Pain Is Art

Pain Is Art
Deep membunuh Aeri


__ADS_3

Ketika ijazah kelulusan Deep keluar, Deep mendaftar di sekolah menengah pertama negeri dengan dibantu oleh Aeri.


"Selamat ya Deep, akhirnya kamu lulus juga" kata Aeri tersenyum memeluk Deep.


"Iya kak" kata Deep tersenyum.


"Ya udah sekarang kita pulang, nanti kita daftar sekolah kamu ya, nanti kakak bantuin"


"Iya kak"


Sesampainya di rumah, makanan telah tersaji di atas meja makan karena telah dipersiapkan oleh asisten rumah tangganya.


"Tuan, nyonya makan dulu" kata asisten rumah tangganya.


"Iya bi nanti aja, aku mau mandi dulu" jawab Deep.


"Iya bi, aku juga nanti aja deh bareng Deep"


"Baik tuan, nyonya" kata asisten rumah tangganya tersenyum menganggukkan kepala.


Deep masuk ke dalam kamarnya, begitupun dengan Aeri. Di dalam kamar, Aeri nampak sangat kebingungan dan merasa bersalah dengan keputusan yang ia ambil untuk merahasiakan perbuatan Deep yang telah membunuh pria kemarin.


"Jika aku laporkan Deep ke pihak kepolisian kasian dia, dia masih sangat kecil, aku yakin kok kalau sebenarnya dia tidak sadar telah melakukan hal itu, karena aku mengerti jika sebenarnya Deep mengalami gangguan kesehatan mental, seharusnya Deep dibawa ke psikolog untuk mengobati mentalnya yang rusak oleh keadaan itu, bukan malah dilaporkan ke pihak kepolisian, aku harus bisa bujuk Deep agar dia mau pergi ke psikolog untuk mengobati mentalnya itu, tapi bagaimana caranya? jujur saja aku takut jika berbicara dengannya, aku takut jika dia emosi nanti dia juga akan memperlakukan aku sama seperti dia memperlakukan pria kemarin, aku ingin menolongnya, mengobati mentalnya namun aku takut jika dia membunuh ku, Deep masih kecil tapi ia tidak bisa mengontrol emosinya, di umur Deep yang masih belia, dia sudah harus dipaksa dewasa oleh keadaan yang membuatnya menjadi seorang pembunuh, mentalnya belum siap untuk menjadi dewasa, Deep masih ingin bersama dengan keluarganya, teman-temannya, tapi dia sudah kehilangan semuanya di umurnya yang segitu, jika secepatnya tidak diobati, kesehatan mentalnya akan semakin rusak oleh keadaan, kehidupannya akan semakin hancur, tapi bagaimana caranya? aku ingin memberitahunya namun aku takut, aku terlalu takut dengan resiko yang terjadi nantinya" Aeri resah memikirkan ia harus melakukan hal apa.


"Kakak turun yuk makan" panggil Deep mengetuk pintu kamar Aeri.


"Iii-iyya Deep" kata Aeri terbata-bata membuka pintu kamarnya.

__ADS_1


Aeri dan Deep turun untuk makan bersama. Aeri terlihat melamun dan hanya memainkan sendok dan garpu miliknya.


"Kak, kakak kenapa?" tanya Deep menepuk tangan Aeri.


"Aa-apa?"


"Kakak kenapa? kok bengong? kenapa makanannya gk dimakan? kakak gak suka makanannya ya? kalau gak suka nanti biar aku suruh bibi untuk buatkan makanan kesukaan kakak"


"Hm gak usah Deep, kakak suka kok" kata Aeri yang langsung memakan makanannya.


"Apa ada sesuatu yang kakak pikirkan?"


"Hm Deep"


"Iya kak, ada apa?"


"Kakak mau ngomong sesuatu sama kamu, tapi kamu janji ya jangan marah sama kakak"


"Soal mental kamu Deep"


"Mental aku? emangnya mental aku kenapa kak? aku gak apa-apa kok"


"Deep dengerin kakak, kamu harus berobat Deep"


"Berobat? aku gak sakit kok kak, kenapa disuruh berobat? emangnya aku sakit apa? orang aku gak ngerasa sakit kok kak, masa orang sehat di suruh berobat sih kak, gimana sih kakak ini" kata Deep menggelengkan kepalanya.


"Deep kamu tidak sehat, kamu sakit Deep, fisik kamu memang sehat tapi secara mental tidak Deep, mental kamu kena oleh keadaan Deep, mental kamu harus secepatnya ditangani"

__ADS_1


"Maksud kakak apa ngomong kayak gitu hah?" tanya Deep ketus.


"Maksud kakak itu ada suatu masalah yang bikin keadaan kamu jadi seperti ini, karena orang sehat tidak akan tertawa dan foto bersama orang yang telah ia bunuh, Deep se-emosi apapun orang sehat pasti dia tidak akan pernah membunuh seseorang, emosi kamu berlebihan Deep, dan setelah kamu membunuh seseorang kamu malah tertawa bahagia seolah kamu sedang menyaksikan panggung drama, kamu tertawa bahagia, tidak ada rasa penyesalan sedikitpun terlintas di wajah kamu Deep, saat kamu berfoto dengan kepala pria itu juga kamu tersenyum, kamu tersenyum menatapnya seolah kamu sedang memegang barang langka yang sulit untuk ditemukan, ekspresi kamu yang berbeda itulah yang membuat kakak yakin jika ada masalah dalam diri kamu Deep, kamu harus konsultasi ke dokter kejiwaan, kakak tidak bilang kamu gila, hanya kakak ingin kamu kembali Deep, kamu tidak menyadari, jika kau telah kehilangan jati diri kamu sendiri" kata Aeri meneteskan air matanya.


