Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 52 Penjara Cinta Roxena


__ADS_3

"Mengapa Anda datang lagi?"tanya Roxena saat Tuan Lawrence kembali berkunjung di akhir pekan.


"Mengunjungi anak sendiri apa butuh alasan?"sahut Tuan Lawrence santai. Tidak seperti biasanya yang memelas.


"Aku tidak menyukainya," ucap Roxena melihat keranjang yang dibawa oleh Tuan Lawrence.


"Apakah aku mengatakan itu untukmu?"sahut Tuan Lawrence dengan tertawa pelan.


Roxena mengernyitkan dahinya. Itukan favoritnya, tentu untuk dirinya, bukan?


Tuan Lawrence tampak celingak-celinguk seperti mencari sesuatu. Lalu menatap Roxena. Sebelum sempat berkata, pintu apartemen terbuka. "Oh Anda datang, Ayah?"


"Hahaha kemarilah menantuku," sahut Tuan Lawrence senang, menepuk sofa di sampingnya.


Gerald baru saja kembali dari gym. Ia pergi sendiri karena Roxena ada hal yang harus ia selesaikan.


Keduanya terlihat sangat akrab, persis seperti yang diceritakan oleh Sophia. Roxena menelengkan kepalanya, mengamati interaksi keduanya.


Tak berapa lama kemudian, Lily datang membawa minuman dan Tuan Lawrence meminta Lily menyajikan bawaannya.


"Kalian sangat dekat, ya?"


"Anda bahkan mengabaikanku," cetus Roxena.


"Hahaha benarkah? Padahal aku hanya berbincang dengan menantuku. Kau cemburu, Xena?"


Roxena mengerjap pelan.


Cemburu?


Mungkin.


Tapi, memilih tidak menjawab. "Ya, kalian lanjutkan saja." Roxena beranjak kembali ke kamar.


Tuan Lawrence tersenyum simpul. Begitu juga Gerald. Roxena menyembunyikan perasaannya. Tapi, tindakannya berbeda.


Itu lucu.


"Jadi, bagaimana?"tanya Tuan Lawrence serius kemudian.


Sementara di kamar, Roxena baru saja menerima pesan dari Erin. Roxena segera menyambar kunci mobil dan melangkah keluar kamar. Langkahnya cepat. "Aku ada urusan mendadak," pamitnya singkat dan hilang dari pandangan Gerald dan Tuan Lawrence.


"Anak itu! Sejak dulu tidak pernah berubah!"gerutu Tuan Lawrence kesal. Padahal Roxena sudah berkeluarga, harusnya Minggu itu waktu senggang.


"Belakangan ini ku dengar ia melakukan tindakan ekstrim. Bukankah malah aneh jika Xena tidak sibuk, Ayah?"ujar Gerald tenang.


"Sejak kecil, Xena sudah berbeda dari anak seusianya. Dia sangat tenang dan pendiam sampai-sampai kami mengira ia tidak bisa bicara. Sejak kecil Xena memang berani. Tatapan matanya sangat tajam, dia adalah genius keluarga Lawrence. Meskipun begitu, tindakan ekstrim tetap saja membuatku was-was. Banyak orang yang mengawasi mencari kesalahannya. Ada banyak pihak yang diuntungkan kalau Keluarga Lawrence goyah," cerita Tuan Lawrence.


Beliau ingat sekali saat Roxena membuat para tertua di keluarga Lawrence yang tinggal di pegunungan terdiam tak bisa berkata.


"Xena anak yang ambisius. Jika ia sudah merencanakan sesuatu pasti akan dilakukan termasuk rencananya ini. Tidak ada yang bisa menghentikannya terlebih dia adalah pemegang kekuasaan terbesar di keluarga Lawrence."


Gerald melihatnya. "Dia … adalah anak yang penuh luka di balik kedinginannya." Tuan Lawrence menghela nafas berat. Dan dirinya termasuk penyebab luka itu.


Gerald yang sudah mengetahui segelintir tentang Roxena tidak menanggapinya. Tentunya ia juga turut berperan dalam luka itu.


"Aku akan berusaha keras agar Xena menerimaku. Dia suka dessert yang aku buat tapi menyangkalnya. Aku yakin, keinginanku akan segera terwujud." Tuan Lawrence tersenyum, menyakinkan dirinya sendiri.


"Ayah pasti bisa." Karena tujuan keduanya sama, maka keduanya berkerja sama dan dari itulah mereka menjadi akrab.


*


*


*


Bukan urusan Lawrence Group, melainkan urusan LS.


