
Beralih ke Luxembourg, keluarga Francois sangat terpukul dengan kondisi Regis. Mereka merasa Putra mereka terlalu berlebihan dan berakhir dengan celaka sedang yang dipedulikan malah mencelakai. Mereka marah pada Elisa. Kepedulian kemarin berubah menjadi amarah dan kebencian. Terlebih saat tahu bahwa Elisa keguguran. Tidak ada alasan untuk mempertahankan Elisa.
Meskipun mereka sudah menikah dengan surat nikah yang sah dan terdaftar, keluarga Francois tidak mengakui Elisa sebagai istri Regis, Elisa ditolak kediaman Francois, diusir dan tidak dibolehkan untuk menemani apalagi menemui Regis yang masih terbaring koma di kamarnya.
Asisten Regis yang membeberkan semuanya. Ia masih menyimpan amarah untuk Elisa. Tuan Mudanya tulus tapi tak pernah dihargai. Tuan mudanya berkorban melawan perasaan sendiri tapi malah berakhir celaka. Siapa yang bisa menerimanya? Biarlah menjadi ganjaran untuk Elisa. Juga untuk menguji seberapa besar keteguhan hati Elisa untuk Regis. Apakah benar-benar sudah menyerah pada Gerald atau sudah memutuskan mengakhiri dan membuka lembaran baru bersama Regis. Mari lihat sampai mana Elisa bertahan.
Elisa selalu berusaha untuk masuk ke kediaman Francois. Namun, langkahnya selalu tertahan di gerbang tinggi kediaman Francois. Ia memohon, meminta maaf, bahkan berlutut. Tapi, diabaikan. Tidak ada yang peduli, kecuali seorang penjaga yang prihatin pada Elisa. “Kembalilah, Nona. Saat ini situasinya genting. Anda begini hanya menambah amarah Tuan dan Nyonya Besar. Saat Tuan Muda bangun nanti, pasti akan menemui Anda,” ujarnya menasehati, tahu bagaimana kepedulian Regis pada Elisa.
Elisa menggeleng menolaknya. Sudah satu minggu ia tidak bertemu dengan Regis. Ia … ingin memastikan bahwa Regis baik-baik saja. Elisa ingin melihat Regis.
Regis, tubuhnya tidak seperti orang normal. Ia lebih lemah meskipun terlihat sangat sehat. Benturan keras kemarin jelas berpengaruh besar. Entah kapan Regis akan bangun. Sebagai istri, Elisa ingin menjaga Regis.
Violet merasa sangat cemas dan prihatin pada Elisa. Tapi, ia tidak bisa berbuat banyak. “Hujan, Nona!! Ayo kita masuk mobil!!”seru Violet kala rintik hujan turun dan semakin deras. Elisa bergeming, ia malah menjatuhkan dirinya berlutut.
“Aku tidak akan pergi sebelum bertemu dengan Regis. Tolong izinkan aku bertemu dengannya!” Ia memakai keahliannya sebagai seorang keras kepala.
__ADS_1
“Nona!!” Violet mengambil payung dan memayungi Elisa. “Anda bisa drop jika begini terus! Anda juga belum sembuh. Tolong jangan siksa diri Anda sendiri, Nona!”
“Aku pantas mendapatkannya. Jangan halangi aku!!” Hujan semakin deras, hari semakin gelap. Elisa tidak bergerak dari posisinya meskipun ia merasa sangat pusing. Pandangannya mulai mengabur tapi ia mengepalkan tangannya untuk tetap sadar. Berharap ada belas kasihan dan ia bisa masuk menemui Regis.
Sayangnya tidak ada tanda-tanda gerbang akan dibuka. Penjaga gerbang menghela nafas melihat keras kepala Elisa. “Nyonya tidak akan tergerak,” gumamnya.
Di lain sisi, Nyonya Francois sudah mendengar Elisa berlutut di derasnya hujan dan suasana sudah malam. Hawa begitu dingin di musim gugur. Ia berdiri di dekat jendela menatap ke arah gerbang. Wajahnya dingin, tidak ada jejak kasihan. “Anak itu masih di sana?”tanya Tuan Francois yang baru keluar dari kamar Regis.
“Hm. Bagaimana Regis?”tanya Nyonya Francois. Tuan Francois menggeleng pelan, menandakan tidak ada kemajuan.
“Regis akan bangun.”
“Tapi, selanjutnya bagaimana dengan Elisa-”
“Jangan sebut nama wanita itu!!”sela Nyonya Francois, kesal. Tuan Francois mengangguk.
__ADS_1
“Bagaimanapun Regis menyukainya. Dia juga sudah menjadi istri Regis. Aku takut Regis akan kecewa jika kita memperlakukannya seperti itu,” tutur Tuan Francois. Ia lebih dingin menyikapi hal ini.
“Yang perlu dilakukan olehnya adalah menunggu. Tidak adil jika hanya putra kita yang menunggu. Jika dia tidak sanggup, pernikahan mereka benar-benar tidak pernah terjadi. Aku berharap Regis melupakannya.” Meskipun terdengar kejam. menurut Nyonya Francois itulah yang terbaik untuk keduanya. Mencuri kesempatan menghukum Elisa di saat Regis koma itulah yang Nyonya Francois lakukan. Karena jika Regis sudah sadar dan tidak kehilangan ingatan, maka Regis akan melindungi Elisa. Kemungkinan besar tidak akan mempermasalahkannya.
Niat akhirnya baik. Hanya saja caranya terlalu ekstrem. “Kita doakan yang terbaik untuk putra kita,” tandas Tuan Francois.
Di gerbang, Elisa hampir kehilangan kesadaran. Ia melawan saat Violet memapahnya masuk ke dalam mobil. “Vio, aku harus bertemu Regis. Vio … Regis pasti sangat senang aku menemaninya. Aku harus masuk. Aku istrinya, hiks.” Elis menangis. Tergugu dalam duduknya.
“Ini salahku, aku pantas mendapatkannya. Regis … hiks cepatlah bangun. Kau bebas menghukumku bagaimana asalkan kau bangun, hiks….”
“Saya tidak ingin memberikan harapan palsu. Namun, saya yakin jika Tuan Regis sudah sadar, pasti akan mencari Anda. Nona, tolong jangan siksa diri Anda. Ada banyak cara lain.” Violet kembali menenangkan Elisa. Elisa kini memeluk Violet.
“Mungkin saja … hal ini untuk menguji kalian. Akhirnya … bersama atau tidak, diputuskan juga oleh kalian. Anda cerdas, lakukan dengan cara yang berbeda,” ujar Violet. Karena putus cinta, Elisa kehilangan rasionalnya, lebih mendahulukan emosi.
“Terima kasih, Vio. Terima kasih.” Elisa harus bersyukur ada Violet bersama dengannya.
__ADS_1