
Gerald menatap kemegahan istana Stella. Sebelum Asisten Rose mengajaknya masuk. Gerald menghela nafasnya. Ia ragu. Tapi, kembali mengingat awal mula ia menginjak kaki lagi di istana ini.
Beberapa waktu lalu, asisten Rose menemui dirinya. Mengatakan
bahwa Stella mengundang untuk mengobrol. Awalnya Gerald hendak menolak. Tapi, asisten itu segera mendesaknya dengan dalih bahwa undangan ini tidak dapat ditolak. Terlebih dengan status bangsawan Stella. Juga menekankan bahwa Roxena akan mendapat masalah jika undangan ditolak.
Gerald yang masih awam dan belum paham sepenuhnya kedudukan Roxena akhirnya setuju. Alasan utama ia setuju adalah tak ingin menimbulkan masalah untuk Roxena.
Kini, Gerald sudah berada di ruang tamu. Menunggu Stella datang. Sebelum Stella dan asisten Rose datang, Jade lebih dulu menghampiri Gerald.
"Apapun yang dikatakan oleh Lady, Anda jangan terpengaruh!"
Gerald terkejut dengan bisikan Jade yang tiba-tiba. Ia bingung, hendak bertanya namun Jade buru-buru meninggalkan tempat. Tak lama Stella datang. Ia mengenakan dress biru dengan jepit rambut magnolia menghiasi rambut. Menampilkan wibawa seorang putri. Duduk dengan anggun.
Gerald segera memberi penghormatan dengan berdiri dan membungkuk sedikit. "Semoga Anda diberkahi."
"Tidak perlu terlalu formal, Mr. Chaddrick," balas Stella.
"Terima kasih, Lady."
"Duduklah, Mr. Chaddrick." Stella mempersilakan Gerald duduk seraya menuangkan teh untuk Gerald.
"Bagaimana kabar Anda, Mr. Chaddrick?" Terdengar basa basi di telinga Gerald. Namun, tetap Gerald tanggapi.
"Saya baik, Lady."
Stella tersenyum simpul. Jawaban itu kurang memuaskan baginya. Ia kembali memancing, "senang mendengarnya. Saya juga sudah melihat hubungan baik antara Anda dengan Nyonya Chaddrick. Besar harapan saya bisa memiliki rumah tangga seperti kalian."
Gerald menanggapi dengan tersenyum. Ia masih tidak mengerti kemana arah pembicaraan ini. Mengundang dengan agenda yang tidak jelas. Ia datang hanya karena terpaksa.
"Tapi, saya mendengar beberapa desas-desus kurang mengenakkan mengenai hubungan rumah tangga Anda."
"Maaf, Lady. Saya pikir rumah tangga seseorang adalah privasi," sela Gerald cepat.
Stella sedikit terhenyak. Tangannya diam-diam mengepal.
"Maafkan saya. Saya hanya ingin memastikan agar hati saya senang. Urusan rumah tangga memang sangat sensitif. Terlebih rumah tangga Nyonya Chaddrick. Seperti yang Anda ketahui, istri Anda adalah salah satu pilar negara ini. Syukurlah jika semua baik-baik saja."
"Tolong katakan intinya saja, Lady!" Gerald tak sabar. Ia ingin segera pulang. Merindukan pelukan Roxena.
"Anda berani menekan saya?!" Stella berkata datar.
"Kau bisa dihukum atas kelancangan ini!"
Gerald tetap pada ekspresi datarnya. Hanya kepalanya yang sedikit tertunduk. "Aku tidak mau berbasa basi lagi." Tiba-tiba menggunakan bahasa informal.
"Rose. Tunjukkan padanya!" Asisten Rose memberikan ponselnya pada Gerald. Di sana terdapat berita mengenai penangkapan Rosana atas tuduhan pemalsuan izin Centauri dan penggelapan dana pajak.
Dahi Gerald mengernyit. "Apa ini?'
"Roxena ditangkap."
"Xena tidak mungkin melakukan hal ini!"
"Siapa tahu." Stella mengedikkan bahunya.
"Anda belum saya izinkan pergi, Mr. Chaddrick!!" Gerald yang hendak meninggalkan ruang tamu ditahan oleh pengawal. Saat itu juga, Gerald menyadarinya. Ia juga teringat dengan ucapan Roxena.
Jangan percaya pada anggota kerajaan, terutama Stella. Dia itu serigala berbulu domba!
"Apa mau Anda?"tanya Gerald dingin. Ia juga menyadari bahwa pasti ada campur tangan Stella atau memang sudah direncanakan.
"Akhirnya kau sadar."
