Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 64 Penjara Cinta Roxena


__ADS_3

Diawali dengan kebencian, Gerald menjalani pernikahan yang tidak diinginkan. Roxena menariknya masuk dalam penderitaan dan kebingungan. Dirinya dibuat seperti orang bodoh, seperti kerbau yang dicucuk hidungnya.


Pernikahan bagai air dan api ia lalui. Hidup satu atap dengan Roxena. Diawali dengan kebencian dan lambat laun Gerald menemukan fakta tentang Roxena.


Kehidupan masa lampau. Hubungan yang belum usai dan kebencian membawa Roxena menghadapi penderitaan tak berujung. Mimpi masa lalu yang menyiksa dan akhirnya menyadari semua penderitaan yang Roxena alami adalah karena dirinya. Penderitaan yang ia alami adalah karma.


Kebencian itu telah berpindah menjadi cinta. Perasaan masa lalu menang. Baik di kehidupan lalu maupun kehidupan saat ini, Gerald mencintai Roxena.


Hadirnya Elisa dan Regis semakin menguatkan perasaan cinta Gerald untuk Roxena. Perasaan terancam saat Roxena dan Regis bertatapan. Gerald tidak ingin Roxena pergi dirinya.


Di kehidupan kali ini … sepertinya juga akan gila karena cinta.


Perasaan menggebu, kerinduan yang mendalam di awal perceraian dengan Elisa. Rindu dan rasa bersalah yang begitu menggunung, saat ini rindu itu meluap tak tersisa. Hanya ada rasa bersalah pada Elisa.


Oleh karenanya, ia tak mendorong Elisa saat memegang tangan bahkan mengecup bibirnya. Berpikir bahwa ini adalah akhir dari hubungan masa lalu mereka.


"Gerald … ayo kabur! Aku sudah mempersiapkan semuanya! Tempat kita bisa terhindar dari wanita jahat itu!"ajak Elisa."


Elisa menatap harap Gerald. Menggenggam kedua tangan Gerald. "Ayo pergi dan hidup bahagia bersama anak kita." Membawa Gerald untuk menyentuh perutnya.


Gerald tersentak. Buru - buru menarik tangannya. Elisa memandangnya heran dan was-was.


"Ada apa, Gerald? Apa kau tidak mengenalinya? Ini anak kita," ungkap Elisa sumringah. Lalu … tatapannya berubah melihat ekspresi Gerald.


"K-kau tidak mungkin percaya dengan kata-kata Nyonya Francois, kan? Gerald aku akan menjelaskan semuanya. Anak ini anak kita. Tidak ada hubungan dengan Regis. Lalu hubunganku dengan Regis, semua hanya sandiwara karena aku perlu bantuannya agar kita bisa bertemu dan melarikan diri. Gerald aku sama sekali tidak mengkhianatimu. Aku mohon percaya padaku," panik Elisa, kembali menggapai tangan Gerald.


"Aku bisa membuktikan jika dia adalah anak kita! Gerald … kau masih mencintaiku, kan? Kau percaya padaku, kan?" Air mata Elisa kembali luruh. Ada keputusan adaan dalam tatapannya.


Di balik kediaman Gerald, ada gada besar menghantam dirinya. Ia kenal betul dengan Elisa, mana mungkin berbohong padanya. Terlebih jikapun itu bukan anaknya, untuk apa menyakinkan seperti ini? Meskipun Regis cacat, jauh lebih baik daripada dirinya.


"Gerald katakan sesuatu. Kau mau kan? Kabur dari sini?"


"Elisa." Suara serak Gerald memanggil nama wanita yang telah bersemayam di hatinya selama ini sebelum akhirnya cinta kehidupan masa lalu bangkit.


Masa boleh berganti. Tapi, perasaan tidak bisa berbohong. Di kehidupan lalu atau kehidupan sekarang, ia tidak akan melepaskan Elisa. Gerald tidak ingin melepas keegoisannya. Ia adalah pejuang. Tidak boleh gagal untuk kedua kalinya!


"Maaf."


"Maaf? Untuk apa, Gerald?!" Elisa semakin panik.


"Karena kau menceraikanku? Aku tidak marah padamu. Aku tahu kesulitanmu. Kau tidak perlu merasa bersalah!"sangkal Elisa cepat.


Gerald memejamkan matanya. Berat untuk mengatakannya. Gerald tidak tahan dengan air mata Elisa, menyeka pipinya.


"Kita sudah tidak sejalan lagi, Elisa. Takdir kita sudah terpisah."


Deg!


"Gerald?" Elisa gemetar. Ketidakpercayaan ia tunjukkan.


"K-kau tidak ingin kembali denganku? Meskipun aku hamil anak kita? Apa alasannya, Gerald?! Apa kau jatuh cinta pada wanita jahat itu?! Kau meninggalkanku dan memilihnya? Wanita jahat yang menghancurkan kehidupan kita?!" Emosi Elisa pecah seketika. Ia memukul dada Geral. Bahunya bergetar hebat dan tangis semakin keras.