Deep melihat sekelilingnya dan menarik tangan Aeri mengajaknya pergi.


"Ayok ikut aku kak" kata Deep menarik tangan Aeri.


Deep membawa Aeri ke ruang bawah tanah tepat ia membuang jasad Zorya, Dhruv, Rangi dan Dimas. Deep langsung mengunci pintunya agar Aeri tidak bisa melarikan diri darinya.


Aeri yang melihat ada mayat dan berseragam putih merah pun dibuat syok.


"Kamu membunuh teman sekolah mu Deep?" tanya Aeri.


"Iya, aku membunuh mereka itu karena perbuatan mereka sendiri, apa kakak tahu? ketiga orang ini adalah orang yang telah membully ku dulu" kata Deep menunjuk Zorya, Dhruv dan Rangi.


"Aku membunuh mereka bertiga sebagai balasan yang setimpal karena mereka telah menyakiti ku, dan aku juga telah membunuh Rasalas lebih dulu, teman mereka yang miskin itu, ketika Nora masih ada di samping ku, dia sempat mengatakan jika Zorya, Dhruv, Rangi, dan Rasalas itu bukanlah orang baik, tapi aku mendengarkan perkataan Nora, aku tetap berteman dengan mereka walaupun depan mataku sendiri mereka menyakiti Nora, namun entah mengapa aku masih mau berteman dengan mereka, mereka membully ku ketika mereka tahu jika papa ku adalah seorang pembunuh, mereka mengatakan aku seorang anak pembunuh dan mereka juga memanggil ku seorang pembunuh, aku yang kesal menyusun rencana untuk menjatuhkan mereka, tapi ketika semua rencana ku belum berjalan dengan baik Dimas datang, dia membongkar semuanya kepada Zorya, Dhruv dan Rangi yang membuat ku akhirnya mengganti rencana baru untuk menjebak mereka agar mereka mau ikut ke rumah ku, aku memberikan mereka obat ke dalam minumannya yang membuat mereka berjalan mengikuti ku, aku membawa mereka ke ruangan ini, ruangan tempat dimana papa dulu membuang semua jasad korbannya termaksud juga mama, ya, aku berbohong dengan kakak, sebenarnya papah mati karena dijatuhkan hukuman mati oleh pihak kepolisian, sedangkan mama mati karena dibunuh oleh papa, aku menutupi itu semua dari kakak, agar kakak mau bekerja dengan ku, tapi kakak malah menyuruh ku untuk berobat karena kakak pikir mental ku telah rusak oleh keadaan, ya mungkin kakak benar, tapi aku tidak suka jika kakak ikut campur dalam urusan ku" kata Deep berjalan menjauhi Aeri.


Aeri nampak sangat ketakutan ketika melihat Deep sedang mengasah pisau.


"Apa yang mau kamu lakukan Deep? jangan gila Deep?"


"Mengapa kak? kakak takut? ini kan hanya pisau bukan belati, mengapa kakak harus takut? apa kakak tidak pernah menggunakan pisau? jika tidak lantas kakak memasak menggunakan apa? kakak tidak bisa masak? sampai-sampai kakak sangat ketakutan ketika melihat pisau" kata Deep berjalan perlahan menghampiri Aeri.


Aeri yang ketakutan pun mundur perlahan.


"Tii-tidak Deep, jangan bodoh Deep"

__ADS_1


"Bodoh? tidak, kakak yang bodoh, mengapa kakak ikut campur dalam masalah ku, kakak tidak ada hak untuk mengurusi urusan ku, kakak hanya seorang supir, tidak berhak ikut campur dalam masalah majikannya, ya aku memang lebih muda dari kakak, tapi itu bukan berarti kakak bisa bertindak semaunya di dalam rumah ku ini" kata Deep menyeringai sembari mengelus ujung pisau.


Aeri yang terus mundur akhirnya sampai di ujung dinding dengan kesetanan Deep langsung berlari dan menusukkan pisau itu pada Aeri. Tusukan pertama mendarat di perut Aeri. Aeri nampak kesakitan dan memegangi perutnya, namun Deep dengan brutal kembali menusukkan pisau itu berulang kali ke seluruh tubuh Aeri. Aeri pun akhirnya tewas setelah mendapat seratus tusukan dari Deep. Deep yang melihat Aeri tewas di tangannya pun tersenyum puas lalu mendorong tubuh Aeri hingga terjatuh ke atas mayat teman-temannya. Deep pun membuka pakaiannya yang penuh darah Aeri dan membuangnya di tempat itu lalu keluar dari sana, mengunci pintunya. Deep membersihkan tubuhnya lalu kembali ke kamarnya dengan mengunci pintu ayahnya.


__ADS_2