Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 51 Penjara Cinta Roxena


__ADS_3

Suasana ruang rapat terasa menegangkan. Bukan karena amarah dari pemimpin rapat yakni Roxena melainkan karena senyumnya.


Bagi karyawan Lawrence Group dan LS sendiri, lebih menyeramkan Roxena yang tersenyum ketimbang Roxena yang menampilkan ekspresi datar dan marah.


Erin tersenyum simpul. Ia tahu alasan dibalik perubahan itu.


Hubungan Roxena dan Gerald semakin normal. Percakapan sederhana yang mendekati dan love language dari Gerald yang semakin sering.


Meeting kali ini membahas mengenai penyelesaian seluruh perusahaan yang telah diakuisisi dan merger. Semua perusahaan yang diakuisisi sudah mulai beroperasi di bawah pengawasan perusahaan cabang. Dalam waktu dua minggu, semuanya diselesaikan dengan baik tanpa kendala berarti.


Perusahaan yang sebelumnya diakusisi atas nama LS telah diganti nama menjadi Lawrence Group. Tentu saja dokumen itu dirahasiakan karena yang mengurusnya adalah orang LS yang berkerja di lembaga terkait.


Sebenarnya pengaruh Roxena sangat besar. Ia telah memasukkan orang-orang ke dalam lembaga pemerintah, hukum, dan lembaga penting lainnya. Selain itu, para anggota LS juga bekerja di banyak bidang termasuk dalam industri hiburan dan modeling. Secara tak kasat mata, dapat dikatakan Roxena mencengkram negara ini di bawah kendalinya. Hanya saja, banyak orang yang tidak menyadarinya. Mereka hanya tahu Roxena kuat dalam bidang ekonominya.


Hanya saja, seperti yang disebutkan sebelumnya, otoritasnya masih di bawah pihak kerajaan. Jika dianalogikan menurut kehidupan sebelumnya, Keluarga kerajaan adalah keluarga kekaisaran, sementara dirinya adalah seorang duchess, yang memiliki kedudukan sama dengan ESA Group juga Luz Group.


Lawrence Group bergerak di banyak bidang sentral. Real estate, kontruksi, perhotelan dan pariwisata, kesehatan, transportasi, serta produsen makanan dan minuman yang produknya sudah mendunia.


Sebagai besar infrastruktur negara juga bekerja sama dengan Lawrence Group. Bahkan sebagian besar saham perusahaan jalan tol sebagai jalan bebas hambatan juga dimiliki oleh Lawrence Group.


Lawrence Group adalah perusahaan terkaya di negara ini. Meskipun ESA Group bergerak di bidang keuangan yang sangat sentral, kekayaannya di bawah Lawrence Group.


Mengingat perusahaan keuangan adalah perusahaan yang sentral, Roxena berkeinginan mendirikan perusahaan keuangan sendiri. Perusahaan keuangan yang meliputi banyak bidang. Simpan pinjam, sekuritas dan management investasi, asuransi, pembukaan kartu kredit, dan berbagai jasa keuangan lainnya.


Roxena ingin mendirikan bursa efek sendiri. Dengan begitu, kekuatan ekonominya akan semakin besar.


"Ada yang keberatan?" Saat ini Roxena kembali meeting dengan dewan direksi perusahaan untuk meminta pendapat dan persetujuan mengenai rencananya itu.


Para dewan direksi menggeleng setuju. Mereka menyerahkan arah berlayar perusahaan pada Roxena sebagai nahkoda.


"Rantai modal kita kuat. Kalian tidak perlu khawatir."


"Kami percaya Anda akan melakukan yang terbaik."


Roxena mengangguk puas. Dan meeting berakhir. Namun, pembicaraan itu belum selesai karena salah satu dewan direksi mengajukan pertanyaan.


"Kapan kami menerima kabar baik dari Anda, Presdir?"


"Kabar baik apa yang kalian maksud?"tanya Roxena memperjelas.


"Pewaris Anda."


Erin langsung cemas. Ia takut Roxena lepas kendali karena pertanyaan itu.


Namun, Roxena menjawabnya dengan tenang dan tersenyum. "Segera." Menjawab singkat lalu meninggalkan ruang meeting.


Tiba di ruangannya Roxena langsung memberi perintah pada Erin. "Cari tahu prosedur bayi tabung!"


"Tapi, Nona. Bukankah itu terlalu cepat?"


"Terlalu cepat?! Kau tahu kan wanita itu sedang hamil? Bagaimana bisa aku tidak melakukan apapun?! Gerald, pria itu pasti akan lari ketika mendengar kabarnya!"


Roxena cemas. Ia mulai terbiasa dengan Gerald. Benci, ia mengesampingkan itu dahulu.


Lagipula, ia benar-benar membutuhkan pewaris untuk mempertahankan semua yang telah ia capai. Solusi cepat adalah bayi tabung.


"Nona … untuk hamil butuh waktu terlebih dengan kondisi Anda. Anda tidak perlu terburu-buru. Kehamilan wanita itu bukan masalah. Benar, anak itu memang milik Tuan. Tapi, Tuan kan suami Anda. Nona, bersabarlah dan berusaha untuk hamil secara normal. Saya yakin, Anda pasti bisa mematahkan vonis Dokter Liu!!"


