
"WHAT THE FU*CK?!"pekik Roxena saat tiba di apartemennya. Ia baru saja tiba di apartemen dengan sedikit bantuan dari Erin untuk memapahnya.
"Erin, is this really my apartment? We're not the wrong number, right?"tanya Roxena memastikan. Erin menggeleng pelan, ini benar-benar apartemen Roxena. Hanya saja, terasa sangat berbeda karena dekorasi yang diubah.
Dekorasi yang sebelumnya didominasi warna hitam, tanpa ada furniture berwarna terang untuk mengimbanginya, kini berubah total. Warna dinding telah berubah menjadi lebih hidup, warna yang soft, kombinasi warna coklat susu, putih, dan cream. Dipadukan dengan tanaman hidup di sisi sofa, serta tambahan beberapa aksesoris dinding. Baru mirip sebuah ruang tamu dan keluarga, bukan kesan suram bak rumah hantu.
Mata Roxena menyipit melihat dekorasi baru apartemennya. "Siapa? Siapa yang mengubahnya?!"geram Roxena. Matanya mengedar, mencari pelaku. Tak lama, Lily dan Sophia datang dengan wajah takut-takut.
Mata Roxena langsung menatap nyalang mereka berdua. "Kalian?"
Lily menggeleng. Tangannya bergerak menunjuk pintu kamar Gerald. "Pria itu?"
Lily dan Sophia mengangguk. Roxena mendengus kesal. Ia dengan cepat menuju kamar Gerald. Memutar handle pintu namun dikunci. Segera ia mengetuk pintu kamar Gerald.
"HEI! GERALD, KELUAR KAU, BRENGS*EK!!"
Ya Tuhan! Erin menjerit dalam hati. Lily dan Sophia berdiri di belakangnya. Bersiap untuk menyaksikan perang suami dan istri.
"KELUAR! GERALD! KELUAR ATAU KU TENDANG PINTU INI!!" Roxena berteriak sembari mengetuk pintu, lebih tepatnya menggedor.
"Tendang saja kalau mampu!"balas Gerald malas dari dalam. Merasa ditantang, Roxena mengambil ancang-ancang.
Bugh!!
"Auh!"
Bersamaan dengan ia menendang, Gerald membuka pintu. Dan refleks menghindari tendangan Roxena.
"Nona!" Lily berseru panik, gegas menolong Roxena yang terjerembab jatuh.
Uhuk
Uhuk
"Lemah sekali!" Bukan Gerald yang mengkritik, melainkan Roxena. Mengkritik dirinya sendiri.
"Astaga, Nona. Anda berdarah!"seru Lily. Pasti luka jahit Roxena robek. Gerald mengangkat satu alisnya.
Menyusahkan!
Dengan terpaksa, ia mengambil kotak obat. Dan memberikannya pada Erin, yang baru saja selesai membaringkan Roxena di atas ranjang, ranjang Gerald.
"Tenagamu kalah dengan suaramu," cibir Gerald, yang berdiri dengan bersandar pada dinding, melipat kedua tangannya, menatap lurus ke depannya. Disambut dengan dengusan Roxena.
__ADS_1
Erin sibuk mengurus luka Roxena. Perban yang menutup luka jahit itu berdarah. Wajahnya sudah seperti biasa, hanya masih terdapat bekas lebam di beberapa sudut. Begitu juga dengan di bagian tangannya dan beberapa tubuh lainnya. Jujur saja, tubuhnya terasa remuk sehari setelah kecelakaan.
"Nona, Anda harus lebih hati-hati lagi."
"Iya-iya."
"Hei, kau!"panggil Roxena pada Gerald. Gerald tidak menoleh, merasa tidak dipanggil.
"Apa kau tuli?! Gerald Chaddrick!!"teriak Roxena.
"Apa kau hobi berteriak?!"sahut Gerald, meniup telinganya. Bisa-bisa dalam waktu dekat, gendang telinganya akan pecah. Teriak Roxena melengking, bak anak kecil yang menangis kejar.
"Hmhp!"
"Mengapa kau memanggilku?"tanya Gerald, membuka pembicaraan lagi.
"Apa maksudmu? Siapa yang mengizinkanmu mengubah apartemenku?!"geram Roxena. Ya, pembicaraan itu sudah tidak nyaman. Tatapan kesal Roxena disambut dengan lirikan malas Gerald.
"Aku ingin tinggal di rumah manusia, bukan gua hantu!"tegas Gerald, menjawab menyeluruh alasan dan siapa yang melakukannya.
"Atas izinku?"
"Aku suamimu!"jawab Gerald singkat, cukup untuk menjawab perihal siapa yang memberi izin, maka jawabannya tidak perlu izin. Karena, menurut Gerald yang ia lakukan bukanlah suatu hal yang besar, hanya mengubah dekorasi rumah. Toh, ia juga bernaung di bawah apartemen ini.
