
"Pertemuan keluarga?" Dibandingkan acara gala dinner, itu lebih menarik.
"Hm. Pertemuan keluarga yang menggunakan anggota keluarga Lawrence. Dalam pertemuan itu juga, kau akan diresmikan masuk ke dalam keluarga Lawrence."
"Tapi, kita kan sudah menikah?"heran Gerald. Mengapa harus ada peresmian lagi?
"Ah … keluarga Lawrence memiliki aturan sendiri. Meskipun sudah menikah ada acara peresmian yang akan dilakukan oleh tetua keluarga," jelas Roxena.
"Umumnya pernikahan di keluarga Lawrence dilaksanakan di tahun acara pertemuan keluarga. Jadi, tidak akan menunggu lama untuk peresmiannya. Jadi, mulai sekarang kau harus bersiap. Keluarga Lawrence di sana sangat memperhatikan tata krama," tambah Roxena, wajahnya murung sesaat.
"Bagaimana jika mereka tidak menyukaiku?"cemas Gerald kemudian.
"Apa mereka punya nyali?"balas Roxena.
Dirinya adalah kepala keluarga. Penolakan sebesar apapun tidak akan berefek.
"Gerald kau harus mengerti benar kedudukanmu saat ini. Kau adalah suamiku, dan aku adalah Roxena Lawrence. Kau tidak perlu takut pada siapapun sekalipun pada tetua keluarga atau keluarga lainnya!"tegas Roxena.
Kepercayaan diri Gerald masih rendah. Belum sepenuhnya beradaptasi dengan kedudukan Roxena. Gerald tidak terbiasa dengan lingkar sosial ini. Tapi, mau tak mau harus terbiasa.
"Okay."
*
*
*
"Jangan lupa makan siang," ucap Gerald setelah mengecup kening Roxena.
"Kau juga."
"Aku berangkat. Sampai jumpa nanti," pamit Gerald yang diangguki Roxena.
Hubungan keduanya semakin dekat.
Suasana tenang dan damai.
Namun, itu hanya hubungan keduanya. Lain dengan urusan pribadi masing-masing.
Berbeda dengan Gerald yang dunia kerjanya cenderung monoton dan sudah dijadwalkan. Roxena harus berhadapan dengan banyak hal.
Pagi ini, Roxena menerima email langsung dari Lady Stella, putri tunggal kerajaan. Lady Stella mengirimkan undangan makan malam.
Anda adalah sosok yang saya kagumi. Saya harap Anda menerima undangan saya.
"Apa yang direncanakan olehnya?"gumam Roxena. Ia selalu waspada mengenai keluarga kerajaan.
"Nona, Tuan Luz kembali menanyakan waktu luang Anda!"seru Erin masuk ke dalam ruang kerja Roxena.
"Apa yang mau dibicarakan oleh Tua Bangka itu?!"geram Roxena. Berulang kali ditolak tetap tidak menyerah.
"Apa sebaiknya kita terima saja, Nona?"
Erin juga bosan menerima pesan seperti itu.
"Ada jadwal kosongku?"
"Hari Rabu Anda cukup senggang, Nona."
"Kalau begitu jadwalkan makan siang dengannya!"
"Baik, Nona." Erin terlihat lega. Setidaknya Tuan Luz tidak akan mengganggu lagi.
"Nona mengenai tambang yang ditawarkan oleh Luxury telah dikonfirmasi benar. Kemudian orang-orang dari kelompok tanpa nama memang berbakat dan memiliki keahlian di bidangnya. Terlebih yang menarik adalah si kembar yang ahli membuat parfum. Kita bisa mencoba kembali proyek yang sebelumnya gagal. Jika Dokter Liu ikut di dalamnya, maka kemungkinan besar akan berhasil," papar Erin menjelaskan laporan yang ia terima dari Luro dan Lyca.
"Bagaimana dengan Ferrum?"
"Ketua Ferrum mengatakan bahwa butuh waktu setidaknya seminggu untuk menyelesaikan barang sesuai desain Anda, Nona," jawab Erin.
"Bagus! Kalau begitu seleksi masuk akan dilaksanakan setelah aku kembali dari Luxembourg!"putus Roxena.
Roxena sudah menyusun rencana pengembangan selanjutnya.
"Masih ada yang ingin kau laporkan?"tanya Roxena melihat wajah ragu Erin.
"I-itu … saya mendapatkan informasi bahwa Elisa akan hadir dalam gala dinner Capital Group."
Roxena sedikit melebarkan matanya. "Sungguh?"
__ADS_1
"Hahahaha!! Ini menarik! Aku sangat menantikannya, hahaha!!"
"Nona?" Erin cemas. Takut Roxena lepas kendali di sana.
"Aku sangat menantikannya! Bukankah menyedihkan pasangan yang saling mencintai bertemu tapi tidak bisa bersama? Mereka hanya bisa berhadapan tanpa bersentuhan."
