Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 86 Penjara Cinta Roxena


__ADS_3

“Sampai besok, Prof. Gerald.”


Gerald membalas dengan anggukan. Pekerjaan hari ini sudah selesai. Gerald meninggalkan rumah sakit sekitar pukul 20.00. Perjalanan pulang ditemani dengan keindahan kota. Gerald ingin kembali menikmati pemandangan ini bersama dengan Roxena, juga ingin ke beberapa icon terkenal Madrid lainnya. Namun, Gerald takut Roxena akan terluka lagi seperti terakhir kalinya.


Gerald mengusap cincin di jarinya. Gerald sudah merangkai potongan mimpinya, menemukan fakta sebenarnya ia mencintai Roxena namun lebih membesarkan obsesi. Karena cinta yang sebenarnya tidak akan membuat orang yang dicintai menderita, tidak pula akan memaksakan perasaan. Cinta adalah tentang ketulusan, keikhlasan. Di luar daripada itu, bukanlah sebuah cinta yang murni.


Di kehidupan sebelumnya, Gerald menjerumuskan diri ke dalam lautan darah karena keinginannya untuk memiliki Roxena. Di kehidupan ini, ia menurut untuk bisa bertahan di sisi Roxena. Berbeda tapi sama. Sama-sama merendahkan diri untuk bisa bersama dengan wanita yang dicintai. Tapi, tidak masalah.


“Elisa!”sentak Gerald terkejut saat berhenti di lampu merah, di keramaian ia seperti melihat Elisa.


“Ada apa, Tuan?”


Gerald masih mengedarkan pandang untuk memastikan. Mustahil, Elisa tidak ada di sini. Regis pasti menjaganya. Gerald menampik apa yang ia lihat tadi. Kemudian membalas pertanyaan bodyguard, “tidak ada.”


*


*


*


“Aku pulang.”


“Suamiku kau sudah pulang? Bagus, aku baru selesai membuat makan malam untukmu!!” Roxena datang dari arah dapur lengkap masih menggunakan apron dan spatula di tangan.


“Kau memasak?” Gerald menelan ludah lebih dulu. Langsung mengingat bentuk masakan Roxena. Rasanya, waktu itu ia merasa lumayan. Tidak tahu kali ini, mungkin saja berbeda jauh karena Gerald tidak menginginkannya.


“Ayo-ayo!!” Ditarik menuju meja makan.


“Ini masakanmu?” Gerald terkejut. Penampilan masakan di atas meja makan cukup menggiurkan. Terlihat matang dan tidak gosong. Hanya saja, tidak boleh menilai dari luarnya.


“Aku sudah mengikuti panduan resep dengan tepat. Aku yakin kemampuan masakku ada peningkatan,” ucap Roxena, matanya penuh binar. Gerald diam-diam menelan ludah, ekor matanya ke arah dapur, karena tidak dipisahkan oleh dinding, Gerald dapat melihat jelas betapa berantakannya itu.


“Ayo duduk. Kau lapar, kan?” Roxena menekan Gerald duduk.


“Aku makan, ya?” Roxena mengangguk.


Pertama Gerald mencoba steak buatan Roxena. Ternyata tingkat kematangan rare, Gerald tidak menyukai steak seperti ini. Dengan terpaksa, susah payah ia menelannya. Belum lagi perpaduan bumbu yang kurang tepat, pelengkap yang terlihat menyakinkan ternyata jauh dari harapan. Singkatnya, steak buatan Roxena ini tidak enak.


Roxena masih menatapnya penuh binar. "Aku coba yang lain." Gerald beralih mencoba spaghetti.


Mienya terlalu matang, dengan perpaduan bumbu dan kuah yang tidak tepat. Setelah mencoba beberapa masakan lagi, Gerald menarik kesimpulan bahwa makanan di atas meja hanya enak dipandang.


Gerald mengusap bibirnya dengan tisu. "Enak kan?"


"Masakanmu sangat enak, Xena. Tapi, akan lebih baik jika kedepannya aku yang memasak," jawab Gerald.


Roxena marah, ia menarik kasar kerah baju Gerald. "Maksudmu masakanku tidak enak?"


Gerald menjawab, "bukankah kau juga mengakuinya?" Roxena berdecak tidak senang.


"Sebagai pasangan yang baik kau harus memujinya. Sekalipun aku masakanku seperti racun!!"dalihnya pada Gerald.


"Haruskah aku menyebutnya racun yang cantik?"tanya Gerald hidangan di atas meja.


"Sialan kau!"umpat Roxena kesal. Gerald hanya tertawa pelan. Ia terbiasa mengungkapkan penilaian secara terang-terangan. Kemarin itu pengecualian!


"Kau sudah lelah bekerja, jangan menambah beban lagi dengan memasak. Aku mampu membayar juru masak," ujar Gerald, ia menarik Roxena agar duduk di pangkuannya.