Di dalam ruangan dengan meja persegi panjang, mereka duduk di tempat masing. Roxena menjadi pimpinan dengan Erin duduk di dekatnya diikuti dengan beberapa tangan kanan lainnya. Mereka menggunakan topeng untuk menyembuhkan wajah.

__ADS_1


Di sisi kiri adalah ketua dari beberapa kelompok kecil gangster dan juga mafia yang beroperasi dalam skala kecil dan sedang. Mereka datang dengan tujuan ingin bergabung dengan LS.


Itu tentu hal yang cukup vital mengenai keanggotaan. Karena untuk menjadi anggota ada seleksi khusus yang kejam. Jika lulus akan sah menjadi anggota LS, jika tidak nyawa melayang.


"Akhirnya setelah sekian lama aku bertemu dengan kelompok yang pintar. Tapi, tidak tahu apakah benar-benar pintar," cetus salah satu tangan kanan Roxena, memakai topeng panda. Luro, itu kode namanya.


"Kalian sangat berani ya? Datang ke sini dengan ide kalian itu. Apa sih yang membuat kalian yakin bisa diterima di sini?"tanya wanita yang duduk di sebelah Erin, turut menarik seringai, memakai topeng kupu-kupu biru, Lyca.


"Kalian bukan kelompok pertama yang mengajukan hal seperti ini. Sudah banyak tapi hasilnya mereka mengantarkan nyawa sendiri." Erin yang memakai topeng putih dengan lambang bunga wisteria berkata sinis.


"Kami tidak bisa menerima kalian dengan alasan umum. Muak kami mendengarnya!"tandas Luro.


Tiga ketua kelompok itu saling memandang.


"Atau jangan-jangan ada hubungannya dengan gerakan misterius yang membantai banyak kelompok gelap?"terka Erin.


"Kami harus melakukan apa agar bisa diterima?"tanya salah seorang Ketua.


Gerakan misterius yang dilakukan belakangan ini cukup banyak menumpas organisasi kecil dan sedang, menyebabkan kekhawatiran di dunia bawah. Mereka yang berbisnis ilegal tentu ketar-ketir dan membutuhkan naungan yang kuat agar mereka bisa bertahan. Dan LS adalah satu-satunya pilihan mereka.


Mereka mendengar bahwa LS memperlakukan anggotanya dengan sangat baik. Dengan kekuatan berskala besar sekalipun orang dibalik gerakan misterius itu kuat, pastinya akan berpikir dua kali.


"Mengapa harus kami yang memikirkannya?"tanya balik Lyca tak senang.


"Kalian pikir LS yayasan penampungan?"ketus Luro.


Roxena masih tidak ikut campur. Ia malah menutup matanya mendengar perbincangan itu.


"A-aset dan tempat usaha Luxury akan menjadi milik LS!"ucap salah seorang Ketua yang duduk di sebelah kiri Roxena.


"Tidak spesial," komentar Luro.


Ketua Luxury berpikir keras. Aset dan tempat usaha kelompok itu tidaklah kecil. Tapi, di mata LS hanya seujung kuku. Apa yang harus ditawarkan agar diterima?!


"Kami menawarkan keahlian," ucap Ketua kelompok Ferrum.


"Kami bisa memadukan senjata api dan senjata tajam!"ucap ketua Ferrum tak ingin direndahkan. Ia muak kelompoknya direndahkan.


Kebanyakan orang yang mereka datangi menolak karena merasa senjata tajam bukan lagi zamannya. Sekarang teknologi nuklir dan senjata api yang gencar dikembangkan. Padahal jika keduanya digabungkan ditambahkan teknologi, tentu akan menjadi senjata yang sangat luar biasa.


Roxena membuka matanya.


"H-hanya saja harga bahan yang kami pakai sangat tinggi dan kebodohan kami berekspektasi terlalu tinggi. Kami kehabisan modal dan menanggung kerugian besar." Ketua Ferrum tampak putus asa. Terancam bangkrut plus nyawa terancam.


"Bodoh!"desis ketua kelompok gangster yang tidak memiliki nama.


Tiba-tiba Roxena menyodorkan ponselnya pada ketua Ferrum. Ketua Ferrum terkejut, begitu juga dengan para tangan kanan Roxena. "Desain ini bisa kalian kerjakan?"


Ketua Ferrum menatap layar ponsel. Sebuah desain senjata yang menurutnya unik dan terlihat sangat kuat. Mirip dengan senjata ninja Jepang tapi juga ada segi Chinese. Desain itu adalah perpaduan.


"Bisa!" Ketua Ferrum menjawab pasti.


