
Pak Farel dan pak Panji mengetuk bergantian pintu kamar pak Jaka dan pak Rudi.
"Pak Rudi!" panggil pak Farel.
"Pak Jaka!" panggil pak Panji.
Setelah cukup lama mengetuk dan memanggil-manggil tapi tidak kunjung ada jawaban, akhirnya mereka memutuskan untuk membuka paksa pintunya. Ketika pintu berhasil terbuka, pak Farel dan pak Panji batuk-batuk karena bau menyengat yang membuat mereka kesulitan bernafas. Pak Farel pun dengan segera menutup pintu itu sembari menutupi hidungnya dengan bajunya agar bau menyengat itu tidak menyebar ke seluruh sudut rumah. Pak Farel dan pak Panji pun pergi menjauh dari tempat itu.
"Kamar mereka kok bau banget ya?" tanya pak Farel.
"Entahlah! apa karena mereka sudah menggunakan obat nyamuk yang tuan Deep berikan tadi?"
"Mungkin, jadi tuan Deep mencampurkannya dengan gas beracun?"
"Sepertinya begitu!"
"Kita harus secepatnya melapor hal ini pada pihak kepolisian, agar pihak kepolisian bisa segera mengeluarkan pak Jaka dan pak Rudi dari dalam sana!"
"Ya udah ayok!"
Pak Farel dan pak Panji pun pergi ke kantor polisi terdekat, agar pak Jaka dan pak Rudi bisa diselamatkan.
Beralih ke Deep, kini ia tengah membuat manekin dari potongan kepala pak Irwan. Deep meletakkannya diatas meja karena ia tidak ingin membawanya ke luar, takut ada yang mencurigainya, terlebih lagi anak buah Deep sekarang sudah bersikap kurang ajar memasuki kamar Dark tempat ia mengeksekusi para korbannya. Deep menoleh ke arah bi Rika yang tergeletak dan membalikkan tubuhnya. Deep memeriksa denyut nadi dan mendengarkan detak jantungnya. Jantungnya masih berdetak namun lambat.
"Sialan! dia masih hidup lagi!" gerutu Deep.
Melihat sisa semen dan pasir, Deep membuka seluruh pakaian bi Rika dan menjadikannya sebagai patung. Setelah beberapa jam, patung full body bi Rika pun selesai ia buat. Deep membiarkannya begitu saja, lalu memeriksa rekaman CCTV. Pada rekaman CCTV nampak pak Farel dan pak Panji masih hidup dan ke luar dari rumahnya, melihat hal itu Deep sontak terkejut dan panik. Deep yang tidak ingin lagi-lagi dipidanakan pun segera mengambil suntikan bius, karena ia tidak ingin membunuhnya secara langsung. Deep segera mengejar kepergian pak Farel dan pak Panji.
Pak Farel dan pak Panji yang berlari pun dapat dengan mudah dikejar oleh Deep. Deep langsung menyuntikkan obat bius itu ke leher mereka, dan mereka pun akhirnya tumbang. Deep langsung memasukkan mereka ke dalam mobil lalu kembali ke rumahnya.
Deep membawa pak Farel dan pak Panji ke ruang rahasianya. Deep langsung mengikat tangan dan kaki pak Farel ke sudut bathup yang di dalamnya juga sudah Deep taruh kabel yang sudah terputus. Deep mengikat tangan dan kaki pak Panji terduduk di kursi. Deep menarik sebuah kursi untuk duduk menyaksikan penampakan menegangkan. Perlahan-lahan mata mereka mulai terbuka dan Deep pun menyapanya.
__ADS_1
"Hai!" sapa Deep tersenyum melambaikan tangan pada mereka.
Mereka berusaha untuk melepaskan diri namun tidak bisa karena ikatan Deep sangat kuat. Deep menyalakan shower yang tepat berada diatas bathtub lalu duduk kembali dan merekamnya. Pak Farel berteriak-teriak karena tersetrum oleh kabel listrik yang terkena air. Pak Panji pun ikut berteriak dan berusaha untuk melepaskan diri tapi bangkunya malah terjatuh. Deep terus merekam aksi mereka sembari tertawa terbahak-bahak.
Melihat pak Farel tak sadarkan diri, Deep menghampirinya dan mematikan keran air.
Deep mengambil alat perkakas sembari tersenyum kecil.
"Kenapa tuan membunuhnya?" teriak pak Panji.
Deep tersenyum kecil dan menghampiri pak Panji.
"Hust! diamlah! bukan hanya dia yang akan mati, tapi juga kamu, karena kamu sudah ikut serta untuk mencaritahu rahasia ku, karena kalian sudah mengetahuinya, aku sudah tidak membutuhkan kalian lagi!" ucap Deep tersenyum kecil dan langsung memotong kaki pak Panji.
"Akh!" teriak pak Farel kesakitan saat satu kakinya terputus.