Semenjak mereka akur, gaji Lily dan Sophia ditanggung oleh Gerald. Begitu juga dengan kebutuhan rumah tangga lainnya. Kini, Roxena tidak mengeluarkan sepeserpun untuk keperluan rumah tangga dan sebagainya. Bahkan, ia punya uang bulanan dari Gerald.


"Tapi, kemarin kau merengek agar aku memasak. Saat itu kau menghabiskan semuanya dan mengatakan masakanku enak. Mengapa kau mengatakan hal yang berbeda kali ini? Sebenarnya mana yang benar? Kau membuatku terbang lalu jatuh dari ketinggian!!"keluh sedih Roxena seraya memukul dada Gerald.


Ahh ….


Mengapa istrinya semakin sensitif? Biasanya Roxena sangat rasional. Mengetahui kelebihan dan kekurangan diri sendiri.


"Xena … dua jiwa menjadi satu raga untuk saling menyempurnakan. Kau tidak pandai memasak sementara aku pandai memasak. Jadi, kedepannya aku yang akan memasak untukmu. Masakanmu enak hanya saja aku akan mati jika kau terus memasak untukku."


"Jika kau mati, aku tinggal mencari Regis," sahut acuh Roxena.


"Tidak boleh!" Gerald memeluk erat Roxena.

__ADS_1


"Jangan terlalu erat. Perutku tidak nyaman!"keluh Roxena, merasa perutnya tertekan. Gerald melonggarkan pelukannya. Menyandarkan diri pada punggung Roxena.


"Kata - katamu menyakiti perasaanku, Xena."


"Hm … perasaan yang sama aku rasakan saat kau mengatakan rasa makananku seperti racun," cibir Roxena.


"Xena!"parau Gerald. Terdengar helaan nafas. "Aku salah." Pada akhirnya mengalah.


"Akan aku manfaatkan jika kau menghabiskan salah satunya," jawab Roxena, menatap makanan yang tersisa banyak di atas meja.


"Aku …." Mengingat masakan mana yang masih bisa ditoleransi.


"Baiklah." Roxena berdiri. Gerald menarik piring spaghetti.


"Habis!"


Setelahnya Gerald minum banyak-banyak. Roxena tersenyum puas. Kekesalannya karena ditinggal Gerald tadi pagi telah sirna. Dengan santai ia berkata, "lain kali jangan meninggalkanku tanpa kabar! Suratpun tidak ada!"ketus Roxena kemudian meninggalkan dapur.


Ah!


Gerald tahu akarnya. Tadi pagi memang ia sangat terburu-buru karena ada pasien darurat. Siapa sangka Roxena tidak menyukainya dan membalas dengan cara seperti ini.


"Ah ya! Kau harus menepati kata-katamu. Kau yang memasak!"teriak Roxena dari arah kamar.


"Dasar pendendam," gerutu Gerald, kesal sekaligus gemas dengan tingkah Roxena.


*


*


*


Matahari pagi yang hangat menyongsong ceria dunia. Di akademi militer, militer muda tengah melakukan latihan pagi. Lari mengelilingi lapangan serta beberapa latihan pagi lainnya. Tubuh mereka tegap berotot. Berlari sambil bersorak.


Di podium, seorang pria berusia sekitar 30 tahunan mengawasi jalannya aktivitas pagi itu. Sesekali ia berteriak menyemangati. Tubuhnya kokoh dengan seragam lapangan. Wajahnya seakan bersinar akibat efek cahaya matahari.


"Yang Mulia." Tiba-tiba ada yang datang menghadap. Pakaiannya formal. Pria itu berbalik.


"Apa yang membawa Paman datang kemari?"tanya pria itu penasaran.


"Ada masalah serius di istana. Yang Mulia Raja meminta Anda untuk segera kembali ke istana, Yang Mulia. Beliau memerintahkan agar Anda menjalankan tugas Putra Mahkota."


Pria itu ternyata Putra Mahkota Kerajaan Spanyol. "Bukankah Stella yang mengurusnya untuk sementara?"


"Itu …."


"Ada apa dengan Stella?" Raut wajahnya cemas seketika.


"Lady baik-baik saja, Yang Mulia." Putra Mahkota tidak percaya. Ia segera meninggalkan area lapangan.


"Yang Mulia!" Paman itu menghela nafas pelan. Sorot matanya sedih. Padahal Yang Mulia Putra Mahkota sangat menyayangi Lady Stella.


*


*


*


"Ayah!"


"Xavier!"


Putra Mahkota Xavier menghadap Raja. Ia lebih dulu memberi penghormatan sebelum menatap tanya sang ayah.


"Akhirnya kau pulang. Bagus-bagus!"


