Pain Is Art

Pain Is Art
Deep Membunuh Teman-temannya


__ADS_3

"Zor lu mau kemana?" tanya Dhruv yang masih terus mengejarnya.


"Ke ruang CCTV"


Sesampainya di ruang CCTV, Zorya langsung mencari rekaman pada tanggal sebelum video itu tersebar.


Di dalam rekaman CCTV itu nampak Deep yang masuk diam-diam dan berdiri di luar jendela kamar mereka.


"Deep" kata Zorya dan Dhruv kaget saling menatap satu sama lain.


"Ngapain Deep disitu?" tanya Dhruv.


"Gw gak tahu"


Zorya dan Dhruv melihat jika Deep lah yang merekam semua pembicaraan mereka di dalam kamarnya, jadi itu semua bukan ulah Rasalas Ouranos, melainkan ulah Deep Akhtara.


"Kita telah membunuh orang yang tidak bersalah" kata Dhruv syok yang langsung menutup mulutnya dan meneteskan air matanya.


Zorya menatap Dhruv dan memegangi kepalanya yang terasa sakit.


"Apa tujuan Deep melakukan semua ini pada kita? kenapa dia mau mengadu domba kita?" tanya Zorya menatap Dhruv.


"Lu inget gak apa perkataan Rasalas tadi? kita harus minta maaf pada semua orang yang telah kita bully, dan Rasalas baru meminta maaf pada Dimas kan belum sama Deep? begitupun kita, kita bahkan belum meminta maaf kepada siapapun, dan Rangi?"


Zorya dengan segera memindahkan video itu ke ponselnya.


"Ayok kita temui Rangi, dia dalam bahaya saat ini, pasti Deep sudah membuat rencana untuk menjatuhkan Rangi"


"Iya"


Zorya dan Dhruv pun langsung pergi ke sekolah menemui Rangi dan Dimas. Kebetulan saat itu tengah jam istirahat, Zorya dan Dhruv yang melihat keberadaan Rangi dan Dimas pun segera menariknya pergi ke luar sekolah untuk membicarakan tentang hal ini.


"Gi ikut gw" kata Zorya menarik tangan Rangi.


Sementara Dhruv menarik tangan Dimas.


Mereka membawa Rangi dan Dimas ke taman untuk membahas hal ini.


"Ada apa Zorya?" tanya Dimas.


"Lihat video ini" kata Zorya menunjukkan video yang tadi telah ia pindahkan.


"Deep? ada apa dengan Deep?" tanya Rangi.


"Deep yang telah mengirimkan video percakapan gw dan Dhruv serta menuliskan nama Rasalas Ouranos yang membuat kita kesal dengan Rasalas dan..." kata Zorya menghentikan perkataannya dan langsung menundukkan kepala begitupun dengan Dhruv.


"Jadi Deep dalang dibalik semua ini?"


"Iya Gi"


"Apa jangan-jangan berita yang ada di papan buletin itu juga perbuatan Deep? tapi kan hanya Dimas yang tahu tentang hal itu"


"Tidak" jawab Dimas.


"Tidak? apa maksudnya tidak?"


"Deep mengetahui semuanya"


"What? seriusan lu?"

__ADS_1


"Iya, waktu itu Deep bertanya pada ku tentang kamu, aku menceritakan semuanya pada Deep karena Deep mengancam ku, aku tidak menyangka jika dia akan menyebarkan aib kamu di papan buletin itu, aku menghampirinya sesudah itu tapi lagi-lagi dia malah mengancam ku, aku minta maaf Rangi, aku minta maaf karena aku terpaksa melakukan hal itu" kata Dimas memegang kedua tangan Rangi dan meneteskan air mata.


"Sudahlah jangan menangis, tak apa, aku sudah menerima semuanya, lagipula itu benar, jadi itu tidak terlalu menyakitkan bagiku" kata Rangi tersenyum dan mengelus lengan Dimas.


"Iya" kata Deep tersenyum menganggukkan kepala dan menghapus air matanya.


Deep yang entah datang darimana ternyata sudah ada di belakang mendengarkan semua pembicaraan mereka.


Deep berlari pergi meninggalkan tempat itu. Deep membeli empat botol air minum, jarum suntik serta obat. Deep memasukkan obat itu ke dalam jarum suntik dan menyuntikkannya ke dalam botol air yang ia beli. Deep membayar seseorang untuk melancarkan aksinya.


"Pak saya boleh minta tolong gak?" tanya Deep menghampiri penjual minuman.


"Boleh dek ada apa?"


"Tolong jual ke empat botol ini pada ke empat anak laki-laki disana, ini uangnya" kata Deep memberikan sejumlah uang untuk melancarkan aksinya.


"Oke baiklah"


Penjual minuman itu mengeluarkan semua minumannya dan hanya menaruh ke empat botol Deep.


"Dek mau beli minuman gak? bantu bapak dek, minuman bapak hanya tersisa empat dan bapak harus secepatnya setoran pada atasan bapak" kata penjual minuman itu.


"Ya udah pak boleh" kata Zorya.


Mereka membayar satu persatu botol minuman itu dan meminumnya.


Memastikan jika waktunya tepat, Deep segera menghampiri mereka.


