Pain Is Art

Pain Is Art
Makan Malam


__ADS_3

“Assalamualaikum tuan, pesanan tuan sudah diambil oleh security tuan bernama pak Jaka” notifikasi WhatsApp dari mas Data.


“Wa'alaikumsalam oke” jawab Deep.


Deep mengantongi ponselnya dan menatap bi Rika.


“Berbaringlah!” pinta Deep.


Bi Rika menuruti permintaan Deep dengan ekspresi wajah ketakutan.


Deep kembali merantai tangan dan kaki bi Rika di kasurnya.


“Kamu tunggu di sini dulu, biar aku ambilkan makanannya, mereka tidak boleh tahu tentang ruangan rahasia ini, ya sudah aku pergi dulu, tahan laparmu itu sebentar, karena aku juga lapar! biar aku ambilkan makanan dan minumannya dulu” ucap Deep.


Bi Rika menggerakkan kepalanya sebagai jawaban “Iya”, Deep pun pergi meninggalkan bi Rika dengan mengunci kembali ruangannya.


“Tuan!” panggil pak Jaka.


“Eh tunggu! lu liat tuan Deep gak?” tanya pak Jaka.


“Enggak, apaan tuh?” tanya pak Farel.


“Ini pesanannya tuan Deep, kita tunggu tuan Deep datang dulu baru makan, cukup kok ini jumlahnya satu orang satu”


“Kayaknya lebih deh”


“Ya udah sih biarin, ya mungkin tuan Deep saking laparnya jadi mau makan dua paket sekalian, biarin aja sih! jangan ikut campur urusan tuan Deep! kita kan hanya pekerjanya saja! nanti takutnya tuan Deep marah!”


“Hm iya sih”


“Itu pesanan saya ya?” tanya Deep menunjuk bungkusan yang pak Jaka bawa.


“Iya tuan” jawab pak Jaka memberikan bungkusan itu.


Deep menaruh bungkusan itu di bawah karena kesusahan mengambilnya.

__ADS_1


“Kalian ambil aja dulu satu-satu, nanti plastiknya buat saya bawa, saya mau makan di kamar aja” perintah Deep.


“Baik tuan” jawab pak Jaka.


Pak Jaka dan pak Farel menurunkan makanan dan minuman mereka ke lantai terlebih dahulu agar Deep bisa membawa sisanya.


“Sisain dua sama Coca-Cola itu punya saya” ucap Deep.


“Baik tuan” jawab pak Jaka menganggukkan kepala.


“Tuan ini lebih satu kotak” ucap pak Jaka.


“Iya sengaja, nanti buat bi Rika kalau dia balik, nanti kalau dia udah datang suruh ke kamar saya saja ambil makanan dan minumannya” ucap Deep.


“Baik tuan” jawab pak Jaka menganggukkan kepala.


“Ya udah saya ke atas dulu”


“Iya tuan”


Deep membuka gembok dan rantai bi Rika dan membantunya untuk duduk.


“Ini makanlah!” pinta Deep memberikan makanan dan minuman untuk bi Rika.


Deep membuka makanannya dan mulai memakannya tapi bi Rika hanya menatap makanannya.


“Kenapa hm? kamu tidak mau memakannya? apa kamu tidak lapar?”


“Apa ini terbuat dari manusia tuan?” tanya bi Rika ketakutan.


“Iya, entah dari mbak Ruby, kekasihnya, atau siapa aku tidak tahu, karena mereka sudah tercampur dan sudah menjadi makanan yang sangat lezat ini” ucap Deep memakannya sembari menatap bi Rika.


Bi Rika yang melihat Deep memakannya pun merasa mual karena ia tahu jika restoran Deep terbuat dari serba manusia.


Bi Rika mengambil minumannya dan melihat ada merk Coca-Cola yang masih tertempel di botolnya. Bi Rika membukanya dan meminumnya karena ia yakin itu bukanlah terbuat dari manusia karena masih terdapat merk pabrik yang menempel dan bukanlah minuman yang Deep buat yang terbuat dari darah manusia.

__ADS_1


Deep yang geram melihat bi Rika hanya mau minum saja dan tidak mau memakan makanannya pun menyuapinya.