Aku penasaran dengan reaksi keduanya. Jika cinta Gerald padanya masih sangat besar pasti Gerald akan tersiksa.
Jika Elisa berani macam-macam, aku tidak akan menutup mata. Ahh … gala dinner itu akan menyenangkan.
Apa yang Anda pikirkan, Nona? Anda tidak akan mengacaukan hubungan Anda yang sudah dekat dengan Tuan, kan?!
*
*
*
"Kurang ajar! Berani sekali dia mengabaikan undanganku?!"marah seorang wanita cantik yang tak lain adalah Lady Stella. Lady Stella melemparkan isi mejanya. Wajahnya sudah merah padam.
Sudah lebih dari 6 jam ia mengirimkan undangan. Tapi, tidak kunjung ada balasan. Harga dirinya sebagai seorang putri kerajaan tercoreng.
Asisten di sampingnya merasa takut. Lady Stella memang cantik. Tapi, mengerikan saat marah.
"Wanita sialan itu!! Dia ingin mati, ya?!"
"Bagaimana jika mengirimkan undangan lagi, Lady? Nona Lawrence adalah wanita yang sibuk. Bisa saja email Anda terlewatkan oleh beliau," cicit asisten Lady Stella.
"Terlewatkan? Dengan wataknya yang teliti? Ini sudah jelas, ia mengabaikannya!"sinis Lady Stella.
"Hanya karena Ayah menghormatinya, dia jadi semena-mena! Beraninya tidak menghormatiku!"
"Aku adalah Putri Kerajaan. Aku wanita yang terpancang. Sedangkan rakyat sipil itu!"
"Nona Lawrence memiliki darah bangsawan dari pihak Nyonya Lawrence, Lady," ralat asisten Lady Stella.
"Diam, Kau!!"
Asisten itu kembali menunduk dalam. Lady Stella menggigit ibu jarinya. Ia sangat kesal. Tapi, tidak tahu harus melakukan apa untuk membalas Roxena.
Di mata Lady Stella, Roxena adalah wanita yang sombong dan angkuh. Ia merasa Roxena mampu menyaingi kedudukan dan popularitas sebagai putri kerajaan. Ia selalu ingin mengalahkan Roxena.
Edwardo dan Benjamin bodoh itu sangat tidak bisa diandalkan. Mereka mati tanpa memberikan keuntungan untukku!
"CK!"
Aku harap Jonathan tidak mengecewakanku!
Mengingat Jonathan membuat Roxena teringat pertemuannya dengan Roxena. Suami Roxena, ia tidak melihatnya begitu jelas. Yang pasti, Lady Stella ingat bahwa rupa Gerald sangat tampan. Bahkan lebih tampan dari Jonathan yang segera menjadi tunangan resminya dua Minggu lagi.
"Kau cari tahu latar belakang suami Roxena. Mungkin saja ada yang menarik."
"Si, Lady."
*
*
*
"Kalian … masih rutin melaporkan aktivitasku padanya?"tanya Gerald dingin saat perjalanan pulang.
"Itu tugas kami, Tuan," jawab Jack yang duduk di samping pengemudi.
"Jadwal Anda juga dipegang oleh Nona," imbuh Thomas.
Gerald menghela nafas kasar. Sudah ia duga.
Ada rasa sedih di dalam hatinya. Sulit membuat Roxena percaya. Ini bahkan sudah menginjak 3 bulan pernikahan mereka. Ia dibebaskan tapi dikekang.
"Anda tidak perlu merasa dibebani, Tuan. Nona mengawasi Anda bukan sepenuhnya untuk mengekang Anda. Nona khawatir pada Anda," ujar Jack.
"Tapi, aku tidak merasakan ancaman yang kalian atau Roxena khawatir selama ini," sangkal Gerald.
Sulit untuk membuat Roxena menarik Jack dan Thomas agar tidak mengawasinya lagi. Kini, ia hanya berharap Jack dan Thomas bisa bekerja sama untuk tidak melaporkan gerak geriknya secara detail.
"Mungkin karena mereka belum melihat seberapa pentingnya Anda untuk Nona, Tuan," jawab Jack, sekenanya saja karena tidak tahu detail hubungan Roxena dan Gerald.
Tapi, jawaban itu malah membuat Gerald bergidik. Jika ia disayang artinya nyawanya akan semakin dalam bahaya.
__ADS_1
"Tuan, saya mengerti maksud Anda. Akan tetapi, sulit untuk mewujudkannya sekalipun Tuan bekerja sama dengan kami. Karena Anda bekerja di bawah kekuasaan Nona, tentu ada banyak pasang mata yang mengawasi Anda. Orang-orang yang Nona pekerjakan bukan hanya kami. Jadi, maaf tidak bisa membantu Anda," ucap Thomas yang sedari tadi fokus mengemudi.
