Pain Is Art

Pain Is Art
Masa Lalu Psikopat James


__ADS_3

Zellyn terbangun di tengah malam karena merasakan lapar. Zellyn memegangi perutnya dan menatap James suaminya yang masih tertidur.


"Mas" ucap Zellyn menepuk-nepuk pundak suaminya.


"Iya sayang, ada apa?"


"Aku lapar, kamu gak lapar mas?"


"Lapar? tapi kita mau makan apa sayang?"


"Gak tahu mas, tapi aku lapar"


"Ya udah ayok kita turun"


"Iya mas, kamu turun duluan aja"


"Iya sayang"


James menuruni anak tangga terlebih dahulu disusul oleh Zellyn.


"Sayang kamu tunggu sini dulu ya sebentar, jangan kemana-mana, bahaya buat kamu kalau kemana-mana"


"Iya mas"


James pergi meninggalkan Zellyn istrinya. Beberapa menit kemudian James datang dengan membawa banyak ranting dan juga dua buah batu.


"Itu untuk apa mas?" tanya Zellyn.


James hanya menatap Zellyn sembari membuat bentuk lingkaran besar dengan ranting yang ia bawa. Setelah berbentuk lingkaran, James menggosok kedua batu hingga mengeluarkan api. James menyalakan ranting itu dengan api yang keluar dari gosokkan batu. James menumpuk ranting sebagai penghangat untuk Zellyn. Zellyn meletakkan tangannya diatas.


"Sekarang kamu udah aman dari binatang buas, binatang buas gak akan berani mendekat ke kamu karena ada api disekelilingnya, ingat pesan aku ya, kamu jangan keluar dari lingkaran itu, biar aku cari makanan untuk kita dulu"


"Iya mas"


James pergi meninggalkan Zellyn untuk mencari makanan.


Zellyn senyam-senyum sendiri melihat perlakuan suaminya James. James merupakan tipikal pria layaknya es krim yang dingin namun manis. Cara James berbicara dan cara menatapnya memang terkesan tidak bersahabat, namun James selalu menjaganya, dan membuktikan jika ia benar-benar mencintainya.


Zellyn mengingat kejadian sebelum ia akhirnya memutuskan untuk menikah dengan James. Awalnya James adalah musuh bebuyutannya di kampus, karena James dilabeli sebagai salah satu mahasiswa yang nakal, namun terkenal pintar di kampusnya.


James suka menggoda para mahasiswi cantik yang ada di kampus, dan sering terlambat masuk ke kelas. Zellyn merupakan salah satu mahasiswi yang sering didekati oleh James, namun Zellyn risih dengan perlakuan James terhadapnya yang ia pikir terlalu berlebihan, maka dari itu, setiap James mendekatinya, Zellyn selalu menghindar, dan bahkan memaki James.


"Hai cantik!" ucap James mendekati Zellyn.


"Apa sih lu! pergi sana!"


"Galak banget sih cantik" ucap James membelai pipi Zellyn.

__ADS_1


Zellyn langsung mencengkeram tangan James dan memutarnya ke belakang. Zellyn mengikuti ekstrakurikuler taekwondo di kampusnya.


"Hahaha! lagian udah tahu dia anak taekwondo, pakai acara lu godain! kayak gak ada yang lain aja deh!" ucap Andika teman James tersenyum menggelengkan kepala.


"Gini ya bro, semakin galak seorang wanita ketika kita mendekatinya, itu berarti semakin lembut hatinya" ucap James tersenyum menatap teman-temannya.


"Asik! konsep darimana itu?" tanya Axcel tersenyum kecil mengangkat alisnya.


"Konsep cinta James Andrew Efrain, iya gak?" tanya Gerry tersenyum kecil mengangkat alisnya.


"Oh iya dong pastinya!" ucap James tersenyum kecil mengangkat kerah jaketnya.


"Gak jelas!" ucap Zellyn yang langsung pergi meninggalkannya.


"Eh tunggu dong" ucap James memegang tangan Zellyn.


"LEPAS!" ucap Zellyn ketus dan menatapnya tajam.


"Hm oke!" ucap James ketakutan dan melepaskan tangannya.


Zellyn pun pergi meninggalkan mereka.


"Kantin yuk, puyeng gw!" ajak James.


"Lah bentar lagi masuk tollol!" ucap Andika.


