Pain Is Art

Pain Is Art
Rencana Menolong


__ADS_3

"Buka matamu!" ucap Deep tersenyum kecil menatap pak Irwan.


Perlahan-lahan pak Irwan membuka matanya dan saat kedua matanya terbuka sempurna, Deep langsung menusukkan ujung garpu ke mata kanan pak Irwan dan ujung sendok ke mata kirinya secara bersamaan, hingga darah menyembur mengenai baju Deep. Deep tertawa puas menyaksikan mahakaryanya.


Deep merekam pak Irwan dan juga jarinya yang tadi Deep potong sembari tertawa terbahak-bahak. Deep memutar garpu dan sendok secara bergantian sembari satu tangannya merekam aksi gilanya itu. Deep menghentikan rekaman videonya dan meletakkan ponselnya diatas meja agar ia bisa merekam semua kegilaannya. Setelah dirasa pas, Deep melanjutkan kembali rekaman video yang tadi ia pause.


Deep terdiam sejenak melihat ke sekelilingnya mencari sesuatu yang bisa ia pakai, namun ketika melihat pisau yang tadi ia pakai untuk memotong jari pak Irwan, membuatnya tersenyum kecil dan langsung mengambil pisau itu.


Deep menyayat kulit wajah pak Irwan dalam keadaan ia masih sadarkan diri. Deep tertawa sembari menyayat sedikit demi sedikit kulit wajah pak Irwan agar bentuknya sempurna. Deep mencabut garpu dan sendok yang tertancap di matanya lalu mengangkat kulit wajah pak Irwan dan tertawa menatapnya. Wujud pak Irwan kini tampak menyeramkan dengan daging segar yang masih menetes darah ke lehernya, karena Deep hanya menguliti bagian wajahnya saja.


"Apa kamu masih hidup?" tanya Deep menatap pak Irwan.


"Kamu benar-benar sudah gila!" jawab pak Irwan.


Pak Irwan nampak seperti daging yang berbicara karena kulit wajahnya telah tiada.


"Hebat sekali kamu masih hidup! apa kamu masih kuat untuk ikut bersamaku ke rumahku?" tanya Deep yang langsung menarik tangan pak Irwan dan terus merekamnya.


Deep berlari ke depan pak Irwan merekam saat pak Irwan berjalan perlahan-lahan, meraba sekelilingnya karena matanya yang tidak bisa melihat.


Deep membukakan pintu mobilnya dan mendorong pak Irwan dari belakang lalu menutup pintu mobilnya. Deep mengunci pintu rumah pak Irwan terlebih dahulu lalu pergi dari sana menuju ke kediamannya. Deep memacu mobilnya dengan cepat dan mereka pun tiba di kediaman Deep, karena rumah pak Irwan tidak jauh dari rumahnya dan perjalanan juga tidak macet.


Deep dan pak Irwan pun tiba di kediaman Deep Akhtara.


Deep turun terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk pak Irwan. Deep menarik tangan pak Irwan untuk berjalan mengikutinya.


"Tuan" panggil pak Farel.


Deep menoleh ke samping dan panik ketika melihat pak Farel datang menghampirinya.


"Jangan katakan apapun! apa kamu mengerti?" tanya Deep berbisik pada pak Irwan.


"Ii-iya!" jawab pak Irwan terbata-bata.


"Tuan, dia siapa? kenapa mata dan tangannya berdarah seperti itu? dan wajahnya kenapa tuan? kulitnya mengelupas?"

__ADS_1


"Aku menemukan dia di jalan dan aku membawanya ke sini karena aku ingin mengobatinya!"


"Oh gitu, kenapa gak dibawa ke rumah sakit aja tuan?"


"Sudahlah! jangan banyak tanya kamu!"


"Hm baik tuan!"


Deep menarik tangan pak Irwan pergi meninggalkan pak Farel. Pak Farel nampak sangat kebingungan melihat tuan Deep yang nampak menyembunyikan sesuatu.


"Aku kok kayak ngerasa aneh ya sama tuan Deep? hm ya udahlah!" ucap pak Farel menatap kepergian tuan Deep dan pak Irwan.


Pak Farel pun pergi ke luar untuk menemui yang lainnya.


Bi Rika yang baru tiba di rumah membawa banyak belanjaan dan melihat mobil tuan Deep terparkir di depan teras.


"Tuan Deep udah pulang ya?" tanya bi Rika menatap pak Farel yang melintas.


"Udah barusan bawa cowok gak tahu siapa, jari tangannya sebelahnya terputus, kedua matanya berdarah, kata tuan Deep si dia mau membantu menyembuhkan pria itu, tapi kenapa gak dibawa ke rumah sakit aja ya?"


