Pain Is Art

Pain Is Art
Borong


__ADS_3

Deep yang merasa belum puas pun mencari korban berikutnya, namun saat mendengar suara adzan dan melihat sebuah musholla membuat hatinya bergetar. Deep menghentikan mobilnya dan mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat ashar.


Deep kembali ke mobilnya dan mengambil dompetnya lalu kembali ke dalam musholla. Deep mengeluarkan lima lembar uang seratusan dan memasukkannya ke dalam kotak amal lalu pergi.


Deep melihat seorang ibu-ibu yang mengambil botol melintas membuat hatinya kembali bergetar. Deep pun menghampiri ibu.


"Assalamualaikum bu" ucap Deep.


"Wa'alaikumsalam nak, ada apa?"


"Boleh saya bantu bu?" tanya Deep tersenyum.


"Tidak usah nak" jawab ibu itu tersenyum.


Seketika terdengar suara anak kecil menangis dari gerobak yang ibu itu bawa. Ibu itu segera mengeluarkan anak dari tempat kecil yang ia sekat dari tumpukan botol. Melihat anak itu membuat hatinya tersentuh.


"Udah ya jangan nangis lagi, habis ini kita pulang ya nak, ibu jual ini dulu untuk beli susu kamu" ucap ibu itu berusaha menenangkan anaknya.


"Itu anaknya bu?"


"Iya, ini anak saya" jawab ibu itu tersenyum kecil menatap Deep.


"Maaf kalau boleh saya tahu ayahnya kemana ya bu? apa suami ibu tidak bekerja? sampai-sampai ibu harus bekerja seperti ini dan membawa anak ibu yang masih kecil begini" ucap Deep memegang tangan anak itu.


"Suami saya telah lama meninggal dunia karena penyakit kanker paru-paru, makanya saya harus bekerja dengan membawa anak saya seperti ini, karena tidak ada yang mau dititipkan untuk menjaganya" ucap ibu itu meneteskan air mata.


"Astagfirullahaladzim maaf bu saya gak tahu, ibu yang sabar ya bu, boleh saya bantu dorong ini?" tanya Deep.


"Gak usah, ini kan kotor, nanti ngerepotin kamu juga"


"Enggak ngerepotin kok bu, saya bantu ya bu" ucap Deep tersenyum kecil.


"Terima kasih" ucap ibu itu tersenyum menganggukkan kepala.


"Sama-sama bu" ucap Deep yang membantu mendorong gerobak itu.


Deep dan ibu itu pergi untuk menjual botol-botol bekas yang telah ia kumpulkan ke pengepul.


"Ini ada lima kilo ya, nih uangnya" ucap pria itu.


"Lima belas ribu?" tanya Deep terkejut melihat jumlah uang yang pengepul itu berikan.


"Iya, kenapa? apa anda tidak suka? jika tidak suka bisa cari pengepul lain! sana pergi!" usir pengepul itu.

__ADS_1


Ekspresi wajah Deep seketika berubah. Deep mencengkeram kedua tangannya menahan emosinya karena ia tahu jika ia sudah emosi, dia bisa menghabisi siapapun orang yang ia lihat di sekitarnya. Deep melihat ibu itu yang sedang menggendong anaknya dan menghela nafas berulang kali untuk menenangkan hasratnya karena ia tidak ingin membunuh ibu dan anak itu juga.


"Ayok mas, kita pergi saja dari sini" ajak ibu itu menepuk pundak Deep.


"Iya bu" jawab Deep tersenyum kecil.


Deep membantu ibu itu mendorong gerobak dan berjalan menatap ke belakang dengan tatapan penuh emosi.


Deep mengantarkan ibu itu ke supermarket untuk membeli susu anaknya, karena di warung tidak ada yang menjual susu anaknya. Ibu itu meletakkan gerobaknya di depan dan masuk ke dalam.


Ibu itu mencari susu anaknya dan melihat harganya yang sangat mahal. Ibu itu melihat harga dan jumlah uang yang saat ini ia pegang. Deep yang mengerti pun berjalan meninggalkan ibu itu untuk mengambil keranjang belanjaan. Deep mengambil lima susu merk itu.


"Popoknya size berapa bu?" tanya Deep.


"M mas"


"Oke"


Deep memasukkan popok berukuran besar size M dan membawanya ke kasir.


