
Kepala sekolah yang tahu jika Rasalas merupakan anak dari penjual bakso di kantin sekolah sontak segera pergi ke kantin untuk memberitahukan kabar duka atas meninggalnya Rasalas.
"Pak" panggil kepala sekolah.
"Ada apa?"
"Saya mau kasih kabar duka tentang Rasalas.
"Rasalas kenapa pak? Rasalas baik-baik aja kan? dia gak nakal kan pak dikelasnya?
"Hm iya dia gak nakal kok pak tapi saya mau memberikan kabar duka kalau Rasalas telah meninggal dunia"
"Innalilahi wa innailaihi raji'un, bapak serius? anak saya lagi belajar lho pak dikelas jangan bercanda pak"
"Saya tidak bohong pak, anak bapak dipukuli oleh Zorya dan Dhruv hingga tewas di dalam gudang, ini video yang Deep rekam saat mereka memukuli Rasalas hingga tewas"
"Kalian teman anak ku kan? mengapa kalian tega pada anak ku Rasalas? salah dia apa?"
"Dia telah menyebarkan video saat kami bertengkar, disitu tertera nama Rasalas Ouranos, kami yang kesal sontak membawa Rasalas dan memukulinya, tapi kami tidak bermaksud untuk membunuhnya, maafkan kami pak" kata Zorya menunduk dan meneteskan air matanya.
Mendengar perkataan Zorya sontak membuat ayah Rasalas syok dan terjatuh.
"Bu, sekarang anak kita sudah berada di samping mu, lalu untuk apa aku ada disini bu jika putra kita telah menyusul ke alam mu" kata ayah Rasalas terisak tangis.
Rasalas merupakan seorang anak piatu, ibunya meninggal karena terpapar covid-19. Selama ini Rasalas hanya hidup berdua dengan ayahnya yang bekerja sebagai penjual bakso di kantinnya.
Kepala sekolah berusaha menenangkan ayah Rasalas. Mereka mempersiapkan pemakaman Rasalas. Rasalas dimakamkan pada sore hari dengan dihadiri teman-teman sekolahnya serta Zorya dan Dhruv yang bersama dengan ayahnya.
"Saya minta maaf pak, karena anak saya Zorya dan Dhruv jadi anak bapak meninggal dunia" kata ayah Zorya dan Dhruv meneteskan air matanya.
"Gak apa-apa kok pak, saya ikhlas menerima semuanya supaya anak saya bisa tenang di alam sana bersama dengan ibunya"
"Pak" panggil kepala sekolah.
"Saya minta maaf mulai hari ini Zorya dan Dhruv saya keluarkan dari sekolah"
"Tidak apa pak, saya mengerti, terimakasih banyak karena pihak sekolah dan keluarga Rasalas tidak memperpanjang masalah ini ke jalur hukum"
__ADS_1
"Sama-sama pak, nak, jangan ulangi perbuatan kalian ini lagi ya ke orang lain, bapak telah memaafkan kalian, walaupun sakit, bapak harus bisa menerima kepergian anak bapak, supaya anak bapak bisa tenang di alamnya, akhir-akhir ini Rasalas selalu membicarakan tentang ibunya, dia selalu mengatakan jika ia rindu dipeluk oleh ibunya, ia ingin memeluk ibunya, dan takdir menjawab permintaan Rasalas dengan mempertemukan dia dengan ibunya diatas sana" kata ayah Rasalas menunjuk langit sembari tersenyum namun air matanya masih terus mengalir.
"Kami janji pak, kami tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama pada orang lain, kami minta maaf pak" kata Zorya terisak tangis dan langsung bersujud di bawah kaki ayah Rasalas begitupun dengan Dhruv.
"Pak saya minta maaf" kata Dhruv terisak tangis.
"Iya nak, bapak sudah memaafkan kesalahan kalian berdua, sekarang pulanglah, dan istirahatlah, semua yang sudah ditetapkan oleh Allah Subhanahu Wata'ala akan tetap terjadi, dan mungkin seperti ini cara Allah Subhanahu Wata'ala untuk menjawab doa-doa yang Rasalas panjatkan untuk menemui ibunya" kata ayah Rasalas meneteskan air matanya namun tersenyum menatap langit.
"Bangunlah nak, dan pulanglah, lupakan semua yang terjadi hari ini, bapak sudah mengikhlaskan kepergian Rasalas" kata ayah Rasalas membantu Zorya dan Dhruv berdiri.
Zorya dan Dhruv langsung memeluk ayah Rasalas dan meneteskan air matanya.
"Pak, sebagai permintaan maaf dari saya, apakah bapak bersedia untuk tinggal dirumah saya dan mengurus toko sepatu milik saya?"
Mendengar tawaran dari ayah Zorya dan Dhruv membuat ayah Rasalas terkejut.
"Bagaimana pak? apa bapak bersedia menerima tawaran saya?"
"Iya pak saya bersedia menerima tawaran bapak" kata ayah Rasalas tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Baiklah kalau begitu sekarang kita pulang saja"
"Zorya, Dhruv, papah mau kalian kemasi barang-barang kalian karena besok kalian harus mau masuk ke dalam pesantren, disana kalian akan belajar banyak ilmu agama yang akan membuat kalian sadar atas semua kesalahan yang telah kalian perbuat"
"Baik pah"
Dhruv dan Zorya langsung masuk ke dalam kamarnya dan mengemasi barang-barangnya ke dalam koper.
"Ada apa ini pah? papah mengusir Dhruv dan Zorya dari rumah?"
"Aku tidak mengusirnya, aku hanya ingin mereka pindah ke pesantren"
"Kenapa mendadak sekali pah?"
