
Entahlah. Roxena tidak tahu apa yang ia lakukan di tepi sungai itu. Ia hanya duduk dan menatap lurus aliran air. Duduk hingga warna jingga langit berubah menjadi gelap.
Sesekali melemparkan kerikil kecil ke air. Mungkin ia tengah melepaskan penat di hati. Ekspresinya semakin dingin, selaras dengan udara yang semakin dingin.
Roxena, ia menghela nafas pelan. Matanya merah. Tapi, tidak ada air mata yang jatuh.
*Apakah gadis itu tidak punya perasaan? Ekspresinya begitu dingin bahkan saat ibunya meninggal dunia. *
Gadis yang aneh.
*Hatinya dingin sekali. *
Wanita gila!
Aku membencimu!
*Xena, maafkan Ayah. Ayah yang salah. *
Aku akan merebutnya darimu, ingat itu!!
"DIAM!!" Tiba-tiba Roxena berteriak sembari menutup telinganya.
"Diam! Diam! Diam!" Nadanya melemah. Itu seperti sebuah trauma. Roxena menyembunyikan luka di balik keangkuhan itu.
Sang ibu yang meninggal secara bunuh diri yakni meminum racun, ingatan itu begitu membekas di hatinya. Raut wajah pucat dan tangan dingin yang menyentuh wajah kecilnya masih teringat jelas.
Ditambah lagi dengan sang ayah yang langsung membawa selingkuh dan seorang anak laki-laki yang sifatnya ingin menggantikan posisi Roxena. Sayangnya, Roxena tidak semudah dan selemah itu dipatahkan. Ia, mampu bertahan hingga saat ini.
Setidaknya pria tua itu masih punya otak.
Roxena membatin. Ia menyudahi penyendirian itu. Roxena harus bersiap untuk pelantikannya besok. Jika tidak, omelan Erin akan mengawali harinya. Besok, Roxena enggan mendengar omelan Erin.
Dalam perjalanan, Roxena teringat dengan Gerald. Ia menerka, ekpresi apa yang akan menyambut dirinya nanti, atau tidak akan ada sambutan? Ah, tidak. Roxena menggeleng cepat. Ia tidak pernah mengharapkannya. Roxena … Roxena hanya ingin melihat Gerald menderita. Satu langkah sudah terlaksana.
Setelah menikah, harusnya memiliki anak. Anak ya?
Roxena menghentikan laju mobil saat lampu merah. Menunggu lampu hijau, ia memikirkan hal itu.
Jika aku memaksanya, maka aku akan mendapatkan dua kebahagian sekaligus.
Roxena menyeringai. Ia sudah punya rencana selanjutnya. Di depannya ada sebuah mobil truck sedang dan jalanan sedang sepi. Jalan ini, memang sepi dengan pengendara.
BRAKKK!!
Tiba-tiba saja, tanpa pernah disangka, sebuah truck besar melaju kencang dari arah belakang mobil Roxena, menabrak mobil Roxena alhasil, mobil Roxena terhimpit dua truck.
Wajah Roxena penuh darah seketika. Ia terpelanting di dalam mobilnya. Tatapan matanya kosong.
“Ini lucu. Apa aku akan mati lagi?”tanyanya hambar.
*
*
__ADS_1
*
Ruang UGD rumah sakit Lawrence Group gempar seketika saat menangani korban kecelakaan yang salah satunya adalah Roxena. Wanita itu tidak sadarkan diri dengan tubuh penuh luka. Tampaknya tidak akan mampu bertahan.
“Korban mengalami pendarahan di dada. Dokter bedah Kardiotoraks diharapkan segera datang untuk melakukan operasi.”
Sebuah kalimat tegas terucap. UGD segera menghubungi departemen terkait.
“Professor Gerald, ada korban kecelakaan di UGD, membutuhkan pertolongan Anda!”
Gerald yang baru keluar dari ruang operasi dengan wajah lelahnya tampak enggan. Bukankah ada dokter lain? “Istri Anda korbannya!”
Gerald memalingkan wajahnya seketika. “Wanita itu?”
“Tidak ada waktu lagi, Prof!!”
Gerald ditarik oleh kepala departemen menuju ruang UGD.
Gerald tersentak pelan melihat kondisi Roxena. Ia lantas menggeleng pelan. “Sudah tidak tertolong lagi,” ucapnya memvonis.
“Lakukan sesuatu, Prof! Jika Nona tidak selamat, maka kita juga tidak akan selamat!!”ucap kepala departemen. “Anda tidak boleh menyerah, beliau adalah istri Anda!!”
“Istri?”
“Prof, tidak ada waktu berpikir lagi!! Kita harus melalukan operasi!!” Kepala departemen terus mendesak.
“Aku tidak akan melakukan hal yang sia-sia!” Gerald enggan.
“DASAR BRENGS*K! KAU TIDAK PANTAS MENJADI DOKTER, SIALAN!!” Tiba-tiba terdengar teriakan yang begitu nyaring. Itu Erin yang datang dengan wajah pias dan juga emosi.
Gerald memandang Erin emosi. Lagi, ia kalah. “Aku akan berusaha semaksimal mungkin, jika dia tidak selamat, maka sudah takdirnya,” ucap Gerald. Ia mulai pada posisinya.
