Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 65 Penjara Cinta Roxena


__ADS_3

Gerald kembali memimpinkan kehidupan lalu. Di dalam mimpinya itu, Gerald melihat dirinya yang mengacungkan pedang pada Regis. Sorot mata Gerald dipenuhi dengan keinginan membunuh.


"Apa yang kau inginkan, adikku?"tanya sang kakak lembut. Regis tersenyum pada Gerald. Tak gentar melihat pedang di depan matanya.


"Jika kau menginginkan tahta dengan sukarela aku akan melepaskannya untukmu," ujar Regis. Kelembutan bicaranya tidak berubah. Kasih sayang seorang kakak terlihat jelas di pelupuk matanya.


"Aku ingin Xena!"jawab Gerald.


"Aku dan Xena sudah menikah. Aku bisa merelakan tahta tapi tidak dengan Istriku," jawab Regis seraya menggeleng pelan.


*Gerald memejamkan matanya mendengar penolakan itu.


"Kalau begitu aku hanya bisa membunuhmu*!"


"Jangan lakukan itu, Gerald. Jika kau membunuhku kau akan kehilanganku dan juga Xena. Kau hanya akan mendapat kebencian darinya. Kau akan mendapatkan julukan tiran. Ku mohon jangan korbankan kebahagiaan selama ini," ujar Regis membujuk. Mencoba melunakkan kekerasan Gerald yang sudah bertekad.


Gerald tertawa sinis. "Kau pikir melihatmu bersama dengannya membuatku bahagia?! Aku tidak peduli yang penting Xena bersama denganku! Lawan aku, Kakak!"


Gerald menggerakkan pedangnya. Regis menahannya. Keduanya bertarung. Saling menyerang dan bertahan. Serangan Gerald agresif, cukup menyulitkan Regis.


"Hentikan, Gerald! Sadarlah! Jangan ikuti nafsumu!"teriak Regis. Ia tidak menyangka adik semata wayangnya akan berbuat seperti ini.


"Aku yang lebih dulu menyukainya! Harusnya dia bersama denganku. Kakak matilah untuk kebahagiaanku dan Xena!"


Keuk!


Ugh!


Gerald menyerang selagi Regis tak fokus, berhasil menusuk jantung Regis. Mata Regis terbelalak. Ia berlutut seketika.


Darah segar keluar dari mulut dan juga lukanya. Ujung pedang mengalirkan darah Regis.


"R-REGIS!!"


Roxena berteriak kencang melihat hal itu.


"Xena!" Gerald membalas. Gerald memalingkan wajahnya pada Roxena.


Matanya memerah. Semakin sayu. "Xena." Lirih. Air matanya mulai berjatuhan. Pedang yang Gerald gunakan sudah dilumuri dengan racun. Ia tidak akan selamat.


"REGIS!"


Roxena mendorong Gerald dan memangku Regis. "Regis! Bertahanlah, aku akan membawamu ke dokter!" Air mata Roxena pecah melihat Gerald yang sekarang.


"X-Xena," panggil Gerald lirih, mencoba menyentuh wajah Roxena dengan tangannya yang berlumur darah. "J-ja-ngan me-na-ngis."


"Ki-ta a-kan ber-te-mu la-gi."


Roxena menggeleng keras. Ia tidak mau. Tangan Regis yang menyentuh pipinya jatuh. Diikuti dengan hembusan nafas terakhir Regis.


"TIDAK! JANGAN PERGI, REGIS! JANGAN TINGGALKAN AKU! HIKS!"


"REGISS!"


"KAU SUDAH BERJANJI UNTUK HIDUP DENGANKU! BAGAIMANA BISA KAU SEORANG SWORD MASTER MENGINGKARI JANJIMU! BANGUN, REGIS! BANGUN!! AKU MEMERINTAHKANMU UNTUK BANGUN!!"


"JANGAN TINGGALKAN AKU!"


"AKKHHHH!"


Gerald terbangun dari tidurnya. Nafasnya menderu. Mimpi itu benar-benar mengerikan. Ia melihat jelas sorot mata putus asa Regis namun tak menghilang rasa sayangnya pada Gerald. Lalu melihat jelas Roxena yang sakit dan sangat kehilangan Gerald. Masih teringat jelas tangis dan jeritan histeris Roxena. Lalu … yang paling mengerikan adalah dirinya sendiri. Yang tersenyum lebar melihat Roxena memeluk Regis yang sudah tak bernyawa. Lalu mengatakan, "aku menang."


"Aku sangat mengerikan," gumam Gerald, takut pada dirinya sendiri.