"Bagaimana rasanya hm? enak bukan? apakah kamu menikmatinya?" tanya Deep tersenyum kecil menatap pak Panji.
"Hm ku rasa tidak! karena kedua kaki ku masih utuh, tidak seperti kakimu yang buntung itu! UPS! Sorry! Kamu harus menjalani hari-hari mu dengan hanya memiliki satu kaki saja, tapi satu kaki ini buat apa ya?" tanya Deep mengangkat potongan kaki pak Panji dan menatapnya.
"Hm jika dijadikan sebuah sup nampaknya lezat! Tapi kalau cuma satu potong kayaknya kurang deh? Iya gak sih?" tanya Deep menatap pak Panji.
"Aku minta satu lagi ya?" tanya Deep tersenyum kecil menganggukkan kepala dan langsung memotong kaki pak Panji yang satu lagi.
"Nah gini! baru cukup! apa kamu mau aku buatkan sup daging?"
"Apa tuan akan membuat sup dari kedua kaki ku itu?"
"Ya! tentu saja! aku akan membuat sup dari kaki mu ini, kamu tidak boleh mati dulu ya! kamu harus menikmati sup buatan ku, baru kamu boleh mati, tunggu sebentar ya! biar aku buatkan sup dulu!" ucap Deep tersenyum dan langsung menguliti kulit kaki pak Panji.
"Kaki mu banyak bulunya ya? apa kamu tidak pernah menggunakan krim pembersih bulu? hm kulit mu ini tidak bisa langsung aku gunakan, harus dibersihkan dulu bulunya, tapi tak apa, kita ambil dagingnya dulu ya! buat bikin sup, kamu harus makan, sebelum mati, nanti kamu kelaparan kalau belum makan! oke? ya kamu tenang saja! akan aku buatkan sup terenak dari sup yang pernah kamu makan ya?!"
__ADS_1
Deep melakukan semuanya di depan mata pak Panji, yang membuatnya sangat mual. Sup kakinya pun akhirnya jadi, dan Deep menyuapkan sesendok sup dan nasi.
"Ayok makan! buka mulutmu! aaa..." pinta Deep menyodorkan sendok ke depan mulutnya dan membuka mulutnya sendiri.
Pak Panji menutup rapat mulutnya sembari menggelengkan kepalanya.
"Apa kamu tidak merasa lapar? aku sudah susah payah membuatkan mu sup, tapi kamu malah gak mau makan! ayok makan! ini enak lho!" ucap Deep dengan ekspresi sedih dan memakan sup yang tercampur daging kaki pak Panji.
Melihat Deep memakan potongan daging kakinya sontak ia pun langsung mual dan muntah.
"Kamu kenapa? kamu sakit ya? kok sampai muntah begitu! apa kamu masuk angin? makanya makan! ayok makan! buka mulutmu!" bujuk Deep dengan ekspresi wajah sedih.
Deep meninggalkannya sejenak dan kembali lagi. Deep langsung memasangkan alat pembuka mulut yang biasa dipakai di dokter gigi.
"Nah gitu dong buka mulut! aku suapin ya!" ucap Deep tersenyum kecil dan langsung menyuapkan sesendok sup itu tanpa ditiup sedikitpun.
Deep yang merasa kesal pun langsung menuangkan semu sup panas dan nasi itu ke mulut pak Panji hingga mau tidak mau ia menelan semuanya hingga tersedak. Deep langsung menuangkan segelas air ke mulutnya.
"Gimana rasanya? enak kan sup buatan ku? kan udah aku bilang rasanya sup itu enak! tapi kamu gak percaya sama aku! apa kamu masih lapar? masih ada sisa sup di panci, kalau kamu masih lapar, nanti aku ambilkan lagi, gimana?"
"Enggak tuan makasih! saya udah kenyang!"
"Udah kenyang ya? ya udah sekarang waktunya kamu mati!" ucap Deep tersenyum kecil dan langsung menusukkan pisau berulang kali ke perut pak Panji hingga ia tak sadarkan diri.
Deep menghentikan aksinya dan memeriksa apakah pak Panji sudah mati atau belum.
"Kamu udah mati belum?" tanya Deep menatap pak Panji yang menutup matanya.
"Kok kamu diam saja sih? kamu tidur atau mati? kamu ngantuk ya? hm ya sudah kamu tidur saja! tidur yang nyenyak ya! malaikat kecilmu akan segera kembali! kamu tunggu sini dulu ya! hm kamu juga ya! kenapa kamu hobi sekali tidur sambil berendam di bathtub? hm ya sudahlah! kalian yang akur ya di sini!" ucap Deep tersenyum kecil menatap pak Panji dan pak Farel secara bergantian lalu menepuk mereka secara bergantian.
Deep ke luar untuk mencari sesuatu di lemarinya.
__ADS_1