
Bi Rika dan pak Farel turun di depan rumah sakit jiwa. Ada tulisan "tutup" tergantung di depan pintu rumah sakit jiwa.
"Kok tutup ya pak? ini kan udah siang!" ucap bi Rika menatap pak Farel.
"Kita dobrak aja gimana?"
"Jangan! takut ada sesuatu yang aneh-aneh di dalam, apa lebih baik kita ke kantor polisi dulu ya bikin laporan?"
"Oke juga! ya udah yuk!"
"Iya!"
Bi Rika dan pak Farel pergi ke kantor polisi terdekat, dan mereka kembali ke rumah sakit jiwa ditemani oleh para polisi.
Para polisi membuka pintu rumah sakit jiwa dan menemukan para petugas rumah sakit jiwa yang tergeletak di lantai dengan kondisi yang sudah membusuk. Bi Rika yang tidak kuat dengan bau mayat memutuskan untuk menjauh dari rumah sakit, para warga yang kepo berdatangan untuk melihat ada apakah sebenarnya.
Polisi membawa mayat para petugas ke rumah sakit untuk dilakukan autopsi jenazah, sedangkan para pasien yang ada di rumah sakit jiwa itu dipindahkan ke tempat lain untuk pengobatan mental.
"Terima kasih sudah melaporkan hal ini pada pihak yang berwajib, saya tunggu kalian di kantor untuk meminta keterangan" ucap polisi menatap bi Rika dan pak Farel.
"Baik pak!" jawab bi Rika dan pak Farel kompak.
Para polisi pergi dari tempat kejadian perkara setelah memasang police line dan membawa para pasien.
Setelah dilakukan autopsi terungkap fakta jika para mayat petugas yang membusuk itu terkena benda tajam yang masih belum diketahui itu apa karena mayatnya sudah membusuk dan tak berbentuk. Tidak ditemukan satupun sidik jari pembunuh di tubuh ataupun pakaian yang mereka kenakan. Polisi kembali ke tempat kejadian perkara untuk mengecek rekaman CCTV, namun semua rekaman CCTV sudah terhapus dan bahkan kabel CCTV terputus. Data para pasien yang dirawat di rumah sakit jiwa itu bahkan semuanya menghilang. Polisi semakin dibuat bingung oleh pelaku pembunuhan para petugas rumah sakit jiwa itu.
Bi Rika dan pak Farel tiba di kantor polisi untuk memberikan keterangan.
"Kami awalnya merasa curiga pak tentang tuan Deep yang pulang dari rumah sakit jiwa setelah semalam dirawat di sana, tapi tuan Deep mengancam kami untuk tidak memberitahu siapapun tentang hal ini, kami bertengkar dan salah satu anak buah tuan Deep bernama pak Zainal memutuskan untuk pergi dan berhenti bekerja dengan tuan Deep, setelah kepergian pak Zainal, sejak itu kami tidak mendapatkan informasi apapun dari dia, padahal kami memintanya untuk tetap menjaga komunikasi, tadi pagi saya bertabrakan dengan dua orang wanita yang ke luar ketakutan dari dalam, saya tidak tahu kedua wanita ini masuk dari mana, karena saya tidak melihat kedatangan mereka, terus saya tanyakan pada mereka, "kalian mau apa di sini? kalian mau maling ya di kamar tuan Deep" terus mereka bilang "enggak" sampai akhirnya mereka menceritakan jika tuan Deep memotong jari salah satu wanita itu dan mengambil kedua hp mereka, mereka juga bilang kalau tuan Deep membunuh dua teman mereka dan juga tuan Deep sedang mencari keberadaan salah satu teman mereka yang melaporkan tuan Deep pada pihak kepolisian" ucap bi Rika.
"Lantas ke mana perginya kedua wanita yang bertabrakan dengan ibu?"
"Kami mengantarkan mereka ke rumah sakit untuk mengobati jarinya yang terputus karena tuan Deep"
__ADS_1
"Bisa antarkan kami ke rumah sakit tempat kamu mengantarkan kedua wanita itu? agar kami bisa menyelidiki lebih lanjut lagi kasus pembunuhan ini"
"Bisa pak!"
