Pain Is Art

Pain Is Art
Psikopat Healing


__ADS_3

Ketika memastikan bi Rika dan para bodyguard pergi, Deep berlari ke mobilnya untuk mengambil alat-alat yang diperlukan untuk membunuh mereka.


"Kalian duduk dan saksikan dulu bagaimana cara aku membunuh mereka semua, karena aku memanggil kalian kesini hanya untuk memotong mereka saja, bukan untuk membunuhnya, mereka adalah mangsa ku, dan hanya aku yang boleh membunuh mereka" ucap Deep mengambil sebuah samurai.


"Oke, kita akan saksikan siaran langsung pembunuhan yang akan dilakukan oleh Deep Akhtara di pantai, sekian terimakasih" ucap Andika.


"Lu mau jadi penyiar berita hah?" tanya Gerry mendorong kepala Andika.


"Hahaha! seru juga kayaknya jadi penyiar berita, cepat bunuh mereka nanti gw rekam, lu juga pengen kan gw rekam?"


"Oke, rekam yang benar ya, biar gw gampang nanti melukisnya"


"Serahkan semua itu pada Andika Nash Alsheiraz dijamin semuanya beres!"


"Oke!"


Andika merekam seluruh kejadian pembantaian sesuai dengan permintaan Deep. Deep membunuh para wisatawan seperti membasmi nyamuk dengan raket listrik, dalam sekejap para wisatawan itu pun tumbang oleh Deep Akhtara. Andika pun mematikan rekamannya.


"WOW! gila! pro banget cara bunuhnya! gak perlu waktu lama udah langsung pada mati orang sebanyak itu!" ucap Andika menatap teman-temannya.


"Iya benar! keren banget ya tuh bocah!" jawab Gerry.


"Tapi wajar sih, kan bokapnya dia zikopet, pasti udah pro lah ya kebiasaan lihat bokapnya bunuh orang"


"Lah emang dia lihat bokapnya bunuh orang? sok tahu lu! kalau dia gak lihat gimana?"


"Iya juga sih, coba aja entar lu tanya sama dia"


"Dih ogah! lu aj sana!"


Deep memberikan kode kepada mereka dan James pun melihatnya.


"Kita dipanggil tuh! ayok cepetan!" ajak James.


Mereka memakai topeng penyamaran sebelum keluar dari mobil. Mereka membantu Deep memotong-motong dan menguliti korbannya. Setelah semuanya selesai, mereka pergi ke tempat pengiriman untuk mengirimkan daging, kulit, tulang dan darah manusia yang telah mereka ubah menjadi sirup.


"Kalian mau healing di pantai kan?" tanya Deep.


"Iya" jawab Gerry.


"Ya udah ayok kita balik lagi ke pantai, kalian bisa senang-senang disana, dan nanti juga makanan akan datang, tapi kita mampir ke suatu tempat dulu ya, aku mau beli beberapa kanvas sama pewarna dan kuas"


"Oke"


Mereka kembali ke pantai untuk bersenang-senang setelah membeli kanvas.


Deep mengirimkan pesan kepada bi Rika.


"Bi, steak nya pesan lima lagi ya sama minumannya, soalnya tadi aku gak sengaja ketemu sama teman aku di pantai, jadi sekalian aja dibeli, biar mereka juga bisa makan sama kita" kata Deep.


"Baik tuan"

__ADS_1


"Eh steak nya pesan lima lagi sama minuman kata tuan Deep" ucap bi Rika pada pak Zainal.


"Oke"


"Mas, steak sama minumannya pesan lima lagi ya!"


"Baik pak, mohon ditunggu"


"Oke!"


"Bantuin bawa kanvasnya" pinta Deep.


"Oke!"


Deep melukis para korbannya sedangkan James dan yang lain sedang berlarian, tertawa bahagia di tepi pantai.


"Kamu gak mau ikut juga? ayok ikut, kita main, ya mungkin ini terkesan gak banget sih, tapi ya lumayanlah buat healing, ayok!" ajak Zellyn menarik tangan Deep.


Deep pun ikut bermain bersama dengan James dan teman-temannya.


Setelah lima steak tambahan diantar, mereka kembali ke pantai.


"Kok pantainya sepi ya? perasaan tadi ramai deh" ucap bi Rika melihat sekelilingnya.


