
...Hai-hai...
...Apa kabar semuanya?...
...Maaf Yaa baru bisa update lagii...
...Beberapa hari nggak up, author sibuk ngurus nilai hihi...
...Ke depannya akan lancar update...
...Terima kasih atas dukungannya!...
...****************...
...****************...
...****************...
"Wajah Prof. Gerald tampak buruk. Apakah beliau sedang dalam masalah?"
"Auranya sangat suram. Suasana hatinya begitu buruk. Aku takut bekerja dengan Prof. Gerald hari ini."
"Syuttt! Jangan bergosip. Lirikan mata Prof. Gerald sudah sangat mengerikan."
Bisik-bisik yang membicarakan suasana hati Gerald terdengar dari berbagai sudut ruang rapat departemen bedah kardiovaskular. Setiap yang berpapasan dengan Gerald merasa ngeri dan lawan bicara tak berani menatap Gerald langsung.
Suasana hati Gerald memang sangat buruk. Sangat buruk. Malam panas yang ia lewatkan bersama dengan Roxena, sangat membakar hatinya. Gerald merasa sangat terhina. Berhubungan tanpa cinta, sangat-sangat tidak ia sukai. Apalagi ada unsur pemaksaan berupa pemberian afrodisiak.
Ah, jika tidak aku gunakan afrodisiak, maka aku akan berhubungan dengan patung berbentuk manusia. Lagipula, kau menikmatinya, bukan? Desahmu begitu keras malam tadi. Dan aku sudah mengirim sedikit ke rekeningmu.
Takk!!
Pulpen yang Gerald pegang patah. Mengejutkan peserta rapat pagi ini. Sorot mata Gerald sangat dingin dengan hati yang semakin panas. Bukan hanya fisik, Gerald merasa harga dirinya sangat-sangat dihina dengan uang yang ditransfer oleh Roxane. Ia bak menjual tubuhnya. Namun, di luar semua itu, Gerald lebih membenci dirinya sendiri yang tak mampu mengendalikan diri.
"Prof. Gerald, apa Anda baik-baik saja? Wajah Anda sangat merah. Apakah Anda demam?"tanya Kepala Departemen, khawatir sekaligus takut.
Gerald tersentak pelan. Ia mengedarkan pandang. Semua menatapnya dengan berbagai ekspresi. Khawatir, takut, dan juga tegang.
"Jika Anda sedang tidak enak baik, Anda dapat cuti hari ini. Biar bagaimanapun, kesehatan Anda lebih penting," tambah Kepala Departemen lagi.
"Apakah ada kasus serius yang akan saya tangani?"tanya balik Gerald, tidak menjawab pertanyaan Kepala Departemen.
"Menurut data, pukul 14.00 nanti Anda akan melakukan operasi transplantasi paru-paru untuk pasien penderita Emfisema. Kondisi pasien tak kunjung membaik dan memutuskan untuk melakukan transplantasi paru-paru," jelas dokter yang melakukan presentasi hari ini.
"Transplantasi paru, ya?" Gerald bergumam. Ini, adalah salah satu jenis operasi yang sulit dan beresiko tinggi. Dan semua dokter di sini, mempercayakan operasi tersebut pada Gerald.
Gerald menghela nafasnya pelan. "Baiklah. Siapkan saja apa yang dibutuhkan. Saya akan kembali ke ruangan," ucap Gerald, berdiri dari kursinya kemudian melangkah pergi.
"Sepertinya Prof. Gerald memang ada masalah," ucap Kepala Departemen, seraya menghela nafasnya.
*
*
*
"Wajah Presdir hari ini tampak begitu berseri. Sepertinya suasana hati beliau sangat baik hari ini."
__ADS_1
"Benar. Selama bekerja di sini, ini kali pertama aku melihat ekspresi lain dari Presdir. Semoga seterusnya tetap seperti ini."
"Tampaknya Presdir puas dengan pernikahannya."
"Hahaha, sepertinya. Presdir sudah bertemu dengan pawangnya."
Ucapan serupa terdengar dari penjuru kantor Lawrence Group. Menyaksikan senyum lebar Roxane yang tidak menyeramkan, mereka terpana dan menerka apa alasannya. Dan, hanya satu yang memenuhi syarat itu, bahagia dengan pernikahannya.
Erin tersenyum simpul mendengar semua itu. Nonanya memang tampil berbeda hari ini. Memenangkan Gerald, walau dengan cara curang, adalah suatu yang lebih menyenangkan daripada menang tender proyek besar. Bahkan saat menjadi Presdir saja tak menunjukkan perubahan ekspresi.
"Erin, wajahnya yang memerah benar-benar enak untuk dipandang dan digoda. Dia, luarnya saja keras. Dalamnya begitu pemalu. Benar-benar tidak berubah." Roxane tertawa sembari bertopang dagu.
"Dan lebih lucu lagi. Dia malah kaget karena aku masih suci. Wajah kagetnya benar-benar membuatku puas. Aku puas! Sangat puas!"
Erin mengangguk pelan. "Semoga Anda lekas memiliki pewaris, Nona," ucap Erin, seraya membungkuk pelan.