Lalu … ia baru menyadari ada yang menggenggam jemarinya. Roxena tidur di sisinya. Dengan hati-hati, Gerald mengulurkan tangan menyentuh wajah Roxena. Awalnya ia ragu. Gerald takut jika ini hanyalah ilusi.


Namun, begitu merasakan suhu tubuh Roxena, dirinya yakin. Dengan perlahan ia bisa tersenyum lega. "Di kehidupan ini aku tidak merebutmu. Aku akan menembus kesalahan dan juga membahagiakanmu, Xena. Terima kasih telah percaya padaku."


Setelahnya, Gerald kembali membaringkan tubuhnya. Mimpi tadi dan sebelum ia tak sadarkan diri sungguh menguras emosi dirinya. Ia yang awalnya takut memejamkan mata bisa kembali tertidur karena jemarinya bertautan dengan jemari Roxena.


Roxena membuka matanya. Ia mendengar ucapan Gerald. Pemilik netra hazel itu mengerjakan matanya perlahan, berekspresi dingin seolah kata-kata Gerald tak menyentuh dirinya.

__ADS_1


"Ya."


*


*


*


"Ugh!"


"Elisa!" Regis yang tak beranjak dari tempatnya langsung menyadari Elisa yang baru saja sadar.


Elisa mengerjakan matanya yang terasa buram. Dan suara panggilan Regis semakin jelas. "Regis."


"Ahh! Syukurlah kau sudah sadar. Aku khawatir sekali padamu."


"Apa yang terjadi padaku?"tanya Elisa.


"Kau pingsan. Aku pikir kau dan bayimu dalam masalah tapi syukurlah kau sudah sadar. Semua baik-baik saja." Kelegaan terpancar dari Regis. Jemarinya menggenggam jemari Elisa, menatapnya penuh cinta.


"Sudah berapa lama aku pingsan?"


"Satu malam."


"Satu malam." Elisa mengernyit. Mengingat-ingat hal sebelum ia tak sadarkan diri.


"Gerald di mana dia sekarang?!"


Mendadak ekspresi Regis menggelap.


"Untuk apa bertanya tentangnya? Dia mengkhianatimu. Dia sudah melupakanmu, Elisa!"


"Tidak, Regis! Gerald terpaksa. Otaknya dicuci wanita jahat itu!"


"Kau bodoh, Elisa!"emosi Regis dengan suara rendahnya.


"Bantu aku, Regis! Ku mohon." Elisa menggenggam erat jemari Regis. Memelas menatapnya penuh harap.


"Dia tidak mau. Aku tidak bisa memaksa! Lagipula kau ada aku," tolak Regis. Ia sudah melihat sikap Gerald kemarin. Regis tak ingin mengulang kesalahan yang sama lagi.


"Cukup, Elisa. Tenangkan dirimu. Kau pikir mudah menculik Gerald? Lagipula mereka sudah kembali ke Spanyol. Kekuasaanku tidak bisa menjangkaunya."


"Regis." Elisa semakin putus asa. Gerald sudah pergi. Apa yang harus dilakukan?


Hah!


Regis menghela nafas kasar lalu menarik Elisa untuk duduk di pangkuannya. Regis memeluk Elisa sayang.


"Tidak apa. Menangislah. Tidak baik ibu hamil terus menahan emosinya."


"Regis, Gerald … hiks … hiks …."


"Tidak apa. Kita cari kesempatan lain."


"Kau akan tetap membantuku?"


"Hm."


"Hiks … Regis."


*


*


*


"Kau mau pergi lagi?"tanya Gerald melihat Roxena yang tak turun dari mobil. Mereka telah tiba di basement apartemen.


"Aku ada urusan. Aku akan segera kembali," jawab Roxena.


"Kalau begitu hati-hati."

__ADS_1


Roxena mengangguk kecil. Erin melajukan mobil meninggalkan basement. Gerald melepasnya dengan tatapan tak rela. Mereka baru saja baikan, ingin menghabiskan waktu berdua lebih banyak. Sayang, tuntutan pekerjaan dan tanggung jawab seakan membatasi.


Hah!


Helaan nafasnya begitu berat. Memang bukan hal baru sebab Elisa juga merupakan wanita karir. Hanya saja … Elisa tak pernah terluka seperti Roxena.


"Tuan." Lily dan Sophia menyambut. Gerald mengangguk singkat dan gegas menuju kamar.


"Tuan kembali. Raut wajahnya tidak buruk. Artinya Tuan dan Nona baik-baik saja, kan?"tanya Lily.


Sophia membenarkan. Keduanya bernafas lega. Sepertinya hilal baik semakin terlihat. Syukurlah.


"Ayo buat makan malam spesial. Dengan anggur terbaik dan dekorasi romantis!"ajak Lily excited.


