Pain Is Art

Pain Is Art
Bibir dan Lidah Pembohong Terbesar


__ADS_3

"Papah" teriak Deep yang langsung terduduk.


"Tenang ya dek" ucap salah satu polisi memeluknya.


Deep mendorong polisi itu dan menarik selang infus di tangannya berlari pergi dari sana. Deep yang berlari kencang, nyaris tertabrak oleh mobil dan untungnya mobil itu bisa mengerem tepat waktu. Deep pun kembali ke rumahnya.


Selama beberapa hari setelah hukuman mati yang diberikan pada ayahnya terjadi, Deep tidak keluar dari rumahnya sama sekali, Deep hanya makan dan minum dari semua stok persediaan yang ayahnya tinggalkan selama masih hidup, bahkan Deep juga tidak pergi ke sekolahnya. Wali kelas Deep pun mengunjunginya ke rumah.


"Assalamualaikum" ucap wali kelas Deep di depan pintu pagar.


Deep yang sedang berada di luar pun berlari menghampiri ke luar.


"Wa'alaikumsalam" ucap Deep membukakan pintu.


"Ibu guru, ada apa ibu kesini?" tanya Deep.


"Kamu kenapa tidak sekolah sayang?, apa kamu sakit?" tanya wali kelasnya.


Deep tidak menjawab pertanyaan wali kelasnya dan langsung masuk, wali kelasnya pun mengikuti Deep ke dalam. Ketika melewati halaman rumahnya, wali kelasnya sempat dibuat mual melihat banyak bangkai kucing yang mati mengenaskan. Wali kelasnya itu pun seketika menatap Deep.

__ADS_1


"Kenapa banyak bangkai kucing disini?, apa ini semua ulah dari Deep?, tapi apa anak itu bisa setega itu pada kucing?" batin wali kelasnya bertanya-tanya melihat bangkai kucing yang menghiasi pekarangan rumahnya.


"Ini bu, diminum dulu" ucap Deep memberikan aqua botol pada wali kelasnya.


"Iya makasih" ucap wali kelasnya yang langsung membuka tutup botol itu dan meminumnya.


"Kamu kenapa Deep?, apa kamu sakit?, sampai-sampai selama beberapa hari kamu tidak masuk sekolah" ucap wali kelasnya.


"Lucu sekali jika ibu bertanya seperti itu padahal ibu sudah tahu apa jawabannya" ucap Deep ketus.


Wali kelasnya yang mendengar perkataan Deep sontak terdiam mematung.


"Itu sangat mudah bagi ibu" ucap Deep menatap wali kelasnya dan langsung memalingkan wajahnya.


"Apa maksudmu Deep?" tanya wali kelasnya.


"Apa ibu tidak mengerti apa maksud dari perkataan yang aku ucapkan tadi?" tanya Deep menatap wali kelasnya.


Wali kelasnya hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan Deep.

__ADS_1


"Bagaimana bisa orang yang tak pandai membaca arti tatapan mata seseorang dapat mengetahui luka di dalam hatinya tanpa bibirnya mengeluarkan suara sedikitpun?, tidak selalu bibir yang harus berkata, karena selama ini setiap bibir berbicara pun mata selalu mengungkapkan semua kebenarannya, bagaimana bisa ada orang yang dapat memahami perkataan yang bibir ucapkan tapi tidak bisa memahami arti mata yang berbicara?, sedangkan bibir dan lidah bisa berdusta, bibir dan lidah selalu bekerjasama untuk membohongi kita kapanpun, di manapun dan dalam situasi sesulit apapun, bibir dan lidah dengan mudahnya melakukan hal itu, menipu kita dengan manisnya kata, sedangkan mata tidak akan pernah bisa berdusta, dan anehnya banyak orang yang percaya pada bibir, padahal perangko diciptakan untuk mengikat satu janji, dan itu berarti jika ucapan yang bibir katakan tidak bisa dipercaya sedikitpun, karena jika ucapan bisa dipercaya, dan janji manis yang bibir ucapkan bisa ditepati, maka tidak akan ada perangko seperti yang dijual saat ini, tapi mata?, mata selalu diabaikan, padahal mata adalah indera tubuh yang paling bisa dipercaya, bibir manis namun menyakitkan, tapi mata tidak, mata selalu setia mendampingi bibir dan lidah kapanpun dan di manapun, namun dengan teganya bibir dan lidah malah mengkhianati kepercayaan yang mata berikan kepada mereka, sangat aneh bukan?" tanya Deep menatap wali kelasnya menyeringai dan menggelengkan kepalanya.


