Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 42 Penjara Cinta Roxena


__ADS_3

Sulit untuk hamil.


Sulit untuk hamil. 


Kepala Roxena berdenyut sakit mengingatnya. Susah payah ia membangun dan mempertahankan posisinya hingga saat ini malah ditampar kabar yang mengguncang dirinya. 


Kesempurnaan dirinya tercoreng.


Kebiasaan minum dan merokoknya kembali. Roxena stress. Dihembuskan asap putih dari mulut, mengaburkan wajahnya yang muram. 


Dttt


Dttt


Dering ponsel itu membuatnya melirik. Nada dering khusus panggilan Erin. 


"Anda di mana, Nona?"tanya Erin cemas di sana. 


"Menara."


"Anda baik-baik saja?"


"Menurutmu?" Roxena menjawab lemah. 


Uhuk


Uhuk


"Nona!"


"Tidak apa. Mungkin karena sudah lama tidak merokok."


"Astaga! Anda jangan ke mana-mana. Saya akan ke tempat Anda!"


Mungkin Erin sudah mendengarnya dari Dokter Liu.


Roxena kembali meletakkan ponselnya dengan panggilan masih terhubung. 


Kembali disesapnya rokok. Matanya yang muram dan lesu menatap hamparan pepohonan dari sela-sela jejari pagar. 


"Nona!" Erin menatap Roxena cemas. Lekas menghampiri Roxena. Merendahkan tingginya sejajar dengan Roxena. Mengambil alih rokok yang sudah tersulut setengah, mematikannya. Melirik sekilas sebotol alkohol yang sudah hampir habis. 


"Aku lelah, Erin." Roxena menjadikan bahu Erin sebagai tumpuan. 


Hati Erin sakit. Ia belum pernah melihat Roxena se drop ini. Tak tahu harus melakukan apa selain mengusap bahu Roxena. 


"Jangan begini, Nona. Kita sudah hidup di zaman canggih. Sulit bukan berarti tidak bisa. Nona, Anda tidak melupakan semboyan kita, kan? Miracle dan juga Beyond the Limit. Lagipula, Anda kan jarang berhubungan dengan Tuan Gerald. Kesempatan masih terbuka lebar, Nona." Kata-kata itu disusun sebagai penghiburan untuk Roxena. 


"Untuk itu, Anda harus mengurangi merokok dan minum. Makan tepat waktu. Dan saya akan usahakan untuk menyederhanakan jadwal Anda supaya Anda memiliki waktu istirahat yang cukup," tutur Erin. Tetap mengusap bahu Roxena yang kini terisak. Mencengkram bajunya dengan bahu bergetar. 


"Nona, saya akan selalu ada untuk Anda." 


Tangis Roxena semakin kuat. Sakit melihat Roxena menangis. Air mata Erin juga turun. 


"Aku ingin pulang," lirih Roxena. 


"Iya, Nona." Erin membantu Roxena berdiri. Memapahnya turun menuju mobil. 


Bahu yang sekokoh karang itu tengah rapuh. Erin mengemudi mobil menuju apartemen. 


"Hm."


Roxena tidur selama perjalanan pulang. Lelah hati dan juga fisik. Tanpa sadar menurunkan tingkat kewaspadaannya. Biasanya akan langsung terbangun karena sentuhan pelan. Namun, saat digendong oleh Erin naik, Roxena sama sekali tidak membuka matanya. 


"Sekretaris Erin." Lily yang membuka pintu. 


"Nona?" Terkejut melihat Roxena dalam gendongan Erin. 


"Nona kelelahan." Erin melangkah masuk.


"Sekretaris Erin. Anda …." Ucapan Gerald terpotong saat melihat Roxena. Wajahnya pucat.


"Dia kenapa?" Gerald bangkit dan memeriksa suhu tubuh Roxena. 


"Panas." 


"Berikan padaku." Diikuti dengan gerakan mengambil alih Roxena dari Erin.


"Bawakan aku air dan handuk untuk mengompres," ucap Gerald. Lily segera bergegas. Sophia sedang tidak berada di tempat, ia tengah berbelanja mingguan.  


"Tuan?" Erin mengejar langkah Gerald. Dalam hatinya berkecamuk. Mengapa Gerald sangat perhatian pada Roxena? 


"Buka kamarnya!"


Erin ikut masuk. 


"Saat pergi dia baik-baik saja. Mengapa begini?"tanya Gerald, cemas. Ditatapnya wajah Roxena yang pucat. 


"Dia menangis?" Melihat bagian bawah mata Roxena yang sembab. 


"Dia pergi ke mana?"tanya Gerald lagi. 

__ADS_1


"Jawab sekretaris Erin!" Suara Gerald meninggi. Erin terkejut. 


"Nona … dia-"


"Ini, Tuan." Lily datang membawa air dalam baskom dan juga handuk kecil Segera Gerald mengompresnya. Roxena tidak nyaman dalam tidurnya. 


"Ambilkan peralatanku di kamar. Ada di dalam lemari," ucap Gerald lagi. Lily bergegas. 


