
Ketika Deep dan Aeri sedang memilih menu, ada seorang pria yang dengan kurang ajarnya memegang belakang Aeri. Aeri menepis tangan pria itu namun pria itu masih terus menggerayangi tubuh Aeri. Deep yang melihatnya sontak kesal dengan perbuatan pria itu. Deep pergi meninggalkan mereka sejenak.
"Deep kamu mau kemana?" tanya Aeri.
"Sebentar kak, nanti aku balik lagi kok"
Melihat kepergian Deep membuat pria itu semakin menggila, dia menarik tangan Aeri membawanya untuk pergi bersamanya.
"Ini berjalan sesuai dengan keinginan ku" batin Deep menyeringai menatap pria itu pergi membawa Aeri.
Deep mengeluarkan pisau yang biasa ia bawa kemana-mana. Pisau dengan ujung yang runcing namun tumpul, karena Deep lebih menyukai benda tumpul untuk menyiksa korbannya, berbeda dengan Dark yang lebih menyukai benda tajam daripada benda tumpul.
Deep memakai sarung tangan serta memasukkan ujung pisau di saku celananya dan menutupi gagang pisau dengan bajunya. Deep berjalan menghampiri pria yang tadi membawa Aeri pergi.
Pria itu membawa Aeri ke sudut ruangan yang gelap dan sepi. Pria itu menggerayangi tubuh Aeri setiap incinya. Pria itu menenggelamkan wajahnya ke tekuk leher Aeri dan mencium aroma tubuhnya lebih dekat. Deep yang melihat keberadaan pria itu sontak tersenyum. Ketika pria itu ingin mencium bibir Aeri, Deep dengan cepat menusuk leher pria itu menyayat lehernya hingga nyaris putus. Aeri mendorong tubuh pria itu hingga terpental dan jatuh. Pria itu menatap Deep lemah menahan rasa sakitnya dan menunjuk Deep.
"Kaa-kau!" kata pria itu terbata-bata menunjuk Deep.
"Iya mas, aku kenapa ya mas? sakit ya hm?" tanya Deep yang langsung menusuk dada pria itu berkali-kali dan menyayat leher depan pria itu.
Lehernya kini hanya menyisakan beberapa inci saja untuk terputus dengan sengaja Deep memelintir leher pria itu hingga akhirnya leher pria itu benar-benar terputus. Tanpa rasa takut terpancar dari wajahnya, Deep malah mengangkat kepala pria itu dan menatapnya sembari tersenyum.
Aeri yang melihat Deep seperti seorang psikopat nampak sangat ketakutan.
"Tenanglah kak, orang seperti dia memang pantas untuk mati, tidak perlu takut, aku tidak akan pernah membunuh mu, ya karena aku masih membutuhkan mu, dan kamu juga gak boleh berhenti kerja sama aku karena belum satu bulan, aku tidak akan memberikan mu gaji ataupun uang pesangon ya karena kamu baru satu hari kerja sama aku, apa kamu mengerti?" tanya Deep tersenyum.
Aeri hanya terdiam ketakutan melihat Deep yang masih memegang kepala pria itu, Aeri tidak menjawab perkataan Deep sama sekali.
"Ambil handphone ku yang ada di dalam tas mu" pinta Deep.
"Uuu-untuk apa?" tanya Aeri terbata-bata.
"Cepat ambillah! aku tidak punya banyak waktu"
"Iii-iyya" kata Aeri mengeluarkan ponsel Deep yang tadi Deep titipkan pada Aeri.
__ADS_1
"Kodenya 012345"
"Oke"
"Buka kameranya"
"Iya"
"Cepat ambil fotonya"
"Iii-iyya"
Deep tersenyum memegang kepala pria itu ketika Aeri memberikan aba-aba.
"Satu lagi, cepatlah!" pinta Deep.
"Iii-iyya"
Deep tersenyum menatap ke arah kepala pria itu ketika Aeri memberikannya aba-aba.
"Iii-iyya"
Aeri masih sangat ketakutan dengan apa yang dilihatnya. Tanpa rasa jijik sedikitpun, Deep masih memakai sarung tangan yang berlumuran darah itu. Deep memasukkan tangannya ke dalam kantung jaket agar tidak ada yang melihat jika sarung tangan yang ia pakai berlumuran darah.
"Kita langsung pulang saja, nanti makan di rumah saja" perintah Deep.
