Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 95 Penjara Cinta Roxena


__ADS_3

Hari-hari tenang Gerald dan Roxena lewati. Tidak ada masalah dalam hubungan mereka. Saat ini mereka tengah mempersiapkan hadiah apa saja yang akan dibawa untuk acara pertemuan keluarga nanti. Pertemuan keluarga tinggi kurang dari satu minggu lagi.


Hari ini mereka menuju pusat perbelanjaan untuk membeli hadiah. Keduanya menggunakan pakaian senada dan kasual. Menggunakan kaos oblong, memakai topi, masker dan kacamata berwarna senada pula. Monoton memang. Tapi, itu keren. Kata kebanyakan orang semakin berdamage.


Roxena memberi saran hadiah apa saja yang harus dibeli. Ada parfum, dasi, peralatan makan, dan barang-barang lainnya. Tentu membeli semua barang itu dengan kualitas terbaik menguras keuangannya. Namun, hanya sekali saja. Gerald harus memberikan kesan menantu yang baik, membuktikan bahwa ia pantas bersama dengan Roxena meskipun ia tidak sekaya Roxena.


“Kau tidak membeli sesuatu, Xena?”tanya Gerald karena sedari tadi mereka hanya membeli hadiah yang akan dibawa ke acara pertemuan keluarga itu. Sudah ada 10 paper bag yang ia bawa. Dan Roxena membawa dua. Total 12 paper bag.


“Hm, aku tidak membutuhkan barang apapun,” jawab Roxena. Jika dibeli tanpa digunakan, pemborosan.


“Hanya saja aku sangat lapar,” aduh Roxena dengan mata memelasnya. Gerald tertawa renyah. Roxena memang sesuatu.


“Kalau begitu ayo kita makan. Mau makan apa?”


Mereka menuju area food court. Berkeliling mencari stand yang menarik selera mereka. “Seafood sepertinya enak,” tunjuk Roxena ke salah satu restoran seafood yang ada di sana.


Mereka masuk ke restoran itu. Memesan kepiting dan lobster besar, dan beberapa menu lainnya. Tak lupa juga memesan minuman dan dessert, paket komplit.


“Setelah ini langsung pulang?”tanya Roxena selagi menunggu makanan datang.


“Kau mau ke mana lagi?”balas Gerald, ia ikut keinginan Roxena saja. Roxena memikirkan sebuah tempat.


“Ada satu tempat. Aku yakin kau akan suka.”


“Tempat seperti apa itu?” Gerald penasaran yang dijawab dengan senyum misterius Roxena.


Beberapa saat kemudian, pesanan mereka datang. Semua menggugah selera. Mereka makan dengan lahap. “Coba daging kepiting ini.” Gerald memberikan daging kepiting bagian capit yang paling besar, yang isinya full daging.


“Enak?”


“Hm.”


“Kita beruntung, Xena!”ucap Gerald saat membuka cangkang kepiting itu, mendapatkan kepiting yang ada telurnya. Rasanya sangat enak. Roxena menyukainya.


“Udangnya lezat, cobalah.” Roxena menyuapkan daging udang pada Gerald.Gerald menyetujuinya. Restoran ini memiliki penyajian yang bagus, rasa dan kualitasnya juga bagus. Pantas saja ramai.


Setelah menghabiskan semua pesanan, mereka beristirahat sejenak sebelum membayar dan meninggalkan restoran. “Hm.”


“Ada apa, Xena?”tanya Gerald, ketika Roxena menghentikan langkahnya. Roxena menggumamkan sesuatu, tidak jelas.


“Kembang gula. Tiba-tiba aku ingin gula kapas.”


“Gula kapas?” Gerald mengingat-ingat nama dan bentuk makanan itu. Ahh … ia tahu. Camilan yang disukai anak-anak tapi akan menyebabkan sakit gigi jika dikonsumsi secara terus menerus.


“Kau mau itu?”


Roxena mengangguk. “Baiklah. Ayo kita cari.”


Roxena tertawa menunjukkan deretan giginya. Mereka menuju mobil, setelah menyimpan barang di bagasi, Gerald melajukan mobil meninggalkan basement mall, mencari gula kapas keinginan Roxena. Biasanya, sering ada di pasar malam atau pasar tradisional, kebetulan hari juga sudah mulai gelap. Dan ada pasar malam yang sedang buka.


“Tunggu aku,” ujar Gerald. Roxena mengangguk. Gerald pergi sendiri mencari gula kapas di luasnya pasar malam. Roxena menunggu di mobil sambil memeriksa email masuk.


Cukup lama, butuh waktu sekitar 30 menitan baru Gerald kembali dengan dua bungkus gula kapas dan satu mangkuk size large. Ada bola warna warni yang sepertinya beku, Roxena asing dengan makanan itu.


“What this?”tanya Roxena.