"Ugh!"


Roxena meringis kala Gerald menyuntikan obat padanya. 


Gerald bertanya-tanya. Apa yang dialami Roxena hari ini? Kernyitan di dahinya tidak menghilang. Roxena menahan sakit dalam tidurnya. 


"Anda belum menjawab pertanyaan saya, Sekretaris Erin!" Suara dingin Gerald membuyarkan Erin. 


"S-saya tidak tahu apa yang terjadi, Tuan. Nona meminta saya untuk menjemputnya di taman," jawab Erin berbohong. 


"Katakan saja itu rahasia," sahut Gerald menanggapi. Ia membaca gerak-gerik Erin. Tak langsung menjawab dan sedikit gugup. 


Erin terkesiap. Gerald sudah menatap kembali Roxena. "Aku akan mengurusnya. Kau bisa pulang," ucap Gerald. 


Erin menimbang sesaat. Sebelum akhirnya undur diri. 


Gerald termenung di samping Roxena. Ia duduk di tepi ranjang. Mengingat kembali tindakannya. Tanpa sadar ia langsung cemas melihat Roxena dalam gendongan Erin tadi. 


Dan di sinilah kini ia berada. Di kamar Roxena. Kamar yang terkesan suram dan dingin sama seperti pemiliknya. Pajangan yang sedikit. Gorden yang ditutup rapat. Pencahayaan yang remang-remang. 


"Aku semakin penasaran dengan hubungan kita di masa lalu. Melihatmu tak berdaya seperti ini, aku merasa takut. Aku tidak tahu apa yang aku rasakan. Aku berpikir fisik dan batikku berkhianat. Jelas-jelas aku membencimu. Namun, aku tak bisa menahan diri untuk mengkhawatirkan dan merawatmu." 


Gerald mengulurkan tangannya, merapikan anak rambut Roxena. 


"Roxena, kau adalah teka teki terbesarku. Aku ingin memecahkan. Untuk itu aku harus menyelam lebih dalam. Aku harus memahami dirimu. Aku ingin mengenalmu lebih jauh," lirih Gerald. Mengusap lembut pipi Roxena. 


"Uhm." Terganggu dengan sentuhan itu, Roxena memiringkan tubuhnya. 


Gerald menghela nafas pelan, tersenyum tipis.


Gerald kemudian bangkit untuk membuka lebar gorden itu. Membiarkan cahaya masuk menjelajahi ruang. 


Gerald lantas mendaratkan tubuhnya di atas sofa. Sekali lagi mengamati dekorasi kamar. "Aku akan merenovasinya," gumam Gerald. 


*


*


*


"Lepaskan aku!"


"Jangan sentuh aku!"


"Aku tidak menginginkannya!"


Gerald terbangun karena keributan itu. Ia tidur di sofa kamar Roxena dengan posisi duduk. 


"Menjauh! Jangan!"


Kesadarannya pulih. Gerald menoleh pada Roxena. Melihat wanita itu gelisah memberontak dalam tidurnya. Selimut yang menutupi tubuhnya sudah terjatuh. 


Keringat mengalir deras dengan kernyitan dahi yang semakin dalam. "Sakit! Itu sakit, br*engsek! Menjauh dari tubuhku!"


"Kata-katamu sangat vulgar. Apa yang kau mimpikan?" Gerald mengelap keringat Roxena. Seluruh tubuhnya berkeringat. Pakaian yang digunakan Roxena basah karena itu. 


"Apa kau pernah mengalami pemaksaan? Kau sangat membencinya." Pertanyaan itu dijawab dengan kegelisahan Roxena yang semakin menjadi. Nafasnya memburu. 


"Baju*ngan kau! Aku sangat membencinya, Gerald!!"


Mata Gerald terbelalak. "Aku? Kapan aku memaksamu?!"pekik Gerald kaget. 


Uhh!


Perasaan ini lagi. 


"Hei! Apa yang kau lakukan?!" Gerald menggunakan dua jarinya untuk menghentikan Roxena menggigit bibirnya sendiri. 


"Sttt!" Meringis. Roxena benar-benar mengigit jarinya. 


"Mimpi masa lalu. Sepertinya aku yang dulu sangat menyakitimu." Melihat Roxena yang tersiksa muncul rasa bersalah. 


Cup!


Merasa gejala hiperventilasi Roxena belum mereda Gerald memutuskan untuk membantunya dengan ciuman. Perlahan Roxena mulai tenang. Namun, bajunya semakin basah kuyup. 


Gerald melangkah mencari lemari pakaian Roxena. Mencari baju ganti untuk Roxena. Dengan telaten dia mengganti baju Roxena meskipun kebanyakan ia memalingkan wajahnya. 


Mereka memang suami istri dan sudah pernah berhubungan. Akan tetapi, tetap saja Gerald masih 'canggung' melihat area sensitif Roxena. 


"Dingin. Jangan pergi." Entah itu igauan atau kesadaran yang belum pulih, Roxena melingkarkan tangannya pada perut Gerald.


Hufff!

