
Gerald kembali memimpikan kehidupan pertama. Gerald melihat hamparan bunga candytuft berwarna ungu pada bagian pinggir dan berubah menjadi putih jika sendiri ke tengah. Ada pula yang berwarna merah jambu. Gerald terpana menyaksikan keindahan itu. Dengan teriknya matahari dan pepohonan yang kehilangan daunnya, bunga itu malah bermekaran.
Candytuft adalah bunga liar mempesona yang kini sudah banyak dibudidayakan. Ini melambangkan ketidakpedulian. Yah maknanya berbanding terbalik dengan visualnya yang memukau. Melambangkan ketidakpedulian merujuk kepada karakter bunga candytuft yang merupakan bunga liar dan tumbuh subur meski tidak dipedulikan bahkan dalam suasana musim panas. Namun, itu hanyalah masa lalu.
Perhatian Gerald teralih begitu mendengar derai tawa yang terdengar familiar. Matanya menyipit karena sinar matahari begitu terik. Ia memastikan pemilik derai tawa itu.
Benar. Itu adalah Roxena. Yang sedang bermain dengan seorang anak kecil. Tawanya begitu lepas, sayangnya begitu indah, benar-benar sangat bahagia.
"Ayo kejar Rey, Ibu! Ayo, Ibu … hahaha …."
Gerald terpaku. Wajah anak laki-laki itu tidak asing. Dia adalah Rey, putra pertama Roxena dengan Regis.
"Hahaha ibu … ayo … hahaha …."
Mereka berlarian di hamparan bunga itu. Melihat itu Gerald turut tersenyum.
"Ahhh!"
"Rey!"
Gerald refleks hendak berlari. Namun, ia menyadari bahwa ini adalah mimpi. Ia hanya bisa melihatnya.
"Ibu … hiks …." Roxena melihat lutut Rey yang terluka karena terjatuh. Meniupnya dengan penuh sayang.
"Masih sakit?"
"Hiks … sakit, Ibu." Air mata Rey bercucuran.
Roxena kembali meniupnya. Meskipun masih menangis, Rey tersenyum manis. "Sudah tidak sakit lagi, Ibu."
"Benarkah?" Rey mengangguk mantap. Roxena kemudian menggendong Rey.
"Kita periksa ke dokter baru Ibu bisa tenang, bagaimana?"
"Iya, Ibu."
Pantas Xena begitu putus asa. Dia sangat menyayangi Rey, gumam Gerald. Dan kini, ia berpindah tempat.
Sebuah kamar luas yang begitu mewah. "Sudah lima tahun. Aku ingin anak, Xena." Gerald mengenali suaranya. Suaranya memelas, Gerald melangkah mendekati suara.
Di tempat tidur, ia melihat dirinya yang berlutut di depan Roxena. Dirinya itu tengah mengiba.
"Aku tidak ingin mengandung anakmu," jawab Roxena ketus. Menghempaskan tangan Gerald dari tubuhnya.
"Mengapa kau tidak mau mengandung anakku, Xena? Ini tidak adil. Kau mengandung dan melahirkan anaknya tapi tidak mau memiliki anak denganku. Aku juga suamimu, Xena!"
"Aku tidak pernah mengakuimu!"balas Roxena. Ekspresinya berbeda jauh saat berada di hamparan bunga tadi.
Gerald di masa lalu mengepalkan kedua tangannya. Tampaknya tidak bisa menahan emosi lagi. Pria itu berdairi, "dengar, Xena! Aku adalah kaisar dan kau permaisuri. Sudah tugasmu untuk melahirkan pewaris! Kau tidak bisa menghindarinya!!"tegas Gerald menunjuk wajah Roxena.
Wajah Roxena semakin menggelap mendengarnya. "Aku tidak mau!"tegas Roxena sekali lagi.
"XENA!!"teriak Gerald marah.
"Dengar! Tidak peduli kau mau atau tidak kau harus melahirkan anak untukku!" Memaksa.
Roxena mencoba lari tapi ia kalah cepat. Tubuhnya dilemparkan ke ranjang. Sebelum bisa memberontak, kedua tangannya diikat kuat.
"Lepaskan aku, Gerald! Br*ngsek!"
"Aku tidak mau! Lepaskan!!"
Gerald menulikan pendengaran. Penolakan, kecemburuan, dan juga tuntutan pejabat istana membuatnya kembali gelap mata.
"Sakit! Lepaskan aku, menjauh dariku! Pergi kau, Br*engsek!!"hardik Roxena. Sayangnya, tidak berguna. Gerald malah semakin bringas.
"Aku membencimu, Gerald! Aku bersumpah akan membunuhmu!"desis Roxena sebelum tak sadarkan diri.
Gerald membeku menyaksikan kebejatannya. Bahkan setelah Roxena tak sadarkan, dia tidak berhenti hingga mencapai puncak pelepasan.
"Brengs*k!!"umpat Gerald pada dirinya sendiri. Kemudian, Gerald terbangun dari tidurnya dengan keringat mengucur deras. Napasnya terengah. Gerald masih terkejut dengan mimpinya.
