Pain Is Art

Pain Is Art
Video Menggemparkan Rasalas


__ADS_3

Keesokan harinya teman-temannya saling menunjukkan ponselnya masing-masing.


"Eh lihat deh, ada yang ngirim video ini ke aku"


"Sama aku juga, tapi siapa ya yang ngirim video ini?"


"Aku juga gak tahu siapa, tapi lihat deh, masa Rasalas setega itu sih sama ayahnya?"


"Ayahnya Rasalas kang bakso?"


"Lihat ini deh, dia bilang nama dia itu "Salahuddin Joko Prawiro" terus darimana asal usul nama Rasalas Ouranos itu?"


"Iya aneh, darimana ya asal mula nama Rasalas Ouranos itu? beda banget sama nama aslinya, kenapa dia ganti nama aslinya ya?"


"Coba dengerin deh baik-baik, dia bilang itu kalau dia malu punya nama kayak gitu"


"Rasalas bener-bener keterlaluan ya dia"


"Antara Dhruv, Zorya, Rangi, dan dia padahal menurut aku itu dia yang paling anteng gak sih?"


"Dia sama Rangi itu kayak gak terlalu bertingkah deh anaknya tapi ternyata, kebohongan apalagi nanti yang akan terungkap?"

__ADS_1


"Iya aku jadi penasaran deh sama kebohongan apalagi yang akan terungkap, kemarin Rangi, sekarang Rasalas nanti siapa lagi? aku yakin deh pelaku sebenarnya itu pasti orang dalam"


"Kayaknya sih iya, soalnya mereka berempat juga kan sering ngebully orang, kayaknya ini pembalasan dendam dari para korbannya deh"


"Atau bahkan ini adalah serangan dari musuh mereka?"


"Musuh? tapi benar juga sih, seseorang seperti mereka pasti memiliki banyak musuh, tapi apa bedanya pembalasan korban pembullyan dengan musuh? bukankah itu adalah dua hal yang sama? mereka berempat membully seseorang yang menyebabkan rasa sakit itu bertumpuk didalam hati yang akhirnya memunculkan rasa dendam di hatinya dan menjadi sebagai musuhnya, benar kan?"


"Iya sih lu benar juga, tapi siapa ya orang itu? gw penasaran deh sama dalang dibalik semuanya"


Deep yang melewati mereka tengah bergosip pun dihentikan oleh mereka.


"Eh Deep sini deh"


"Video apa itu?" tanya Deep menghampiri mereka.


"Ini, lihat deh video ini, kok bisa ya Rasalas sampai selicik itu dengan mengganti nama aslinya menjadi Rasalas Ouranos"


"Iya aku juga gak habis pikir deh, hm Deep, menurut kamu ini semua perbuatan siapa?"


"Aku tidak tahu siapa yang melakukan hal itu, kalian tahu bukan jika aku tidak dekat dengan Rasalas, Rangi, Zorya ataupun Dhruv, bagaimana bisa aku mengetahui siapa orang yang melakukan hal itu semua?"

__ADS_1


"Tapi seingat aku itu kamu pernah menjadi teman dari mereka deh, bener gak sih?"


"Iya tuh benar, aku ingat kok kalau kalian pernah jalan bareng sebelum Nora pindah sekolah"


"Bisa tidak usah menyebut namanya?"


"Ada apa Deep? apa kamu mencintai Nora?"


Deep menundukkan kepalanya sembari menahan air matanya.


