
Keesokan harinya Deep bersiap-siap untuk pergi ke sekolah, seolah tidak terjadi apapun disana. Seperti biasa Deep berjalan kaki menuju sekolahnya yang tak jauh dari rumahnya.
Deep menggunakan masker berlapis untuk menutupi hidungnya agar tidak menghirup gas beracun yang telah ia pasang di setiap AC. Deep langsung menuju ruang kepala sekolah untuk melihat apakah CCTV terpasang atau tidak. Deep memeriksanya dengan menggunakan sarung tangan agar tidak meninggalkan bekas sidik jari disana.
Deep memeriksa komputer ternyata komputer itu masih dalam keadaan mati dan itu berarti CCTV juga belum dinyalakan.
Deep mengambil foto kepala sekolah yang tergeletak dan para guru. Setelah puas mengambil foto di ruang guru, Deep pergi mengelilingi kelas dan kantin. Semuanya telah tergeletak pucat di bawah.
Deep pura-pura panik dan berlari keluar meminta pertolongan.
"Tolonggg! tolong!" teriak Deep.
"Ada apa dek?"
Deep menarik tangan seorang pria mengajaknya ke sekolah.
"Astagfirullahaladzim ada apa ini dek?"
"Aku gak tahu kak, aku baru sampai di sekolah tapi kenapa situasi sekolah seperti ini"
"Banyak siswa siswi juga tergeletak itu berarti kejadian ini terjadi saat jam sekolah kemarin, kamu kemarin tidak masuk sekolah dek?"
"Tidak kak, kemarin aku sakit, aku udah titip surat dokter sama teman ku, tadi pas aku baru sampai dan masuk ke kelas mereka semua telah seperti ini"
"Hm, bau apa ini, kenapa baunya seperti gas beracun, ayok dek kita harus secepatnya keluar dari dalam ruangan ini" kata pria itu menutup hidungnya dan menarik tangan Deep.
"Iya kak" kata Deep sembari menutup hidungnya menggunakan tangan karena masker yang tadi ia pakai telah ia lepaskan untuk menjalankan rencananya.
Pria itu pun langsung dengan cepat pergi ke kantor polisi dengan membawa Deep.
Pria itu menyelidiki kasus kematian misterius di sekolah yang menewaskan semua orang itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi dek? apa kamu mengetahui sesuatu?" tanya pak polisi menginterogasi Deep.
"Tidak pak, tadi aku baru sampai sekolah dan masuk ke ruang kelas tapi semuanya sudah seperti itu"
"Kamu kemarin kemana dek?"
__ADS_1
"Kemarin aku sakit pak, aku juga sudah titip surat dokternya sama teman aku"
"Baiklah kalau seperti itu dek, kamu pulang saja, kunci pintunya ya, bapak takut pelakunya juga mengincar kamu karena kamu satu-satunya siswa yang selamat karena tidak masuk sekolah"
"Iya pak saya permisi assalamualaikum" kata Deep menganggukkan kepala.
"Iya dek wa'alaikumsalam"
Deep kembali ke rumahnya dan langsung membakar botol racunnya dengan tumpukan sampah di rumahnya.
"Rajin banget dek bakar-bakar sampah" kata salah satu tetangga tersenyum menghampiri Deep.
"Akh iya bu habisnya sampah di dalam sudah menumpuk dan tidak ada yang mengambil sampahnya daripada saya kebauan sampah di dalam rumah ya mending saya bakar aja bu biar gak bau"
"Iya sih, apalagi sekarang kan kamu tinggal sendiri ya dirumah, nanti kalau kamu sakit gak ada yang menjaga kamu, ya udah lanjutkan aja bakar sampahnya"
"Iya bu"
"Bekas sampah didalam jangan lupa di pel dek pakai pewangi lantai biar gak bau sampah"
"Iya bu"
Deep melihat hasil fotonya tadi di dalam ponselnya. Deep nampak tersenyum menyaksikan foto itu dan pergi mengambil kanvas kosong dan pewarna miliknya, namun kanvas dan pewarna itu hanya tersisa sedikit tidak cukup untuknya melukis semua korbannya.