“Yang tidak ada kepentingan silahkan keluar!”titahnya tegas, melirik Erin yang tetap pada posisinya kemudian bergeser sedikit.
Gerald mendengus kesal. “Kita mulai!!”
Roxena mengalami luka yang sangat parah pada bagian dadanya. Ada pembuluh darah yang pecah akibat tabrakan serius itu, belum lagi ada tulak rusuk yang parah disertai dengan pendarahan. Belum lagi cidera pada bagian lainnya. Mampu bertahan hingga saat ini saja sudah sebuah keajaiban.
“Jika kau melakukan kesalahan dengan sengaja, semua yang ada di sini akan menjadi korban atas kesalahanmu!!”ucap Erin. Sekali lagi memberi Gerald peringatan.
Kurang ajar!
Gerald harus dengan maksimal menyelamatkan Roxena. Ruangan itu penuh dengan suasana tegang. Mereka berdoa, mengharap Roxena selamat agar mereka juga aman.
Erin menanti dengan sangat tidak sabar. Ia sangat cemas. Kabar kecelakaan Roxena seakan menghancurkan dirinya. Roxena, adalah dunianya. Wanita itu, adalah segalanya bagi Erin. Erin tidak akan bisa terima jika Roxena celaka.
“Tekanan darah pasien menurun!!”ucap suster. Panik, cemas, tegang, semua bercampur menjadi satu. Hanya Gerald yang tetap focus pada pekerjaannya.
Haruskah aku menyelamatkannya?
Jika tidak … sial. Dua Wanita gila ini menempatkanku dalam situasi sulit!
“Terjadi pendarahan!!”
__ADS_1
“Sedot!”ucap Gerald tegas.
“Tekanan darah semakin menurun!!”
Mesin EKG berbunyi dengan Irama yang semakin cepat. Gerald segera mengambil alat kejut jantung.
“Sentakk!!”ucap Gerald, melakukan upaya kejut jantung.
“200!”
“300!
“320!”
Gerald diam setelah itu. Tidak ada perubahan. “Disusul dengan bunyi panjang yang nyaring dari mesin EKG.” Gerald lantas mengarahkan pandang ke arah Erin.
Pandangan Erin, kosong sekosong kosongnya. Lututnya lemas dan ia berlutut seketika. “Tidak,” gumamnya lirik.
“Nonaku sangat kuat, tidak mungkin, Nonaa….”
Nyuttt
Gerald menyentuh dadanya.
Mengapa hatiku sakit?
Gerald mengeryit. Tidak senang. “Wanita gila, kau jangan bercanda lagi denganku!!”
“Kau menghancurkan hidupku, bagaimana mungkin kau pergi dengan cara seperti ini? Katanya kau mau membuatku lebih membencimu, apa yang kau lakukan dengan tidur seperti itu?”
“Aku bahkan belum balas dendam dan kau sudah pergi begitu saja! Tidak adil!!”
Semua orang yang ada di ruangan UGD itu menunduk dalam. Tidak hanya focus pada nasib mereka namun juga dengan ucapan Gerald yang mereka anggap sebagai kepiluan seorang suami.
“Tidak! Nonaku tidak akan mati semudah itu!!” Erin berdiri, menghampiri dan mengguncang tubuh Roxena. “Lihatlah, Nona juga tidak menginginkan hal ini. Nona, bagaimana bisa kau menerimanya? Ini bukan Nonaku!!”
“Wajah Anda bahkan masih angkuh. Nonaa, besok, besok adalah awal yang baru, bagaimana bisa Anda pergi sebelum semua tercapai? Apa Anda rela milik Anda diambil oleh orang lain?? Lalu … lalu:” Erin menoleh pada Gerald. “ Pria ini, apa Anda rela pria ini kembali pada Wanita itu? Ini bukan Anda, Nona, hiks, Nona jangan tinggalkan aku, hiks….”
Tangis Erin pecah. “Masih banyak rencana yang belum terselesaikan, Nona.”
“Dia sudah pergi, biarkan dia pergi,” ucap Gerald datar. Padahal, ia berusaha menahan nyeri di dadanya. Semakin lama semakin sakit.
Erin menoleh. “Kau pasti melakukan sesuatu!!”
“Meskipun aku membencinya, aku tidak akan menodai sumpah dokterku!!”jawab Gerald tegas.
Wanita Gila, meskipun mustahil … aku tidak ingin kau mati secepat ini. Hutang kita belum lunas sepeserpun dan aku belum mendapatkan jawabannya!
Bipp … biip … biip
Tiba-tiba mesin EKG kembali berbunyi. Semua saling pandang. Gerald yang juga terkejut segera mengambil tindakan. Ia kembali mengambil komando. “Tekanan darah pasien stabil, Prof!!”
Kelegaan terpancar seketika. Namun, ketegangan itu belum berakhir. Erin kembali pada tempatnya. Ia tersenyum, bangga pada sang Nona.
__ADS_1
Apa kau benar-benar melawan malaikat maut? Jujur, aku sedikit menyesal meminta kau hidup lebih lama, tapi bersamaan dengan itu, rasa sakitku mereda. Apa arti dari semua ini?