
Sudah 3 malam Roxena tidak pulang ke apartemennya. Gerald yang awalnya tak terlalu menggubris mulai merasa bingung dan tak nyaman. Apa perasaan yang sukar dijelaskan. Terlebih ia tidak tahu di mana keberadaan Roxena, apakah memang sengaja tidak pulang atau sedang dalam perjalanan bisnis lagi. Lily dan Sophia juga tidak memberitahu padanya. Tidak pula ada membicarakan hal tersebut.
Gerald memikirkan alasannya. Mencoba menerka. Apakah ada yang salah dari sikapnya? Apakah kepatuhan atau dirinya yang tidak lagi memberontak justru membuat Roxena tidak senang?
Wanita kurang ajar ini memang sukar ditaklukkan.
Gerald juga merasa kesal.
Dan hari berlalu begitu cepat. Sudah malam keempat. Gerald yang sudah pulang kerja menunggu Roxena di ruang tengah apartemen. Ditemani secangkir kopi dan membaca majalah, Gerald menunggu.
Detik berganti menit, menit berganti jam, waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 waktu setempat. Gerald meletakkan kasar ponselnya di atas meja. Tangannya mengepal, "kemana wanita kurang itu?!"
"Lily, Sophia!" Pada akhirnya tak mampu menahan dirinya untuk tidak bertanya.
Lily dan Sophia yang belum tidur lekas menghadap. "Ya, Tuan."
"Kemana Nona kalian?!"
Lily dan Sophia saling pandang.
Anda kalah, Tuan.
"Mengapa tidak Anda hubungi Nona saja, Tuan? Rasanya lebih cocok jika Nona yang menjawabnya," jawab Lily tersenyum.
"Benar, Tuan. Sudah hampir 4 malam Nona tidak pulang. Jika Anda menghubungi kemungkinan besar Nona akan pulang." Sophia menambahi.
"Aku mau tahu di mana dia, bukan ingin dia pulang!"tegas Gerald.
Lily dan Sophia mempertahankan senyum mereka. "Urusan rumah tangga Anda dan Nona kami tidak berani ikut campur, Tuan. Jika Anda penasaran dan tidak tahan lagi, silahkan hubungi Nona sendiri. Atau, jangan katakan Anda tidak punya nomor ponsel Nona?!" Lily sedikit menaikkan suaranya terkejut. Menatap Gerald tak percaya.
"Hei, Lily! Mana mungkin tidak punya. Tuan hanya tidak punya keberanian."
Astaga, Pia! Kau memprovokasi nya!
"Kalian!"
"Jika Anda dan Nona ada masalah, mohon segera diselesaikan, Tuan. Rasanya kurang nyaman di apartemen ini tanpa kehadiran Nona." Setelah mengatakan itu, Sophia menarik Lily menuju kamar mereka.
Meninggalkan Gerald yang terperangah dengan ucapan Sophia.
Kedua pelayan itu benar-benar menyebalkan! CK, pelayan dan majikan sama saja!!
Meskipun demikian, Gerald melirik ponselnya. Ucapan Lily dan Sophia berperang di benaknya. Satu sisi berkata untuk menghubungi Roxena sedang satu sisi berkata untuk mengabaikannya saja. Bukankah itu juga keinginannya? Namun, Gerald sangat tidak nyaman.
Pada akhirnya, setelah pergulatan batin yang panjang, Gerald menghubungi Roxena.
"Sial! Apa yang aku lakukan?!" Seakan merasa melakukan hal yang salah, Gerald hendak memutus panggilan.
"Ya?"
Terlambat!
Sudah dijawab oleh Roxena.
"Hm. Apa ini benar kau, Gerald?" Suara dingin itu membuat Gerald termenung.
"Lily, Sophia, apa ini kalian? Rasanya tidak mungkin jika Gerald yang menghubungiku."
Getir. Hati Gerald berdenyut nyeri.
"Wanita gila, apa kau tak ingat pulang ke rumah, hah?!" Ditutupi dengan nada marahnya. Gerald berteriak kesal pada Roxena.
"Oh, ini benar kau." Ada rasa senang di sana.
"Di mana kau?"
"Di rumah," jawab Roxena. Nada bicaranya menjadi santai.
"Pulang! Di sini rumahmu!" Gerald masih berteriak. Ya, apartemen ini kurang tanpa kehadiran Roxena.