Bi Rika dan pak Farel pergi mengantarkan polisi ke rumah sakit tempat Jane dan Rima.
Rima masih ditangani oleh dokter, sedangkan Jane menunggu di luar ruang penanganan.
"Suster, pasien yang baru datang, yang ibu jarinya putus dirawat di mana ya?" tanya bi Rika.
"Pasien atas nama Prima Ainsley Angelina?"
" Saya tidak tahu siapa nama lengkapnya suster, tapi yang pasti tadi dia ke sini sama seorang wanita yang merupakan temannya"
"Iya benar, nama lengkap pasien itu adalah Prima Ainsley Angelina , sedangkan temannya bernama Ramida Jane Lorelei, pasien masih berada di ruang ICU, karena masih belum sadarkan diri pasca operasi jarinya"
"Ruang ICU di mana ya suster?"
"Oh oke! makasih ya suster!"
"Sama-sama ibu!"
Mereka pun pergi ke ruang ICU, nampak Jane yang sedang menunggu di depan ruang ICU.
"Mbak!" panggil bu Rika.
"Eh iya bu! ada apa?"
"Mbak, mereka ingin bertemu dengan mbak untuk menyelidiki kasus kematian para petugas rumah sakit jiwa yang sepertinya berkaitan dengan tuan Deep!"
"Mbak siapa namanya?" tanya salah satu polisi.
"Jane pak!"
__ADS_1
"Oke mbak Jane, bisa tolong ikut kami ke kantor sekarang?"
"Tapi teman saya gimana pak? dia kan masih belum sadar"
"Untuk teman mbak Jane nanti biar saya dan pak Farel yang jagain di sini"
"Hm ya udah deh! makasih ya bu! pak!"
"Iya sama-sama!" jawab bi Rika dan pak Farel kompak.
"Mari mbak Jane!" ucap salah satu polisi.
"Iya!"
Jane pergi ke kantor polisi, sedangkan bi Rika dan pak Farel yang menjaga Rima yang masih belum sadarkan diri.
Setelah beberapa saat mereka tiba di kantor polisi.
"Silakan duduk mbak!" ucap salah satu polisi.
"Iya pak!"
"Begini mbak, orang yang menjaga teman mbak itu adalah asisten rumah tangga dan anak buah dari Deep Akhtara, nah Deep Akhtara ini pernah membunuh para guru dan kami memasukkan dia ke rumah sakit jiwa karena mental ilness yang cukup parah, terus asisten dan anak buah Deep ini melapor ke kantor polisi karena merasa aneh rumah sakit jiwa masih ditutup padahal sudah siang, akhirnya kami menyelidiki kasus ini dan kami menemukan mayat para penjaga rumah sakit jiwa yang telah membusuk, kata bu Rika dan pak Farel, Deep kembali ke kediaman setelah dirawat satu malam di rumah sakit jiwa, mereka merasa curiga, namun tidak berani berbuat apa-apa pada saat itu, salah satu anak buah Deep ada yang pergi dari rumah, tapi tidak ada kabar sampai saat ini, kata bu Rika dan pak Farel, Deep langsung pergi setelah sarapan, lalu bu Rika bertabrakan sama mbak Jane dan temannya, kami ingin meminta penjelasan lebih lanjut mengenai Deep, agar bisa mendapatkan jawaban atas kasus yang belum terpecahkan ini, karena berdasarkan hasil autopsi jenazah para pegawai rumah sakit jiwa, tidak ditemukan sedikitpun sidik jari, rekaman CCTV, nama-nama pasien yang dirawat, bahkan benda tajam juga tidak ditemukan di tempat kejadian perkara, apa mbak Jane bisa menceritakan awal mula sampai Deep ini memotong ibu jari teman mbak?"