Ucapan Erin, membuat Roxane tertegun, lantas mengusap perutnya.
Anak pertamaku adalah anaknya? Apakah aku tidak akan bertemu dengan Pangeran Kecilku lagi? Tidak akan bertemu dengannya lagi?
Mengapa?
Aku tidak terlalu sedih untuk itu? Apakah perasaanku untukku telah pudar? Dan Gerald, mengapa aku merasa perasaan untuknya tidak hanya benci?
Tidak! Tidak bisa seperti ini, Roxane. Kau membencinya, dia menghancurkan hidupmu, keluargamu, cintamu! Bagaimana mungkin kau punya perasaan lain padanya? Kehidupanku selama ini, aku bertahan sampai detik ini adalah untuk balas dendam. Membalas semua rasa sakitmu atas perbuatannya!!
Namun,
"Erin."
"Ya, Nona!"
Erin tak langsung menjawab.
Lukisan?
"Namanya adalah-"
Roxane menjeda ucapannya. Dahinya mengernyit dalam. Seakan lupa nama dari orang yang ingin ia cari.
Namaku tidak berubah. Nama Gerald juga. Maka namanya juga tidak berubah.
"Regis."
Regis? Nama yang aneh, pikir Erin dalam hati.
"Baik, Nona."
*
*
*
Di sore harinya, pekerjaan Roxane masih belum selesai. Terlebih ada tender yang diincar oleh Roxane. Dan pemilihan akan dilakukan dua minggu lagi.
Erin kembali masuk ke ruangan Roxane. Ia baru saja menerima panggilan telepon dan segera melapor pada Roxane.
__ADS_1
"Nona, Benjamin telah tewas sepenuhnya dan sedang dalam pengiriman ke kediaman Lawrence. Mungkin akan tiba sekitar 1 jam lagi. Lalu pihak kerajaan sudah mengeluarkan berita mengenai kematian Edwardo. Disebutkan bahwa Edwardo meninggal karena sakit keras."
Roxane memalingkan wajahnya dari layar laptop. Kemudian meraih ponselnya dan menonaktifkannya. "Katakan padanya aku sibuk. Urus pemakamannya segera!"
"Baik, Nona." Erin sudah paham maksud dari Roxane.
"Lalu, Nona. Jangan lupa untuk lelang malam ini. Menurut kabar yang beredar, akan ada barang bagus malam ini, Nona."
"Kalung blue ocean."
"Ya, Nona?" Erin tersentak. Ia kalah cepat dari Nonanya.
"Dapatkan itu!"
"Baik, Nona!" Erin bersemangat. Ini kali pertama Roxane mengikuti lelang dan menginginkan sesuatu. Biasanya, Roxena datang untuk bermain.
*
*
*
"Mampir ke rumah sakit dulu, Erin."
"Baik, Nona."
Erin patuh. Ia mengemudi dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit Lawrence. Sementara di belakang, Roxena mengarahkan pandangnya ke luar jendela. Melihat keindahan kota di malam lagi. Gedung-gedung pencakar lagi, sorot lampu kendaraan, dan sorot lampu jalan, seakan bercampur membentuk komposisi yang sempurna.
Tiba di rumah sakit, Roxane langsung menuju ruangan Gerald. Sang empunya ruangan tak ada di sana. Roxane menunggu dengan duduk di kursi Gerald. Berputar sekali dan menilik lekat apa saja yang ada di atas meja kerja. Komputer, kalender, buku, miniatur, tak ubahnya meja dokter pada umumnya.
"Transplantasi paru? Sudah berapa lama aku hidup? Bahkan zaman pun sudah berganti."
Roxane tersenyum kecut.
"Sepertinya ada yang kurang." Bergumam. Memikirkan apa yang kurang.
"Lukisan pengantin." Roxena tersenyum.
"Aku harus menjadwalkannya!"
"Apa yang kau lakukan di sini, wanita gila!!" Senyum Roxane semakin mengembang mendengar suara itu.
"Menunggumu, apalagi?"
"Pergi!"
"Aku butuh energi." Roxane bangkit. Berjalan mendekati Gerald yang tegap di tempatnya. Sorot matanya, tak ada perubahan dalam memandang Roxane dingin dan benci.
"Apa kau belum puas menghinaku?!"
Gerald berteriak. "Kau wanita gila! Apa yang ingin kau-"
Lagi. Terjadi lagi. Roxane membungkam Gerald dengan serius. Gerald berusaha mendorong. Namun, itu hanya sebatas tangan yang menempel di bahu Roxane.
Apa yang terjadi padaku? Mengapa aku tak bisa mendorongnya? Ada apa dengan hatiku?
"Siapa yang menghinamu? Aku hanya meminta hakku. Dan sampai kapan, mungkin selama kau jadi suamiku atau sampai aku muak denganmu. Ah, terima kasih untuk ciumannya. Aku semakin bersemangat untuk bermain."
__ADS_1
Dan dengan seenaknya, Roxane meninggalkan ruangan Gerald. Meninggalkan pria yang membeku ini.
Ingatan apa ini?