
Erin mengomel kesal pada Roxena yang bangun terlambat. Padahal hari ini ada pertemuan penting dewan direksi. Roxena tak bisa menahan senyum mendengar setiap ketusan Erin. Hanya wanita itu, yang berani mengomel kesal padanya.
Omelan Erin, kesibukan setiap pagi Erin membangunkan dirinya, sudah seperti candu. Bukan, bukan karena Roxena tak bisa bangun sendiri. Bagi Roxena, melihat dan mendengar omelan Erin itu bagai suatu keharusan setiap paginya.
Roxena mendengar omelan Erin sembari mengecek berkas meeting dengan dewan direksi pagi ini. Erin mengemudi sembari mengomel kesal.
"Nona, kesan dewan direksi akan buruk jika Anda terlambat dan mengundur jadwal. Seorang pemimpin harus tepat waktu. Adik Anda, menunggu setiap kesempatan untuk mengambil posisi Anda. Penyerangan kemarin, saya yakin itu ulah adik Anda!"
"Anda akan menjadi Presdir Lawrence Group, Anda harus disiplin untuk menjadi contoh karyawan. Terlebih sekarang Anda adalah wanita yang sudah menikah. Meskipun saya masih tidak setuju, tapi biar bagaimanapun Anda adalah seorang istri. Dan Nona, jangan lupakan juga, Anda punya kewajiban untuk memberikan pewaris untuk Lawrence Group. Usia Anda juga tidak muda lagi."
"Nona, menjadi Presdir bukan akhir tapi awal karena Anda akan menghadapi banyak hal. Mempertahankan lebih sulit daripada mendapatkan, Nona! Jadi, saya mohon, Anda harus mengubah perilaku buruk Anda karena semua itu dapat berupa menjadi bumerang."
"Panjang lebar kau bicara, intinya hanya aku merubah diri?"tanya sinis Roxena.
"Bukan diri tapi sikap, Nona!"
"Erin, aku sudah muak dengan segala sopan santun dan tata krama. Lagipula, aku punya seribu cara untuk mempertahankan milikku! Aku ini sangat berpengalaman."
"Memang benar. Tapi, Anda tidak bisa seterusnya begini. Lalu pria itu, yang menjadi suami Anda. Saya masih khawatir, pernikahan Anda ini … tampaknya suatu hal yang keliru."
Roxena mengangkat pandangannya. Tersentak pelan, tatapannya sendu sekilas.
"Erin oh Erin, kau memang tidak berubah," gumam Roxena.
"Anda menggumamkan apa, Nona?"selidik Erin, menyipitkan matanya curiga.
"Usiamu lebih muda tapi wajahmu lebih tua dariku. Jangan terlalu sering mengomel, Erin. Satu lagi, keputusanku, tidak perlu jadi kekhawatiranmu," sahut Roxena, bangkit dari duduknya dan keluar dari mobil. Mereka telah tiba di perusahaan.
Mata Erin membulat. "Ini kan karena Anda, Nona!"serunya kesal.
"Huh! Bagaimana aku tidak tua jika setiap hari mengomel dan memikirkan setiap tindakan Nona? Masih bersyukur aku tidak mati muda, Nona!"tambah Erin, dengan masih misrah misruh kesal.
"Lalu, bagaimana mungkin saya tidak mengkhawatirkan Anda?" Wanita itu segera mengejar Roxena.
*
*
*
Padahal esok sudah hari pengukuhan Roxena sebagai Presdir Lawrence Group. Namun, masih ada pembicaraan yang mempertanyakan kelayakannya, meragukan dirinya. Dalam suatu perusahaan, terlebih jika memiliki lebih dari satu anak, tentu akan ada dua kubu. Begitu juga yang terjadi, ada beberapa pemegang saham yang menolak Roxena menjadi Presdir. Mereka lebih pro kepada Benjamin, berpikir bahwa anak laki-laki lebih kompeten. Lahir karena hasil perselingkuhan, tentu bukan keinginannya dan penentu layak atau tidak. Kemampuanlah yang harus dibuktikan.
Roxena memutar bola matanya malas. Ia menganggap dirinya tengah mendengarkan obrolan orang dungu. Pewarisan tahta keluarga Lawrence kepada Roxena, tidak bisa sembarangan dilakukan. Tentu harus diperhatikan karakter, bibit dan bobotnya. Latar belakang seseorang akan mempengaruhi caranya memimpin.
BRAKK!!
Roxena menggebrak meja tiba-tiba. Suasana yang tadinya riuh dengan diskusi dewan direksi itu, hening seketika.
"Waktuku yang berharga kalian habiskan hanya untuk mendengarkan omong kosong?!"