__ADS_1


“Di bannernya tertulis dragon breats. Aku penasaran jadi aku beli. Ayo kita coba,” ajak Gerald, ia mencoba lebih dulu.


Gerald bergidik dingin saat snack yang dilapisi gas nitrogen itu menyentuh lidahnya, sensasi dingin hingga ia bisa menghembuskan uap dingin, persis saat bernafas di musim dingin.


“Gas Nitrogen?”


“Hm. Ini enak, ayo kau harus mencobanya.” Roxena tidak mau.


“Jangan makan itu, kau dokter tapi tidak bisa membedakan mana yang boleh mana yang tidak. Jangan beli makanan karena rasa penasaran dan menariknya. Tapi, harus tahu kandungan yang ada di dalamnya,” omel Roxena. Ia tidak memaparkan lebih jauh karena menganggap bahwa sebagai dokter, Gerald sudah memahami bahaya zat kimia jika tidak digunakan pada tempatnya. Sebenarnya, snack itu aman-aman saja. Namun, alangkah lebih baiknya dihindari.


Melihat itu, Gerald menyimpan snacknya. Cukup satu saja yang ia coba. “Baiklah. Gula kapasnya sudah dapat, selanjutnya ke mana kita?”


“Jadi ke tempat yang kau sebutkan tadi?”


“Ikuti mapsnya.”


“Okay.” Gerald mengemudi mengikuti petunjuk maps. Dan kini mereka berada di pinggir sungai. Lokasinya bersih dan sungainya terlihat sangat cantik. Pinggirnya berupa pasir bebatuan, bukan tanah ataupun lumpur. Ini tempat yang cantik.


Gerald sampai terpana. Pantulan bulan terlihat sangat indah. Suasana malam tidak begitu dingin, malah hangat karena ini adalah musim gugur. Roxena keluar dengan membawa gula kapas yang Gerald belikan tadi dan sebotol anggur. Benar, di mana-mana ada anggurnya. Mobil, kamar, dan ruang kerjanya.


Roxena duduk di bebatuan bercampur pasir itu, meletakkan botol anggurnya kemudian menikmati gula kapas. Rasanya manis, biasa saja. Padahal tadi begitu ingin.


“Tidak mau lagi?” Melihat Roxena menyimpan kembali gula kapas itu.


“Tidak mau lagi. Anggurku lebih menarik,” sahut Roxena disambut dengusan Gerald. Gerald merebut gula kapas dan anggur tadi tangan Roxena.


“Hei, kembalikan anggur berhargaku!!”


“Sebentar.” Gerald mengecek kadar alkoholnya. Rendah, lalu mengembalikan pada Roxena. “Jangan minum terlalu banyak.”


“Gula kapas ini tiba-tiba aku menginginkannya.” Memasukan gula kapas ke dalam mulut, dalam sekejap menghilang. Gerald memakai jalan pintas yakni mengepalkan satu gula kapas itu menjadi sebuah gumpalan padat. Barulah ia menikmatinya.


Roxena mulai menenggak anggurnya. Tidak ada percakapan. Sama-sama menikmati keheningan dengan backsound suara serangga liar.


"Aku puas dengan kehidupanku yang sekarang." Roxena kembali membuka pembicaraan. Gerald menoleh. Jika ditanya, Gerald juga merasakan hal yang sama.


"Aku merasa semua tujuan yang aku buat hampir tercapai. Selanjutnya, aku tinggal menikmati hidup saja." Menikmati hidup yang dimaksud adalah menjalani rutinitas seperti biasa tanpa berurusan dengan hal-hal seperti yang belakangan terjadi. Tanpa ada urusan dengan keluarga kerajaan dan tanpa ada hal besar yang mengganggu rumah tangganya.


Jika ada pertengkaran, itu adalah hal biasa. Karena rumah tangga tanpa pertengkaran akan terasa hambar. Note, pertengkaran akan menjadikan rumah tangga semakin harmonis jika ditanggapi dengan baik. Lain cerita jika sama-sama batu. Lain cerita jika hanya salah satu yang mendominasi karena akan kerap menimbulkan salah paham.


"Mari menua bersama, Xena. Melewati suka dan duka bersama sampai maut memisahkan." Gerald menarik Roxena bersandar di bahunya.


"Impian kita sangat sederhana. Namun, mengapa kebanyakan implementasi sangat sulit?"tanya Roxena. Hanya ingin hidup bahagia tapi semakin banyak polemik yang datang. Bukankah itu mengesalkan?!


"Karena impian yang sederhana itu sangat berharga, Xena. Untuk mendapatkannya membutuhkan perjuangan dan ujian. Jadi, harga yang sederhana justru sangat mahal," tanggap Gerald. Ia menatap langit malam yang gemerlap dengan bulan dan bintangnya.


"Jadi, kita harus menghargai setiap kebahagiaan yang kita dapatkan. Kita tidak boleh menyia-nyiakannya. Dan kita harus selalu bersyukur kepada Tuhan."