Deep sudah mengikat kedua tangan dan kaki pak Irwan dengan posisi duduk di kursi dan tak lupa Deep juga telah menyiapkan wadah untuk menampung darah pak Irwan. Bi Rika langsung masuk ke ruang rahasia Deep.


"Tuan buka pintunya tuan!" teriak bi Rika menggedor-gedor pintu rahasia Deep.


"Sial! mau apalagi dia ke sini! pasti pak Farel deh yang kasih tahu ke dia!"


Pak Irwan berusaha untuk berteriak-teriak agar yang datang bisa menolongnya ke luar dari tempat itu, namun Deep sudah menempelkan lakban hitam di bibir pak Irwan.


Deep meninggalkan pak Irwan dan menghampiri bi Rika yang sedari tadi berisik.


Deep membuka pintu rahasia itu dan langsung menarik bi Rika, Deep menghindar dan bi Rika pun terjatuh menggelinding di anak tangga.


"Akh!" rintihan bi Rika memegangi kepalanya yang terasa sakit.


"Ada apa? sakit hm? tapi kepala mu itu tidak mengeluarkan darah sedikitpun, sakit tak berdarah? kasian! siapa suruh kamu menganggu ku? mau apa kamu ke sini hm?"

__ADS_1


"Lepaskan dia tuan! jangan sakiti dia! saya mohon tuan!"


"Beri saya alasan mengapa saya harus melepaskannya?"


"Karena dia tidak bersalah tuan!"


"Omong kosong!" bentak Deep yang langsung menarik rambut bi Rika dan membenturkan kepalanya berulang kali ke lantai semen.


Darah mengalir di lantai Deep yang menandakan jika kepala bi Rika terluka karena benturan terus-menerus yang Deep lakukan padanya. Bi Rika tak sadarkan diri dan Deep pun meninggalkannya. Deep kembali menghampiri pak Irwan untuk mengeksekusinya. Deep yang memang benar-benar seorang psikopat pun terus-menerus merekam aksi gilanya itu. Deep meregangkan tangannya dan pinggangnya terlebih dahulu, lalu mengambil sebuah parang.


Deep memenggal kepala pak Irwan hingga kepalanya jatuh menggelinding. Deep terpikirkan satu ide gila dan berganti baju terlebih dahulu lalu pergi dengan mengunci semua pintu rahasia. Deep pergi dengan menggunakan mobilnya menuju toko bangunan. Setelah kepergian Deep, pak Jaka dan anak buah Deep yang lain mulai membicarakannya.


"Tuan Deep mau ke mana tuh? kok sendirian? terus orang yang tadi lu lihat ke mana? emang lu yakin tuh orang cowok? katanya kulit mukanya gak ada, cuma sisa dagingnya doang" ucap pak Rudi.


"Kayaknya sih cowok, tapi gak tahu juga deh cowok atau ceweknya, soalnya emang cuma sisa daging gitu di bagian wajahnya, tapi dia masih hidup, jadi kan ngeri banget gw lihatnya!" jawab pak Farel.


"Sayangnya gw gak lihat langsung sih bentukannya kayak apa, pasti seru-seru menyeramkan deh!"


"Menggelikan juga gak sih? sama aja kayak lihat daging jalan kan kalau kulit wajahnya gak ada?" tanya pak Jaka.


"Iya sih geli juga, serem juga, akh campur aduk lah pokonya!" jawab pak Farel.


"Itu dia kenapa ya? kok bisa sampai kayak gitu sih kulit wajahnya? sampai hilang semua gitu?" tanya pak Panji.


"Iya, hilang semua kulit wajahnya, lu tahu daging bentuk muka orang kan? bola matanya juga gak ada dua-duanya!" ucap pak Farel.


"Haduh ngeri banget! sakit banget tuh pasti! kok tuan Deep malah ninggalin dia sendirian ya?" tanya pak Panji.


"Entahlah!" jawab pak Farel.


"Gimana kalau kita bawa orang itu aja ke rumah sakit diam-diam? mumpung tuan Deep juga lagi pergi ke luar kan? gimana? kasian gw! kalau terlalu lama dibiarkan begitu, takutnya dia meninggal dunia kehabisan darah lagi!" ucap pak Jaka.


"Bener tuh! gw setuju! ya udah yuk kita ke kamar tuan Deep aja!" ajak pak Farel.


"Ayok!" jawab pak Panji.

__ADS_1


Pak Panji, pak Farel, pak Rudi dan pak Jaka pun pergi mencari keberadaan orang yang tadi pak Farel temui untuk membawanya ke rumah sakit.


__ADS_2