Pain Is Art

Pain Is Art
Lepas Tanggung Jawab


__ADS_3

"Aku mulai dari mana ya?" tanya Deep kebingungan.


Deep berputar-putar seperti gangsing dan ia pun melihat seorang pria melintas di depan rumahnya.


"Aneh sekali, tempat ini terpencil dan katanya terkenal angker, tapi kenapa banyak orang yang sering mendatangi tempat ini? ini kesempatan emas yang tidak boleh aku lewatkan begitu saja!" ucap Deep yang langsung mengambil tali yang sudah ia ikat.


Deep melemparkan tali ke leher pria itu. Pria itu nampak sangat kesakitan dan berusaha melepaskan tali itu dari lehernya. Setelah beberapa menit pria itu pun terjatuh tak sadarkan diri.


Deep menarik ujung tali dan tubuh pria itu akhirnya sampai di hadapannya. Deep memeriksa denyut nadinya dan tersenyum karena pria itu telah tewas. Deep segera menarik mayat pria itu ke dalam ruangan tempat ia mengeksekusi Acha.


Deep tidak menjadikan daging pria itu sebagai nugget melainkan untuk bahan makanan restorannya.


Deep ke luar dari dalam garasinya membawa potongan-potongan daging pria itu yang sudah ia kemas rapih, namun dia malah bertemu dengan Becky yang nampak sedang berjalan-jalan sendiri sembari menghirup udara segar yang ada di tempat itu.


"Hai Deep!" panggil Becky berjalan menghampirinya.


"Oh hai Beck!"


"Daging? kamu habis beli daging?"


"Hm iya!"


"Oh gitu! kamu kenapa sih? kok kayak orang ketakutan gitu lihat aku? santai aja kali Deep! aku gak gigit kok!"


"Hehehe iya Beck!" ucap Deep meletakkan daging itu di bagasi mobilnya.


Becky melihat banyak sekali daging yang terkemas rapih di dalam bagasi mobil Deep.


"Itu daging apa Deep? Daging sapi ya?"


"Manusia!" jawab Deep spontan.


"Hah? manusia? Itu daging manusia? Serius? Apa jangan-jangan kamu ..." ucap Becky menghentikan perkataannya dan perlahan mundur menjauhi Deep dengan ekspresi wajah ketakutan.


Deep melihat sekelilingnya, setelah memastikan aman dan tidak ada satupun orang yang melihatnya, Deep berjalan menghampiri Becky.


"Tenang saja! Aku tidak gigit kok! Ikut aku yuk!" Ajak Deep menarik tangan Becky.


"Enggak Deep!" ucap Becky berusaha melepaskan cengkraman tangan Deep.


Deep menarik tangan Becky dengan kencang dan membawanya ke tempat yang baru saja ia gunakan untuk mengeksekusi korbannya. Deep mengunci pintu garasinya dan membawanya masuk ke ruang rahasia, tak lupa Deep juga mengunci ruangan itu. Deep menyalakan lampu hingga terlihatlah pemandangan indah nan menyeramkan. Deep menggantung semua kepala korbannya di dinding sebagai lukisan dan juga di tempat itu ada lukisan yang belum sempat ia bawa ke The Deep Art.


"Hm kamu sangat ingin tahu mengenai daging itu bukan?" tanya Deep tersenyum kecil menatap Becky.


"Apa kamu merindukan Acha?" tanya Deep.


"Di mana Acha? kamu yang menculiknya ya?"

__ADS_1


"Lihatlah ke arah sana!" ucap Deep menunjuk kepala Acha yang tergantung di dinding.


Melihat kepala Acha yang tergantung di dinding sontak membuat Becky terkejut dan langsung menatap Deep namun Deep dengan cepat menusukkan ujung linggis yang lancip ke tengah-tengah kening Becky hingga linggis itu menembus ke belakang kepala Becky. Mata Becky terbelalak dan terjatuh. Melihat Becky yang sekarat sontak membuat Deep tertawa dan mencabut linggis itu dari kepala Becky. Deep menusukkan kembali linggis itu ke kepala Becky hingga Becky pun tewas.


Deep langsung memenggal kepala Becky dan menggantungnya di dinding sebagai lukisan, tepat di sebelah kepala Acha sahabatnya, kini yang tersisa hanyalah Prim, Rima, dan juga Jane pujaan hatinya. Deep menguliti tubuh Becky sembari bernyanyi sebuah lagu yang entah apa tapi terdengar menyeramkan di telinga. Deep membersihkan sisa darah yang menempel di daging Becky lalu mengemasnya dengan rapih, tak lupa ia juga membuat sirup merah yang bersumber dari pewarna alami yaitu darah manusia.