Wali kelasnya yang mendengar perkataan Deep yang sangat bijak di telinganya itu pun menundukkan pandangannya dan memegang keningnya.


"Begitulah telinga, telinga mudah terhanyut oleh manisnya kata yang bibir ucapkan, telinga tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, telinga selalu terpesona dan hanyut dalam manisnya kata, sungguh sangat jahat bibir itu bukan?, hingga mampu mempengaruhi telinga, dan bukan hanya telinga saja yang akan terpengaruhi oleh manisnya kata yang diucapkan oleh bibir, hati pun juga akan ikut menjadi korban kemanisan kata, kenapa?, karena setiap kita mendengar satu perkataan manis, hati kita pasti akan langsung tersentuh, terbawa suasana dan hanyut di dalam lautan kebohongan yang sengaja bibir rangkai sedemikian rupa, jika hati terhanyut, maka logika pun juga akan ikut terhanyut dan tenggelam di dalamnya, ketika hati dan logika tenggelam, raga pun akan mengikuti kemana perginya arus itu membawanya pergi, bahkan ketika raga telah sampai di tepi jurang sekalipun, jika hati sudah terlena, raga pasti akan mengikutinya untuk terjun ke dasar jurang itu, hebat sekali bibir itu bukan?, dia mampu mengelabui telinga, hati, logika, dan bahkan raga, sedikit orang yang kasian pada mata dan mengerti arti terselubung dari setiap tatapan mata yang berbeda-beda itu" ucap Deep menyeringai sembari menatap wali kelasnya dengan tatapan kosong dan menggelengkan kepalanya.


"Ibu mengerti jika kamu sudah tertipu dengan kata-kata manis yang bibir ucapkan selama ini pada kamu, tapi hari ini, perkataan yang ibu ucapkan akan mempengaruhi telinga, hati, logika dan raga kamu, kamu tidak kehilangan seluruh dunia mu, masih ada seseorang yang bisa mengerti rasa sakit mu itu, kamu hanya perlu terbuka pada orang lain, agar kamu bisa menemukan kebahagiaan dan jalan keluar dari setiap masalah kamu itu" ucap wali kelasnya.


"Tidak!, tidak lagi!, aku tidak akan pernah mempercayai bibir, sudah cukup selama ini aku percaya pada dia, namun dia malah menusuk ku hingga hancur berkeping-keping" ucap Deep tersenyum kecil dan berlinang air mata.


"Kalau begitu tataplah mata ibu, agar kamu mengetahui makna yang ibu ucapkan pada mu itu Deep, Deep kamu tahu bukan jika sekolah itu penting?, ibu minta kamu lanjutkan pendidikan kamu itu, ibu tahu itu sangat menyakitkan untuk mu, karena kamu telah kehilangan dunia mu bahkan ketika kamu masih sangat belia, tapi tunjukkan pada mereka, tunjukkan pada dunia jika kamu mampu melewati semua itu Deep" ucap wali kelasnya menatap Deep dan memegang kedua lengan tangan Deep.


Deep yang mendengarnya sontak terdiam mematung menatap wali kelasnya dengan tatapan mata sendu.


"Baiklah, aku akan melanjutkan pendidikan ku, tapi itu bukan berarti jika aku terpengaruh oleh tajamnya lidah, melainkan karena aku menyadari itu semua pantas untuk aku perjuangkan" ucap Deep menatap wali kelasnya.


"Oke baiklah kalau begitu, ibu permisi, ibu tunggu kamu di sekolah besok pagi, kamu harus menepati perkataan mu itu, ingatlah Deep!" pinta wali kelasnya.


"Iya baiklah, besok aku akan pergi ke sekolah, tapi untuk saat ini, aku masih pengen mencari ketenangan di rumah yang seperti gudang penyiksaan ini" ucap Deep menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Wali kelasnya tersenyum sembari menepuk pundak Deep dan pergi dari sana namun pandangannya masih tertuju pada Deep yang terlihat masih sangat terpukul dengan semua masalah yang menimpa dirinya itu. Memastikan wali kelasnya pergi, Deep pun mengunci pintunya kembali dan masuk ke dalam kamarnya.


__ADS_2