
"Kau mau kemana?"tanya Gerald yang mendapati Roxena tengah mengepak beberapa pakaian ke dalam koper.
"Aku akan keluar negeri beberapa hari," jawab Roxena.
"Perjalanan bisnis?"
"Hm."
"Oh." Gerald melanjutkan langkahnya untuk membuka lemari pakaian, mencari setelan yang cocok untuk hari ini.
"Sepasang suami istri normal akan saling bertanya kabar, aku akan menghubungimu jika sudah mendarat," ucap Roxena.
"Tinggalkan pesan saja. Takutnya aku tidak bisa menjawab panggilanmu," sahut Gerald. Daripada Roxena mengamuk lebih baik mengantisipasi lebih awal.
"Okay." Roxena masih mengepak barang-barangnya. Biasanya Erin atau kedua pelayannya yang mengurus. Namun, karena mereka sudah satu kamar, Roxena melarang mereka masuk ke kamar tanpa persetujuan kecuali di saat darurat. Hal kecil seperti ini mudah ia tangani.
"Berapa lama? Negara mana?"tanya Gerald lagi. Ia tengah memakai dasi. Kemudian merapikan rambutnya. Aroma Pomade yang khas sedikit menyebar menyapa penciuman Roxena.
Roxena menutup kopernya kemudian menatap Gerald. "Tiga hari."
"Ayo sarapan." Roxena melangkah keluar lebih dulu seraya menyeret kopernya. Gerald mengikut setelah memakai jas dan membawa tas kerjanya.
Erin sudah menjemput. Menunggu di ruang tamu dengan setelan non formal. Begitu juga dengan Roxena. Wanita itu menggunakan Jeans dan kaos oversize. Penampilan sederhana, terlebih tak ada perhiasan di leher, telinga, ataupun jari. Hanya ada jam tangan di pergelangan tangan.
"Roxena-" panggil Gerald dengan sedikit ragu. Roxena sudah di ambang pintu, menoleh pada Gerald yang melangkah menghampirinya.
__ADS_1
Roxena tersentak kala kedua tangan Gerald merengkuh pinggangnya, memeluk dirinya.
Lily dan Sophia, juga Erin membelalakkan mata mereka.
"Kau?! Apa-apaan?"
"Kau akan pergi selama tiga hari. Kau harus berhati-hati di sana. Jika kau terluka aku tidak bisa mengobatimu. Kau harus pulang tanpa luka baru! Juga … aku …."
Gerald menjeda ucapannya cukup lama.
"Nona, kita akan terlambat jika lebih lama lagi," ujar Erin.
"Gerald, katakan apa yang mau kau katakan! Aku tidak punya banyak waktu!"tegas Roxena. Gerald memejamkan matanya. Mendekatkan bibirnya pada telinga Roxena.
"Akan sangat merindukanmu." Suaranya lembut seperti angin yang berdesir halus di telinga Roxena.
"Apa-"
"Cepatlah berangkat. Meskipun kau berkuasa, otoritas bandara harus dipatuhi," sela Gerald seraya melepas pelukannya. Lalu menjauh beberapa langkah.
"Nona, ayo." Erin kembali memperingatkan.
"Ah … okay."
Roxena melangkah pergi setelah beberapa saat menatap Gerald. Sepanjang jalan menuju bandara, Roxena melamun. Perasaannya aneh. Kata rindu Gerald mendebarkan hatinya.
__ADS_1
Erin sesekali melirik. Dirinya kembali mengingat sejenak sikap Gerald. Dilihat dari sikapnya, Gerald tak tahu kemana mereka akan pergi. Erin paham, mana mungkin Roxena mengatakannya. Itu hanya akan membangkitkan perasaan lama.
Ah … mengingat tujuan mereka, Erin berharap semuanya akan lancar. Lancar dari yang tidak diharapkan.
"Semakin kupikirkan semakin tidak ada jawabannya!"gerutu Roxena pelan. Erin tersenyum tipis.
"Kita sampai, Nona."
Roxena melangkah keluar sedang Erin bersiap untuk memasukkan mobil ke dalam bagasi pesawat.
Bandara ini sepi. Beberapa pesawat tanpa asal perusahaan penerbangan terparkir rapi. Beberapa petugas bandara sibuk bolak-balik melakukan pekerjaan mereka.
Menara pengamat berdiri tegak dan bangunan bandara tidak begitu luas. Ini adalah bandara kecil dengan landasan pacu yang panjang. Ini adalah bandara pribadi Roxena. Menggunakan pesawat tanpa logo, benar-benar masih motif asli dari perusahaan.
Pesawat Airbus itu bergerak lepas landas dan mengudara. Roxena dan Erin duduk berhadapan.
"Nona … saya sudah mencari tahu informasi terbaru mengenai dia. Katanya membuat desain untuk orang misterius. Apakah mungkin itu orang besar yang bersedia membantunya? Kekuasaan kita di sana tidak begitu besar, takutnya jika dia mencari bantuan orang besar, kita akan dalam masalah." Erin mengutarakan kekhawatirannya. Ia was-was dengan perjalanan kali ini.
"Jangan khawatir," sahut Roxena santai.
"Itu tak patut kita khawatirkan. Justru suasana tenang ini yang harus diperhatikan!"lanjut Roxena kemudian.
"Laut yang tenang lebih mematikan dari laut berombak. Takutnya saat kembali laut tenang ini akan mengamuk dengan gelombangnya. Erin, kau harus bersiap untuk apapun itu!!"
Erin merasa resah dengan penuturan Roxena. Ingin membahas lebih jauh. Tapi, Roxena sudah memejamkan matanya.
__ADS_1
"Kalah jadi abu. Menang jadi arang. Lemah ditindas. Kuat diserang. Dunia dan kehidupan ini benar-benar sulit dipahami. Semakin berfilsafat semakin banyak kebingungan yang terjadi. Kapan … Nonaku akan benar-benar damai?"