Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 79 Penjara Cinta Roxena


__ADS_3

PRANGGG!!


BRAKK!!


BRAKK!!


BUGH!!!


Terdengar suara barang pecah, berjatuhan, dan saling bertabrakan. Kamar rapi milik Putri Kerajaan Spanyol itu berantakan seketika. Amarahnya tak kunjung mereda, semakin memuncak setelah menerima panggilan dari seseorang.


“BR*ENGSEK!! BAJINGAN!!”


“TERKUTUKLAH KALIAN LS SIALAN!!”


Asisten tidak berani mendekati gunung berapi itu, memilih jarak aman. Di dekatnya ada Jade yang turut menyaksikan Stella mengamuk sembari menyilangkan kedua tangannya, tontonan yang menarik. Kapan lagi melihat Lady terhormat kehilangan kendali dan wibawanya?


“Hancur sudah. Kekuatanku kocar-kacir. ARGHHHH!!”


Nafasnya menderunya. Tak lama, luruh dan jatuh ke lantai. “Lady!”


Asisten dan Jade mendekat. Jade mengecek nafas Stella, “sepertinya Lady mengalama hiperventilasi.”


“Aku akan memanggil dokter,” ucap Asisten.


“Dengan kamar seperti ini?”


Asisten bingung. Jade segera meredakannya, “aku bisa menanganinya. Tenang saja.”


Hm … Ladyku tampaknya berhasil. Kemudian besok ada giliranku, batin Jade.


*


*


*


“Bagaimana?” Keesokan paginya, Roxena sudah sadar dan kini sedang meminta laporan dari keempat tangan kanannya. Roxena tak meninggalkan kamar, duduk bersandar pada ranjangnya dengan kondisi masih lemas, wajahnya juga pucat.


“Sebagian besar tewas. Ada sekitar 10 orang yang hidup dan saat ini berada di penjara,” jawab Luro.


“Bagaimana dengan Pimpinannya? Erin?”


“Selamat, Nona.”


“Itu cukup. Berdasarkan waktunya, dia pasti sudah menerima kabar. Bagaimana penyelidikan ESA Group?” Roxena masih fokus pada Erin.


“Kami mengalami beberapa kendala, Nona. Tapi, kami mendapatkan beberapa informasi kecil.”


“Tidak masalah.” Sekecil apapun informasi pasti ada gunanya.


“Lady, karena ada beberapa musuh yang melarikan diri ke bunker, Tim Beta memutuskan untuk menghancurkan bunker. Dengan harapan kelak tidak akan dijadikan tempat pelarian musuh lagi,” lapor Lyra seraya membungkuk kecil. Was-was keputusannya tidak diterima oleh Roxena.


“Sayang sekali.” Lyra seketika langsung berlutut.


“Maafkan saya, Lady. Saya gegabah!”


“Hm … sudahlah.”


“Mereka anggota yang berani mati, kalian jaga dengan baik. Setelah aku membaik, akan aku introgasi sendiri!”


“Si, Lady!”


Luro dan Lyra meninggalkan kamar. Roxena menaikkan alisnya pada Lucky yang masih di tempatnya. “Ada hal lain, Lucky?” Erin bertanya.


“Saya ingin menanyakan sesuatu, Lady,” jawab Lucky.


“Katakan.”


“Mengapa Anda turun tangan padahal Anda sedang hamil? Anda hampir saja keguguran!! Kemudian mengapa Anda menerjang pengawalan tadi malam? Apa Anda ingin mati?!”


Lucky sangat emosional saat ini. Kilas balik penyerangan tadi malam, Roxena yang menahan sakitnya, Lucky mengingatnya dengan jelas. “P-padahal Anda memiliki Tim yang bisa menghandle penyerangan itu. Tapi, mengapa? Padahal Anda bisa duduk tenang menunggu kabar tanpa harus terluka!! Apa yang Anda pikirkan, Lady?!”


“Lancang!! Kau berani mempertanyakan keputusan Nona?!”hardik Erin tak senang. Roxena mengangkat tangannya.

__ADS_1


“Saya minta maaf jika saya lancang. Hanya saja saya membutuhkan jawaban. Apakah memang cara kerjanya seperti ini atau Anda tidak percaya pada orang sendiri? Saya adalah anggota baru, mohon penjelasannya, Lady.”


“Aku akan menjawabmu,” jawab Roxena. Ia mencari posisi ternyaman.


“Jawabannya sederhana. Karena aku seorang pemimpin.” Roxena menatap serius Lucky yang tampak tak paham dengan jawabannya.


Roxena mengulas senyum singkat. “Jika kau tanya aku sayang nyawa atau tidak, tentu saja aku sayang nyawa. Tapi, aku tidak bisa mengabaikan kewajiban dan tugasku sebagai pemimpin. Meskipun aku sudah mengutus Tim-Tim terbaik, aku tidak bisa melawan hatiku sendiri, Lucky. Tidak masalah jika kau katakan aku ini pimpinan bodoh atau apa. Bagiku, lebih baik terjun bersama daripada menanti kabar. Serta ada kepuasan tersendiri jika aku ikut,” jelas Roxena.


