
"Kita mau ke mana?"tanya Roxena saat Gerald menutup kedua matanya dengan penutup mata. Roxena meraba-raba dan menggenggam kemeja Gerald sebelum Gerald meraih tangan Roxena.
"Kau akan tahu nanti." Roxena sedikit berdecak kesal. Ia dituntut oleh Gerald.
"Sudah sampai," ucap Gerald.
"Kita di rooftop?"tebak Roxena.
"Bagaimana kau tahu?" Gerald terheran. Padahal kan kondisi mata Roxena tertutup. Roxena tersenyum meremehkan Gerald. Jarak rooftop dan lantai apartemennya hanya berjarak satu lantai. Ada perbedaan saat naik atau turun lift, jelas hal mudah bagi Roxena untuk tahu.
"Kau mengajakku melihat okultasi bulan dan Venus?"
Gerald kembali mengerjapkan matanya. Mengapa tebakan Roxena benar lagi? Apa Roxena sudah tahu?
"Erin membicarakan fenomena langit kemarin. Aku juga ada membaca artikel tentang itu." Roxena menarik penutup matanya. Lalu menatap langit yang terlihat menakjubkan karena bulan dan venus berada dalam jarak yang sangat dekat.
"Wow." Roxena berdecak. Angin malam berhembus pelan menyibak lembut rambut Roxena.
"Ku pikir tidak menarik. Ternyata sangat indah," ucap Roxena. Gerald merapatkan tubuhnya, menarik Roxena untuk bersandar padanya.
Warna planet yang dijuluki bintang fajar itu kontras dengan warna bulan berbentuk sabit itu. Menggantung indah di langit.
"Hm, Suamiku." Roxena mengalihkan pandangan pada Gerald.
"Ya?" Gerald membalas dengan menatap balik Roxena.
"Kau membawaku kemari hanya untuk melihat ini?"tanya Roxena.
"Ah … hehe ku pikir kau tidak tahu tentang fenomena langit ini. Jadi … maaf aku tidak menyiapkan hal lain," sesal Gerald.
"Kalau begitu biarkan aku yang memberikan sesuatu."
Gerald menanti. Keduanya kini berdiri berhadapan. Di saat Roxena memajukan wajahnya, Gerald tiba-tiba memegang kepalanya. Ia mengerang dengan dahi mengernyit.
"Kau kenapa?"cemas Roxena. Gerald tidak menjawab. Rasanya ada sesuatu yang menusuk kepala. Sangat luar biasa sakit.
"Gerald?" Kali ini Gerald menjawab dengan menggerakkan tangannya, berkata bahwa ia baik-baik saja.
Kepingan ingatan hadir dalam benar Gerald. Dan perlahan rasa sakit menusuk itu menghilang. "Are you okay?" Roxena memegangi tangan Gerald yang terlihat gontai.
"Aku baik-baik saja." Meskipun nafasnya masih sedikit terengah. "Ternyata dulu kita pernah melihat pemandangan ini bersama."
Roxena terhenyak. Ia segera mengingat-ingat kemudian membenarkan. "Aku mencintaimu, Xena." Kembali membuat pengakuan yang dibalas dengan kecupan oleh Roxena. Keduanya kemudian berpelukan erat.
Takdir cinta telah berkehendak. Dendam meluruh menjadi cinta. Tabir mulai tersingkap. Hanya saja … apakah sudah berakhir?
Untuk detik ini aku tidak mengharapkan Regis sama sekali. Aku pikir akan bagus jika hatiku tidak berubah. Kau sudah memilihnya dan melupakanku. Setelah melewati berbagai hal aku mulai bisa memastikannya. Aku mencintai pria ini. Ku harap takdir tidak akan bermain lagi.
*
*
*
Kehebohan terjadi di lobby Lawrence Group. Beberapa orang berseragam kejaksaan datang dengan surat perintah penangkapan Roxena atas tuduhan pemalsuan izin Centauri dan juga penggelapan dana perpajakan.
Erin yang menerima laporan langsung melapor pada Roxena. Roxena terdiam beberapa saat, apakah hari tenangnya berakhir?
Roxena menghela nafas pelan kemudian tersenyum sinis, "dia sudah mengambil langkah."
"Nona, saya akan menghubungi pengacara kita!"
"Sudah lama aku tidak berurusan dengan hukum. Ayo, Erin." Roxena bangkit meninggalkan kursinya. Dengan langkah tenang turun menuju lobby.
"Kalian mencariku?" Suara lantang Roxena mengheningkan suasana riuh.
__ADS_1
Seorang pria yang memimpin penangkapan itu menghampiri Roxena dan menunjukkan surat penangkapan. Roxena membacanya sekilas. Ia tertawa sinis. Lalu menyerahkan kedua tangannya.
"Anda bisa menggunakan pengacara untuk membela diri."
"Nona."