"Ayok ikut aku" kata suaminya menarik tangan istrinya keluar.
"Ada apa pah?"
__ADS_1
"Apa kamu tahu? anak kita habis membunuh seseorang, kemana saja kamu tadi hah?"
"Papah yang menyuruh ku untuk menemui rekan kerja papah untuk bernegosiasi, mengapa papah jadi menyalahkan ku?"
"Sudah lupakan saja, sekarang kamu sudah tahu kan apa alasan ku ingin memindahkan mereka berdua ke pesantren?"
"Iya pah"
"Oh iya satu lagi, anak kita dikeluarkan dari sekolah karena telah memukuli temannya hingga tewas, untung saja ayah dari anaknya yang dibunuh oleh mereka mau memaafkannya, jika tidak bagaimana nasib putra kita nantinya? ayahnya akan tinggal disini mengurus toko sepatu milik kita, aku ingin memberikan toko sepatu itu untuknya dan tempat tinggal yang layak, aku sudah memikirkan untuk membelikannya rumah baru tapi tidak dalam waktu dekat karena aku juga harus mencari rumah yang aman, dan tidak banjir bila musim hujan tiba, agar ia bisa merasakan kenyamanan walaupun tidak dengan kebahagiaan karena putra dan istrinya telah meninggal dunia"
"Iya pah, mamah setuju dengan papah, kasian dia"
"Iya mah"
"Karena kita ini semua terjadi kepada Rasalas, biar bagaimanapun juga dia pernah menjadi sahabat kita, dan kita dengan tega merenggut nyawanya hanya karena hal itu" kata Dhruv menunduk dan meneteskan air matanya.
"Iya lu benar, bagaimanapun juga kita pernah tertawa, kita pernah menangis bersama, semua kenangan itu tidak akan pernah bisa aku lupakan, dan hari ini adalah pembelajaran untuk kita agar kita tidak mudah untuk terpancing emosi apalagi hingga merenggut nyawa seseorang"
"Iya lu benar"
"Rasalas Ouranos maafkan kita, maafkan kita telah merenggut nyawa lu" kata Dhruv meneteskan air matanya menatap keatas.
"Iya Rasalas maafkan kita, maafkan kita telah merenggut apa yang seharusnya milik lu"
"Itu bukan sepenuhnya salah kalian, itu juga ada salah gw, salah gw karena telah membohongi kalian, memalsukan identitas gw dan status gw sebagai orang miskin, sekarang gw sadar jika lebih baik kita jujur agar sesuatu yang buruk tidak datang menimpa kita, gw tidak benci kok sama kalian, bagaimana bisa gw membenci kalian sedangkan dimata gw kalian adalah seseorang yang penting buat gw, kalian dan Rangi adalah sahabat gw, apa gw boleh minta satu hal sama kalian?" tanya arwah Rasalas yang datang menghampiri Zorya dan Dhruv bersama dengan ibunya.
"Apa? katakan saja" kata Zorya.
"Iya katakan saja, kita akan melakukan apapun yang lu minta"
"Tolong sampaikan permintaan maaf gw pada Deep, Dimas dan orang-orang yang telah kita bully semasa gw hidup, dan buat kalian yang masih diberikan kesempatan untuk hidup lebih lama daripada gw, kalian harus meminta maaf pada mereka dan memperbaiki semua kesalahan kalian sebelum ajal menjemput nyawa kalian, ketika ajal nanti menjemput nyawa kalian pastikan tidak ada hati lagi yang terluka agar kalian bisa tenang di alam baru kalian, gw hanya meminta itu pada kalian, tolong sampaikan permintaan maaf gw pada mereka ya" kata arwah Rasalas tersenyum namun dengan tatapan mata sedih.
"Baiklah, kita akan melakukan permintaan terakhir lu itu, semoga lu tenang di alam sana ya, semoga lu bahagia, sekali lagi kita minta maaf sama lu" kata Zorya meneteskan air matanya menatap Rasalas yang kini telah berbeda dunia dengannya.
"Iya, gw sudah memaafkan kalian, lagipula sekarang gw sudah bersama dengan ibu gw, titip ayah gw ya"
"Pasti, bokap lu akan tinggal bersama kita, dan kata bokap gw tadi kalau bokap lu merasa tidak nyaman tinggal bersama kita di rumah ini, bokap gw mau membelikan rumah baru buat bokap lu, dan bokap gw juga memberikan satu toko sepatunya untuk bokap lu" kata Zorya tersenyum.
__ADS_1
"Alhamdulillah, terima kasih banyak Zorya, Dhruv, semoga keluarga kalian selalu diberikan rizki yang berlimpah ya, dan semoga kalian selalu harmonis seperti ini, tidak ada lagi pertengkaran seperti video yang tersebar atas nama gw itu, gw tidak tahu siapa dalang dibalik semua itu, tapi yang pasti orang itu bukanlah gw, gw tidak akan pernah mungkin mengkhianati sahabat gw sendiri, walaupun kalian tidak bisa percaya dengan gw tapi demi Allah video itu bukan gw yang menyebarkannya, gw bahkan tidak ada di rumah lu saat itu bukan? lantas bagaimana gw bisa merekam lalu membagikannya? rumah lu ini sangat mewah, apakah tidak ada kamera pengawas di dalamnya? jika ada itu akan menunjukkan siapa dalang dibalik semua ini, gw pamit ya assalamualaikum" kata Rasalas tersenyum dan seketika menghilang bersama ibunya.
Mendengar perkataan Rasalas, Zorya jadi teringat akan kamera pengawas yang ayahnya katakan. Zorya pun berlari entah kemana dan Dhruv pun mengejar kepergian Zorya.