"Ada apa dengan Stella, Ayah?"tanya Xavier.


"Paman mengatakan bahwa Ayah memintaku kembali untuk menjalankan tugas putra mahkota. Stella sakit, Ayah?"


Raja menghembuskan nafas kasar. Dengan kesal ia berkata, "Adikmu sakit jiwa!"

__ADS_1


"Ayah!"


Raja menuju jajaran berkas, mengambil salah satunya lalu menyodorkan pada Xavier.


Xavier terkejut melihat isi berkas itu, tepat berkas penghianatan Stella. Gurat wajahnya menunjukkan ketidakpercayaan.


"Adikmu tidak bisa mengurus pekerjaanmu lagi. Kekuasaannya Ayah cabut. Saat ini menjadi tahanan rumah."


"Ayah pasti ada kesalahan."


"Stempel asli itu kau mau membantahnya?"selidik Raja. Xavier keluh, tidak bisa menyangkalnya. Bukti terlalu jelas.


"Kau ambil alih tugasmu. Stella tidak melakukan tugasnya karena sakit parah. Tidak ada bantahan! Ini yang terbaik!"


Xavier yang cerdas langsung mengerti maksud Raja. "Apakah Ibunda sudah mengetahuinya?"tanya Xavier cemas. Setelah Stella, kekhawatiran Xavier pindah pada Ratu.


"Ayah masih bingung bagaimana cara mengatakannya." Raja tampak frustasi. Ratu sangat menyayangi Stella. Besar kemungkinan Ratu akan sangat terluka dan dapat jatuh sakit karena hal itu.


"Sebaiknya jangan dikatakan. Aku akan menyibukkan Ibunda," ucap Xavier. Raja setuju.


"Kembalilah."


Xavier izin undur diri. Meninggalkan Raja yang masih dilanda pusing akibat masalah Stella. Syukurlah parlemen tidak mengetahuinya.


*


*


*


Gerald tidur lebih dulu daripada Roxena. Roxena sedang membaca laporan dari bawahannya, termasuk Jade. Senyumnya melengkung lebar membaca laporan Jade.


"Kau kalah, Stella. Kekalahan ini akan membawamu kepada jurang keputusasaan. Jade … playboy itu!"


"Hm?"


"Oh, dia juga datang?"gumam Roxena, tersenyum simpul.


"Hal menarik apa yang akan terjadi? Apakah akan ada perubahan takdir lagi?"


Roxena menatap Gerald yang nyenyak dalam tidurnya. Hatinya telah terpikat, tidak akan melepaskan Gerald. Baik karena cinta ataupun dendam.


"Baik cinta atau kedudukan, aku akan memilikinya. Jika dia datang menantangku, aku akan menanggapinya. Elisa, aku berulang kali mentoleransimu. Tapi, kau begitu tidak peka. Aku cemburu, seharusnya kau menerima dengan baik pengorbanan Gerald, bukan malah seperti ini. Cinta … cinta adalah pengorbanan. Sayang sekali, ckckck."


"Regis, meskipun kau melindunginya, jika dia mengusik kehidupanku, aku tidak akan mentoleransinya. Kemudian karena kau sudah datang … mari bermain sejenak."


Masih ada waktu bermain sebelum ia terbang ke China untuk perjalanan bisnis.


Tunggu!


Mengapa di saat seperti ini?


Roxena cemas tiba-tiba. Ia baru menyadarinya. Jika ia pergi, bagaimana jika Gerald berpaling?


Haruskah ia membawa Gerald?! Tapi, di sana Gerald ada jadwal operasi. Dengan sikap dokternya Gerald pasti menolak.


"Ah aku terlalu khawatir."


Barisan pengawalnya siap menjaga Gerald.


"Kau sudah bersumpah untuk menebus dosa-dosamu. Jangan pernah mengingkarinya. Jika tidak, aku akan membunuhmu dan menyiksamu di kehidupan selanjutnya!"


Roxena menyudahi sesi membaca laporannya. Roxena kemudian membisikkan sesuatu pada Gerald. "Aku ingin mengatakan sesuatu. Aku hamil."


Ada kelegaan di hati Roxena setelah menyatakan fakta itu.


"Kau tahu, ini adalah anak kita dulu. Dia hadir kembali ke hidup kita. Kau jangan mengecewakannya lagi!" Roxena kembali berbisik.


"Aku sudah memikirkan nama anak ini." Sejujurnya, Roxena tidak membenci anak dalam kandungannya baik di kehidupan masa lalu apalagi sekarang. Hanya saja, dulu ia sudah tidak sanggup hidup. Anak adalah lentera paling terang bagi Roxena.


"Sirius." Nama bintang paling terang di galaksi, Roxena akan memberi nama itu pada sang anak kelak, baik laki-laki ataupun perempuan.

__ADS_1


__ADS_2