Erin juga tak senang dengan informasi itu. Ia juga bukan orang baik yang menutup mata atas kehamilan Elisa.


"Jadi?!"


"Satu tahun, jika dalam satu tahun Anda tidak hamil secara normal, kita akan melakukan prosedur bayi tabung. Bagaimana, Nona?"tawar Erin. Roxena menjadi sosok yang berbeda saat membahas kehamilan. Ketenangannya hilang menjadi kecemasan.


"Baiklah." Roxena menerima saran Erin.


Dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


Roxena menyiapkan dokumen yang diperlukan untuk mendirikan perusahaan baru. Setelahnya langsung diserahkan kepada lembaga terkait untuk diurus. Jika sesuai target, maka dua minggu lagi akan dilaksanakan pembukaan perusahaan baru.


Gedung sudah disediakan. Dan daftar calon karyawan juga sudah di tangan. Tinggal persetujuan izin maka perusahaan keuangan tersebut akan segera beroperasi. Centauri, itu adalah nama perusahaan baru yang dipilih oleh Roxena.


*


*


*

__ADS_1


"Nona dan Tuan semakin dekat. Suasana kediaman juga berubah, jadi lebih dan fresh gitu," ucap Lily.


"Kau benar. Tuan sangat perhatian pada Nona."


Keduanya mengobrol sembari menyiapkan makan malam.


"Nona tidak membenci Tuan lagi. Aku senang dengan interaksi keduanya. Aku harap anggota baru segera hadir dan meramaikan suasana kediaman," harap Lily penuh semangat.


"Aku harap juga begitu," sahut Sophia.


"Omong-omong, hubungan Tuan dan Tian Besar juga akrab. Ku pikir akan terjadi keributan saat Tuan Besar datang waktu Nona di luar negeri," celetuk Lily.


"Kapan Tuan Besar datang?!" Pertanyaan itu mengejutkan Lily dan Sophia. Mereka mengenal pemilik suara itu.


"N-Nona?!"


Roxena menyilangkan kedua tangannya dan menatap tajam keduanya. Roxena kembali mengingat kencannya dengan Gerald seminggu yang lalu. Hubungan mertua dan menantu yang tiba-tiba akrab. Roxena sempat penasaran namun mengabaikannya.


Kini, ia harus mendapatkan jawaban dari kedua pelayannya ini.


Kebetulan Gerald belum pulang kerja.


"Kalian menyembunyikan sesuatu dariku," tandas Roxena.


"Itu … Nona-"


"Benar, Nona. Tuan Besar memang datang berkunjung saat Anda di luar negeri." Sophia menyela Lily.


"Mengapa tidak dilaporkan?"tanya Roxena kemudian. Dahinya mengernyit tak senang. Dua pelayan yang ia percaya malah menyembunyikannya.


"Tuan meminta kami tidak mengatakannya pada Anda. Kami pikir tidak masalah karena tidak ada hal aneh yang dibahas," jelas Sophia, sedikit gagap.


"Katakan padaku apa yang terjadi!"titah Roxena, ia beralih duduk, menunggu pemaparan dari Sophia.


Tuan Lawrence datang di hari kedua Roxena di luar negeri. Datang dengan membawa dessert favorit Roxena. Namun, tentunya tidak bertemu dengan sang putri melainkan dengan Gerald yang kebetulan pulang lebih awal.


Awalnya canggung. Tapi, dessert yang dibawa Tuan Lawrence membuka bahan pembicaraan. Tuan Lawrence langsung menjelaskan dan menceritakan masa kecil Roxena yang sangat menyukai dessert tersebut.


Dari situlah Gerald semakin yakin jika istrinya menyukai mawar.


Roxena menghela nafas kasar. Lagi-lagi yang ditanyakan anak.


Tapi, jika sudah ditanya Tuan Lawrence ….


Ahh


Tiba-tiba Roxena menjadi senang.


"Kalian lanjut kerja." Roxena meninggalkan dapur. Sophia dan Lily menghela nafas lega. Tapi, segera bergidik kembali. Senyum Roxena itu … tampaknya akan ada yang terjadi.


*


*


*


"Aku ingin membahas sesuatu," ucap Rocena tak kala keduanya sudah berada di dalam kamar. Sudah kembali dari makan malam.


"Apa itu?" Gerald duduk di pinggir ranjang. Sementara Roxena berdiri di dekat jendela, menatap keluar.


"Anak," jawab Roxena singkat.


Gerald terdiam mendengarnya.


Anak?


Hal itu juga mengusik pikirannya sejak Tuan Lawrence bertanya.


"Aku ingin memiliki anak darimu," ucap Roxena langsung.


"Kau tahu aku anak tunggal. Semua mata menantikan kesalahanku. Memiliki anak adalah suatu keharusan untukku. Ketahuilah, aku hanya bertanya tanpa memperdulikan jawabanmu. Mau tak mau kau harus mau!" Ucapan Roxena mengandung pemaksaan.


