Pain Is Art

Pain Is Art
Mimpi Indah


__ADS_3

"Hm bibi mau dimana? mau disini atau disitu?" tanya Deep.


"Dimana aja tuan"


"Ya udah aku dekat jendela ya"


"Iya tuan"


"Tuan, kopernya bibi taruh di dalam lemari ya, boleh gak?"


"Iya bi, makasih ya bi"


"Sama-sama tuan"


"Hm bi, disitu ada remot tv gak?"


"Sebentar tuan, bibi carikan dulu"


"Sama remot AC ya bi"


"Iya tuan"


Bi Rika mencari remot tv dan remot AC di atas meja.


"Ini remotnya tuan" ucap bi Rika memberikan remot tv dan remot tv kepada Deep.


"Makasih ya bi"


"Sama-sama tuan"


Deep memperbesar AC karena ia masih merasakan panas dan menyalakan televisi.


Deep menaruh makanan dan minuman yang ia bawa ke dala kulkas.


"Bi kalau mau makan atau minum nanti ambil aja di kulkas ya"


"Iya tuan, tadi bibi juga bawa kok tuan"


"Oh jadi ini punya bibi?"


"Iya tuan"

__ADS_1


"Oh ya udah bi"


Deep menonton acara televisi hingga larut malam.


"Hm bi Rika udah tidur aja, jam berapa sih sekarang? perasaan masih sore deh" ucap Deep menyalakan ponselnya yang sedang di charger untuk melihat jam.


"Jam dua pagi? kok cepat banget sih jam? perasaan masih sore deh, hm aku gak bisa tidur, untung tadi booking kamar dua hari jadi bisa istirahat lebih lama lagi, Bali buat usaha kayaknya bagus deh, banyak turis datang kan ya? kalau aku buka hotel atau buka cabang resto dan lukisan ku disini pasti lebih banyak orang lagi yang datang deh, aku pengen hotel sih, apalagi yang dekat dengan pantai gitu, jadi kalau pada cape gak perlu jauh-jauh lagi nyari hotel, ya udah nanti cari tempat yang cocok deh, aku tidur aja deh, udah malam juga, eh pagi deh, kan jam dua udah ganti hari dan tanggal" ucap Deep memejamkan matanya dan menarik selimutnya.


"Permisi, saya ingin mengantarkan sarapan" ucap pelayan mengetuk pintu kamar Deep.


Bi Rika yang mendengar pun terbangun dan membukakan pintu.


"Permisi ini sarapannya"


"Makasih ya"


"Sama-sama"


"Hm jam berapa sih? tuan Deep masih tidur? ya udahlah mungkin dia kecapean makanya masih tidur, udah siang ya ternyata, cepat banget udah jam tujuh pagi aja, perasaan aku baru tidur deh" ucap bi Rika merapikan seprainya dan langsung mandi.


Deep mengajak pak Rafly ke tengah hutan dengan membawa mesin sesno.


"Ada apa hm? "Kok ketakutan sih pak? ada apa?"


"Hm kita ngapain ke tengah hutan gini ya tuan dan mesin senso itu untuk apa?"


"Ini?" tanya Deep yang langsung menyalakan mesin senso yang membuat pak Rafly terkejut.


"Ada apa? aku hanya menyalakannya bukan membunuh mu, apakah suara mesin ini terdengar begitu menyakitkan di telinga mu itu hm?"


Nampak pak Rafly kebingungan dengan tingkah laku Deep itu. Keringat bercucuran, wajah pak Rafly semakin pucat. Deep tersenyum sinis menatap pak Rafly yang nampak sedang ketakutan. Deep mendekati pak Rafly dan menancapkan mesin senso itu ke pohon yang ada di samping pak Rafly yang membuatnya terkejut dan semakin ketakutan.


"Hei! tenanglah! mengapa kamu sangat takut seperti itu hm? aku hanya menancapkan alat ini ke pohon di belakang mu itu bukan di tulang rusuk mu bukan? lantas mengapa kamu begitu sangat ketakutan seperti itu? apa salahnya?"


"T-tidak tuan!"


"Hei! tenanglah!" ucap Deep mengelus pipi pak Rafly.