"Aku kira ada hal apa, rupanya hanya sekelompok orang dungu yang tidak melihat kebenaran!"
"Sungguh, suatu hal yang sia-sia. Rapat ini selesai!"
Roxena bangkit dari kursinya.
"Jika kalian ingin panjang di sini, silahkan tutup mulut. Jika tidak, tinggalkan saham kalian dan pergi!"ucap Erin, segera menyusul Roxena.
Kini, mereka sudah berada di ruangan Roxena. "Nona, Anda akan membiarkannya terus menghasut?"tanya Erin pada Roxena. Ia sangat kesal dengan rapat tadi.
"Nona?" Roxena tidak mendengarkannya. Wanita itu, asyik dalam dunianya sendiri.
"Nona?" Sekali lagi memanggil. Tetap tidak digubris.
"No-"
"Erin, apakah tahun depan aku akan merayakan ulang tahun?"tanya Roxena, menatap serius Erin.
"Errr?!"
"Kau tidak mendengarku?" Dahinya mengernyit, tidak senang.
__ADS_1
"Tidak, Nona! 2 tahun lagi, baru Anda akan merayakan ulang tahun Anda," jawab Erin cepat. Ulang tahun Roxena, adalah tanggal yang langka dan istimewa, yang terjadi dalam selang waktu empat tahun sekali yakni tanggal 29 Februari.
"Berapa usiaku tahun ini?"
"28 tahun, Nona!"
"28 tahun ya?" Roxena tersenyum tipis.
Umur 28 tahun yang ke berapa kali, ya? Tanggal yang selalu sama, apakah tanggal kematianku juga akan sama?
"Umur Benjamin?"
"23 tahun, Nona."
"Erin, kapan tanggal berpulang ibuku?"tanya Roxena lagi.
Erin segera mengingat. Matanya melebar seketika. "Nona-"
"Jemput Gerald, aku akan membawanya mengunjungi ibu," titah Roxena, bangkit dari duduknya. Dan seperti biasa, Erin mengekor.
*
*
*
"Ada apa?"tanya Gerald dengan nada dinginnya. Wajahnya kesal. Ia tengah bekerja malah dipanggil ke basement oleh Roxena.
"Masuk, temani aku ke suatu tempat," ucap Roxena.
Gerald mengernyit. Tidak ingin. "Jam kerjaku belum berakhir," ucapnya beralasan.
"Rumah sakit ini milikku, apa yang kau takutkan?" Roxena menatap Gerald dengan senyum smirknya.
"Aku tidak menerima penolakan!!" Gerald benar-benar geram dengan keangkuhan Roxena.
Wanita itu pemaksa dan lebih kesal pada dirinya sendiri yang tidak bisa menghadapinya. "Sial!"
Masuk dengan kesal. Sepanjang perjalanan menatap keluar. Sedang Roxena mengerjakan pekerjaannya. Erin mengemudi dengan kecepatan sedang, sesekali melirik ke belakang.
"Seperti biasa."
Alis Roxena terangkat. "Ah, sudah terbiasa, baguslah."
Gantian alis Gerald yang terangkat.
Sudah terbiasa? Kau kira dalam dua hari aku bisa beradaptasi hah? Sialan! Lebih-lebih denganmu!
Menjawab asal, akhirnya ia kesal sendiri. "Ah, aku harus memberimu peringatan, ku pikir kau sudah tahu bagaimana situasi keluargaku. Kau jagalah dirimu dengan baik. Pengawal yang kuberikan padamu, hanya membantumu sedikit saja," ucap Roxena.
"Lantas apa gunanya pengawal?!"kesal Gerald.
"Sebaiknya-baiknya pelindung, adalah diri sendiri," jawab Roxena. "Aku percaya padamu," lanjutnya kemudian.
"Berhenti bicara! Biarkan aku pergi maka kau tak perlu mengkhawatirkanku!"
"Heh? Khawatir? Aku tak ingin milikku disakiti orang lain selain aku sendiri!"sarkas Roxena.
Gerald tercekat.
Bagaimana bisa ia mengatakan hal itu, itu berharap? Lagi, meruntuk dalam hati.
"Wanita gila!"desis Gerald. Roxena tidak menggubris hal itu. Ia menutup laptopnya kemudian melihat keluar jendela.
Gerald melirik. Sejenak, ia terpaku menatap Roxena yang tampak sendu dibalik wajah cantiknya itu.
Sebenarnya ini mau ke mana?
Gerald menebak saat mobil memasuki sebuah kawasan pemakaman. Pemakaman mewah.
"Nona, kita sudah sampai," ucap Erin.
__ADS_1
Erin memalingkan wajahnya, mengangguk singkat. Dan segera turun diikuti oleh Gerald. "Nona." Erin memberikan bucket bunga pada Roxena.
