Pain Is Art

Pain Is Art
Persahabatan Empat Serangkai Berakhir


__ADS_3

"Joko" panggil Dhruv yang langsung menyeringai.


Rasalas yang mendengar sontak terkejut menatap Dhruv.


"Ada apa Joko? seperti sedang kebingungan gitu deh"


"Iya aneh sekali, ada apa Joko?" tanya Zorya.


"Oh iya gw tahu, pasti karena kita manggil lu dengan nama asli lu itu kan? oke gw mengerti, ada apa Rasalas Ouranos?" tanya Dhruv menyeringai menepuk pundak Rasalas.


"Hm, dari Salahuddin Joko Prawiro kok bisa jadi Rasalas Ouranos ya? perbedaan yang sangat signifikan" kata Zorya menyeringai menatap Rasalas dari atas hingga bawah.


"Malu kali dia punya bapak tukang bakso kantin UPS! sorry!" kata Dhruv menutup mulutnya.


"Kan dia sendiri yang bilang kalau dia itu malu punya bapak tukang bakso dan punya nama kampungan, makanya dia merubah namanya menjadi Rasalas Ouranos, hm Joko, kenapa harus malu? anda mengganti nama asli anda untuk mendapatkan teman bukan? ya memang anda sudah mendapatkan teman yaitu gw, Dhruv, dan Rangi, tapi apa lu lupa jika kita memandang kasta? ya memang sih Rangi itu anak mantan narapidana tapi setidaknya dia kaya tidak seperti lu yang miskin, jadi gw minta sama lu pergi, dan lupakan semua pertemanan kita, karena tidak ada perbedaan antara si kaya dan si miskin, apa lu mengerti akan hal itu Rasalas hm?" kata Zorya menyeringai mengangkat alisnya dan langsung pergi.


"Lain kali jika ingin mencari seorang teman, carilah yang sebanding dengan lu, cari teman itu yang selevel, anak kang bakso aja pakai sok-sokan mau temenan sama anak orang kaya, hei sadar posisi!, kelas bawah akan tetap dibawah jangan pernah bermimpi untuk menjadi kelas atas, berlian dan emas memang sama-sama perhiasan tapi beda level, berlian jauh lebih mahal daripada emas, sama seperti kita, kita sama-sama manusia tapi beda kasta, sadarlah Joko or Rasalas, gw pergi dan ingat pesan kita ya oke" kata Dhruv tersenyum menepuk pundak Rasalas dan langsung pergi meninggalkannya.


Mendengar perkataan Zorya dan Dhruv membuat hatinya semakin hancur, ia tidak menyangka jika sesuatu yang sudah ia tutup rapat kini terbongkar.

__ADS_1


"Rasalas" panggil Rangi.


"Ada apa Rangi? lu mau menghina gw juga sama seperti Zorya dan Dhruv begitu?"


"Tidak, ketika Zorya dan Dhruv mengetahui jika gw adalah anak mantan narapidana, mereka menjauhi gw, ya walaupun tadi gw lihat sendiri mereka masih menganggap gw, tapi cara dia melakukan hal itu membuat gw sadar jika selama ini gw telah salah dan menyakiti hati banyak orang, Rasalas, gw yakin ini semua perbuatan salah satu orang yang pernah kita bully, tapi gw gak tahu siapa, dan orang itu mengajarkan kita untuk tidak membully seseorang, dia telah menunjukkan bahwa korban bully akan jauh lebih menyakitkan jika membalasnya"


"Iya lu benar Gi, gw merasa bersalah banget Gi, gw juga orang miskin, nama gw juga sebenarnya kampungan, tapi gw malah membully seseorang hanya karena perbedaan kasta padahal kasta gw dan mereka juga sama, perkataan Zorya dan Dhruv membuat gw sadar, jika gw hanyalah kelas bawah dan tidak sepantasnya gw membully seseorang hanya karena kasta"


"Gw ngerti kok perasaan lu, gw masih mau kok temenan sama lu, tapi kita jauhi Zorya dan Dhruv, karena jika kita bersama dengan mereka, masalah kita akan semakin banyak lagi, mulai hari ini, kita bersahabat saja bertiga, gw, lu dan Dimas sahabat kecil gw, ya gw memang bodoh, gw sudah membully temen kecil gw hanya karena terpengaruh oleh Zorya dan Dhruv, sekarang gw menyesali semua perbuatan gw, ya seharusnya gw tidak melakukan hal itu padanya, Dimas telah menunjukkan pada gw jika dialah orang yang paling tulus pada gw, bukanlah Zorya dan Dhruv, jadi bagaimana? apa lu mau berteman dengan gw dan Dimas? pakai saja nama asli lu itu, itu nama pemberian orangtua lu bukan? lantas kenapa lu harus malu dengan nama itu? gw bisa kok menerimanya" kata Rangi tersenyum menepuk pundak Rasalas.