"Iii-iyya tuan"


"Iya? tapi wajah mu mengatakan hal yang sebaliknya, mengapa hm? apa kamu tidak percaya akan perkataan ku? mengapa kamu tidak mempercayai perkataan ku itu hm? apa aku terlihat seperti seorang pembunuh di mata mu itu? hei dengar! aku tidak seperti apa yang kamu pikirkan, jadi tenangkan diri mu ya, aku tidak akan menyakiti mu"

__ADS_1


"Iya tuan"


"Senyum dong, aku tidak suka melihat wajah mu seperti itu, para pekerja ku tidak boleh ada yang memasang ekspresi waja seperti itu ya" ucap Deep menarik kedua pipi pak Rafly agar tersenyum dengan memegang pisau kecil.


"Hei! aku menyuruh mu untuk tersenyum bukan? kenapa tubuh mu malah bergetar seperti itu? apa kamu takut dengan pisau kecil ini? badan kamu bahkan jauh lebih besar daripada pisau kecil ini, lantas mengapa kamu takut dengan pisau sekecil ini? berikan tangan mu" ucap Deep menarik tangan pak Rafly.


Deep meletakkan pisau kecil itu di tengah ibu jari dan jari telunjuk pak Rafly.


"Lihatlah! pisau ini hanya seukuran jari mu bukan? lantas mengapa kamu takut dengan pisau sekecil itu hm? tidak usah takut, pisau ini sangat kecil, jika tangan mu terkena pisau ini juga hanya akan tergores tidak terpisah, pisau ini hanya akan menggores mu sedikit, bukan memutuskan jari-jari mu itu" ucap Deep menarik jari pak Rafly.


"ARgh! sakit tuan!"


"Sakit? apa iya? kalau seperti ini sakit tidak?" tanya Deep yang langsung menyayat pisau kecil itu ke jari pak Rafly.


"ARgh!" erang pak Rafly merasakan sakit di jarinya.


Darah pak Rafly jatuh menetes ke atas tanah.


"Kamu tunggu sini sebentar ya, jangan takut! aku tidak akan membunuh mu, aku akan mencarikan obat untuk jari indah mu itu" ucap Deep menepuk pundak pak Rafly dan pergi meninggalkannya dengan membawa mesin senso miliknya.


Deep seketika muncul dengan mesin senso dan tawa jahatnya. Pak Rafly berlari menghindari Deep, namun malah terjatuh ke lubang.


"Sesuai dengan rencana ku"


"Apa maksud tuan? tuan sengaja ingin melukai ku?"


"Iya, benar sekali perkataan mu itu, aku ingin membunuh mu"


"Kenapa tuan? kenapa tuan ingin membunuh ku?"


"Kamu bertanya padaku? hm oke baiklah! aku akan memberitahu mu! iya benar! aku memang ingin membunuh mu, karena aku tidak tahu harus melampiaskan hasrat ku kemana lagi, aku ingin sekali membunuh seseorang, aku tidak bisa menahan hasrat itu, aku ingin membunuh mu, dan aku tidak tahu mengapa, aku tidak punya alasan mengapa aku ingin membunuh mu, satu hal yang aku tahu itu hanya hasrat ku membunuh kembali muncul dan melihat mu hasrat itu semakin bergejolak, apa kamu mengerti maksud ku?" tanya Deep mendekati pak Rafly.


"T-tuan! jangan tuan!"


Deep tersenyum jahat menatap pak Rafly yang nampak sangat ketakutan melihatnya. Deep melemparkan mesin senso itu dan mesin senso itu tepat menancap di tengah kepalanya dan turun hingga ke bawah. Tubuh pak Rafly kini terbelah menjadi dua bagian. Deep mengeluarkan ponselnya dan merekam kejadian itu. Deep tersenyum puas melihat adegan itu.


Bi Rika yang selesai mandi melihat Deep yang masih tertidur namun tersenyum. Bi Rika akhirnya membangunkan Deep.


"Tuan! tuang bangun tuan!" ucap bi Rika menepuk pundak Deep.


Deep pun terbangun dan tersadar dari mimpi indahnya itu.

__ADS_1


__ADS_2