Gerald tersentak.
Bagaimana bisa ia melupakan fakta itu?!
Gerald melonggarkan dasinya. "Sulit, ya?" Bergumam pelan.
Sepertinya hanya bisa menerima kondisi saat ini. Lalu meluluhkan hati Roxena. Mungkin ia bisa sedikit lebih longgar.
Tapi, satu hal yang belum Gerald mengerti padahal sudah merasakannya. Roxena adalah seorang tiran.
Sulit untuknya membuka batasan yang sudah dibuat. Roxena memiliki prinsip yang kuat. Hatinya juga kaku dan dingin.
Mungkin masih ada kesempatan. Bukankah cinta bisa meluluhkan apa saja? Intinya Gerald harus berhasil membuat Roxena mencintainya dengan tulus!
Suasana jalanan macet karena memasuki jam pulang kerja. Sudah menjadi rutinitas. Gerald menyangga dagunya melihat keluar.
Sepanjang jalanan yang macet, ada banyak toko bunga. Bunga-bunga itu masih terlihat segar meskipun hari sangat panas.
Gerald terkesiap sesaat kala matanya mendapati jenis bunga yang sangat disukai oleh mantan istrinya.
Gerbera Daisy.
Bunga yang melambangkan keindahan, ketulusan, dan kemurnian serta keceriaan. Bunga yang cocok dengan Elisa.
Dulu ia sering memberikan bunga itu untuk Elisa.
Mengingat itu, hatinya sakit. Gerald belum bisa melepaskan masa lalunya. Setiap teringat pasti akan sakit.
Wajahnya memang tersenyum dan baik-baik saja. Tapi, gejolak batin begitu menyiksa dirinya.
"Anda baik-baik saja, Tuan?"tanya Jack khawatir. Gerald sudah menghela nafas beberapa kali.
"Sebentar lagi kita akan lepas dari macet, Tuan." Jack mengira karena macet suasana hati Gerald menjadi lebih tidak bagus.
"Bukan itu." Gerald meralat. "Menepi sebentar. Aku mau membeli bunga."
Thomas segera memasang send kiri untuk menepi. Jack ikut turun bersama Gerald, menemani membeli bunga.
"Selamat sore, Tuan. Anda ingin membeli bunga apa?"sapa ramah pemilik toko bunga. Seorang wanita paruh baya.
Gerald melihat bunga yang dijual. Ada beragam jenis. Dinner kemarin ia memberikan Roxena mawar merah. Apalagi kali ini juga? Rasanya kurang pas.
Namun, Gerald juga bingung mau membeli bunga apa.
"Anda ingin membeli bunga untuk siapa? Pasangan Anda?"
"Ah, benar."
"Jika saya boleh tahu, pasangan Anda seperti apa? Mungkin saya bisa memberikan saran bunga yang cocok dengan pasangan Anda," tawar pemilik toko. Tampaknya berpengalaman.
"Dia terlihat … misterius."
"Misterius?"
Setiap bertatapan dengan Roxena, Gerald tetap bisa bisa mengerti ekspresi matanya. Seperti hanya sekadar menanggapi.
"Dia cantik. Matanya berwarna hazel. Tapi, dia dingin dan misterius. Apakah ada bunga yang cocok untuknya?"tanya Gerald setelah menjelas.
Pemilik toko berpikir keras.
"Sepertinya saya tahu bunga yang cocok." Pemilik toko itu masuk ke dalam.
"Apa maksud Anda?" Jack berseru dingin saat pemilik toko membawa keluar mawar hitam yang ditanam di pot.
"Mawar hitam itu melambaikan duka dan keburukan! Mengapa Anda mengeluarkannya?!"
"Tenang dulu, Tuan." Pemilik toko tidak terpengaruh dengan tatapan Jack.
"Anda memang benar. Tapi, bunga ini yang paling cocok dengan deskripsi yang dikatakan oleh Tuan ini," jelas Gerald.
Gerald mengamati bunga mawar hitam yang mekar dan masih lengkap itu. Sepertinya itu tidak dijual tapi mungkin dijual untuknya.
Warna hitam melambangkan misterius dan juga dingin. Bunga itu juga tidak begitu mengerikan. Malah ada kesan unik dan cantik yang misterius. Selain itu, duri-duri di batangnya melambangkan bahwa mau warna apapun itu, mawar tetaplah berbahaya karena durinya yang tajam.
Itu sempurna untuk Roxena. "Anda dan pasangan Anda sepertinya pasangan baru. Mawar hitam ini memiliki makna memulai babak hidup yang baru. Saya rasa paling cocok untuknya. Bagaimana, Tuan? Atau Anda ada pertimbangan lain?"
"Aku ambil," putus Gerald. Diluar dari makna buruknya, bunga ini sempurna untuk Roxena.
__ADS_1
"Tuan?!"