"Ferrum bisa membuatnya, Lady!"ulang ketua Ferrum menegaskan.


"Kau dan anggotamu akan masuk tahap uji coba, jika lulus kalian akan masuk tahap seleksi anggota, yang lulus akan menjadi anggota LS."


"Ah?" Ketua Ferrum terkejut. Ia pikir bisa membuktikan keahlian sudah cukup, nyatanya tidak. LS bukan wilayah sembarang.


"Okay, Lady." Ketua Ferrum sedikit lega.


"Luxury menawarkan informasi tambang," ucap Ketua Luxury.


"Tambang?"


"Tambang minyak bumi dan batu bara. Tapi, lokasinya sangat tersembunyi dengan medan curam. Itu di lembah."


"Informasi sebagus ini mengapa tidak kau manfaatkan sendiri?"tanya Luro.


"Luxury tidak percaya pada yang lain. Juga tidak punya modal untuk menambang."

__ADS_1


Ahh belakangan ini memang tidak tenang. "Sampai orangku memastikan informasi, Luxury masuk masa uji coba."


Tiga tangan kanan Roxena tidak menolak. Mereka mengangguk paham.


"Tinggal kau si tanpa nama." Luro menatap ketua yang belum menyampaikan tawaran.


"Meskipun kami tanpa nama kami ahli dalam membuka brankas," ucapnya bangga.


"Kami juga ahli dalam penyamaran," tambahnya.


"Ah … dalam kelompokku adalah beberapa yang ahli dalam bidang genetika."


"Aset kami memang paling kecil. Tapi, kami memiliki ahli yang mumpuni. Kami juga punya kembar yang ahli membuat parfum."


Roxena tersenyum. Ini menarik. "Kalian harus lulus seleksi," ucap Roxena menepuk bahu kelompok tanpa nama itu. Kemudian meninggalkan ruangan.


"Hubungi anggota kalian masing-masing. Selama masa uji coba kalian wajib tinggal di sini, di bawah pengawasan LS," ucap Erin menginstruksi mereka. Lalu meminta Luro dan Lucy meneruskan penanganan. Sementara Erin menyusul Roxena.


Roxena tiba di ruangannya, melepas topengnya.


"Gerakan misterius ini berani mengusik kita, Nona."


"Sejauh mana penyelidikan?"


"Kami masih mendalaminya, Nona."


"Erin, tidakkah kau memikirkan hal yang sama denganku?"tanya Roxena menatap Erin serius.


Erin mengangguk. "Tapi, kita juga sulit menyerang balik, Nona."


Erin kemudian membuang nafas kasar. Belakangan ini masalah semakin banyak saja. Beberapa waktu lalu, rombongan yang mengantarkan pesanan senjata mengalami penyerangan. Beruntung, barang pesanan aman namun LS kehilangan beberapa anggota.


"Aku sudah bersabar bahkan menutup mata. Tapi, mereka semakin menantangku!"geram Roxena.


"Mungkin karena bantuan dari ESA Group, Nona. Beberapa waktu lalu, berita pertunangan Lady Stella dan Alexander menyebar. Akan dilangsungkan dalam waktu dekat."


"ESA Group! Stella!!"


"Perketat keamanan. Jika mereka datang lagi, tangkap dan siksa mereka!"


"Mengenai mereka berdua, aku akan mengurus mereka sendiri!" Roxena mulai kehilangan kesabarannya.


"Si, Nona." Erin membungkuk kecil.


"Nona mengenai mereka tadi-"


"Siapkan seleksi yang sulit. Amati mereka selama uji coba. Diskualifikasi yang tidak masuk kriteria dasar!"tegas Roxena. Meskipun ia mendapatkan banyak untung, menaungi orang bukan hal yang mudah.


"Baik, Nona."


"Ada lagi?"tanya Roxena.


"Ada, Nona. Presdir Luz Group kembali menanyakan kapan Anda memiliki waktu untuk bermain golf bersama," beritahu Erin ragu-ragu.


Benar saja. Ekspresi Roxena semakin suram.


"Tidak ada waktu!"


"Baik, Nona." Erin bergegas kembali membungkuk. "Saya akan mengurus hal lain, Nona." Segera undur diri dari hadapan Roxena.


Akhir-akhir ini Roxena dipusingkan dengan urusan LS dan Lawrence Group. Belum lagi ada Tuan Luz yang sibuk menanyakan kapan ia ada waktu luang.


Menyebalkan sekali rasanya!


Ting.


Ada pesan masuk.


Apa urusanmu masih lama? Makan siang di rumah?

__ADS_1


__ADS_2