Intinya adalah rasa kekeluargaan yang tinggi. Tugas penyerangan kali ini sangat penting terlebih berkaitan dengan penyerangan yang melukai Gerald tempo hari. Roxena tak mampu menahan keinginan untuk menangkap sendiri pimpinan markas itu.


“Maafkan aku, Lucky. Aku akui aku gegabah. Hanya saja, aku kalah dengan perasaanku,” ujar sesal Roxena saat melihat ekspresi Lucky tidak berubah.


Lucky menghela nafas kasar. Sepertinya jawaban itu dimengerti tapi sulit untuk diterima.


“Kehamilan Anda masih sangat muda. Anda hampir saja keguguran. Saya sarankan Anda istirahat dengan cukup. Kemudian mengkonsumsi makanan dan suplemen yang dapat memperkuat kehamilan Anda. Urusan LS, serahkan saja pada kami,” ucap Lucky serius.


“Kau memerintahku?” Roxena menjawab dengan mata melotot.


“Demi kebaikan Anda sendiri, Lady. Anda setuju dengan saya kan, Erin?” Lucky mengalihkan pandangannya pada Erin. Merasa bahwa itu memang relevan, Erin mengangguk tanda setuju.


“Selamat beristirahat, Lady. Saya permisi.” Lucky meninggalkan kamar.


“Manusia satu itu, sejak awal aku tahu dia orang yang tidak terlalu terikat dengan jabatan. Tapi, aku bisa menerimanya. Orang seperti itu bisa menempatkan dirinya sesuai kebutuhan tanpa merugikan kubu sendiri. Bisa dikatakan, dia mirip denganmu, Erin. Dia berani mengomeli dan menegurku,” celetuk Roxena. Erin membulatkan matanya tidak terima disamakan dengan Lucky.


“Katanya jodoh itu mirip, apa kau mau dengannya?”


“Tidak, Nona! Dia tidak sesuai standar saya,” jawab Erin tegas.


“Siapa standarmu?”


“Hm, sampai saat ini standar saya tidak berubah. Dia harus punya mata tajam, alis tebal, rahang tegas, bibirnya tidak terlalu tebal maupun tipis, dan dia harus lebih tinggi dari saya. Jika tersenyum, melebihi madu. Jika tidak, tidak akan kehilangan pesonanya. Sejauh ini, saya menginginkan standar seperti-”


“Dylan Wang,” cetus Roxena menyela.


Erin tertawa malu mendengarnya. Itulah sisi lain Erin. Meskipun ia tinggal di Benua Eropa, ia suka sekali dengan aktor asal negeri Tirai Bambu itu. Menjadi fangirl aktor yang bermain sebagai Dong Fang Qing Cang dalam drama Love Between Fairy and Devil sudah sekitar 5 tahunan, sejak pertama kali ia menginjakkan kaki di negara itu dan tanpa sengaja melihat poster sang aktor yang berseliweran di jalan. Entah itu di baliho, badan bus, halte, dan maupun di mall.


“Kau dan Liu sama saja.” Benar, terlebih ada Dokter Liu yang satu frekuensi dengannya.


“Saya sangat ingin bertemu dengannya, Nona. Akan lebih baik jika dapat menikah dengannya,” angan Erin dengan posisi berdoa. Roxena memutar bola mata jengah.


“Nona!!!”rajuk Erin mencembik.


“Lupakan saja pria itu. Kalian sangat-sangat tidak cocok. Lebih baik kau pertimbangkan pria-pria di LS ini!”


“Nona!!” Sekali lagi Erin merengek. Ditanggapi dingin oleh Roxena yang membaringkan tubuhnya lalu menarik selimut.


“Di LS nggak ada yang seperti Didi, Nona. Apakah tidak boleh menculiknya?”gumam Erin.


“Aku bisa menyembunyikannya di LS. Suamiku, Didi kapan kita akan bertemu?”


Roxena berdecak mendengar itu. Selanjutnya ia mendengar langkah menjauh.


“Dasar fangirl!!”


*


*


*


“Tuan, ini ….” Sophia ragu.


“Antarkan aku ke LS.”


“Kita bisa menunggu beberapa saat lagi, Tuan. Sekretaris Erin mengatakan bahwa Nona baik-baik saja,” bujuk Sophia.


“Antarkan aku ke LS! Atau berikan alamatnya padaku!!” Gerald mau pergi menyusul Roxena. Sudah satu malam dan hari sudah menjelang siang, Gerald tak bisa bersabar lagi. Rasa sakit menusuk tadi malam masih membekas. Gerald harus memastikan sendiri kondisi Roxena.


Lily dan Sophia berunding beberapa saat. “Aku juga khawatir. Bagaimana?”


“Okay.” Sophia menyetujui. Mereka sepakat. Ketiganya bergegas menuju basement dan pergi ke markas LS.


