
"Guru agama yang mana ya?" tanya Ardha kebingungan berhenti di depan ruang guru.
"Cari siapa dek?" tanya salah satu guru menghampiri Ardha.
"Hm cari guru agama pak, guru agama yang mana ya? soalnya saya baru pertama kali masuk sekolah" jawab Alby.
"Kenapa cari guru agama?"
"Teman saya kayaknya kesurupan deh pak, daritadi celingukan aja diajak ngomong, ngeliatin doang tapi gak nyaut, kayak orang ketakutan sama kebingungan gitu, kan saya sama temen-temen jadi takut lihat dia begitu, makanya saya cari guru agama"
"Ya udah tunggu sebentar saya panggilkan dulu"
"Iya pak, makasih!"
Beberapa saat kemudian guru itupun kembali bersama guru agama.
"Di mana teman mu itu?" tanya guru agama.
"Di sana pak" ucap Ardha berjalan menunjukkan keberadaan Deep dan teman-temannya.
Guru agama memegang pundak Deep, sontak Deep menoleh dan menatapnya tajam.
Guru agama membacakan ayat suci Al-Quran karena berpikir jika Deep kesurupan setan, padahal Deep seperti itu karena skizofrenia dia kambuh.
Deep mundur perlahan karena dimatanya Ardha dan kedua gurunya ingin menusuknya dengan pisau.
"Pergi!" bentak Deep.
"Tenang dek! gak apa-apa kok" ucap guru agama.
👤 "Aku akan membunuhmu!" ucap guru agama mendekati Deep namun dimata Deep guru agamanya membawa pisau dan akan membunuhnya.
"Deep tenang Deep!" ucap Alby.
👤 "Cepat bunuh dia sebelum dia yang akan membunuhmu!" perintah Alby yang hanya halusinasi Deep saja.
"Pergi!" teriak Deep menutup telinganya.
"Deep tenang! dia guru agama Deep!" ucap Arsa.
👤 "Dibunuh atau membunuh? hanya ada kedua pilihan itu di hidup mu Deep Akhtara! jika kamu tidak ingin membunuh, maka kamulah yang akan terbunuh Deep Akhtara!" ucap Arsa menyeringai.
__ADS_1
👤 "Ada apa Deep Akhtara? kamu takut pada kami? katanya kamu pembunuh, masa takut sih sama kita!" ucap Ardha dalam halusinasi Deep.
Deep berlari meninggalkan mereka semua yang nampak menyeramkan dimatanya. Mereka pun mengejar kepergian Deep.
Deep mengambil pisau yang tengah dipegang ibu kantin dan menodongkannya pada teman-temannya dan gurunya.
"Mundur kalian semua!" teriak Deep menodongkan pisau.
"Dek tenang ya!" ucap guru agama.
"Diam! letakkan senjata kalian!" perintah Deep.
"Senjata apa sih Deep? kita gak ada yang bawa senjata sama sekali malah lu yang bawa pisau!" ucap Ardha.
👤 "Kamu tidak bisa memerintahku! aku yang akan membunuhmu terlebih dahulu sebelum kamu membunuhku!" ucap Ardha dalam halusinasi Deep.
"Diam kamu! kamu pikir kamu hebat bisa membunuhku? tidak! aku yang akan membunuhmu terlebih dahulu! sini lu!" ucap Deep menghampiri Ardha dan menusuknya secara brutal hingga Ardha tak sadarkan diri.
Gurunya berusaha menarik Deep, namun malah tertusuk oleh pisau Deep. Deep tertawa terbahak-bahak melihat gurunya tertusuk pisaunya tepat di lehernya. Melihat gurunya yang sedang sekarat membuat ekspresi Deep berubah sedih. Deep seketika tersenyum dan menghampiri gurunya, membelai pipi gurunya yang sedang sekarat lalu menarik pisau itu ke samping hingga kepala sang guru terputus. Tawa Deep semakin kencang menatap kepala gurunya yang kini ia pegang. Deep tertawa dan berjalan membawa kepala gurunya menghampiri setiap siswa.
"Ini adalah satu peringatan kecil untuk kalian agar kalian tidak boleh ada yang macam-macam padaku! aku bisa saja membunuh kalian kapanpun aku mau! kalian mengerti?!" tanya Deep yang langsung tertawa terbahak-bahak seolah-olah sedang menonton komedi.
Melihat kebrutalan Deep dalam menghabisi guru agama pun membuat guru dan para siswa syok. Guru itu langsung memberitahukan hal itu kepada kepala sekolah.
"Anak-anak, kalian jangan takut ya!, jangan panik! bapak akan bilang hal ini sama kepala sekolah, kalian semua ikut bapak ya" pinta gurunya.
"Baik pak" jawab semua siswa kompak.