"Turuti aku maka Roxena akan bebas." Ekor serigalanya sudah diperlihatkan dengan jelas. Gerald tersenyum sinis.
"Anda terlalu memandang rendah kami, Lady."
Roxena sangat berpengalaman. Berkali-kali selamat dari maut. Masalah ini, Gerald yakin Roxena dapat mengatasinya. Keluarga Lawrence bukan keluarga dengan kekuatan seumur jagung.
"Dengan senang hati saya menolak tawaran Anda. Istri saya tidak butuh bantuan Anda untuk bebas!" Gerald menerobos pengawalan itu. Ia segera berlari kencang menuju mobil.
__ADS_1
"ARRGGHHH!!" Menyadarinya, Stella berteriak kesal. "SIALAN!!" Gelas dan teko di atas meja menjadi korban.
"Lady."
"Ahhh … Ladyy!" Asisten Rose terkejut saat Stella menatap lalu mencengkram erat bahunya.
"Bukankah katamu mereka saling membenci, hah? Kenapa dia begitu begitu dan yakin pada wanita sialan itu?!"
"Dia bahkan menolak tawaranku tanpa berpikir panjang!! Dia menentangku!!
"Padahal aku ingin membantunya! Tapi, sialan!!"
Stella menghempaskan Asisten Rose. Asisten Rose berdiri dengan menahan rasa sakit di pundaknya.
"Sudahlah. Keadaan sudah berubah." Stella menghela nafas kasar kemudian tersenyum.
Seakan sudah mengetahui rencana selanjutnya.
*
*
*
Gerald sedang dalam perjalanan menuju kejaksaan tempat Roxena ditahan. Hari sudah mulai gelap. Sayang, setiba di kantor kejaksaan, ia tidak diperbolehkan menemui Roxena. Dihentikan oleh penjaga di depan pintu. Gerald meminta, dan tak membuahkan hasil.
Aku tidak berguna.
Aku suami yang lemah. Melindungi istriku saja tidak bisa. Bagaimana caranya masuk? Xena … kau baik-baik saja, kan?
*
*
*
"Masih mau beradu bukti lagi, Mr. Chris?"tanya Roxena seraya menaikkan alisnya.
Jaksa Chris tidak dapat membantah bukti-bukti valid yang dijadikan sebagai pembanding oleh Roxena. Roxena sudah ditemani oleh pengacaranya. Di atas meja terdapat banyak kertas, itu adalah dokumen-dokumen mengenai perizinan dan slip pembayaran pajak, juga pencocokan keuangan perusahaan dengan data keuangan kantor pembayaran pajak. Hasil tersebut memang berbeda dengan bukti tuduhan yang ada di tangan jaksa Chris.
Setiap bukti pembayaran ditandatangani langsung dengan tinta tersebut. Tujuannya jelas untuk menghindari dan berguna dalam keadaan seperti ini.
Ditambah dengan saksi yang lembaga terkait. Roxena dapat menyatakan ketidakbersalahannya.
"Sudah selesai, bukan?"tanya Roxena menatap Jaksa Chris yang tampaknya masih tidak percaya ia kalah telak.
"Maaf atas ketidaknyamanannya, Presdir Lawrence."
Jaksa Chris menunduk sedikit. "Kau hanya menjalankan tugas. Tidak masalah. Karena sudah selesai, aku pergi. Okay?"
"Silakan, Presdir. Hati-hati." Roxena meninggalkan ruangan interogasi itu. Ia sudah berada di sana selama 6 jam. Roxena melakukan peregangan setelah berada di luar ruangan.
"Apa Anda ingin mencari tahu siapa yang melakukan fitnah ini, Presdir?"tanya Pengacara Roxena. Roxena menggeleng.
"Seberani-beraninya rival bisnisku, mereka tidak akan mengusikku dengan cara ini. Tanpa dicari tahu aku sudah mengetahuinya," jawab Roxena dengan smirknya.
"Anda menerimanya begitu saja? Lawrence Group mengalami kerugian besar karena hal ini, Presdir!"
Roxena tentu mengetahui hal itu. Sudah menjadi rahasia umum jika suatu perusahaan mengalami masalah akan berpengaruh pada harga saham.
"Anggap saja aku buang sial. Selanjutnya … situasi yang berbalik!" Bukan hanya Stella yang dapat membuat rencana. Roxena juga bisa.
Roxena menyalakan ponselnya sembari berjalan keluar dari gedung kejaksaan itu. Kemudian Roxena memeriksa emailnya. Diantara banyaknya email ada satu email asing yang menarik perhatian.
Roxena menghentikan langkahnya setelah melihat isi email tersebut. "Kau benar-benar ingin hancur ya?!"geramnya menggenggam erat ponsel.