"Iya pak, jadi gini, awalnya saya, Rima, Prim, Acha dan Becky bikin vlog di salah satu pemukiman terbengkalai yang katanya angker gitu, kita tidak sengaja masuk ke rumah Deep, karena kita berpikir itu adalah rumah terbengkalai seperti rumah lain yang ada di sana, tapi pas kita masuk di dalamnya masih tertata rapi, sampai akhirnya Deep ini ke luar dan menanyakan untuk apa kita masuk ke dalam rumahnya tanpa permisi terlebih dahulu, kita jelasin kan Deep kalau tujuan kita itu mau bikin vlog pada awalnya, Deep ini mengerti dan tidak mempermasalahkan, kita ke luar dari rumah Deep, ketika ingin pulang, mobil kita tidak bisa menyala, bahkan ponsel kita tidak ada sinyal, Deep datang ngajak ke rumahnya, karena emang hari udah mulai gelap juga, akhirnya kita ke rumah Deep, Acha ini awalnya gak mau tapi kita paksa kan, Acha ini punya firasat kalau Deep psikopat atau buronan, makanya tinggal di pemukiman terbengkalai, tapi kita gak percaya sama Acha, karena yang kita lihat Deep itu baik, akhirnya kita masuk, Deep ngasih kita makanan, tapi Acha gak mau makan dan pergi dari rumah Deep, sampai malam kita tungguin Acha gak balik-balik, bahkan sampai pagi juga masih belum balik, saya telepon dealer mobil kan buat memperbaiki mobil Acha yang tidak bisa menyala, kebetulan kunci mobil Acha sama saya, saya kasih tuh kunci mobil Acha ke dealer mobil, saya ketemu Deep ke luar dari satu ruangan, saya gak merasa curiga pada saat itu, Becky ke luar buat nyari udara segar di pagi hari, sekaligus ingin mencari Acha katanya, tapi Becky gak balik-balik, nah Prim ini lihat dari kaca kamar kita kalau Deep bawa seorang perempuan ke satu ruangan, awalnya kita mikir itu pacarnya Deep dan mereka lagi berantem, jadi kita memutuskan untuk mencari Deep dan pacarnya itu, takut cewek itu kenapa-kenapa, kita berpencar kan, tapi Prim malah menemukan selembar kain yang tersangkut di depan pintu, dia kirim ke grup kita, dia dengar suara langkah kaki terus dia bersembunyi dan minta kita buat mengalihkan perhatian Deep, akhirnya kita ajak Deep makan ke luar, dan Prim ke luar dari persembunyiannya, Prim mengirimkan beberapa video yang ia temukan di rumah Deep, ada beberapa kepala yang tergantung di salah satu ruangan yang berada di dalam garasi mobilnya, diantara kepala yang tergantung itu ada kepala Acha dan Becky, kita lihatnya syok sekaligus nahan mual, tapi mau gak mau kita makan juga kan, biar Deep gak curiga, kakak laki-laki Prim ini polisi, Prim mengirimkan video dan foto yang ia ambil dari rumah Deep ke kakaknya, terus beberapa polisi datang ke tempat kita makan, Deep membunuh semua polisi itu dan membawa kita ke rumahnya, kita dibawa ke ruang bawah tanah, Deep bertanya siapa yang melaporkan pada polisi, kita diam saja, terus Deep ambil hp kita, dia angkat satu hp yaitu hp Rima, Deep nanya password hp Rima tapi Rima diam saja, Deep bertanya lagi terus Rima jawab kalau ponselnya itu hanya bisa dibuka dengan sidik jari, terus Deep memotong ibu jari Rima untuk membuka ponselnya, Deep membuka grup WhatsApp kita, dan terungkaplah jika Prim yang sudah melaporkan pada polisi, lalu pergi dan Deep menaruh potongan ibu jari Rima di jaketnya, sepertinya Deep berniat untuk mencari keberadaan Prim, saya tidak tahu lagi setelah itu"
"Oke terima kasih atas penjelasannya, nanti salah satu anak buah saya akan mengantar mbak kembali ke rumah sakit untuk menjaga teman mbak"
"Iya pak sama-sama! makasih juga udah antar balik ke rumah sakit!"
"Iya mbak!"
Jane diantarkan lagi ke rumah sakit tempat Rima dirawat.
__ADS_1