"Aku mencintai Nora atau tidak, apa itu penting bagi kalian? hubungan ku dan Nora adalah kehendak dari Allah Subhanahu Wata'ala, kalian tidak perlu mengetahuinya, karena itu bukanlah urusan kalian sama sekali, apa kalian mengerti akan hal itu? jika kalian penasaran dengan siapa orang yang melakukan itu semua pada Rasalas, mengapa kalian tidak menjadi detektif saja hm? tugas detektif kan menyelidiki sesuatu hal yang tersembunyi, jika kalian membutuhkan kaca pembesar, pergilah ke rumah ku, aku memiliki kaca pembesar itu di dalam rumah ku, ambillah dan selidiki siapa pelaku sebenarnya yang telah melakukan semua ini, sebelum seseorang melakukan suatu tindakan tersembunyi, dia pasti telah memikirkan semua kemungkinan yang akan terjadi dan menyusun semua rencana agar tidak ada orang yang mengetahuinya, tapi jika rasa penasaran kalian itu sangat besar, maka cari tahulah, serapat-rapatnya menyimpan sebuah bangkai pasti bangkai itu akan tercium juga, begitupun dengan perbuatan seseorang, serapat-rapatnya dia menyembunyikan, serapi apapun rencananya pasti akan ada masanya semua itu akan diketahui oleh khalayak, menyelidiki hanya membuang waktu saja bukan? apakah kalian menyediakan waktu ekstra untuk kebahagian Rasalas? tentu tidak kan? maka kita tunggu saja siapa pelaku sebenarnya akan terungkap oleh takdir, saya permisi assalamualaikum" kata Deep tersenyum dan langsung pergi.


"Wa'alaikumsalam" ucap keduanya kompak saling menatap kebingungan.


"Apa maksud dari perkataan Deep itu? apa sebenarnya Deep dalang dibalik semua ini? Deep pernah menjadi teman mereka dan mereka membully Deep karena perbuatannya sendiri yang telah melaporkan ayahnya ke pihak kepolisian"


"Sudahlah, terlepas dari Deep dalang dibalik semua ini atau tidak, itu bukanlah urusan kita, lagipula memang seorang pembully memang pantas diperlakukan seperti itu, jika perilaku bullying dibiarkan begitu saja tanpa ada yang menghukumnya, pelaku bullying akan semakin leluasa untuk membully para korbannya"


"Hm ada benarnya juga ucapan lu dan Deep itu, melepaskan perilaku bullying bahagia itu sama saja dengan bunuh diri, karena semakin melihat pelaku bullying itu bahagia dan jaya, pasti akan semakin hancur hati seseorang yang mereka bully itu"


"Nah kan gw bilang juga apa? Deep benar, kita tidak usah ributkan masalah ini, seharusnya kita senang karena ada korban pembullyan yang mau speak-up membalaskan semua rasa sakitnya kepada semua orang yang telah membully dia, bukannya malah menghakimi dia, semakin di diamkan, maka akan semakin banyak hati yang hancur, semakin bahagia pelaku bullying itu, akan semakin hancur mental seseorang yang telah ia bully, orang yang baik pun akan menjadi jahat jika hatinya terluka secara terus-menerus, di bully secara terus-menerus bukanlah suatu luka yang kecil, luka fisik dan batin yang merusak kehidupannya, luka fisik bisa diobati, namun luka batin tidak, luka batin hanya bisa kering menjadi koreng dan meninggalkan bekas yang sulit untuk dihilangkan, luka di fisik bisa diobati, jika fisik terluka dan menjadi koreng, masih ada banyak cara untuk membalikkannya seperti semula, karena masih ada lulur, suntik putih dan sebagainya, tapi apakah ada lulur dan suntik putih untuk menghilangkan koreng di hati?, tentu saja tidak, kaca yang telah pecah mungkin bisa disatukan kembali, tapi apakah bentuknya akan sama seperti semula saat baru pertama kali dibeli? tentu saja tidak, sama seperti hati yang hancur berkeping-keping, masih bisa disatukan, namun tidak akan pernah lagi bisa kembali seperti semula, dengan kata maaf pun tidak akan pernah bisa kembali seperti semula, apalagi tanpa kata maaf, aku yakin jika Rasalas, Zorya, Dhruv dan Rangi tidak pernah meminta maaf pada korban yang telah mereka bully, makanya ia bisa sampai nekat melakukan hal ini, tidak semua korban bully memiliki keberanian untuk membalaskan semua lukanya, tapi dia berani untuk membalaskan semua lukanya itu, kita seharusnya mendukungnya, bukan malah menghakiminya, sudahlah lebih baik kita kembali ke kelas saja"

__ADS_1


"Iya lu benar, ya udah ayok kita balik ke kelas"


Mereka pun pergi ke kelas setelah puas bergosip.


__ADS_2