"Terus? hubungannya ke kantin sama masuk apa? gw mau ke kantin, kalau kalian mau ke kelas sana ke kelas duluan aja, gw puyeng, entar gw nyusul!" ucap James meninggalkan teman-temannya.


"Kita ikut dia aja atau gimana?" bisik Gerry.


"Ikut aja deh, daripada dicap gak setia kawan kan?, ayok!" ajak Axcel.


"Iya, tapi..." ucap Andika menghentikan perkataannya.


"UDAH AYOK!" ajak Gerry dan Axcel merangkul pundak Andika yang nampak tidak ingin mengikuti teman-temannya yang sesat.


Setelah dipaksa oleh Gerry dan Axcel, akhirnya Andika mau mengikuti teman-temannya.


"Bro!" panggil Gerry menepuk pundak James dari belakang dan langsung duduk di sampingnya.


"Lah katanya kalian gak mau ikut" ucap James menatap teman-temannya.


"Hm, siapa bilang? kan kita gak bilang, lu aja yang jalannya kecepatan, orang daritadi kita ngikutin lu dari belakang kok"


"Emang iya?"


"Lah iya, tanya aja sana sama Axcel dan Andika kalau gak percaya sama perkataan gw"

__ADS_1


"Hm oke gw percaya, ya udah pesan makanan sana, tadi gw udah pesan, cuma emang belum datang makanannya"


"Oke, ayok Sel, Dik" ajak Gerry.


"Iya" jawab Axcel dan Andika kompak.


"Lu bawa kartu gak Ger?" tanya James menatap Gerry.


"Bentar gw cari dulu, kayaknya sih gw bawa, atau ketinggalan di kamar gak tahu deh!" ucap Gerry membuka tasnya dan mencari kartu untuk mereka bermain.


"Ternyata gw bawa tuh kartu!" ucap Gerry meletakkan kartu itu diatas meja.


"Tas lu kosong Ger?" tanya Axcel melihat tas Gerry yang nampak tidak ada apapun di dalamnya.


"Kagak! itu gw bawa kartu ya gak kosong dong tas gw!" jawab Gerry.


"Kagak! bukan kartu maksud gw, maksud gw itu lu kagak bawa binder atau pulpen gitu buat mencatat materi nanti"


"Kagak, lah rajin banget pakai acara mencatat materi segala, mencatat materi juga kagak bikin gw pintar kok, kan gw biasanya cuma mencatat doang, kagak pernah gw baca, jadi ngapain ribet-ribet mencatat, kalau kagak jadi pintar juga gw!" ucap Gerry.


Teman-temannya yang mendengar perkataan Gerry pun sontak tertawa.


"Ternyata lu sadar ya kalau lu itu goblok!" ucap Axcel tertawa kecil.


"Sadarlah! lu pikir gw gila apa? lagipula juga ada James ini, dia kan pintar"


"Iya ya, kok lu bisa pintar sih James? kan lu juga sama kayak kita yang kagak pernah mencatat materi di kampus" sambung Axcel menatap James.


"Gw tidak perlu mencatat untuk mengerti apa yang seseorang bicarakan, mungkin kalian tidak terbiasa dengan hal itu, kalian hanya perlu menjadi pendengar yang baik untuk mengerti dan memahami apa yang seseorang ucapkan" jawab James menatap teman-temannya.


"Gw rasa dia lagi mikirin Zellyn deh" ucap Andika.


"Kayaknya sih iya" sambung Axcel.


"Hm, kalau iya kenapa emang?" tanya James menatap teman-temannya.


"Gak apa-apa sih" jawab Axcel.


"Permisi mas, ini pesanannya" ucap penjual makanan.


"Makasih ya pak" jawab Gerry tersenyum.


"Sama-sama mas, saya permisi" ucap penjual tersenyum menganggukkan kepala.


"Iya silakan pak" jawab Gerry tersenyum menganggukkan kepala.


"Udah jangan pada ribut! mending kita makan ayok! tujuan kita ke kantin kan buat makan bukan buat ribut!" ucap Gerry.

__ADS_1


"Hm, oke" ucap James.


James, Gerry, Axcel, dan Andika pun makan bersama tanpa ada rasa bersalah sedikitpun karena sudah meninggalkan kelas.


__ADS_2