Bi Rika menggelengkan kepalanya dan berusaha menutup serapat mungkin mulutnya namun Deep memaksanya. Bi Rika akhirnya memakan satu suapan daging manusia itu, dengan rasa mual yang ia rasakan karena masih terbayang saat Deep menghabisi mbak Ruby dan mas Gemini tepat di hadapannya. Bi Rika meneteskan air matanya mengingat saat kepala mbak Ruby terpental dan jatuh ke pangkuannya, namun Deep terus memaksanya untuk menghabiskan seluruh makanannya. Bi Rika pun menghabiskan makanannya karena suapan paksa dari Deep Akhtara dengan air mata yang terus menetes.


“Anak pintar!” ucap Deep tersenyum menepuk pundak bi Rika.


Deep kembali melanjutkan makanannya setelah makanan bi Rika habis tak tersisa.


Bi Rika membuka botol air mineral yang masih tersegel dengan merk pabrik yang masih tertempel di botolnya. Bi Rika nampak sangat tertekan, mual, dan merasa sangat bersalah karena telah memakan daging manusia itu.


Bi Rika menoleh ke arah Deep yang terlihat sangat lahap menyantap makanannya. Deep seperti sudah biasa memakan daging manusia, hingga tidak terlihat mual sama sekali saat memakannya.


“Aku akui bumbu masakan tuan Deep memang sangat enak, dagingnya juga sangat empuk, sehingga enak saat dikunyah, tapi daging itu adalah daging manusia hidup yang tuan Deep bunuh, orang yang tidak tahu jika daging itu adalah daging manusia pasti akan merasa sangat ketagihan saat memakannya, mengingat rasanya yang sangat enak dan empuk, tapi aku yakin, jika mereka tahu daging itu adalah daging manusia, aku sangat yakin tidak ada perut yang bisa menerimanya, selain kanibalisme, penyuka daging manusia seperti tuan Deep” batin bi Rika melirik Deep yang masih lahap menyantap makanannya.


Deep yang merasa terus diperhatikan pun menoleh ke arah bi Rika. Bi Rika langsung memalingkan wajahnya dari Deep. Deep menggelengkan kepalanya dan kembali menyantap makanannya.


“Sejak kapan tuan Deep mulai menjadi manusia kanibal seperti itu? dia selalu memakan masakan ku bukan? lalu kapan saat dia mulai menikmati daging manusia itu? wait! aku ingat sesuatu, waktu itu tuan Deep pernah nanya resep daging semur ke aku kan? terus dia kasih aku daging lalu aku mengajarkannya memasak, apa daging yang tuan Deep berikan padaku saat itu adalah daging manusia? tapi daging itu dikemas rapih seperti beli di mall, apa tuan Deep sengaja mengemasnya seperti itu agar aku tidak mencurigainya? jika memang benar, berarti secara tidak langsung, akulah yang mengajarkannya menjadi seorang kanibalisme? ya Allah apa yang telah aku lakukan padanya? mengapa aku membuat anak itu menjadi seorang kanibal? setelah tuan Dark dan nyonya Yasmin meninggal kan tuan Deep menjadi tanggung jawab ku, karena keluarga tuan dan nyonya tidak ada yang mau mengurus tuan Deep, tuan Deep masih memberikan ku gaji setiap bulannya padahal dia saja anak yatim piatu, dan tuan Deep bahkan menjadikan ku sebagai walinya, tuan, maafkan bibi, karena bibi tuan menjadi seperti ini” batin bi Rika meneteskan air matanya menatap Deep.


“Ada apa? kenapa kamu menangis seperti itu melihatku? kamu tidak perlu menghasianiku, aku tidak butuh rasa kasihan mu itu yang aku butuhkan hanya uang dan tutup mulutmu itu, jangan sampai kamu memberitahukan hal ini kepada siapapun!” ancam Deep.


“Ii-iya tuan!”


“Bagus!” ucap Deep yang langsung merapihkan bekas makan mereka.


Deep membuang bekas makanan mereka ke tempat sampah yang ada di depannya.


Bi Rika berdiri dan ingin pergi namun Deep menghentikannya.


“Mau ke mana kamu?” tanya Deep.


“Ke kamar mandi tuan!”


“Buka saja pintu yang ada di depan mu itu, kamar mandinya ada di pintu yang ada di dalam kamar itu”


“Baik tuan!”

__ADS_1


Bi Rika berjalan ke kamar mandi diikuti oleh Deep. Bi Rika masuk ke dalam kamar mandi dan Deep pun menunggu bi Rika diluar toilet.


__ADS_2