Pain Is Art

Pain Is Art
Hadiah Untuk Bi Rika


__ADS_3

Deep yang ingin pergi meninggalkan bi Rika pun berbalik arah.


"Oh iya, aku teringat akan satu hal, kamu belum makan ya? tunggu di sini sebentar ya, nanti aku ambilkan kamu makanan dan minuman serta kue ulangtahun, nanti kita rayakan hari ulangtahun mu di sini dengan meriah, aku mau beli balon, hiasan-hiasan, sama kue ulangtahun dulu ya, kamu bisa sabar menunggu kan? atau kamu mau makan dulu baru merayakan hari ulangtahun mu itu? akh tapi tidak! kita rayakan dulu baru kamu boleh makan ya, ya sudah aku tinggal ya, nanti aku ke sini lagi kok, kan di samping itu kamar aku, kamar tempat kamu bersembunyi dan mbak Ruby menutupi persembunyian mu, tapi tak apa lah, dia juga sudah berada di pangkuan mu" ucap Deep tersenyum menatap bi Rika lalu pergi.


Bi Rika merasa sangat mual dan ingin muntah melihat potongan tubuh mbak Ruby yang masih berada di pangkuannya. Bi Rika berusaha menjatuhkan potongan tubuh mbak Ruby dengan menggerak-gerakkan kakinya.


"Ya Allah gak jatuh-jatuh lagi, aku mual sekali melihat potongan tubuhnya di pangkuan ku seperti ini, bantu aku menurunkan potongan tubuh ini" batin bi Rika masih terus berusaha menjatuhkan potongan tubuh mbak Ruby.


Setelah berusaha cukup lama, akhirnya potongan tubuh itu terjatuh bersamaan dengan kursi bi Rika yang terjatuh karena terus ia gerakkan. Potongan tubuh mbak Ruby terpental dan kini tepat berada di depan wajahnya.


"Kenapa harus gelinding ke sini sih potongan tubuhnya kan aku makin mual, mau muntah, amis banget darahnya, malah melotot lagi matanya, tapi wajar sih kan dia matinya gak logis, ya Allah gimana ini?" batin bi Rika bertanya-tanya dan berusaha menggeser posisinya dengan tangan dan kakinya yang masih terikat di kursi.


Dengan susah payah bi Rika berhasil membalikkan tubuhnya hingga saat ini potongan tubuh mbak Ruby berada di bawah kakinya, bi Rika berusaha untuk menendang potongan tubuh mbak Ruby agar semakin jauh darinya. Potongan tubuh mbak Ruby kini semakin jauh dari bi Rika.


Bi Rika berusaha melihatnya ke bawah.


"Alhamdulillah, setidaknya potongan tubuhnya tidak terlalu dekat dengan ku, tapi gimana caranya aku bangun? masa aku kayak gini terus sih? tapi susah untuk berdiri dengan tangan dan kaki yang terikat seperti ini, tangan dan kaki ku rasanya mati rasa karena ikatan ini" batin bi Rika memejamkan matanya.


Beberapa jam kemudian Deep kembali ke ruangan tempat ia menyekap bi Rika.


"Astagfirullahaladzim, kamu kenapa jatuh seperti ini? dan kenapa potongan tubuh mbak Ruby bisa ada di sana? apa kamu berusaha untuk menyingkirkan potongan tubuh mu dari pangkuan mu itu? kenapa kamu ingin menyingkirkannya? padahal dia kan sudah membantu mu" ucap Deep berjalan ke arah potongan tubuh mbak Ruby.


"Hai mbak Ruby, lihatlah itu! orang yang kamu bantu, orang yang kamu khawatirkan malah berniat untuk menyingkirkan mu, kasian sekali kamu, tapi tak apa, semua akan segera berakhir, tapi aku menghias tempat ini dulu untuk merayakan hari ulangtahun dia" ucap Deep tersenyum menatap mbak Ruby dan menunjuk bi Rika.


Deep kembali menghampiri bi Rika dan berusaha untuk membangunnya. Deep yang kesusahan mengangkatnya pun akhirnya melepaskan ikatan bi Rika terlebih dahulu.


"Bangunlah, aku tidak kuat mengangkat mu dan kursi mu itu sendiri" ucap Deep.

__ADS_1


Bi Rika melepaskan lakban di mulutnya dan mengangkat kursinya.


"Duduk dan makanlah terlebih dahulu, biar aku hias tempat ini dulu" ucap Deep memberikan piring yang berisi makanannya yang ia bawa dari dapur beserta minumannya.


Bi Rika mengambilnya dan memakan makanan yang Deep berikan, Deep pergi untuk menghias tempat itu agar bisa merayakan hari ulangtahun bi Rika.


Setelah selesai makan, bi Rika berjalan tertatih untuk membantu Deep.


