Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 39 Penjara Cinta Roxena


__ADS_3

"Undangan Anda sangat mewah. Sayang untuk dilewatkan," sahut Roxena dengan wajah datarnya. Keduanya berjabat tangan, Roxena tak melepaskan tangannya dari lengan Gerald.


"Hahaha … Anda terlalu merendah. Ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan keluarga Lawrence," tawa renyah Presdir ESA Group.


Roxena menarik sudut bibirnya. Itu terdengar cibiran baginya. "Benar. Kemewahan ini jauh dari kesederhanaan keluarga Lawrence," sahut Roxena lagi.


Wajah Tuan Rumah tampak menggelap. Sesaat, ia tersenyum lebar. Lalu berkata, "Anda pandai bercanda."


"Ya."


"Hah? Hahahaha gala dinner ini akan lebih hidup karena kehadiran Anda dan juga …."


Tuan rumah menatap Gerald yang sedari tadi sibuk mengumpati Tuan rumah dalam hati.


Penjilat.


"Gerald, suamiku."


"Maaf-maaf, Presdir Lawrence. Saya tidak mengenali beliau padahal Anda sudah lama menikah. Omong-omong kapan Anda akan menyelenggarakan pesta pernikahan dan juga pesta pengangkatan Anda menjadi Presdir? Saya menanti-nanti undangan Anda. Mungkin tamu lain juga berpikir demikian."


Penjilat dan memprovokasi. Tuan rumah ini jelas-jelas mencari masalah.


"Kami berdua sangat sibuk, tidak ada waktu melaksanakan pesta." Gerald menjawab. Roxena menatapnya sekilas lalu tersenyum. Setuju dengan jawaban Gerald.


"Ah? Hahaha benar-benar. Kalau begitu silahkan nikmati acaranya, Tuan dan Nyonya. Saya akan menyapa tamu undangan lain," ucap Tuan Rumah.


Roxena mengangguk singkat. Tuan rumah beralih menyapa tamu lainnya. Sekilas pandang, tamu-tamunya adalah orang berpengaruh. Sama persis seperti data yang Erin berikan.


"Selamat malam, Tuan dan Nyonya Lawrence," sapa seorang tamu, paruh baya dan membawa kesan wibawa yang kuat.


Presdir dari Luz Group, perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur. Luz Group adalah salah satu rival dari Lawrence Group. Perusahaan itu selalu bersaing dalam proyek apapun. Namun, jarang sekali mereka menang, apalagi semenjak Roxena masuk ke dalam Lawrence. Mereka bak bayang-bayang namun kekuatannya tak bisa diremehkan.


"Malam, Tuan Luz," sapa balik Roxena.


"Senang bisa bertemu dengan Anda berdua. Omong-omong, bagaimana kabar Ayah Anda?"tanya Tuan Luz ceria.


"Baik."


"Beliau sungguh diberkati. Diberikan seorang putri dan putra menantu yang sempurna. Saya sungguh iri."


Tuan Luz sedikit getir. "Anda terlalu merendah."


Roxena tetap pada tanggapan datarnya. Memang ia angkuh namun ia harus sedikit meladeni orang-orang berpengaruh ini dengan sopan santun.


Gerald merasa tidak nyaman dengan pembicaraan yang tidak ia pahami berbisik pada Roxena, "aku akan duduk. Kau silakan lanjut berbincang."


"Jaga dirimu baik-baik." Roxena harus tetap waspada pada wanita-wanita yang hadir. Masih ada tatapan tertarik pada Gerald. Ketampanan suaminya itu memang sulit untuk dilewatkan.


Gerald mengangguk singkat. Roxena tak melepaskan Gerald begitu saja, disuruhnya Erin untuk menemani Gerald.


"Suami saya bukan pebisnis, Tuan Luz. Dia merasa pusing mendengar pembicaraan kita."


"Meskipun bukan pebisnis, suami Anda adalah seorang Profesor kedokteran. Itu adalah kehormatan tersendiri dan keberanian untuk mengambil perbedaan," ucap Tuan Luz.


Biasanya keluarga pebisnis akan menjalin hubungan dengan keluarga pebisnis lainnya untuk meningkatkan kekuatan. Namun, Roxena malah menikah dengan seorang dokter.


"Omong-omong, Anda berani sekali mengambil tindakan ekstrim."


Roxena mengangkat alisnya. Sudah mulai mendalam. "Di bawah kepemimpinan Anda, Lawrence Group benar-benar menunjukkan wajah baru."


"Anda benar-benar perhatian pada Lawrence Group." Roxena mengambil minuman yang dibawa oleh pelayan.