__ADS_1


"Kau tetap menyebalkan." Membuka selimut dan 'terpaksa' berbaring memeluk Roxena. Selimut menutupi tubuh keduanya. Roxena memeluk erat Gerald, wajahnya merapat pada dada Gerald, mempererat dan menjadi kenyamanan di sana.


Takdir membawaku kemari. Aku percaya sesuatu terjadi karena suatu alasan. Mungkin masa lalu, karma atas perbuatan terdahulu. Roxena, aku akan tulus padamu. Mematahkan kebencian itu dengan ketulusan. 


Mengenai Elisa … jika takdir berkehendak kita pasti akan bertemu lagi. Entah sebagai kekasih atau hanya berhadapan tanpa bersama lagi, aku akan menerimanya. Dulu aku merasa takdir kejam padaku. Namun, mungkin takdirku tidak sekejam takdirnya. Perjalanan ini aku akan melewatinya. Aku tidak takut!


*


*


*


Emmm


Apa ini?


Apa guling sekeras ini?


Tunggu, aku tidak pernah memeluk guling.


Lalu apa ini? Kok semakin besar?  


Roxena membuka matanya paksa. Mencerna situasi. 


Ia memeluk manusia bukan guling!


"Singkirkan tanganmu!"ucap Gerald dingin.


"AHHHH!"


Roxena terkejut. Ia langsung bangkit dan menatap horor Gerald. 


Gerald duduk dengan bersandar pada ranjang, menguap pelan. Ia masih mengantuk. Tidurnya nyenyak sekali tadi. Namun, terganggu dengan tangan nakal yang menyentuh dan menekan dada lalu turun ke bawah. 


"K-kau! Bagaimana bisa kau ada di tempat tidurku?!"


"Lalu bajuku? Siapa yang menggantinya?!"


"K-kau! Apa yang kau lakukan selama aku pingsan?!"


Gerald terkesiap dengan itu. Bukan dengan pertanyaan Roxena melainkan dengan sikap Roxena. Wanita itu seperti kucing yang tengah protes. Bulunya berdiri dengan menunjukkan taring kecilnya. Terlihat panik. Berbanding terbalik seperti yang ia lihat sebelumnya. 


"Jika aku melecehkanmu pun kau tidak akan menderita kerugian. Kita sudah melihat tubuh masing-masing. Melalui malam bersama, mengapa kau jadi aneh begini?" Gerald menanggapinya dengan senyum simpul. 


"Yang terpenting kita adalah suami dan istri." Gerald menyeringai melihat wajah terkejut Roxena. Kemudian wanita itu mencembik kesal. Kata-kata yang pernah ia lontarkan pada Gerald dikembalikan padanya. 


"Kalau begitu keluarlah!" Wanita itu kembali dingin. 


"Setelah membangunnya?" Gerald menunjukkan pangkal pahanya. 


"Apa maksudmu? Aku tak sengaja menyentuhnya! Lagipula kau kan tak menyukaiku, harusnya tidak akan bangun meskipun aku sentuh dengan tekanan. Atau aslinya kau memang mes*um dan c*Abul?!" Matanya hazel itu menyorot dingin Gerald. 


"CK!"


"Setelah memelukku seperti guling kau menghinaku, wanita gila!" Keluar dengan misrah-misruh kesal. 


Ugh!


Roxena meluruh ke lantai. Kepalanya kembali terasa sangat pusing. "Dia tidak mendengar racauan ku kan?"


Roxena tak sepolos itu. Ia memimpikan hal yang vulgar. Dicampur dengan kebencian tentunya itu akan keluar dari alam mimpi. 


"Nona! Anda baik-baik saja?" Lily menyongsong Roxena, membantunya duduk di ranjang. 


"Apa yang terjadi?"tanya Roxena. Ia ingin memastikannya. 


Lily menjelaskan. Mulai tadi Erin yang membawa Roxena pulang. Gerald yang cemas dan merawat Roxena secara pribadi dan baru saja keluar lalu menyuruhnya untuk masuk. 


Berarti dia yang mengganti bajuku. Lalu mana mungkin dia melemparkan dirinya memelukku. 


Hahh


"Ini membuatku gila."


"Anda butuh sesuatu, Nona?"


"Jam berapa sekarang?"tanya Roxena. 


"Jam 16.00, Nona."


"Sudah sesore ini?" Roxena menghela nafas pelan. 


Kata-kata Erin memang benar. Aku tidak boleh putus asa. 


"Aku akan mandi lalu makan."


"Baik, Nona. Apakah Anda butuh sesuatu untuk mandi?" Roxena menggeleng. Menyeret langkahnya menuju kamar mandi. 


Lily memandang punggung itu cukup lama. Bahkan saat empunya sudah menghilang di balik pintu. 


Tuan keluar dengan senyum. Nona juga tidak meledak. Ini … ini kemajuan pesat!!

__ADS_1


Lily bersorak senang dalam hati. Dengan cepat merapikan ranjang Roxena kemudian keluar untuk menyiapkan makanan.


__ADS_2