Roxena kembali melanjutkan langkah dengan langkah yang lebih cepat.
"Bukankah itu suami Anda, Presdir?"
Roxena menoleh ke arah yang Pengacara tunjukkan. Di sana, Gerald duduk di tangga dengan kepala tertunduk. Tampak lesu.
__ADS_1
"Bukankah aku berpesan Gerald tidak boleh tahu?"gumam Roxena.
Rocdns menghampiri Gerald, berdiri di depan Gerald. Gerald yang menunduk sontak mengangkat wajahnya. Diam sesaat sebelum akhirnya memeluk Roxena.
"Xena," panggilnya parau. Erat memeluk Roxena. Rasa takut yang berkecamuk di dalam hati Gerald sirna seketika. Sang istri berada dalam pelukannya tanpa kurang satupun. Roxena membalas pelukan itu.
"Mengapa kau ada di sini?"tanya Roxena, posisi mereka masih berpelukan.
"Aku khawatir."
"Apa yang perlu kau khawatirkan? Aku diputuskan bersalah dan dipenjara?" Roxena sedikit tertawa.
"Bukan itu."
"Lalu?"
"Aku takut kau merobohkan bangunan ini."
Roxena tak bisa menahan tawanya mendengar jawaban Gerald. Ia melepas pelukannya dan memberikan Gerald kecupan. "Syukurlah kau datang. Jika tidak, aku akan melakukan."
"Jangan menimbulkan masalah lagi."
"Ayo pulang," ajak Gerald menggenggam jemari Roxena.
Roxena mengangguk. Pengacara yang menyaksikan kebucinan atasannya tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Roxena menjadi sosok berbeda di depan Gerald.
"Presdir, Tuan, saya izin kembali lebih dulu."
"Terima kasih atas kerja kerasmu hari ini!" Pengacara terkejut. Apa ia tidak salah dengar?
"Sudah seharusnya, Presdir."
"Pulanglah." Pengacara itu kembali lebih dulu meninggalkan pasangan yang masih berada di halaman gedung kejaksaan.
"Aku lapar."
"Ayo, Sophia dan Lily sudah menyiapkan makan malam."
Huru-hara yang menimpa Roxena hari ini telah usai. Mengenai isi email yang ia terima tadi … Roxena menatap Gerald yang melihat ke depan tapi tak melepaskan tautannya pada jemari Roxena.
Hati sedingin es itu, setitik demi setitik mencair. Roxena diam-diam tersenyum. Singkat sebelum mengatakan sesuatu, "apa yang Stella katakan padamu?"
Gerald terperanjat. Menoleh kaget pada Roxena. "Bagaimana kau tahu?"
"Yang bersangkutan mengirimkan video padaku."
"Xena, aku bisa menjelaskannya. Itu … aku terpaksa pergi karena asistennya mengatakan bahwa kau akan terkena masalah jika aku tidak pergi menemuinya. Lalu dia banyak beromong kosong. Dan terakhir dia mengatakan akan membantumu bebas jika aku menurutinya. Aku menolaknya. Aku percaya jika kau mampu mengatasinya dengan baik," jelas Gerald buru-buru.
"Hanya itu saja?"tanya Roxena menyelidik.
"Benar. Aku tidak menyembunyikan sesuatu darimu. Hanya saja … ada seorang pelayan pria yang membuatku bingung. Dia membisikkan sesuatu padaku. Katanya jangan percaya apapun yang dikatakan oleh Stella. Mengapa dia berkata seperti itu?" Gerald teringat dengan Jade.
"Oh." Roxena tidak berniat memberitahu
Gerald. "Masih ada yang waras di dalam sana.
"Xena?" Memanggil was-was.
"Kau marah?"
"Tentu saja. Aku marah pada kebodohanmu!" Menyentil dahi Gerald.
"Cukup kali ini saja kau mengindahkan undangannya! Lain kali tolak saja! Mengenai menimbulkan masalah atau tidak, akan lebih parah jika kau pergi menemuinya!"tegas Roxena. Istana itu bagai sungai yang terlihat tenang tapi nyatanya di balik air tenang itu terdapat arus yang sangat deras.
"Tapi, Xena. Dia itu …."
"Kedudukanku sebanding dengannya. Atau kau sudah lupa siapa aku?"
"Sudahlah. Intinya kau tidak boleh berhubungan dengannya!"tegas Roxena.
"Aku sudah mengingatnya!"
__ADS_1
"Bagus! Hanya saja … aku tidak bisa memaafkanmu begitu saja, Suamiku."
Gerald menelan ludahnya kasar. "K-kau akan menghukumku bagaimana?"