Deep pergi untuk membeli kanvas dan pewarna untuknya melukis para korbannya. Tak tanggung-tanggung Deep membeli seribu kanvas kosong dan pewarna untuk menambah stok.
Deep pulang ke rumahnya dan semua kanvas serta pewarna itu diangkut menggunakan mobil bak milik toko tempatnya membeli.
Setelah semua kanvas dan pewarna itu dimasukkan ke dalam Deep langsung melancarkan aksinya dalam melukis para korbannya.
Deep melukis dari pagi hari hingga siang hari sudah mendapatkan sepuluh lukisan. Deep menghentikan melukisnya karena perutnya sudah terasa sangat lapar. Deep mengunci pintu rumahnya dan pergi untuk membeli nasi Padang kesukaannya. Nasi Padang yang dulu selalu dibelikan oleh Dark.
Deep yang merasa sangat lapar akhirnya makan di tempat itu juga. Deep memesan dengan ayam bakar kesukaannya serta es teh. Ketika sedang makan, Deep mendengar suara tertawa ayahnya dan perlahan ia menatap ke depan. Nampak ayahnya yang tengah tertawa terlintas di matanya. Deep mengucek-ngucek matanya dan Dark seketika menghilang dari pandangannya.
Deep meneteskan air matanya dan menatap sekelilingnya mencari kemana kepergian Dark ayahnya. Deep melihat Dark sedang berlari ke arah jalan raya dan Deep pun mengejar kepergian ayahnya.
"Papa" teriak Deep mengejar kepergian ayahnya.
__ADS_1
Dark berlari sembari tertawa riang menatap Deep di belakangnya. Ada sebuah mobil yang ingin menabrak ayahnya. Deep pun berlari menghampirinya dan berteriak.
"Papa awas!" teriak Deep melihat mobil yang akan menabrak Dark.
Tubuh Dark terpental dan Deep seketika terjatuh dan berteriak menatap ke langit.
"Aaaaa!" teriak Deep menatap langit.
"Ada apa dek?" tanya penjual menghampiri Deep yang nampak sangat tertekan.
"Papa saya tertabrak om"
"Apa? dimana?" tanya penjual yang langsung mencari di setiap sudut jalan.
"Disana" kata Deep menunjukkan posisi ayahnya terlempar.
Ketika Deep menengok ke arah ayahnya tertabrak ia sontak terkejut karena melihat tidak ada tubuh ayahnya lagi di tempat itu. Deep menatap kebingungan lalu seketika tersadar jika ayahnya telah lama mati karena dijatuhi hukuman mati oleh pihak kepolisian karena ayahnya telah membunuh banyak orang itu. Deep seketika histeris mengingat semua kejadian itu, penjual yang melihat Deep nampak sangat tertekan pun memeluknya dan membawanya kembali ke dalam.
Penjual itu menyuapkan sesendok makanan karena makanan yang Deep pesan tadi sedikitpun belum ia makan.
"Dek makan dulu ya nanti kamu sakit aaa... ayok buka mulutnya"
"Tidak mau kak"
Seketika Dark kembali muncul di hadapannya dan tersenyum serta menganggukkan kepala.
"Makanlah nak, papa tidak ingin kamu sakit" kata Dark.
Mendengar perkataan Dark itu membuat Deep tersenyum dan mengambil alih sendok dari tangan penjual. Deep langsung memakan makanannya dan Dark pun tersenyum lalu seketika menghilang dari pandangannya. Deep mencari keberadaan ayahnya sembari masih terus menyendok makanan ke dalam mulutnya sendiri.
Setelah menghabiskan makanannya Deep pun kembali ke rumahnya dan meletakkan sejumlah uang di bawah piring bekas makannya.
Deep berjalan dengan ekspresi wajah datar. Deep tidak mempedulikan sekelilingnya apakah ada bahaya atau tidak. Penjual yang melihat Deep bengong pun membantunya menyebrang agar Deep tidak tertabrak.
"Kamu hati-hati di jalan ya dek" kata penjual itu.
Deep mengabaikan perkataan penjual makanan itu dan terus berjalan dengan ekspresi wajah datar.
__ADS_1