"Iii-iyya"
Aeri langsung menjalankan mobil Deep dan pulang ke rumah Deep. Sesampainya di depan rumah, satpam rumahnya langsung membukakan pintu pagar agar mobil mereka bisa masuk ke dalam. Body guard ayahnya langsung membukakan pintu mobil untuk Deep. Deep langsung berjalan menuju ke dalam rumahnya dengan tangannya yang masih berada di dalam kantung jaket. Aeri menjaga jarak dengan Deep karena masih tidak percaya jika Deep yang masih sangat muda adalah seorang psikopat yang tega melakukan hal itu kepada pria tadi.
Deep langsung masuk ke dalam kamarnya membuka sarung tangan yang berlumuran darah itu dan jaketnya. Deep membersihkan tubuhnya sembari membersihkan darah pria tadi yang menempel. Ketika darah pria itu sudah tidak ada yang menempel di sarung tangan dan jaketnya, Deep merendamnya dengan deterjen sebelum mencucinya.
Deep keluar dari kamar mandi sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk. Deep memanggil Aeri untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Kak Aeri" panggil Deep.
__ADS_1
"Iii-iyya"
"Masuk kak"
"Iii-iyya"
Aeri masuk ke dalam kamar Deep. Aeri melihat satu persatu lukisan yang terpajang di kamar Deep. Lukisan yang nampak berbeda dari lukisan-lukisan yang pernah ia lihat sebelumnya.
"Hm Deep"
"Iya kak, ada apa?"
"Gak ada kok, kamu ngapain manggil kakak kesini?"
"Oh itu, ya aku cuma mau bilang sama kakak untuk melupakan semua kejadian yang terjadi tadi karena jika kakak selalu mengingat itu tidak ada gunanya, apa dengan kakak mengingatnya leher pria itu bisa kembali menyatu dengan tubuhnya? tentu tidak bukan? jadi untuk apa kakak selalu mengingatnya, pria itu sudah berniat kurang ajar sama kakak, untuk apa kakak membelanya? sudahlah kak, lupakan saja, aku melakukan hal itu untuk menolong kakak dari niat buruk pria itu, apa kakak tidak menyukainya?"
"Tidak! kakak tidak menyukainya Deep!"
"Kenapa kak? kenapa kakak tidak menyukainya? kakak lebih suka pria itu berbuat asuusila pada kakak gitu hah? aku tidak mengerti mengapa kakak malah membelanya daripada membela aku, salah aku apa kak? aku hanya ingin menolong kakak, dimana letak kesalahan ku?"
"Letak kesalahan mu adalah mengapa kamu harus membunuh dia? ada banyak cara untuk menolong ku tanpa harus merenggut nyawanya, kamu harus ke psikolog dek, kakak tahu mental kamu itu kena, kakak tahu kalau akal sehat kamu itu terganggu, karena orang sehat tidak akan mungkin mampu melakukan hal itu pada orang lain"
"Jadi kakak bilang aku gila gitu hah? kakak bilang aku gila hanya karena aku membunuh pria itu iya? kak mengertilah! aku membunuhnya untuk menyelamatkan nyawa kakak"
"Menyelamatkan nyawa dengan merenggut nyawa itu maksud kamu Deep?"
Mendengar pertanyaan Aeri membuat Deep sontak menundukkan kepala dan terdiam.
"Apa kakak gak tahu siapa aku?"
"Siapa kamu sebenarnya?"
"Aku adalah Deep Akhtara, anak dari pelukis terkenal Dark Aharnish yang dihukum mati karena membunuh banyak nyawa untuk dijadikan lukisan yang mahal, aku tidak tahu mengapa hasrat ini ada pada diriku, ini semua muncul ketika ayah ku meninggal dunia karena dijatuhi hukuman mati, semenjak Nora pergi membuat aku semakin hancur dan mereka datang dengan membully ku, semenjak saat itu hasrat itu muncul dan aku sering melihat papa ada di hadapan ku, papa mengatakan jika dia bangga karena bakatnya telah menurun kepada ku, aku ingin membuat papa bangga sama aku kak, karena selama papa hidup, aku belum bisa membanggakan papa" kata Deep meneteskan air matanya.
Mendengar perkataan Deep sontak membuat Aeri meneteskan air mata dan memegang kepalanya yang terasa sangat sakit. Aeri tidak mengerti mengapa Deep mengartikan hal yang berbeda. Aeri tahu jika ayah Deep bangga karena Deep telah menjadi seorang pelukis di usianya yang masih sangat muda, tapi bukan dengan cara membunuh nyawa seseorang juga.
__ADS_1
Aeri terus menatap Deep yang sedang menatap foto ayahnya yang terpajang di bingkai foto di dalam kamarnya.