"Maaf."


"Aku ingin penjelasan, Gerald!"tandas Elisa.


"Benar. Aku mencintainya," ucap Gerald.


Deg!


Bagai disambar petir, Elisa mematung di tempatnya. Matanya yang merah terus mengeluarkan air mata. Kenangan mereka selama ini, lalu kata terakhir Gerald memenuhi kepalanya.


"Kita sudah berpisah sejak aku menceraikanmu, Elisa. Aku mencintainya. Sangat mencintainya. Aku tidak akan pergi darinya!" Gerald mengatakannya dengan mata yang memerah. Ia menahan tangisnya. Berusaha untuk teguh pada keputusan yang ia ambil.


"Mengenai anak itu … menikahlah dengan Regis. Sandiwaramu terlalu bagus untuk dihancurkan."


"G-Gerald?!" Elisa tidak percaya Gerald mendorong dirinya kepada Regis, bahkan tidak mengakui anaknya sendiri?!


"Hanya dalam beberapa bulan … kau berpaling?! Apa yang wanita itu berikan padamu?! Apa yang wanita itu lakukan padamu? Kau diberi obat, kan?! Otakmu dicuci olehnya, kan?!"

__ADS_1


Elisa memeluk erat Gerald. Ia tidak mau percaya. Melemparkan amarah pada Roxena.


Mana mungkin Elisa percaya. Hubungan mereka bukan hubungan seumur jagung. Hubungan mereka telah berakar kuat dan melewati berbagai rintangan hingga akhirnya menikah. Elisa yakin ada alasan tersembunyi.


"Aku menyakitimu lagi. Maaf, Elisa. Aku tidak bisa kembali padamu." Gerald membalas pelukan itu.


"Pergilah. Bahagialah bersama dengan Regis." Setelahnya Gerald melepaskan pelukannya, meninggalkan Elisa yang jatuh bersimpuh di lantai.


"Gerald hiks, Gerald!!"teriak Elisa histeris. Sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.


"Elisa!!" Pintu kamar terbuka. Regis masuk dengan didorong oleh asistennya.


"Bawa Elisa ke tempat tidur."


"Panggil dokter!"


Asistennya bergegas melaksanakan perintah. Sementara Regis menunggu Elisa.


Cemas, ia menggenggam erat jemari Elisa. Wajah pucat Elisa menakuti hati Gerald.


"Kau harus baik-baik saja, Elisa. Aku tidak mau kehilanganmu lagi."


"Gerald Chaddrick!"


Netra Regis begitu dingin saat menyebut nama Gerald. Sebenarnya ia menunggu di luar sejak Elisa membawa Gerald masuk. Menanti dengan was-was. Menerima apapun yang terjadi. Tapi, tidak pernah menduga jika Gerald pergi meninggalkan Elisa. Bahkan Gerald tidak berbalik ke belakang.


*


*


*


Gerald terduduk tak berdaya setelah tiba di kamarnya.


Di luar ia memang terlihat dingin. Tapi, hatinya hancur. Gerald menangisi keputusannya. Menangisi kenangannya dengan Elisa. Di kehidupan ini, Elisa adalah cinta pertama dirinya. Sementara Roxena adalah cinta abadinya. Keduanya punya tempat tersendiri di hati Gerald. Hanya saja, ia mengambil keputusan untuk menutup hati untuk Elisa.


Gerald melampiaskan kesedihan dan rasa bersalahnya dengan meraung dan menjerit. Memukul dadanya yang kian terasa sesak. Puas dengan itu, Gerald tertunduk layu. Sorot matanya kosong.


Keputusan menyerahkan Elisa pada Regis diambil berdasarkan pengamatan Gerald. Regis tidak seperti bersandiwara. Tatapan Gerald tulus pada Elisa. Juga diterima baik oleh keluarga Regis. Bersama Regis, Elisa akan aman baik secara finansial dan juga keselamatan.


Gerald bukan dirinya yang dulu lagi. Andai kata kembali bersama ia tak akan mampu bersikap seperti dulu lagi. Hatinya yang telah terbagi dan condong pada Roxena akan menyakiti Elisa. Lebih baik memberikan sakit yang teramat daripada berlarut-larut.


Aku melepasmu untuk kebahagiaanmu, Elisa. Ku mohon jangan berbuat hal nekat dan bodoh lagi. Maafkan aku. Aku bukanlah jodohmu. Cinta kita berada di tempat yang salah.


*


*


*


"Apa yang Anda pikirkan, Nona?"tanya Erin dalam perjalanan pulang kembali ke hotel.


"Aku memikirkan Gerald. Sedang apa dia sekarang? Sudah bertemu dengan Elisa atau belum. Jika sudah keputusan apa yang ia ambil. Lalu apa yang harus aku lakukan?"jawab Roxena dengan sorot mata dinginnya.


"Dengan tipe Anda, Anda tidak akan melepaskan Tuan," celetuk Erin.


"Cepatlah, Erin. Aku tidak sabar bertemu dengannya," ketus Roxena seraya melirik beberapa tangkai mawar merah di sisinya.