"Di mana? Aku punya banyak rumah sampai-sampai aku bingung harus pulang ke mana. Gerald, katakan padaku, tempat mana yang benar-benar rumah?"tanya Roxena. Nada bicaranya kembali berubah, getir.
Gerald terdiam. Dahinya mengernyit memikirkannya.
Terdengar helaan nafas. "Sudahlah. Pasti kau tidak bisa menjawabnya. Aku akan kembali ke apartemen jika aku sudah bosan di sini. Kau baik-baik lah di sana."
"Roxena." Gerald memanggil lembut. "Aku rumahmu."
Deg!
__ADS_1
Apa yang aku katakan? Sialan!
Gerald langsung mematikan panggilan sepihak.
"Ahhh! Sial! Sial! Bagaimana bisa aku mengatakan hal menjijikan itu? Aku rumahmu?! Sialan!"
Gerald misrah-misruh sendiri. "Wanita itu pasti besar kepala!"
*
*
*
Sementara itu, Roxena terdiam di tempatnya. "Kau … rumahku?" Mengulang kembali apa yang Gerald katakan sebelum menutup panggilan sepihak.
"Gerald entah kau serius atau tidak, hatiku berdebar karenanya," gumam Roxena, menyentuh dadanya, merasakan detak jantung yang semakin cepat.
Roxena tersenyum, lembut. Seakan sekitar merasakan kesenangannya, angin berhembus pelan dan bintang-bintang semakin menunjukkan sinarnya.
Roxena membuka matanya saat merasakan ada yang mengenakan mantel padanya. "Udara semakin dingin, Nona. Anda akan masuk angin jika tetap di sini," ucap Erin.
"Tadi memang dingin, Erin. Sekarang sudah tidak lagi," jawab Roxena.
Kan sudah saya pakaikan mantel, Nona, gumam Erin dalam hati.
Roxena dan Erin tengah berada di menara tertinggi markas. Menatap pemandangan malam dari tempat tertinggi itu.
"Erin, menurutmu apa itu rumah dan di mana rumahmu?"tanya Roxena.
Erin yang tak siap dengan pertanyaan itu tidak langsung menjawab. Apa itu rumah? Dan di mana rumahnya?
Itu pertanyaan yang mudah namun tak semudah jawabannya. Setiap orang punya versi rumahnya sendiri.
"Menurut saya rumah itu adalah tempat kita bisa melepaskan lelah. Tempat di mana kita bisa menenangkan hati. Tempat untuk berbagi cerita dan saling mendukung. Tempat yang penuh dengan kehangatan. Dan rumah saya, adalah di sini, Light and Shadow." Erin menjawab.
"Tempat penuh berbahaya ini, rumahmu?" Roxena menyipitkan matanya.
Erin mengangguk paham. "Meskipun rumah ini berbahaya. Tapi, rumah ini adalah tempat teraman untuk saya. Saya nyaman di sini, dipertemukan dengan anggota yang berasal dari latar belakang yang beragam. Bersama-sama menciptakan kehangatan. Tempat ini, anggota Light and Shadow, dan Anda, adalah rumah saya."
Roxena terpana dengan jawaban itu. Hatinya yang dingin sama sekali tak merasa demikian. Ia membangun organisasi ini untuk menciptakan sebuah kekuasaan yang tak dapat diganggu gugat. Ia mendirikan organisasi ini untuk melindungi dirinya sendiri dari ancaman tak terduga. Selama ini, tak terpikir oleh Roxena jika ia sudah menciptakan rumah untuk para anggotanya. Sementara dirinya, masih mencari apa itu rumah meskipun memiliki banyak tempat tinggal.
Erin lantas membungkuk. Roxena yang mendengar itu tanpa sadar meneteskan air mata.
Namun, saat Erin mendongak, Roxena menyekanya kasar. "Hentikan omong kosongmu. Masih banyak anggota yang patut dipertanyakan kesetiaannya," ucap Roxena dingin.
"Ah. Maksudnya yang benar-benar Light and Shadow, Nona."
"Lupakan saja. Anggap aku tak pernah bertanya tentang itu!"putus Roxena.
Erin mengangguk. Diam-diam tersenyum.
Meskipun begitu Anda sudah mendengarkan sampai akhir, Nona.
Roxena berbalik diikuti Erin, turun dari menara tertinggi itu.
"Bagaimana Orang itu?"tanya Roxena.
"Tetap tidak buka mulut, Nona. Dan keadaannya sekarat, Nona."