"Udah pada pulang mungkin, kita juga pergi udah daritadi kan?" tanya pak Zainal.


"Hm, iya sih"


"Iya" ucap bi Rika.


"Tuan Deep" panggil pak Zainal.


"Hm, iya pak, taruh situ aja dulu" ucap Deep.


Pak Zainal menggelar tikar dan menaruh steak serta minum diatas tikar.


"Udah mainnya! kita makan dulu ayok!" ajak Deep.


"Asik makan! ini yang ditunggu-tunggu daritadi!" ucap Andika yang langsung berlari.


"Giliran makanan aja lu cepat!" ucap Gerry menggelengkan kepalanya.


"Ye suka-suka gw lah! my perut dan my cacing yang utama, you setelah cacing-cacing diperut kenyang ya!" ucap Andika menoleh dan tersenyum menatap Gerry.


"Udah gede cacingan! minum obat cacing lu sana biar kagak kegatelan!"


"Kayaknya lu yang lebih kegatelan dari gw deh! siapa ya yang dulu pernah godain Zellyn?"


"Itu kan dulu! sekarang kan enggak ya Zellyn" ucap Gerry tersenyum kecil mengangkat alisnya.


"Enggak salah lagi buaya darat!"

__ADS_1


"Lah lu megalodon!"


"Gw caplok lu kalau gw megalodon!"


"Jangan gigit aku mas megalodon! sungguh daging ku sangat tidak lezat untuk kau makan! makan saja James! sepertinya daging dia lebih lezat!"


"Idih jijik gw! geli banget ikh!"


"Hahaha!"


Gerry berlari dan langsung duduk dekat dengan makanan.


"Dih dia duluan yang makan! woy ini yang pesan belum makan! Deep yang pesan makanan lu duluan yang makan!"


"Gw lapar gara-gara lu! diam gak lu! gw makan entar lu!"


"Sejak kapan buaya darat makan megalodon? buaya darat kan hanya bisa berjanji tidak untuk menepatinya, memuji hanya untuk mendapatkan, setelah dapat dibuang begitu saja, jauh lebih terhormat megalodon ya walaupun semuanya dimakan, tapi setidaknya gak banyak omong kayak buaya darat!"


"Gw curiga deh kalau tuh pernah pacaran sesama jenis dan lu jadi bottom nya! makanya lu daritadi bahas omong kosong terus! kayak lu gak pernah ngegombalin cewek aja!"


"Kagak! cewek kagak ada yang mau sama gw, soalnya gw kagak bisa ngegombal, dan gak mau juga sih! entar gw jadi spesies berbahaya lagi kayak buaya darat! ogah banget! lu aja sana Ger!"


"Dih ogah! lu aja sana!"


"Axcel, diam aja lu! kesurupan aja entar!"


"Diam akh gw lapar! berisik banget kalian! segala buaya darat lah, megalodon lah dibahas-bahas, bukan masalah apa-apa, gw kasian buaya sama megalodon asli disamakan sama kalian!" ucap Axcel.


"Enaknya diapain nih orang?" tanya Gerry mengangkat alisnya menatap Andika dan menatap Axcel.


Andika mendorong kepala Axcel hingga ia tersedak daging steak.


Andika memegang tangan Andika meminta bantuan, namun Andika malah menghindar dan menertawakannya.


James berdiri dan memukul punggung Axcel hingga akhirnya daging itu keluar.


"HUFT! sialan kalian! gara-gara kalian gw jadi keselek kan!" ucap Axcel di sela minum.


"Hahaha rasakan itu!" ucap Andika.


"Itu namanya karma, gimana rasanya? enak kan?" tanya Gerry mengangkat alisnya.


"Enak kepala lu peyang! kagak enak su!" ucap Axcel!"


Andika dan Gerry tertawa bahagia melihat Axcel sengsara.


"Udah diam kalian semua! makan gak boleh sambil ngomong!" ucap James.


"Tuh dengar kata pakar James Andrew Efrain!" ucap Andika.


"Andika berisik!" ucap Gerry, Axcel, James kompak.

__ADS_1


"Lah! ngapa pada kompak-kompakan banget? gak seru akh!" ucap Andika menatap teman-temannya sembari memakan steak nya.


__ADS_2