"Setelah aku pikir-pikir, aku bersalah pada Ayah."


"Xena, kau?" Gerald terperanjat. Perkataan yang tidak disangka-sangka.


"Xena, kau memaafkannya?"


"Aku tidak bisa menyerahkan pilihan seseorang. Termasuk pilihan Ibu untuk bertahan bersama dengan Ayah sampai dia pergi dengan cara yang tidak layak." Roxena memejamkan matanya. Ibunya sangat mencintai sang Ayah. Bahkan daripada bercerai, memilih untuk bunuh diri sebagai istri dari Tuan Lawrence.

__ADS_1


"Sebenarnya aku sudah tahu bahwa Ayah merasa sangat bersalah dengan apa yang terjadi pada Ibu, juga sangat sedih dengan perubahanku. Ya meskipun aku sudah sangat tua, jiwa kekanakanku tidak hilang. Aku yang kesal memilih bersikap dingin dan mengabaikan. Siapa sangka, malah terus sampai saat ini," kekeh Roxena.


"Dasar kau ini! Lekaslah berbaikan dengan ayah mertua. Aku yakin kau akan merasa lebih baik setelah melakukannya," cetus Gerald percaya diri.


"Mungkin. Karena sejatinya masalah itu dihadapi bukan dihindari. Luka di hati, kita tidak bisa melarikan diri kemanapun karena kita selalu membawa hati kita pergi. Menjauh hanya mengurangi sedikit. Lukanya tetap ada dan tidak akan hilang sampai kita bisa berdamai dengannya." Roxena mendongak menatap langit.


"Kau benar, Xena," setuju Gerald.


"Puncak tertinggi dalam kehidupan adalah hati yang ikhlas. Ikhlas yang membawa pada kedamaian. Sayangnya, bahkan aku sendiri tidak bisa melakukannya," ucap Roxena, tersenyum kecut.


"Aku mencintaimu, Xena."


Roxena memejamkan matanya, tersenyum.


Aku akan segera memberitahumu, Gerald. Sirius, bersabarlah sebentar lagi, Nak.


"Omong-omong, Xena. Ini tempat apa?"tanya Gerald.


"Aku biasa menggunakan tempat ini untuk menjernihkan pikiran. Suara arus air ditambah dengan suara jangkrik liar membantuku melepaskan stress."


"Ah, lihat aku." Biasanya berdiri kemudian mencari beberapa batu. Ia menghadap ke arah sungai dengan posisi melempar. "Lihat, batunya berjalan di atas air."


Roxena ketawa senang. "Ayo coba, Gerald. Ini tidak berbahaya melainkan menyenangkan." Sengaja mengingatkan sedikit sindiran.


Gerald ikut bermain dengan rasanya. Melemparkan batu ke atas sungai. Percobaan pertama ia gagal, batunya tenggelam begitu saja. Roxena kembali memberikan contoh. Dari mulai gesture yang pas serta batuan yang cocok untuk bisa berjalan di atas air. "Lihat ini sangat sederhana."


Gerald kembali mencoba. Percobaan kedua sudah lebih baik meskipun hanya bisa dua kali lompatan. Kembali mencoba dan mencoba, tawa rasanya begitu lepas. Kembali mereka mengukir malam yang penuh dengan kenangan manis.


Puas bermain lempar batu ke sungai, mereka berbaring menatap langit yang begitu indah. Begitu banyak bintang yang terlihat malam ini. Bulan masih pada posisinya bersinar dengan indah.


"Aku sangat bahagia," ungkap Gerald.


"Tempat ini sangat menarik, bukan?"


"Ya, sangat menarik. Tidak perlu mengeluarkan biaya masuk, dengan bahan yang disediakan oleh alam, kita bisa sebahagia ini," sahut Gerald. Ia menikmati kencan dadakan ini.


"Sebenarnya bukan dunia yang tidak adil. Dunia berputar mengikuti perkembangan penghuninya," ujar sendu Gerald. Apa salah dunia? Dia hanyalah benda mati yang berputar mengikuti perkembangan. Salahkan salah nurani manusia yang keadilannya sudah terkikis.


"Jangan pernah mencari keadilan di dunia. Karena sulit menemukan yang benar-benar adil. Aku pernah membaca, keadilan yang hakiki adalah keadilan Tuhan. Yang sudah diberitahukan kepada kita lewat kitab."


Gerald memiringkan tubuhnya ke arah Roxena. "Xena."


"Hm?"


"Xena."


"Hm?" Roxena melirik.


"Xena."


"Apa?" Roxena menatap Gerald, beradu pandang.


"Aku mencintaimu."


"Kau sudah lupa kata-kataku, Gerald? Cukup satu pengakuan untuk dipegang selama hidup," decak Roxena.

__ADS_1


"Aku tahu. Aku hanya ingin mengatakannya lagi."


__ADS_2