"Jangan biarkan Gerald tahu," bisik Roxena pada Erin sebelum meninggalkan lobby dengan tangan diborgol.
"Sekretaris Erin, ini … tidak mungkin kita melakukan hal tercela itu! Ini pasti fitnah! Kompetitor mana yang melakukannya?!" Orang-orang di sana tidak terima. Lawrence Group selalu menjaga citra baik dan kualitas pelayanan.
Pemalsuan izin dan penggelapan pajak? Omong kosong apa itu?!
"Kalian tenang saja. Presdir akan mengatasinya dengan baik. Hanya saja mungkin hal ini akan berimbas pada saham kita! Jangan bersantai, segera di posisi!!"ucap Erin lantang. Kemudian Erin kembali ke ruangannya. Dalam perjalanan itu, ia menghubungi Pengacara Lawrence Group.
*
*
*
Suasana kejaksaan gempar dengan kehadiran Roxena sebagai terdakwa. Meskipun tangannya diborgol, langkah Roxena tenang dengan pandangan lurus ke depan. Membalas tatapan bingung dengan smirk. Seolah memberi tahu bahwa kejaksaan atau orang dibaliknya telah bermain dengan orang yang salah.
Roxena dibawa ke ruang interogasi. Ia dibiarkan menunggu lama di dalam ruangan kubus 3x3 meter itu. Melihat jam tangannya, waktu menunjukkan pukul 14.00.
Roxena terus menunggu dengan tenang. Dengan sesekali melirik ke arah pintu dan ruang pengawas. Di mana dari dinding kaca itu Roxena dapat mengetahui bahwa geriknya diawasi.
Di luar ruangan interogasi, jaksa yang bertugas menginterogasi Roxena telah tiba. "Bagaimana sikapnya?"
"Dia begitu tenang."
"Tenang?" Jaksa itu ragu. Hanya ada dua kemungkinan jika terdakwa sangat tenang, yang pertama tidak bersalah, yang kedua adalah yakin akan terlepas dari semua tuduhan. Biasanya sekalipun tidak bersalah pasti memiliki jejak kekhawatiran dan ketakutan.
"Terdakwa adalah Presdir Lawrence Group. Anda harus berhati-hati, Pak!"
"Selamat siang, Presdir Lawrence." Roxena yang posisi duduknya bersandar pada kursi dengan kedua tangan di atas paham menanggapi dengan menaikan alisnya.
"Maaf menunggu lama."
"Syukurlah Anda tidak datang. Saya haus," sahut Roxena.
"Dilarang makan dan minum di dalam ruang interogasi, Nyonya!"jawab Jaksa berusia sekitar 40 tahun itu. Terlihat tidak berpengalaman dengan seragam kerjanya yang tidak formal. Ia mengenakan jaket kulit dan sepatu sport. Rambutnya sedikit panjang dan berantakan. Jaksa ini memiliki wajah khas Spanyol.
Namun, dibalik penampilan itu, Roxena menyadari bahwa Jaksa di depannya ini berpengalaman. "Tuan Chris." Roxena menyapanya. Jaksa itu tampak terhenyak.
"Bawahan Anda menangkap saya saat saya tengah sibuk bekerja. Bahkan saya belum makan siang. Tenggorokan saya kering, tidak mampu berbicara lebih. Tahukan Anda bahwa orang lapar dan haus tidak bisa diajak bicara?" Namun, menghadapi dan mengintrogasi orang, ia lebih berpengalaman.
Jaksa Chris mempertimbangkan. "Baiklah."
Orang besar di depannya ini, ia mendengar beberapa rumor tentang Roxena yang berdarah dingin. Sebelum datang kemari ia juga menyelidiki latar belakang Roxena. Latar belakangnya sangat bersih.
Kini ada mie instan cup dan juga segelas ice tea di depan Roxena. Tak banyak kata, Roxena langsung melahapnya.
Hanya membutuhkan waktu lima menit untuk Roxena makan dan minum. Setelahnya ia berkata, "tanyakan apa yang ingin Anda tanyakan!"
*
*
*
Kabar ditangkapnya Roxena langsung menyebar luas. Hal tersenyum jelas menimbulkan ketakutan dan kecemasan bagian internal dan eksternal Lawrence Group.
Ada beberapa klien yang segera membatalkan kerja sama meskipun kebenaran belum terungkap. Hal tersebut jelas berpengaruh pada harga saham Lawrence Group.
Di tengah huru hara yang melanda Lawrence Group, ada yang tertawa senang. Dialah Stella yang tengah menikmati lagi dari pemutar musik klasik. Jarinya bergerak bak dirigen mengikuti alunan musik. Ia bahkan melakukan tarian kecil.
__ADS_1
"Roxena oh Roxena, meskipun kau lawan yang tangguh, kau akan jatuh juga. Kali ini bagaimana caranya meloloskan diri?"
