep yang langsung memeluk ibunya.


"Kamu sedang apa di sini nak?"

__ADS_1


"Aku lagi cari-cari seragam sama buku mah buat besok sekolah"


"Memangnya ke mana bi Rika nak? kenapa dia tidak menemani mu?"


"Hm, dia..."


"Dia kenapa nak?"


"Hm, gak apa-apa kok mah"


"Kamu kalau mau pilih buku, pilih yang ini aja nak, lihat kertasnya pasti jauh lebih putih dari yang lain"


"Hm, yang ini ya mah?" tanya Deep.


"Iya nak"


"Ya udah deh Deep beli yang ini aja" ucap Deep.


"Bu, aku ambil buku ini dua ya" ucap Deep memberikan buku kepada penjual buku yang tadi ibunya pilihkan.


"Bukunya di sampul cokelat sama putih bening nak, biar rapih" ucap ibunya.


"Iya mah" jawab Deep menatap ibunya.


"Bu, ada sampul buku warna coklat sama yang putih bening itu gak?" tanya Deep.


"Yang ini?" tanya penjual memberikan barang yang Deep maksud.


"Yang ini bukan mah?" tanya Deep menunjukkannya pada ibunya.


"Iya nak" jawab ibunya.


"Ya udah bu, mau ini sejumlah dua pack buku ini ya, jangan sampai kurang ya bu" ucap Deep.


"Iya"


"Oh iya bu, ada alat tulis gak ya?" tanya Deep.


"Mirna, tolong antarkan dia sebentar, dia ingin melihat alat tulis, saya sedang menghitung jumlah sampul buku" ucap penjual pada rekannya.


"Iya" jawab rekannya datang menghampiri.


"Mari saya antarkan" ucap rekan penjual.


"Ini alat tulisnya, silakan dipilih mau yang mana?" tanya penjual.


Deep memilih pensil, rautan pensil, pulpen, penggaris, penghapus, dan tip-ex yang akan ia beli.


Penjual ingin mengambil barang yang Deep pilih namun Deep menolaknya.


"Bukan satuan, saya mau satu kotak aja, tapi sesuai sama yang saya pilih, untuk rautan, sama penggaris baru satu buah, pensil, pulpen, tip-ex, penghapusnya satu kotak" ucap Deep.


"Baik"


"Adalagi?" tanya penjual.


"Udah itu aja, sama yang tadi saya beli, jadi berapa ya?" tanya Deep.


"Sebentar ya" ucap penjual menghampiri rekannya yang tadi menemani Deep.


Penjual itu menghitung di kalkulator jumlah barang yang Deep beli.


"Oh iya, sama kalkulator deh sekalian, takutnya nanti diperlukan" ucap Deep saat melihat kalkulator yang sedang penjual itu gunakan.


Rekannya mengambilkan beberapa kalkulator untuk Deep pilih.


"Aku mau yang ini aja" ucap Deep menunjuk salah satu kalkulator.

__ADS_1


"Tunggu bu jangan ditotal dulu, sepatunya belum soalnya, masukin aja ke notanya, saya mau lihat-lihat sepatu dulu" ucap Deep.


"Baik" ucap penjual menghela nafas panjang lalu tersenyum mengantarkan Deep.


Deep memilih-milih sepatu dan menjatuhkan pilihan pada satu sepatu.


"Ini ada size tiga puluh tujuh gak ya bu?" tanya Deep memberikan satu sepatu pada penjual.


"Sebentar saya cari dulu"


"Iya"


Deep duduk di salah satu kursi sembari menunggu penjual mencarikan size sepatunya.


"Ini" ucap penjual memberikan size sepatu Deep.


Deep mencoba sepatu itu dan nyaman di kakinya.


"Bungkus bu, saya ambil yang ini, sama kaos kaki putih yang bawahnya hitam, sama kaos kaki Pramuka ya" ucap Deep.


"Iya" penjual itu membawa kotak sepatu Deep dan mengambilkan kaos kakinya.


"Kaos kakinya mau berapa pasang?" tanya penjual.


"Hm, kaos kaki putihnya tujuh, kaos kaki Pramuka tujuh juga deh takut keselip nanti hilang"


"Oke"


Penjual itu menjumlahkan semua barang yang Deep beli.


"Semuanya jadi enam ratus lima puluh sembilan ribu" ucap penjual memperlihatkan hasil kalkulatornya.


"Ini uangnya makasih"


"Sama-sama"


"Oh iya, boleh tolong bantu saya bawa ini semua ke mobil?" tanya Deep.


"Iya" ucap penjual membawa barang belanjaan Deep.


Deep membuka pintu mobil belakang dan penjual itu memasukkan barang belanjaan Deep ke dalam.


"Makasih" ucap Deep tersenyum menatap mereka.


Mereka kembali ke dalam sembari menahan rasa kesalnya.


Deep yang menyadari kekesalan mereka pun tersenyum kecil sembari menggelengkan kepala dan pergi dari sana.


"Aku tahu jika kalian kesal padaku, tapi tenanglah! kalian tidak akan menjadi buruanku, karena melihat wajah kalian yang menahan kesal seperti itu membuatku tidak berselera untuk membunuh kalian, jadi lebih baik aku pergi dan mencari buruan lain, ekspresi ketakutan, panik jauh lebih enak dipandang mata daripada ekspresi kekesalan, jadi kalian selamat dan tidak akan menjadi korban ku yang selanjutnya, tapi ya mungkin suatu saat" ucap Deep yang langsung pergi.


"Itu orang ngeselin banget ya?" tanya Mirna.


"Iya, untung aja dia masih bocah, coba udah gede, pasti sudah tak seleding tekel kepalanya!" ucap penjual yang tadi menemani Deep.


"Iya"


"Tapi aku merasa satu keanehan dari anak itu"


"Apa?"


"Sewaktu tadi memilih buku dia menyebut ibunya, padahal dia hanya datang sendiri, dan tidak ditemani oleh siapapun"


"Apa itu bocah udah gila ya?"


"Entahlah! tapi masa masih kecil udah jadi pasien rumah sakit jiwa sih?"


"Ya kali aja, kan lu bilang dia bicara sendiri"

__ADS_1


"Ya udahlah lupain aja, daripada pusing mikirin tuh bocah aneh!"


"Iya!"


__ADS_2