"Hai guys ikut gw yuk" kata Deep tersenyum.


"Mau kemana?" tanya Zorya.


"Ya udah ayok" kata Zorya memberikan kode pada teman-temannya.


Sesampainya di rumahnya, Deep langsung membawa Zorya, Dhruv, Rangi dan Dimas ke ruangan yang dulu dipakai ayahnya untuk membuang para korban kebrutalannya.


Deep mengambil samurai andalan ayahnya, samurai yang dulu Dark pakai untuk menebas leher para pengunjung di bar.


Deep tersenyum menatap mereka dan memainkan samurai milik ayahnya itu. Zorya, Dhruv, Rangi, dan Dimas hanya melihat apa yang dilakukan oleh Deep karena Deep sudah mencampurkan obat agar mereka mau mengikutinya dan terdiam menyaksikan segala kegiatannya. Ketika teman-temannya melihatnya dengan serius, Deep langsung menebas leher mereka hingga ke empat kepala menggelinding di lantai seperti buah kelapa jatuh dari pohonnya.


Deep memotong-motong tubuh mereka, menyatukannya dan menjahit seadanya. Deep membentuk sebuah bunga dengan empat kepala menjadi putik bunga.


Deep keluar mengambil kanvas kosong dan pewarna milik ayahnya dengan bajunya yang berlumuran darah.


Deep menjadikan mereka berempat sebagai satu lukisan bunga yang indah diatas kanvas.


Deep tersenyum menatap teman-temannya yang terlihat sangat indah dimatanya itu. Deep meninggalkan mereka dan membersihkan tubuhnya serta membuang bajunya ke dalam ruangan itu lalu kembali ke sekolah.


Lukisan bunga itu ia letakkan disamping lukisan mahakarya kucingnya yang indah.


Handphone Dark yang dikembalikan oleh pihak kepolisian pun dimanfaatkan oleh Deep untuk menawarkan hasil lukisannya kepada teman-teman Dark.


"Assalamualaikum om Julian, ini aku Deep anaknya Dark Aharnish teman om, aku mau menawarkan hasil lukisan ku"


"Wa'alaikumsalam, oke saya kesana sekarang"


"Oke om"


Julian bersiap-siap untuk pergi ke rumah Deep. Sesampainya di rumah Deep, Julian membunyikan bel di pintu pagar dan memanggil Deep. Deep yang sudah lama menunggu di teras pun segera membukakan pintu pagar.

__ADS_1


"Ayok masuk om" kata Deep tersenyum membukakan pintu.


"Oke"


"Duduk om"


"Hm"


Deep pergi mengambilkan minum untuk Julian dan beberapa cemilan.


"Dimakan dulu om, biar aku ambil lukisannya dulu"


"Oke"


Julian langsung minum minuman yang Deep berikan serta membuka toples makanan.


Deep membawa dua lukisannya ke bawah.


"Ini om"


"Bagus juga"


"Sebentar om masih ada lagi diatas"


"Oke"


Julian yang kasian melihat Deep bolak-balik dari atas ke bawah pun membantunya membawa hasil lukisannya. Setelah semua lukisannya berada di bawah, Julian melihat satu persatu hasil lukisan Deep.


"Bunga sama kucing tapi bentuk kucingnya beda-beda ya, tapi bagus-bagus hasil lukisan kamu, ternyata bakat Dark menurun ke kamu ya" kata Julian tersenyum.


"Iya om alhamdulilah" kata Deep tersenyum.


"Ya udah saya ambil dua lukisan ini ya, yang satunya mau saya jual lagi ke teman saya" kata Julian tersenyum mengangkat alisnya.


"Oke om" kata Deep tersenyum mengangguk kepala.


"Ini saya transfer kemana ya?"


"Ke nomor rekening papa aja om, soalnya aku belum bikin rekening sendiri"


"Oh oke"


Julian yang masih menyimpan nomor rekening Deep pun mengirimkan sejumlah uang ke nomor rekeningnya.


Deep membuka ponsel ayahnya dan melihat jika jumlah saldonya kini bertambah sejumlah dua milyar rupiah.


"Makasih ya om" kata Deep tersenyum menganggukkan kepala.


"Iya sama-sama" kata Julian menganggukkan kepala.


"Oh iya, kalau kamu mau lukisan kamu laku, kamu bisa buka toko seperti ayah kamu atau menjualnya secara online" kata Julian tersenyum.


"Oh oke baik om, nanti aku jual melalui online juga, makasih ya om sarannya" kata Deep tersenyum menganggukkan kepala.


"Sama-sama, ya sudah saya permisi, assalamualaikum" kata Julian tersenyum menganggukkan kepala.


"Wa'alaikumsalam om" kata Deep tersenyum menganggukkan kepala.


Deep mengantarkan Julian hingga keluar dan menunggunya hingga keluar dengan mobilnya. Julian membuka kaca mobilnya dan tersenyum serta menganggukkan kepala menatap Deep. Deep pun membalasnya.

__ADS_1


Setelah Julian pergi, Deep segera mengunci pintu pagarnya dan masuk ke dalam dengan senyum sumringah terpancar dari wajahnya.


__ADS_2