"Tampaknya akan ada perubahan di lingkar bisnis negara ini. Saya harap itu akan menguntungkan bagi semua perusahaan yang ada." Tuan Luz berbicara dengan pandangan dalam.


"Selama ini kedua perusahaan menjadi rival. Jika ada kesempatan, sebelum aku turun jabatan aku ingin ada kerja sama di antara kita," ucap Tuan Luz serius.

__ADS_1


"Biarkan takdir yang menjawab." Roxena menjawab sekenanya.


"Bintang hari ini bukan hanya pewaris ESA Group. Namun, juga perwakilan kerajaan. Menurutmu siapa yang akan diutus?"


Roxena melirik. Pria tua di sampingnya ini banyak bicara dan sok akrab. Ia kesal.


"Hah! ESA Group benar-benar luar biasa. Sepertinya mereka ingin menanjak. Dan pihak kerajaan tampaknya menyokong mereka. Bagaimana, Presdir Lawrence? Ku dengar Lawrence Group diwaspadai oleh mereka."


Tuan Luz berkata setelah melihat rombongan pengawal membuka jalan. Seorang wanita yang usianya sekitar 25 tahun, mengenakan dress biru muncul di antara kumpulan pengawal berbeda kekar itu.


"Itu sang putri!!"


"Kerajaan sungguh mengirim Putri? ESA Group benar-benar luar biasa."


Tuan Rumah tersenyum mendengar itu. Ia menyambut putri kerajaan itu. Ramah dan penuh santun. "Selamat datang di kediaman keluarga ESA, Lady Stella."


"Terima kasih atas undangan Anda, Paman."


"Paman? Wah-wah." Tuan Luz berdecak.


"Salam, Lady." Tuan Luz dan tamu lainnya memberi hormat. Lady Stella adalah putri tunggal kerajaan. Anak kedua dari pasangan raja dan ratu sekarang.


"Jangan sungkan begini. Anggap saya sama seperti Anda sekalian."


"Anda bijak, Lady."


Roxena diam-diam memutar bola mata malas. Sopan santun kerajaan yang sudah muak ia lakukan di kehidupan sebenarnya. Memakai topeng dan berekspresi berbeda.


"Nona Roxena, akhirnya kita dapat bertemu lagi setelah sekian lama."


"Salam, Lady."


Namun, statusnya lebih rendah dibandingkan keluarga kerajaan. Ya, meskipun masih ada hubungan kekerabatan. Tapi, itu cukup jauh dan seakan hilang setelah kematian sang ibu.


"Terima kasih atas perhatian Lady. Suami saya ada di sini. Untuk pesta pernikahan, harap menunggu kabar saja."


Dia tidak berubah. Hormat tapi tidak menghormatiku!


"Lady, hari semakin malam. Tuan rumah, inti acara hari belum dilaksanakan. Apa lagi yang Anda tunggu?" Dengan berani menyela Lady Stella yang hendak berkata, bertanya pada Tuan Rumah.


Roxena Lawrence!! Putri itu geram. Namun, ia harus tetap tersenyum anggun.


"Silakan dimulai, Paman."


"Baik. Baik, Lady."


Tuan rumah memulai acara inti. Ia lebih dulu membuat kata sambutan. Ucapan terima kasih dan kemudian memanggil seseorang. "Lady, Tuan dan Nyonya sekalian, dengan bangga saya menyambut dan mengumumkan bahwa putra saya, Jonathan Esca menjadi Presdir ESA Group menggantikan saya."


Tepuk tangan meriah. Sosok pria berjas putih hadir di antara mereka. Dia adalah Jonathan Esca, putra tunggal keluarga ESA Group. Tubuhnya tegas dan paras yang sempurna. Para orang tua yang masih memiliki putri yang belum menikah tampaknya memiliki keinginan untuk menawarkan relasi pernikahan.


Roxena melangkah menghampiri Gerald dan Erin.


Di mana saat ini Gerald tengah memainkan game di ponselnya. Acara ini membosankan baginya.


Sementara Erin sibuk merekam hal-hal yang sekiranya penting dalam benaknya.


"Tampaknya kita harus melaksanakan pesta pernikahan," ucap Roxena yang mengagetkan Gerald.


"Aku tidak punya waktu untuk itu!"


"Waktumu bisa diatur. Aku yang sulit menyesuaikan jadwal," gerutu Roxena membalas ketusan Gerald.


"Kapan ini berakhir? Musik itu memekakkan telinga." Gerald memang tidak senang berada di tempat yang penuh dengan kebisingan dan juga orang yang memakai topeng. Ia suka kedamaian dan ketenangan.