Semua siswa pun berjalan di belakang guru mereka. Guru itu berjalan sembari terus menatap ke belakang. Guru itu membawa mereka semua ke ruang kepala sekolah namun yang mereka dapati justru penampakan yang mengerikan. Kepala dan tubuh yang berserakan terpisah. Deep sudah menghabisi kepala sekolah dan para guru di sekolah itu. Satu guru yang tersisa beserta para siswa pun memergoki Deep yang tengah menguliti tubuh kepala sekolah yang mereka ingin temui. Guru itu memberikan isyarat untuk pergi perlahan agar Deep tidak melihat keberadaan mereka yang memergokinya. Ketika sudah sampai di luar sekolah, mereka pun segera berlari ke kantor polisi terdekat untuk melaporkan kejadian itu.
"Anak-anak, kalian hubungi keluarga kalian ya, suruh jemput di kantor polisi saja, biar pak polisi menemani kalian, bapak sama beberap polisi lain mau ke sekolah lagi untuk menangkap Deep Akhtara" ucap guru mereka.
"Baik pak" jawab para siswa.
Para siswa mulai menghubungi keluarga masing-masing dan menunggu keluarganya di kantor polisi, sedangkan guru mereka kembali ke sekolah untuk menangkap Deep Akhtara.
Setibanya di sekolah, mereka memergoki Deep yang masih menguliti kepala sekolah.
"Hentikan perbuatan mu itu!" ucap salah satu polisi.
"Siapa anda berani menghalangiku?" tanya Deep menantang pak polisi.
__ADS_1
"Tangkap dia!" perintah salah satu polisi.
Polisi lain pun berusaha menangkap Deep namun Deep terus memberontak. Deep terlepas dan berusaha melarikan diri lewat jendela, namun salah satu polisi menembak kaki Deep. Deep akhirnya terjatuh dan mereka pun membawa Deep ke kantor polisi.
Sesampainya di kantor polisi, teman-teman sekolah Deep pun merasa sangat ketakutan melihat Deep berjalan di depan mereka dengan tangan yang terborgol. Kaki Deep diobati dan ia pun di interogasi.
Setiap diberikan pertanyaan oleh polisi, respon Deep nampak berbeda, ia terus saja tertawa seolah tidak merasakan apapun dan tidak terjadi apapun juga, karena polisi yang merasa aneh dengan respon Deep akhirnya membawa Deep ke psikiater untuk diperiksa kesehatan mentalnya. Berdasarkan hasil pemeriksaan, Deep dinyatakan mengidap gangguan mental dan juga bukti fisik yang ditemukan di kamar Deep berupa surat yang menyatakan jika dirinya mengalami gangguan kesehatan mental yang akhirnya membuatnya harus menjalani pengobatan di rumah sakit jiwa.
Polisi senior yang menghukum mati Dark ayah Deep pun tak menyangka jika Deep akan tumbuh menjadi seorang pembunuh juga seperti Dark, namun tidak ditemukan adanya bukti jika restoran dan galeri seni miliknya bersumber dari manusia. Bi Rika menyembunyikan fakta itu dari pihak kepolisian karena merasa kasian pada Deep yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri.
Bi Rika datang mengunjungi Deep di rumah sakit jiwa.
"Tuan!" panggil bi Rika.
"Keluarkan aku dari sini!" perintah Deep.
"Bibi tidak bisa mengeluarkan tuan" jawab bi Rika.
"Kenapa? kamu ingin membantah ku? apa kamu ingin dihukum lagi?"
"Tidak tuan, tuan harus sembuh, tuan harus berada di rumah sakit jiwa sampai tuan sembuh"
"Tapi aku tidak gila! lantas untuk apa aku berada di dalam rumah sakit jiwa ini?"
"Tuan memang tidak gila, tapi tuan mental ilness, dan tuan harus berada di sini untuk mendapatkan pengobatan yang optimal, maaf tuan, bibi harus pergi, bibi berjanji akan menjaga The Deep Restaurant agar selalu digemari oleh masyarakat, tapi untuk The Deep Art bibi tidak yakin, karena bibi tidak bisa melukis seperti tuan, mungkin nanti bibi akan sewa pelukis saja, agar The Deep Art tetap berjalan"
"Jika sampai kedua bisnisku mati, aku akan membuatmu mati juga!"
"Bibi janji akan menjaga keberlangsungan kedua bisnis tuan"
"Oke kalau begitu! aku akan memantaumu dari sini, mas Data dan mas Baim akan terus mengabariku perkembangan kedua bisnisku, kamu hanya perlu memantaunya, biar mereka yang berusaha mengembangkan bisnisku, karena itu juga merupakan tugas dari mereka"
"Baik tuan!"
"Ya sudah kamu pergi sana! aku muak melihat wajahmu ada di depanku!"
"Baik tuan, bibi permisi, assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam" jawab Deep ketus.
Bi Rika pun pergi meninggalkan Deep.
__ADS_1