*

__ADS_1


*


*


Roxena terbangun mendengar keributan di dekatnya. Dengan kesal ia berkata, “berisik!!”


“Xena, kau sudah bangun.” Suara cemas bercampur senang membalas Roxena.


“Gerald?” Roxena terkejut. Bagaimana bisa Gerald berada di sini?


“Aku sudah dengar dari Erin. Syukurlah kau baik-baik saja,” ucap Gerald langsung memeluk Roxena. Roxena menatap Erin meminta penjelasan.


“Saya tidak mengatakannya,” jawab Erin dengan bahasa isyarat.


“Aku menepati janjiku,” ujar Roxena.


“Aku sudah memeriksanya.” Gerald menggenggam kedua tangan Roxena. “Terima kasih telah menepati janji. Aku benar-benar lega.”


“Hm, omong-omong apa yang membawamu menyusulku?” Roxena penasaran. Bukankah Erin sudah memberi kabar pada Sophia?


“Tadi malam-” Gerald menjeda sesaat, ia menghembuskan nafas. “Aku takut. Tadi malam tiba-tiba perutku sangat sakit tanpa sebab dan saat aku membuka mata, sakitnya sudah hilang. Saat itu, aku teringat padamu. Aku berpikir apakah kau merasakan sakit yang sama?”


Roxena menelengkan kepalanya mendengar penjelasan Gerald. Ada jejak keterkejutan pada wajahnya. Apakah ada hal baru lagi?


“Kau serius? Kemarin memang aku sedikit mengalami masalah pada bagian perut.”


Keduanya saling pandang, sama-sama mencerna cerita masing-masing. Erin yang berada di sana, juga turut berpikir. Tak lama kemudian, seperti ia paham. Hal ini tidak bisa dijelaskan dengan ilmu kedokteran melainkan dengan ilmu cinta.


“Cinta telah tumbuh, menyatukan hati dua manusia. Dua raga terhubung dalam satu hati satu rasa. Jika saya tidak salah mengartikannya, Tuan bisa merasakan rasa sakit Nona meskipun Tuan tidak terluka. Rasa sakit yang tadi malam Tuan rasakan adalah buktinya,” terang Erin.


“Konyol!” Roxena membantah. Sedang Gerald memikirkannya.


“Berhenti menonton drama fantasi itu! Yang dialami Gerald dengan yang ku alami hanyalah kebetulan!”tegas Roxena. Terlalu sulit dipercaya, seperti sihir saja.


“Apa yang kau pikirkan, Gerald? Kau orang sains, percaya dengan hal seperti itu? Kau lepas saja gelar Profesormu itu!!”ketus Roxena.


“Bukan seperti itu, Xena. Hanya saja ada beberapa hal yang tidak bisa dijelaskan dengan ilmu sains.”


Gerald juga tidak percaya hanya saja terdengar masuk akal. Perasaan adalah hal yang penuh misteri. Begitu juga dengan dunia ini.


“Lupakan saja! Yang penting kau baik-baik saja.” Tak mau memperpanjang, yang ada Roxena benar-benar mengamuk.


“Sudah waktunya makan siang. Erin bawakan makan siang untuk Xena,” titah Gerald yang segera dilaksanakan oleh Erin.


*


*


*


"Akhir-akhir ini Anda menyukai mawar, Tuan," ucap Adam, asisten Regis. Di mana saat ini Regis tengah merangkai mawar di taman kediamannya.


Regis tersenyum tanpa menjawab. Menyelesaikan dua rangkaian bunga. Regis kemudian memanggil salah seorang pelayan. "Berikan ini pada Nyonya Besar."


"Baik, Tuan Muda."


"Anda … benar-benar menyukai Nona Elisa?" Adam bertanya karena sejak bertemu Elisa, Regis yang dahulu dingin tak tersentuh bisa mencair bersama dengan Elisa.


"Jika bukan suka namanya cinta, Adam," lakar Regis dengan wajah seriusnya.


"Tapi, Tuan. Tidakkah Anda merasakan sesuatu saat bertemu dengan Presdir Lawrence Group?"


Regis mengernyit. "Roxena?"tanyanya memastikan tak salah ingat.


"Apa yang sesuatu?"


"Tatapannya, Tuan."


"Hm?" Regis mengingat-ingat. Ya, memang ada beberapa kondisi di mana ia merasa tatapan Roxena terasa aneh sekaligus familiar baginya.


"Aku pikir itu bukan hal yang penting. Aku tidak ada hubungan dengannya." Regis mengangkat bahunya acuh.


"Tujuanku adalah mendapatkan Elisa." Sorot mata Regis berubah sendu. Sampai saat ini, tahta Gerald tak bergeser dalam hari Elisa. Malah wanita itu semakin bertekad untuk membawa Gerald kembali ke sisinya.

__ADS_1


Elisa oh Elisa, apakah kau tidak melihatku?


__ADS_2