"Mengapa kau mengatakan hal yang menyakitkan?" Gerald bangkit dari duduknya. Menghampiri Roxena dan berdiri di sampingnya.


"Aku juga anak tunggal. Jika tidak memiliki anak keturunan Chaddrick akan terputus."


"Kau … setuju?"

__ADS_1


"Mungkin tujuan kita berbeda. Tapi, keinginan kita sama."


Semudah ini?


Roxena tidak mengerti. Gerald setuju tanpa penolakan. Sebenarnya apa yang dipikirkan oleh Gerald?!


Sudah sejauh ini, tidak boleh setengah-setengah.


Gerald memantapkan langkahnya. Memegang pundak Roxena dan kemudian berdiri berhadapan.


Keduanya saling menatap. "Aku … siap," ucap Gerald pelan.


Senyum Roxena tersenyum. Jika sudah seperti ini, maka tidak perlu sungkan lagi. Segera ditariknya Gerald untuk berciuman.


Ciuman yang panas dan secara naluriah tangan juga bergerak. Saling sentuh dan meraba.


Gerald menggendong Roxena ke ranjang. Membaringkan wanita itu dan kembali menyentuhnya intens.


Malam itu mereka berhubungan murni atas keinginan bersama. Rasanya lebih daripada sebelumnya.


*


*


*


"Awalnya aku tidak membencimu. Dulu aku, kau, dan dia sangat dekat. Kau dan dia adalah saudara, kau adalah adiknya. Namun, kedekatanku dan dia berubah menjadi hubungan cinta. Kami saling mencintai dan menikah tanpa sepengetahuan orang lain termasuk keluarga."


Pagi harinya, Roxena bercerita tentang kehidupan awalnya, sebelum tragedi dan sumpah akan membalas dendam terucap.


Gerald mendengarkan cerita itu seraya memainkan rambut Roxena yang bersandar padanya.


"Namun, tiba-tiba kau melakukan pemberontakan dan membunuhnya. Lalu dengan tanganmu yang berlumuran darah kau mengulurkan tanganmu melamarku. Aku yang sudah menikah dan kau membunuh suamiku tentu saja menolak. Namun, kau menggila dan mengancam akan membunuh keluargaku. Aku tidak goyah walaupun kau benar-benar membantai keluargaku. Hingga aku akhirnya menyerah karena di dalam diriku ada kehidupan lain."


"Aku dan kau pada akhirnya menikah. Pernikahan itu dirayakan dengan meriah. Bagiku pernikahan itu adalah neraka. Dan apa kau tahu sikapmu seperti apa? Sama sepertiku. Kadang kau kasar dan pemaksa, kadang kau lembut dan tak berdaya."


"Lima tahun pernikahan kita-"


"Cukup," ucap Gerald. Hatinya tak kuat mendengarnya. Dirinya geram pada dirinya sendiri yang bejat di masa lalu.


"Aku akan membayar semuanya di kehidupan ini. Aku akan menerima setiap rasa sakit yang kau kembali atas perlakuanku di masa lalu."


"Maafkan aku atas semua luka yang aku ciptakan. Aku akan membahagiakanmu di kehidupan ini dan kehidupan seterusnya."


Air mata Gerald luruh.


"Kau harus berusaha keras untuk itu. Hatiku belum cair," kekeh Roxena.


"Aku akan berusaha keras!"


Roxena tersenyum tipis. "Aku ingin bertanya sesuatu," ucap Gerald.


"Apa?"


"Dalam mimpiku, aku melihatmu di antara banyak prajurit di medan perang. Apakah kau seorang ksatria? Dan di dalam mimpiku juga kau meneriakkan sebuah nama, Regis. Apakah Regis adalah dia?"


"Kau benar," jawab Roxena. Di masa lalu Roxena adalah seorang ksatria, tepatnya komandan dari pasukan elit kekaisaran.


Dan Regis adalah seorang putra mahkota, calon kaisar selanjutnya.


"Lalu apakah kau masih mencintainya?" Pertanyaan itu tak langsung dijawab oleh Roxena. Ia beringsut menjauh, bangkit dari ranjang.


Itu membuat Gerald gusar. Roxena menatap jendela yang sudah ia buka tirainya. Matahari baru saja terbit dengan cahaya keemasan masih menghiasi langit.


"Entahlah. Aku juga tidak tahu," jawab Roxena.


Gerald mulai mengingat kembali cerita Roxena.


Tiba-tiba dirinya melakukan pemberontakan?! Padahal mereka dekat dan ia membunuh saudaranya sendiri? Itu aneh.


Aku melakukan pemberontakan karena aku tak terima Xena dengan dia bersama?


Itu terkaan Gerald dan hatinya bergemuruh aneh.


Namun, di kehidupan ini, Roxena memilihnya meskipun karena balas dendam. Artinya … Gerald harus memenangkan hati Roxena.


"Aku akan membuatmu menerima dan mencintaiku, Xena," ucap lembut Gerald.

__ADS_1


__ADS_2