Deep membawa stok makanan dan minuman itu ke dalam mobilnya, serta lukisannya, setelah semua selesai ia pun pergi mengantarkannya ke The Deep Art dan The Deep Restaurant. Tidak ada raut wajah bersalah di wajahnya melainkan raut wajah bahagia dan Deep kembali menyanyikan lagu yang menyeramkan itu, sepertinya lagu itu adalah lagu yang Deep ciptakan sendiri untuk menghibur suasana hatinya.


Deep menelepon mas Data untuk membantunya membawa stok ke dalam restoran. Deep memanggil mas Zion yang tengah berjaga di The Deep Art.


"Mas Zion!" panggil Deep memberikan kode dengan tangannya.


Mas Zion pun menghampiri Deep.


"Tolong bawakan lukisan-lukisan ku ke dalam ya!"


"Baik tuan!"


"Oh iya, sama tolong panggilkan mbak Xena dan mbak Danica ya!"


"Baik tuan!"


Mas Zion mengangkat lukisan Deep dan membawanya ke dalam. Mas Zion langsung pergi ke ruangan mbak Xena. Mas Zion mengetuk pintu dan membukanya.


"Misi mbak Xena!"


"Mbak Xena ditunggu tuan Deep di depan!"


"Oh oke pak makasih!"


"Sama-sama!"


"Hm bawa laporan keuangan aja kali ya? siapa tahu nanti tuan Deep minta!" ucap mbak Xena menyiapkan semua berkas-berkas keuangan yang belum Deep periksa dan laporan keuangan terakhir yang Deep periksa.


Mas Zion pergi ke ruangan mbak Danica, nampak mbak Danica tengah bersantai menikmati gaji buta, karena Deep tidak selalu mengawasi para karyawannya. Pak Zion mengetuk pintu dan membukanya. Melihat pintu terbuka sontak mbak Danica menurunkan kakinya yang bersandar diatas meja.


"Misi mbak Danica, mbak Danica ditunggu sama tuan Deep di depan The Deep Art"


"Oh oke makasih!"


"Saya permisi mbak!"


"Iya silakan!"


"Haduh ngapain lagi tuh bocil manggil-manggil gw!" gerutu mbak Danica merapihkan bajunya lalu menemui Deep.


"Misi tuan!" ucap mbak Xena.

__ADS_1


"Iya, mbak Danica ke mana ya? tadi saya minta tolong mas Zion buat panggil sekalian"


"Tidak tahu tuan, mungkin mbak Danica sedang dalam perjalanan menemui tuan!"


"Oh oke!"


"Misi tuan!" ucap mbak Danica.


"Bagus deh, kalau kamu udah datang! ikut saya ke ruangan saya!"


"Baik tuan!" jawab mereka kompak.


"Tadi kenapa nyuruh nemuin di luar kalau akhirnya masuk-masuk juga ke ruangan dia!" gerutu mbak Danica.


Mbak Xena yang mendengar sontak melirik mbak Danica, begitupun dengan Deep yang melirik tajam, Deep kembali melanjutkan langkahnya dan tidak begitu mempermasalahkannya.


Mereka pun tiba di ruangan Deep.


"Ayok masuk!" ajak Deep.


"Baik tuan!" jawab mereka kompak.


"Silakan duduk!"


"Baik tuan!"


"Mana laporan kalian? saya ingin melihatnya!"


"Ini tuan laporan keuangan saya" ucap mbak Xena memberikan laporan keuangan yang sudah selesai ia buat.


Mbak Danica nampak terdiam ketakutan.


"Laporan mbak Danica mana?" tanya Deep.


"Hm maaf tuan, saya belum sempat untuk membuat laporannya!"


"Apa!" bentak Deep memukul meja.


Mbak Danica dan mbak Xena yang mendengar sontak menutup mata terkejut.


"Saya mempekerjakan kamu bukan untuk bermalas-malasan! saya memang jarang mengawasi kalian, tapi itu bukan berarti kamu bisa seenaknya di perusahaan saya!" ucap Deep tersenyum kecil menatap mbak Danica tepat di depan wajahnya.


Deep berjalan menjauhi mbak Danica dan duduk kembali di tempat duduknya.


"Makasih ya mbak Xena laporannya, mbak Xena boleh ke luar dari ruangan saya, dan mbak Danica tetap di ruangan ini, saya ingin bicara empat mata dengan mbak Danica, silakan pergi mbak Xena!" ucap Deep tersenyum kecil menatap mbak Xena.


"Baik tuan, saya permisi!"

__ADS_1


"Silakan!"


__ADS_2