Dia mulai pintar bicara, batin Lily. Mungkin Gerald sudah berdamai dengan keadaannya, saat ini bertindak dan mengikuti alur Roxena.
"Lupakan saja," ucap Roxena pelan. Wanita itu memilih memejamkan matanya.
"Nona?" Beberapa saat kemudian, Erin memanggil Roxena. Wanita itu membalas dengan gumaman. Sudah tidur.
Erin mendongak, menatap Gerald yang juga menatap dirinya. Gerald langsung berdiri tegak. Wajahnya tidak terima. "Wanita gila ini?!"
"No! Angkat dia keluar!"titah Gerald.
"Suami istri, wajar jika tidur satu ruang," jawab Erin. Ia juga enggan membangunkan Roxena. Toh, apartemen ini milik Roxena, bebas mau tidur di mana saja.
"Kau?!"
"Selamat malam, Tuan," pamit Erin, melangkah keluar setelah menyelimuti Roxena.
Gerald menghembuskan nafas pelan. Ia mengedarkan pandang. Mana mungkin ia tidur di ranjang itu.
Pria itu kemudian melangkah mendekat, memperhatikan wajah Roxena. Tampak tenang dalam tidurnya. Ekspresi dinginnya menghilang, berganti dengan wajah yang polos bak tanpa beban.
__ADS_1
"Hm." Perhatian Gerald beralih ke bantal yang ada di sebelah Roxena. Mungkin pikiran untuk menghabisi nyawa wanita itu. Namun, segera ia tepis.
"Belum saatnya." Gerald melangkah menjauh daripada ia gelap mata tiba-tiba. Ia harus memupuk kesabaran. Membaringkan tubuhnya di sofa. Lagi, ia memejamkan mata dengan merindui Elisa.
*
*
*
Roxena terbangun sebelum matahari terbit. Tadi malam, ia tidur sangat awal. Entah mengapa, kamar ini memberinya suasana baru, yang membuatnya nyaman. Ia, Roxena mengakuinya. Namun, mana mungkin mengatakannya.
Ia bangun, duduk bersandar pada kepala ranjang. Lampu kamar menyala. Tampaknya Gerald lupa mematikan lampu, atau memang tidur dengan suasana terang seperti ini.
Roxena termenung. Mengingat hal-hal belakangan ini. Ia lantas memijat dahinya pelan.
"Terlalu banyak omong kosong."
"Tapi, mengapa dia tidak menanyakan hal-hal itu?"heran Roxena. Menatap bingung Gerald yang tidur meringkuk di sofa. Udara pagi yang dingin ditambah lagi dengan pendingin udara.
Entah angin apa, Roxena turun dari ranjang dan menarik selimut. Ia menyelimuti Gerald.
Ia lantas berjongkok, menatap wajah tampan suaminya itu. Suami? Ya, tentu saja!!
Roxena hendak menyentuh wajah itu. Namun, ia urungkan. Wajahnya sendu.
"Mengapa hanya aku yang menderita? Ingatan masa lalu ini sangat menyiksaku."
Roxena bermonolog.
"Mengapa, di kehidupan ini, kita bertukar tempat? Apakah ini perwujudan dari sumpahku? Jika benar, maka semua yang terjadi padaku akan terjadi padamu. Aku akan memenjaramu dalam cinta dan kebencian. Namun, Gerald. Aku tidak sekejam dirimu dulu."
Roxena berhenti bicara. Tatapannya semakin sendu. "Dulu, kau membunuh semua anggota keluargaku. Bahkan juga kekasihku. Bukankah aku masih berbelas kasihan?"
Roxena lantas bangkit. Ia berjalan menuju jendela. Menyibak gorden berwarna abu tua itu. Langit sudah mulai terang. Goresan warna jingga di langit begitu indah. Roxena tersenyum tipis. "Entahlah, hari ini aku tidak membenci warna terang."
"Ah, sudahlah. Aku bersantai saja hari ini." Roxena kemudian melangkah keluar dari kamar Gerald.
Gerald bangun setelah mendengar suara pintu ditutup. Pria itu mengernyit.
"Dulu? Masa lalu? Yang mana?" Pertanyaannya ditelan sunyi. Masih banyak misteri yang belum terpecahkan di hubungan mereka.
"Roxena, kapan kita bisa memperjelas semuanya? Semua tuduhanmu, aku merasa tidak pernah melakukannya. Tapi, mengapa hatiku berdenyut nyeri?"
__ADS_1
Gerald bangkit, mematikan lampu kemudian melangkah mendekati jendela. Membuka gorden yang tadi Roxena tutup kembali.
"Langit yang indah. Sebenarnya yang mana sifatmu?"