"Mas saya tidak ada uang sebanyak itu" ucap ibu itu.


"Ibu tenang saja ya, biar saya yang bayar semuanya" ucap Deep tersenyum menganggukkan kepala.


"Makasih ya mas" ucap ibu itu menganggukkan kepala.


"Itu semua untuk apa mas? ini sudah lebih dari cukup untuk saya" ucap ibu itu.


"Itu semua untuk ibu makan" ucap Deep tersenyum dan pergi kembali ke tempat susu dan popok. Deep mengambil semua stok susu dan popok disana.


"Sudah mas?" tanya mbak kasir.


"Udah mbak" jawab Deep tersenyum kecil menganggukkan kepala.


"Totalnya jadi lima juta rupiah mas" ucap mbak kasir.


"Mbak gak ada kantung belanjanya?" tanya Deep.


"Tidak ada mas, kami sudah tidak menyediakan kantung plastik lagi"


"Tas juga gak ada?"


"Tas ada mas, ini"

__ADS_1


"Tolong dimasukkan ini semua ke dalam tas dan taruh di gerobak depan itu" pinta Deep menunjuk gerobak ibu itu yang terparkir.


"Baik" jawab mbak kasir menganggukkan kepala.


"Sama tas ini jadi sepuluh juta dua ratus mas"


"Oke"


Deep mengeluarkan kartu rekeningnya dan memberikannya kepada mbak kasir. Deep memasukan pin miliknya dan struk pembelian keluar.


"Ini kartunya mas"


"Oke" ucap Deep mengambil kartunya dan memasukkannya kembali ke dalam dompetnya.


"Makasih ya mbak" ucap Deep tersenyum menganggukkan kepala.


"Sama-sama mas" jawab mbak kasir tersenyum menganggukkan kepala.


"Ayok bu, kita pergi dari sini" aja Deep menepuk pundak ibu itu.


"Iya mas" jawab ibu itu menganggukkan kepala.


Deep mengantarkan ibu itu ke depan rumahnya. Ibu itu membuka pintu rumahnya dan Deep membantu memasukkan susu dan yang lainnya ke dalam rumah.


"Terima kasih banyak ya mas" ucap ibu itu berlutut di hadapan Deep dan memegang kakinya meneteskan air mata.


"Akh ibu jangan kayak gini, ayok bangun bu" ucap Deep membantu ibu itu berdiri.


"Terima kasih banyak mas atas semua yang telah mas berikan kepada saya dan anak saya, dengan apa saya harus membalas kebaikan mas ini? saya tidak punya apapun mas" ucap ibu itu sesenggukan.


"Dengan menjaga dan membesarkan anak ibu dengan baik" jawab Deep tersenyum menatap ibu itu.


Mendengar perkataan Deep membuat ibu itu menatapnya perlahan. Deep tersenyum menatap ibu itu.


"Ya Allah, aku tidak pernah menduga jik Engkau akan mengirimkan orang sebaik ini di dalam kehidupan ku, terima kasih banyak, terima kasih banyak mas, semoga semua yang mas impikan bisa secepatnya terwujud" ucap ibu itu tersenyum dengan air matanya yang masih menetes.


"Aamiin, terima kasih atas doa ibu, ini semua titipan Allah Subhanahu Wata'ala yang harus saya berikan kepada ibu" ucap Deep tersenyum menepuk pundak ibu.


"Mas benar-benar orang yang sangat baik, mas mau membantu saya sebegitu besarnya, padahal mas sama sekali tidak mengenal saya" ucap ibu itu.


"Apa kita harus mengenal seseorang dulu untuk membantunya? saya rasa tidak, ya sudah saya pamit pulang ya bu, assalamualaikum" ucap Deep tersenyum menganggukkan kepala.


"Wa'alaikumsalam, sekali lagi terima kasih mas" ucap ibu itu tersenyum menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Sama-sama" jawab Deep tersenyum menganggukkan kepala dan pergi dari rumah ibu itu.


"Ya Allah selalu bersamai setiap langkahnya, permudahkan dia di setiap langkahnya, wujudkan semua impiannya yang tertunda, dia orang yang sangat baik, terima kasih telah mempertemukan ku dengannya" ucap ibu itu tersenyum meneteskan air mata dan masuk ke dalam mengunci pintunya.


__ADS_2