"Tidak perlu! ini hari ulangtahun mu, jadi duduklah! biar aku sendiri saja menghias tempat ini, ayok" ajak Deep menarik bi Rika dan memintanya duduk di kursinya.


Setelah cukup lama menghabiskan waktu untuk menghias, Deep telah selesai menghiasi tempat itu dengan sangat cantik dan berwarna kelap-kelip karena lampu LED strip yang ia pasang.


Deep membuka kotak kue bi Rika, meletakkan lilin dan menyalakan lilin itu.


"Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday, happy birthday, happy birthday to you!" Deep bernyanyi dengan senyum sumringah terpancar dari wajahnya.


Bi Rika meneteskan air matanya dan meniup lilin ulangtahunnya.


"Iya sama-sama, oh iya, aku punya kado untuk kamu, peganglah kue mu ini, aku akan mengambilkan kadonya" ucap Deep tersenyum memberikan kue ulangtahun bi Rika.


Deep masuk ke dalam kamarnya dengan membawa dua box kontainer besar, panjang, dan juga pisau dengan cara mendorong bak itu.



Contoh bak yang dibawa oleh Deep Akhtara.


"Untuk apa itu semua tuan? dan dimana hadiah yang tuan maksud tadi?" tanya bi Rika.

__ADS_1


"Tunggu dan lihatlah, karena ini adalah hadiahnya" ucap Deep tersenyum menatap bi Rika dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang biasa ia gunakan untuk menguliti korbannya.


Deep berjalan ke arah potongan tubuh ke atas mbak Ruby dan mengambilnya lalu meletakkannya di samping bak itu dan mengambil potongan tubuh mbak Ruby yang lainnya dan juga mengambil potongan tubuh mas Gemini.


Deep meletakkan setengah tubuh ke atas mbak Ruby ke dalam satu bak yang ia bawa. Deep mulai menguliti tubuh mbak Ruby dan darahnya pun menetes ke dalam bak. Bi Rika yang terkejut sontak menutup mulutnya dengan tangannya dan memejamkan matanya.


"Bukalah matamu dan lihatlah hadiah mu!" pinta Deep.


Bi Rika perlahan membuka matanya dan menyaksikan Deep menguliti tubuh mbak Ruby dan mas Gemini.


Deep menarik tangan bi Rika dan mengajaknya untuk melihatnya dalam mencuci dan mengemas potongan mayat itu.


"Begini cara ku dalam mengemas para korban ku hingga tidak ada yang menyadarinya jika makanan yang mereka makan itu bersumber dari manusia yang telah aku bunuh" ucap Deep tersenyum menatap bi Rika dan melanjutkan pengemasannya.


Setelah semua selesai dikemas, Deep menarik tangan bi Rika ke bak tempat menampung darah tadi. Deep memperlihatkan pada bi Rika cara mengubah darah manusia menjadi sirup yang harum dan manis.


"Cobalah sirup ini! sirup ini sangat manis!" pinta Deep menyodorkan sendok berisi sirup darah.


Bi Rika berusaha untuk menolaknya namun Deep mencekokinya dan mau tidak mau bi Rika menelannya.


"Bagaimana? sirup ini sangat lezat bukan?" tanya Deep tersenyum menatap bi Rika.


Bi Rika menganggukkan kepalanya dengan ekspresi wajah ketakutan.


Deep memasukkan sirup darah itu ke dalam botol. Setelah semuanya selesai, Deep meletakkan ke lemari pendingin. Deep mengambil kanvas kosong dan pewarna miliknya lalu melukis mayat mbak Ruby dan mas Gemini.


"Itu semua adalah hadiah untuk mu, kamu ingin mengetahui segala hal tentang ku bukan? aku sudah memberitahukan semuanya kepada mu, jadi bagaimana? apa kamu menyukai hadiah dari ku? tahun ini aku sudah memberikan mu banyak hadiah, semua rahasia ku sudah ku beritahukan kepada mu, apakah kamu sudah puas mengetahui semuanya?" tanya Deep tersenyum menatap bi Rika.

__ADS_1


Bi Rika hanya terdiam menatap Deep. Deep menatap bi Rika sekejap lalu bangkit dan membungkus hasil lukisannya dengan plastik transparan.


Deep menarik tangan bi Rika dan mendorongnya ke atas kursi lalu kembali mengikat tangan dan kakinya serta melakban mulutnya. Deep membawa beberapa potongan yang sudah ia kemas untuk dibawa ke The Deep Restaurant. Deep membawanya dengan menggunakan keranjang dorong dan melewati lift dan meletakkannya ke dalam mobil lalu melakukannya berulang kali. Setelah semua masuk ke dalam mobilnya, Deep mengunci pintu tempat ia menyekap bi Rika lalu pergi ke The Deep Restaurant.


__ADS_2