Bugh!
"Nona!" Erin terperanjat. Segera meraih tangan Roxena, mengecek kepalan tangan yang baru saja meninju dinding.
"Lemparkan dia ke kandang hering, sekarang juga!!"titah Roxena emosi. Seperti perintahnya lalu, jika tak kunjung buka mulut dalam waktu tiga hari, biarkan saja Hering yang mengakhiri penderitaannya.
"Baik, Nona." Erin meninggalkan Roxena untuk menunaikan tugas.
Teguh sekali mereka. Kekuatan apa yang lebih besar dari LS*?
*LS \= Light and Shadow
Orang kerajaan, mungkinkah mereka?
Alis Roxena bertaut.
Tidak, mereka tidak seberani itu. Tapi, jika benar … maka aku dalam bahaya besar. Tidak, bukan hanya aku. LS juga dalam bahaya.
"Sial!!"
__ADS_1
Hati Roxena yang sudah tenang kembali gelisah. Roxena kemudian melangkah cepat bahkan setengah berlari menuju kamarnya. Mengambil kunci mobil dan menuju garasi.
Beberapa saat kemudian, sedan putih itu sudah melaju meninggalkan markas Light and Shadow.
Sedan putih modifikasi itu melaju dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan kota yang relatif sepi. Tak butuh waktu lama untuk Roxena tiba di basement apartemennya.
Nafasnya terengah saat memasuki apartemennya. Pandangannya langsung menuju satu kamar, kamar Gerald.
Dalam tidurnya, Gerald merasa ada yang mendekat dan memeluk dirinya. Gerald merasa tidak terganggu malah membalas pelukan itu. Senyum terukir di bibirnya.
*
*
*
Gerald membelalakkan matanya saat tahu jika ia tidur dengan memeluk Roxena.
Roxena masih pulas dalam tidurnya. Sementara Gerald tengah menerka-nerka.
Wanita ini? Kapan dia pulang?
Mengapa tidur di kamarku?
Mengapa aku memeluknya?
Apa yang aku lakukan?
Gerald menyentuh kepalanya. Ia tidak ingat apapun.
Padahal aku tidak mabuk.
Tunggu!
Gerald segera mengecek tubuhnya. Pakaian lengkap, tidak ada tanda bekas pertarungan. Menghela nafas lega, Gerald kembali menatap Roxena.
Wanita ini lebih cantik saat tidur.
Gerald mengulurkan tangannya, menyentuh alis kemudian turun menyentuh hidung Roxena dan berhenti lama di bibir.
Sial! Apa yang aku pikirkan?!
Sadarlah, Gerald! Dia musuhmu! Wanitamu hanya Elisa seorang!!
Meskipun demikian, Gerald tetap merasakan panas pada telinga dan wajahnya. Ia termakan ucapannya sendiri.
"Ugh!"
Gerald sedikit beringsut. Roxena sudah bangun. Menggosok matanya lalu memberi pijatan pada dahi. Semua tak lepas dari pengamatan Gerald.
"Pagi, Gerald," sapa Roxena dengan seulas senyum.
"Kau, mengapa di kamarku?"tanya Gerald, bangkit lalu membuka gorden. Matahari sudah terbit.
"Ah, aku pikir sudah pernah menjawabnya," jawab Roxena santai.
Apartemen ini milikku!
"CK!"
"Mengapa kau pulang? Bukankah kau nyaman di rumahmu yang lain?"ketus Gerald.
Roxena membelalakkan matanya. Terkejut dengan pertanyaan Gerald.
Uhh! Mengapa aku tidak bisa mengontrol lidahku?
"Ah, lupakan saja. Aku tidak peduli kau mau punya berapa rumah lain di luar sana atau tidak!!" Pria itu mengalah dengan membawa kekesalan dalam hati.
Inikah yang dinamakan cemburu?
Roxena tersenyum. "Hei, Gerald! Meskipun aku punya rumah lain, kau adalah rumah utamaku."
"Aku tidak peduli!" Gerald menjawabnya keras dan terdengar bantingan pintu. Roxena terkekeh pelan.
Mari bertaruh. Kuatan hubungan kita di masa lalu atau hubunganmu dengan dia sekarang.
"Nona tiba-tiba pulang dan terlihat senang. Apa yang terjadi di dalam sana?"bisik Lily bertanya.
"Mungkin urusan suami istri," jawab Sophia sekenanya.
__ADS_1