Erin mendengus sebal. Ia mulai terbiasa dengan perubahan emosi Roxena mengenai perasaan.


Anda adalah hidup saya, Nona. Tidak peduli keputusan Anda benar atau salah, saya akan berada di sisi Anda. Loyalitas saya tak berujung.


*


*


*


"Gerald!"seru Roxena mendapati Gerald berbaring di lantai dalam kondisi tak sadarkan diri. Roxena menjatuhkan bunganya dan segera menyongsong Gerald. Suhu tubuhnya panas. Bibirnya pucat.

__ADS_1


Segera Roxena membawa Gerald pindah ke ranjang lalu menghubungi Erin untuk memanggil dokter.


Menunggu dokter, Roxena mengelap keringat yang membanjiri wajah Gerald.


"Apa yang terjadi padamu?"lirih Roxena.


"Aku sudah memberimu kesempatan untuk lari atau menetap. Bukan terbaring seperti ini!"


"Ugh!"


Tiba-tiba Gerald menggenggam erat jemari Roxena.


"Nona!" Erin datang bersama dengan dokter.


"Periksa suamiku." Roxena tak menyisih sebab Gerald menahan tangannya.


"Bagaimana keadaannya?"tanya Roxena cemas.


"Suami Anda kelelahan, Nyonya. Akan baik-baik saja setelah beristirahat dengan cukup. Saya akan berikan vitamin untuk suami Anda." Dokter menjawab. Kemudian mengeluarkan satu tablet vitamin.


"Hanya kelelahan? Tubuhnya panas begini! Tidak perlu diinfus?"cecar Roxena tak percaya.


"Kelelahan yang dialami suami Anda bukan hanya secara fisik namun juga mental. Saya pikir obat terbaiknya adalah Anda sendiri, Nyonya," jawab dokter sembari melihat genggaman tangan Roxena dan Gerald.


Roxena memijat dahinya. Lalu mengibaskan tangan menyuruh dokter itu keluar. Erin ikut keluar.


"Karena Elisa?"


"Kau sudah bicara empat mata padanya? Kau ada di sini artinya kau memilih untuk tinggal?" Roxena menerka-nerka.


"CK!"


"Kau yang memutuskan aku yang kesusahan. Aku akan memberimu hukuman!"ketus Roxena.


Tapi, tak menutupi rasa senang pada netranya. Ada kelegaan yang ia rasakan.


"Xena."


"Kau sudah sadar?"


Roxena menatap Gerald yang menetapnya penuh arti. Bibir pucat itu menyunggingkan senyum. "Jangan tinggalkan aku. Aku sudah memilihmu," ucap Gerald lirih. Roxena menyipitkan matanya, menyembunyikan hati yang bermekaran.


"Mengapa kau seperti ini?" Namun, ditutupi dengan ketusan.


"Tidak apa-apa. Aku hanya melepaskan masa laluku. Aku pikir tidak masalah tapi hatiku tak sanggup. Maaf merepotkanmu."


"Gerald Chaddrick! Ingatlah keputusanmu hari ini!"ucap lantang Roxena. "Kau memutuskan untuk tinggal maka jangan harap bisa pergi dariku. Sakitmu hari ini aku anggap sebagai penutup lembaran perasaanmu dengannya!"


"Aku akan mengingatnya."


"Tidurlah. Tubuhmu terlalu lemah!"titah Roxena. Gerald menurut. Ia kembali memejamkan mata, tak melepaskan genggaman tangannya dari Roxena.


"Nona."


"Ubah penerbangan sampai Gerald membaik."


"Si, Nona."


"Lalu aku ingin tahu kabar Elisa."


"Si, Nona." Erin kembali undur diri.


Roxena mengulurkan tangannya menyentuh wajah Gerald.


Kau tidak berubah, Gerald. Kau bisa mengorbankan orang yang kau cintai demi cinta yang lain. Seperti waktu itu, kau menghancurkan banyak kebahagian hanya karena tidak terima aku memilih Regis.


Memilihmu? Aku pernah bersumpah untuk tidak jatuh cinta padamu, Gerald. Tujuanku tidak berubah, Gerald. Aku akan tetap memasangkan rantai di lehermu. Menyiksa lalu memberimu hal manis. Hingga kau tidak bisa membedakan mana cinta dan siksaan.


Gerald … mana mungkin dendam yang berakar di hatiku hancur dalam beberapa tahun. Sedang kebencianku terus bertambah seiring kehidupanku.

__ADS_1


Ini adalah karmamu, Gerald. Ini bukanlah akhir, ini adalah awal. Memberikan hati dan kepercayaanmu padaku dengan harapan bisa menebus dosa-dosamu, kau terlalu memandang tinggi dirimu. Bahkan rasanya tidak cukup satu kehidupan membalas rasa sakitmu.


Aku senang kau mengambil keputusan ini. Jadi, tak perlu merepotkanku lebih jauh. Karena ini awal yang baru maka aku ucapkan selamat datang padamu, Gerald!


__ADS_2