"Mungkin 15 menit lagi," sahut Roxena. Ia tengah fokus mengamati interaksi keluarga ESA Group dengan Lady Stella. Menganalisanya. Mencari sesuatu yang barangkali tersembunyi.

__ADS_1


"Dalam kesempatan yang indah ini pula, saya ingin menyampaikan niat baik saya. Saya ingin mengutarakan keinginan saya untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius."


"Apa ini berubah menjadi tempat lamaran?" Tuan Luz rupanya menghampiri Roxena setelah menyadari Roxena tidak ada di sampingnya.


"Menurutmu ini akan jadi hal baik atau kabar buruk, Tuan Luz?"tanya balik Roxena.


"Entahlah." Setelah menjawab itu, Jonathan melanjutkan ucapannya. Ia berlutut di depan Lady Stella. Membuka kotak cincin berisikan cincin dengan permata yang sangat indah.


"Lady Stella, apakah Anda bersedia menikah dengan saya?"


Sontak hal itu mengejutkan tamu undangan. Tidak menduga bahwa Jonathan memiliki hubungan serius dengan Lady Stella. Dan jika dipikir-pikir, tidak ada berita atau informasi tentang hubungan ataupun ikatan pertunangan Lady Stella. Wanita itu masih sendiri.


Lady Stella tercengang. Ia menatap kaget Jonathan yang masih setia berlutut. Tuan Rumah tersenyum bangga. Akan jadi kebanggaan jika bisa menjadi bagian dari inti kerajaan. Dan tentu status sosial mereka akan meningkat dan akan berada jauh di atas keluarga lainnya terutama Lawrence Group.


"Jujur saja, Lady. Sejak pertemuan pertama kita, saya jatuh hati pada Anda. Saat saya berada di luar negeri saya berpikir perasaan ini akan menghilang. Namun, nyatanya semakin berkembang. Dengan keberanian yang saya kumpulkan, saya memberanikan diri untuk melamar Anda. Apakah Anda menerima lamaran saya, Lady?"


ESA Group adalah perusahaan keuangan yang mumpuni. Mereka sebanding dengan Lawrence Group. Bangunlah hubungan baik dengan mereka.


Lady Stella mengeluarkan tangannya. Tersenyum lembut, "jujur saya kaget, Tuan Muda. Namun, saya juga memiliki perasaan yang sama dengan Anda."


Wajah Jonathan berseri-seri. Segera menyematkan cincin di jari Lady Stella.


"Selamat, Lady. Selamat Tuan Muda Jonathan!"


"Ini semakin menarik." Tuan Luz kembali berkomentar.


"Anda sangat perhatian pada banyak hal, Tuan Luz," sindir Roxena.


"Tentu saja! Namun, Tuan Rumah ini benar-benar angkuh!"geram Tuan Luz kemudian. Sepertinya sengaja membuat pengaturan yang sangat mewah ini, menunjukkan bahwa mereka keluar yang kaya akan uang dan juga reputasi.


"Hati-hati pengajuan pinjaman Anda tidak akan diterima."


Tuan Luz berdecak mendengarnya.


"Apakah Anda tidak ingin membentuk anak perusahaan baru?"tanya Tuan Luz.


"Perubahan keuangan dan asuransi berkembang pesat belakangan ini. Saya dengar ada perusahaan serupa yang Anda akuisisi."


"Astaga! Mengapa Anda tidak berganti bidang saja? Perusahaan surat kabar juga berkembang pesat belakangan ini," sahut Roxena.


"Haha. Anda bercanda." Tuan Luz membalas dan tidak bicara lagi.


"Ayo kita pulang." Roxena bangkit. Ia sudah bosan di sini. Gerald juga tampak sudah mengantuk.


"Sampai jumpa lagi, Presdir Lawrence. Jangan lupa pembicaraan kita tadi!"


Roxena mengabaikannya. Gerald dan Roxena kembali bergandengan tangan dan Erin menjaga di belakang.


"Presdir Lawrence." Tuan Rumah menyapa kembali saat ketiganya mendekat.


"Kami ada urusan lain. Tidak bisa mengikuti acara sampai selesai," ucap Roxena.


"Presdir Lawrence? Roxena Lawrence, right?" Jonathan bertanya. Lady Stella tak di sisi Jonathan, ia tengah berbincang dengan tamu lainnya.


"Senang bertemu dengan Anda."


Mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.


"Senang bertemu dengan Anda." Tanpa diprediksi, Gerald yang membalas jabat tangan itu.


Roxena hanya melirik.


Lalu menilik penampilan Jonathan ini.


Dapat!

__ADS_1


__ADS_2