"Jangan lupa aroma mawar."


*


*


*


Setelah kurang lebih dua minggu penyelidikan dan persiapan, akhirnya seleksi masuk anggota Light and Shadow dilaksanakan. Seleksi ini diikuti oleh kelompok Luxury, Ferrum, dan juga tanpa nama yang sebentar lagi akan melebur menjadi bagian dari Light and Shadow.


Ada sekitar 100 yang akan mengikuti seleksi. Dalam uji coba, Roxena menerima laporan bahwa seratus orang itu berpotensi lulus seleksi. Terlebih lagi, seleksi ini juga berdasarkan keahlian. Roxena ingin setiap anggotanya profesional sesuai dengan bidang keahlian atau keilmuan yang dimiliki.


Yang menyamakan adalah seleksi karakter. Mereka tak ubahnya calon pendaftar yang tengah menjalani ujian masuk pegawai negeri. Ada tes akademik dan kompetensi yang sesuai.


Pertanyaan sosial dan pengelolaan yang diberikan kebanyakan adalah hal umum. Inti yang dipegang oleh Roxena adalah di luar tidak masalah dikenal kejam dan tidak berbelas kasih pada pengusik tapi di dalam harus saling menjaga, memupuk setia.


Karena organisasi adalah rumah. Bukan medan perang. Di mana rumah adalah tempat mendapatkan ketenangan dan rasa aman bukan rasa takut dan was-was.


"Hm." Roxena mengamati peserta yang ujian tertulis. Semua fokus mengerjakan ujian.


"Nona kami mendapat informasi terbaru mengenai Gerakan Misterius. Lalu orang kita yang ditempatkan di dalam istana juga mengirimkan informasi," lapor Luro dengan berbisik pada Roxena.


"Dugaan kemarin bisa dibenarkan?"


"Benar, Nona."


Roxena diam sesaat sebelum memutuskan untuk membicarakan hal ini nanti. Sekarang waktunya seleksi anggota.


Ketua Ferrum terkesiap saat membaca soal selanjutnya.


Pertanyaannya adalah apa yang akan Anda lakukan jika mengetahui keluarga atau rekan Anda mengkhianati Anda dan organisasi? Pilihannya hanya ada dua: langsung bunuh atau interograsi lebih dulu lalu eksekusi.


Tidak ada pilihan lain. Ketua Ferrum menelan ludah, bingung harus memilih yang mana.


Ya, meskipun ini adalah rumah. Ada aturan ketatnya. Hukuman bagi pengkhianat adalah kematian.


Hal yang sama juga dirasakan anggota Luxury. Lain dengan anggota tanpa nama yang langsung memilih. Mereka punya prinsip yang mirip dengan LS. Yakni tidak ada tempat bagi pengkhianat.


Ketua Ferrum dan Ketua Luxury itu akhirnya memilih interogasi lebih dulu baru dibunuh. Barangkali masih bisa diselamatkan dari eksekusi.


"UJIAN SELESAI!" Waktu dua jam telah berakhir. Selanjutnya adalah ujian sesuai dengan keterampilan masing-masing. Mereka memasuki ruang yang berbeda. Roxena menaikkan tingkat kesulitan tahun ini.


Menunggu mereka selesai ujian karena langsung praktik akan memakan waktu yang cukup lama, Roxena berserta ketiga tangan kanannya meninggalkan aula tempat ujian berlangsung tadi.


"Kami menemukan bukti yang mengarah pada pihak kerajaan, Lady." Lyca menyerahkan beberapa berkas foto pada Roxena. Itu adalah foto tato pada tubuh seseorang. Tato berbentuk anyelir merah dan di atasnya ada tato pedang silang.


Anyelir itu adalah bunga nasional Spanyol. "Gerakan misterius ini adalah gerakan yang dibangun oleh pihak kerajaan untuk mengambil alih organisasi kecil dan menengah guna menahan laju perkembangan LS dan juga untuk memperkuat mereka."


"Kami sudah memastikan bahwa Gerakan misterius ini dikendalikan oleh salah satu anggota kerajaan. Dan yang saya curigai adalah … Lady Stella, Lady." Luro menyatakan kecurigaannya.


"Stella?"


"Hm." Roxena mengingat kembali informasi yang dapatkan dari Tuan Luz.


"Hal tersebut didukung kuat oleh stempel yang sesuai dengan tato yang ada di gambar ini. Stempel itu adalah milik Lady Stella."


"Stella ya? Jika seperti ini semuanya semakin jelas."

__ADS_1


Roxena kagum dengan nafsu makan Stella. Mencoba menguasai dunia bawah lalu menjatuhkan saudaranya untuk naik tahta.


"Ini menarik."


__ADS_2