Suasana musim gugur yang hangat. Namun, hati Roxena malah dingin dan sayu menatap makam di depannya. Elisabeth Lawson, pemilik makam itu.
Gerald yang berdiri di belakang Roxena langsung tahu jika itu adalah makam ibunda Roxena.
Roxena bersimpuh, meletakkan bucket bunga itu.
Matanya memejam.
Xena, putriku sayang. Kau adalah satu-satunya keturunan keluarga Lawrence. Selamanya, sampai kapanmu, Lawrence Group adalah milikku. Jangan biarkan diambil oleh orang lain terlebih anak pel*cur itu!
Roxena kecil, sudah memiliki ekspresi dingin. Mengangguk kecil mendengar ucapan wanita yang terkulai lemas di atas ranjang. Wajahnya pucat dan tubuhnya kurus.
Jangan benci Ayahmu. Ini salah Ibu.
Maafkan Ibu, Xena.
Roxena kecil memejamkan matanya. Kehangatan tangan wanita itu, terhempas bersamaan dengan jatuhnya tangan yang semula berada di pipi. Jiwanya telah pergi. Meninggalkan raga yang akan segera terbujur kaku.
Roxena menitikkan air mata. Dan segera menghapusnya. "Ibu, kali ini bukan hanya aku dan Erin yang datang. Ada satu orang yang ingin aku kenalkan padamu." Roxena menarik Gerald ke sisinya.
"Dia Gerald, suamiku." Roxena tersenyum lebar. Fokus Gerald kini, hanya pada Roxena, bukan makam di depannya. "Ibu, aku bahagia. Jangan cemas. Sudah ada yang menjaga diriku. Mengenai Ayah, maaf Bu, aku masih tidak bisa memaafkannya."
"Apa kau tidak mau menyapa ibuku?" Roxena memberikan lirikan tajamnya.
Cepat sekali berubah. Dasar plin plan!gerutu Gerald dalam hati.
"Hai, Nyonya. Aku Gerald, suami yang dinikahi paksa oleh putri Anda. Sejujurnya aku tidak mencintainya. Tidak pula ada keinginan menjaganya. Justru sebaliknya, saya membencinya. Anda sudah di atas, saya rasa tahu apa yang putri Anda ini lakukan! Entah atas dasar apa, dia memisahkan dan menghancurkan kebahagiaan saya. Saya sangat-sangat membenci putri Anda!"ucap Gerald. Perkenalkan yang di luar dugaan. Erin menutup mulutnya kaget.
Pria gila ini!
Tapi, Nona-
Roxena malah menarik senyum. "Kau adalah tipe yang Ibuku sukai. Dia pasti senang dengan perkenalan dirimu."
Sesuai mengatakan hal itu, Roxena berpamitan di depan makam ibunya. Dan melangkah kembali ke mobil.
"DASAR GILA!"
"KAU YANG GILA!"balas Erin berseru.
"KAU GILA DAN BODOH! APA KAU TIDAK PAHAM MAKSUD NONA MEMBAWAMU KEMARI, HAH?!" Tanpa rasa takut, Erin memaki Gerald. Tidak peduli dengan wajah kaget dan merah padam Gerald.
"TUNJUKKAN SOPAN SANTUNMU PADAKU!"balas Gerald kesal.
"AKU SAMA SEKALI TIDAK MENGANGGAPMU!!"
"K-KAU!!"
"HEI, WANITA GILA, APA KAU TIDAK MENGAJARKAN SOPAN SANTUN PADA WANITA INI?"
"SOPAN SANTUNKU HANYA UNTUK YANG PANTAS, DAN KAU SAMA SEKALI TIDAK PANTAS!!"pungkas Erin, menunjuk Gerald.
"SIALAN!"
"KAU YANG BISA MENGUMPAT! TIDAK BERGUNA!!"
Erin sama sekali tidak menganggap Gerald. Selama tidak sopan pada Nonanya, maka tak ada artinya di matanya. Sekalipun Roxena, menaruh perasaan Gerald.
Keduanya baru berhenti berdebat saat mendengar suara deru mesin mobil. "NONA!"
Erin menatap kepergian Roxena. Meninggalkan keduanya sendiri. Ya, Roxena mengemudi sendiri.
"Ini semua karenamu!"
"Me?"
"Not You?!"
"Cih! Dasar mulut wanita!!"ketus Erin, ia melangkah pergi meninggalkan Gerald sendirian.
__ADS_1
Tak lama setelah Erin pergi, sebuah mobil datang. Itu adalah mobil yang dikendarai oleh Thomas dan Jack. Keduanya tampak memiliki luka di beberapa sudut wajah. "Mari, Tuan."
Mereka mengikuti atau bagaimana?