Rasalas tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya. Rangi mengajak Rasalas menemui Dimas.


"Gi lu ngapain sama si miskin ini?" tanya Dhruv menunjuk Rasalas.


"Rangi benar, kalian berdua tidak pantas untuk ditemani" sambung Rasalas.


"Eh miskin bisa diam gak lu?" tanya Dhruv mendorong Rasalas.


Rangi menahan Rasalas agar tidak terjatuh.

__ADS_1


"Joko, jika tidak diajak berbicara lebih baik anda diam! dan untuk lu Rangi, kita masih mau berteman dengan lu tapi kenapa lu malah milih berteman dengan orang-orang udik ini?" tanya Zorya menunjuk Rasalas dan Dimas.


"Orang udik yang bermartabat jangan lupakan hal itu Urtzi Zorya and Dhruv Kane" kata Rangi menyeringai.


"Ternyata sekarang lu sudah turun kasta ya Gi?" tanya Zorya mengangkat alisnya menyeringai.


"Tidak ada kasta yang membedakan seseorang, yang membedakan seseorang hanyalah sifat dan karakternya bukan harta maupun kasta, apa gunanya kasta hm? lebih baik menjadi seseorang yang miskin tapi kaya hati daripada menjadi seseorang yang kaya namun miskin hati" kata Rangi tersenyum.


"Oke baiklah, lebih baik kita pergi dari sini, jangan sampai virus dua orang miskin ini juga mengenai kita, biarkan saja Rangi tertular oleh virus si miskin itu, berlian tetaplah lebih berharga daripada emas ingatlah akan hal itu" kata Dhruv tersenyum menepuk pundak Rangi, Rasalas, dan Dimas secara bergantian.


"Berlian memang berharga tapi emas juga berharga, jangan lupakan juga akan hal itu Dhruv Kane" kata Rangi menepuk pundak Dhruv.


"Iya memang berharga tapi tetap saja masih berada dibawah berlian" kata Dhruv yang langsung pergi meninggalkan mereka mengajak Zorya.


"Jangan pernah bermimpi untuk menggapai langit camkan itu!" ledek Zorya mendorong mereka bergantian.


"Lu mungkin lupa dengan istilah "gapailah cita-cita setinggi langit, jika terjatuh kita pasti akan terjatuh diantara bintang" lu lupa atau tidak tahu dengan istilah itu hm?" tanya Rangi menyeringai mengangkat alisnya.


Zorya hanya menganggukkan kepalanya menatap Rangi dengan wajah sinisnya lalu pergi.

__ADS_1


"Rangi oh Rangi, kata-kata lu sangat bijak, tapi sayangnya kata-kata lu itu tidak ada artinya dimata gw setelah semua yang gw lakukan kepada gw itu tidaklah lagi berguna, seseorang yang menyakiti hati tidaklah pantas untuk membicarakan tentang hati, apa lu pikir setelah perubahan lu dan Rasalas itu akan membuat gw luluh dan melepaskan lu begitu saja? oh tentu tidak, gw tidak sebodoh itu, masih akan ada banyak luka untuk kalian, tunggu saja, sekarang tiba gilirannya Deep Akhtara yang bermain karena permainan Rangi Auriga dan Rasalas Ouranos kini telah berakhir, tunggulah permainan Deep yang selanjutnya, Deep akan menciptakan luka terdalam yang akan kalian ingat seumur hidup kalian" kata Deep menyeringai menatap Rangi, Rasalas dan Dimas dari kejauhan lalu pergi dari sana.


Rangi menepuk pundak Rasalas yang nampak tertekan oleh perkataan Dhruv dan Zorya untuk menenangkannya, sedangkan Dimas memeluknya. Ketiga sahabat baru itu pun saling berpelukan seperti teletubbies yang baru saja bertemu.


__ADS_2