Stella memiliki pengaruh yang cukup untuk menggerakkan pejabat pemerintahan maupun kejaksaan. Ditambah dengan bantuan Jonathan, maka dapat mengatasi dua masalah.
Sayangnya, apakah semudah itu menaklukkan Roxena hanya dengan tuduhan pemalsuan izin usaha dan penggelapan pajak? Hal itu mungkin akan mengguncang namun tidak akan meruntuhkan. Stella terlalu dangkal dalam berpikir.
Itulah arti tatapan dingin Jade. Jade tak bisa menahan diri untuk tersenyum mengejek.
"Ah." Stella berhenti menari. Ia kemudian duduk untuk menyesap wine terbaiknya. Seolah sedang melakukan perayaan.
Aku tahu. Dua tuntutan itu tidak terlalu berarti. Tapi, bagaimana dengan ….
Stella menyeringai. Sepertinya ia memiliki kartu as lain.
"Rose!!" Berteriak memanggil Asistennya.
"Saya, Lady!"
"Mendekat." Asisten Rose mendekat. Stella membisikkan sesuatu.
"Harus berhasil!"ucap Stella memberi penekanan.
"B-baik, Lady." Meskipun ragu tetap disanggupi. Asisten itu bergegas meninggalkan Stella.
Jade yang melihatnya penasaran dengan perintah Stella. Hanya saja terlalu berisiko untuk bertanya langsung.
*
*
*
Rapat darurat diadakan karena masalah besar itu. Dewan direksi berkumpul untuk mencari cara menstabilkan perusahaan dan mencegah nilai saham turun lagi.
Erin memimpin rapat. Ia menjelaskan bahwa sebagian besar klien bertahan dan dapat dipertahankan. Kebanyakan adalah perusahaan yang telah lama bekerja sama dengan Lawrence Group.
Centauri sebagai anak perusahaan baru yang menjadi sorotan juga menghentikan aktivitas sementara karena sedang diselidiki oleh kejaksaan. Begitu juga dengan kantor pusat Lawrence Group. Terjadi penyelidikan dan penggeledahan terhadap departemen keuangan, HRD, dan departemen general affair. Intinya masalah Roxena itu benar-benar dimanfaatkan sebagai kunci untuk bisa menyimak Lawrence Group, mencari kesalahan perusahaan beken yang memiliki citra baik itu.
"Apapun yang terjadi kami tidak akan pergi!"ucap salah seorang dewan direksi. Ada beberapa pemegang saham baru yang buru-buru mencabut saham mereka.
Para dewan direksi itu memang mengalami kerugian besar. Hanya saja, keuntungan yang Roxena berikan untuk mereka berkali-kali lipat. Selain itu, mereka sangat percaya pada Roxena serta lebih memegang teguh kesetiaan ketimbang keuntungan semata.
*
*
*
Tuan Lawrence yang mendengar kabar penangkapan Roxena segera turun tangan untuk menstabilkan perusahaan dan juga melakukan konferensi pers akan tidak semakin banyak penyimpangan dan gonjang ganjing.
"Erin, kau temani Xena!"ucap Tuan Lawrence.
"Nona akan segera mengatasinya, Tuan Besar. Yang terpenting adalah menangani masalah yang timbul," jawab Erin percaya diri.
"Bagus kalau begitu."
Kini di halaman Lawrence Group penuh dengan wartawan. Tuan Luz turut hadir dalam acara konferensi pers itu.
Konferensi pers dibuka. Tuan Lawrence menyatakan bahwa mereka terbuka untuk penyelidikan. Serta meminta dukungan masyarakat untuk mendukung mereka. Selama ini, Lawrence Group memiliki kontribusi besar dalam masyarakat. Tentu banyak yang tidak percaya dengan hal itu. Hanya saja protokol tetap protokol yang harus dijalankan.
Lawrence Group telah berdiri puluhan tahun. Menjadi perusahaan yang dipercaya dengan skala kepuasan tinggi. Untuk apa melakukan pemalsuan izin? Terlebih Roxena memiliki darah bangsawan, bukankah itu mencoreng nama baik? Mereka juga tidak kekurangan uang untuk melakukan penggelapan dana.
Tuan Lawrence berkata, "semua yang menyaksikan konferensi pers ini dapat menjadi saksi. Apakah Lawrence Group pernah merugikan kalian? Kepada balai perizinan, kapan kami tidak mengurus surat izin usaha? Apakah staff kalian buta dan lupa mencatatnya? Mari bandingkan pencatatan dua belah pihak. Semua dokumen perizinan sah berlegalisir. Apa kalian mau mengkhianati konstitusi stempel asli?!"
"Kepada Badan perpajakan, kapan kami tidak membayar pajak? Apakah kalian mau berpaling dengan bukti hitam putih yang sangat jelas? Jangan bermain curang! Karena Lawrence Group tidak akan tumbang hanya karena ini!"
__ADS_1