"Are you okay, Gerald?" Suara familiar. Gerald menoleh. Roxena menatapnya khawatir.
__ADS_1
Grepp!!
Gerald segera memeluk Roxena. "Kau bermimpi buruk?" Gerald menyembunyikan wajahnya di ceruk Roxena. Roxena menepuk-nepuk pelan bahu Gerald, menenangkan sang suami.
"Tidak apa. Hanya mimpi buruk."
"Maafkan aku," parau Gerald serak.
"Maafkan aku, Xena hikss … maaf …."
Roxena menerka bahwa Gerald memimpikan masa lalu. Kali ini entah hal mana yang membuat Gerald seperti ini.
"J-jika kau tidak mau memiliki anak dariku, aku tidak akan memaksa. Aku tidak keberatan. Aku tidak akan memaksa, Xena … maaf …."
Ahh … barulah Roxena tahu mimpi kejadian mana. Sorot mata Roxena sendu mengingatnya.
Ingatan itu adalah salah satu ingatan mengerikan. Ia dipaksa untuk mengandung anak Gerald. Tidak keluar dari kamar. Melakukan hubungan sampai ia dinyatakan hamil.
Jangankan Roxena yang mengalaminya, Gerald yang melihatnya saja trauma dan mengutuk dirinya sendiri.
Roxena menghela nafas kasar. "Sudahlah. Sudah berlalu."
"Meskipun sudah berlalu, kau tetap mengingatnya kan? Aku yang brengsek dan kehilangan akal. Aku yang dipenuhi dengan kecemburuan hingga melumuri tanganku dengan darah dan kebencian. Aku … seorang pendosa, Xena. Aku tidak pantas dimaafkan. Hiks …."
Mata Roxena memerah.
"Mengapa kau mengatakan itu? Kau tidak puas dengan yang sekarang? Ingin aku memperlakukanmu seperti dulu?!" Roxena marah. Ia sudah mencoba bangkit dari masa lalu, memulai awal baru. Gerald malah terperangkap di dalamnya.
"Aku tidak masalah. Tapi, apa gunanya lagi?"
"Lupakan saja, Gerald!"
"Xena … tidak … mengapa kau begitu pemaaf padaku? Aku sudah menghancurkan hidupmu. Apa yang aku alami belum seberapa?"
Plakk!!
Tidak tahan lagi, Roxena menampar Gerald. "Cukup!!"
"Hentikan omong kosongmu! Aku memaafkanku sudah cukup mengakhiri semua itu!!"tegas Roxena.
"Kau hanya perlu mengingat satu hal, Gerald! Jadilah suami yang baik untuk menebus kesalahanmu di masa lalu!"tegas Roxena sekali lagi.
Mimik Gerald bercampur aduk. Malu pada dirinya sendiri. Membencinya dirinya. Juga kagum dengan kelapangan hati Roxena.
Sejak awal akulah yang salah. Apa yang aku alami, sudah menjadi suratan takdirku.
"Xena …."
"Jangankan katakan apapun. Tenangkan dirimu." Roxena bangkit dari ranjang. Bersiap untuk berangkat kerja.
"Aku membuatnya marah. Maaf, Xena."
*
*
*
"Anda memikirkan apa, Nona?" Sejak berangkat menuju perusahaan sampai sekarang, Roxena tidak fokus pada pekerjaannya. Berulang kali menghela nafas kasar.
Padahal kemarin baik-baik saja. Apakah bertengkar dengan Gerald atau ada masalah lainnya yang tidak Erin ketahui.
"Aku pernah mengobrol dengan Gerald tentang cara kami menyikapi sesuatu. Secara rasional atau emosional. Belakangan ini, dia sangat emosional. Aku menyukainya yang cerdas, peka, cepat mengerti, dan sedikit keras kepalan. Tapi, aku sama sekali tidak menyukai dirinya yang pesimis."
"Jelaskan hubungan kami sudah sangat baik terlepas dari masa lalu. Aku juga sudah hamil dan tadi pagi dia banyak beromong kosong. Bagaimana mungkin aku tidak marah?! Sudah payah aku meluruskan benang merah, dia malah semakin terjerat di dalamnya."
Erin tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Urusan rumah tangga Gerald dan Roxane terlalu rumit.
"Kini aku memikirkan rencana takdir."
"Takdir sudah ditetapkan, Nona."
"Sama saja!"
__ADS_1
"Kemana takdir membawa hubungan ini? Akhir yang seperti apa dan apakah akan berakhir sampai di sana?"
"Memikirkan arah takdir, manusia tidak bisa memastikannya, Nona. Karena takdir adalah rahasia Tuhan. Manusia hanya bisa melakukan yang terbaik." Erin menanggapi.
"Kau benar. Hah, aku terlalu emosional hari ini. Mungkin karena kehamilanku."
Roxena merasa bahwa tadi pagi dirinya berlebihan sampai menampar Gerald. "Aku akan minta maaf nanti."
"Putra Mahkota Xavier sudah kembali, Nona. Sudah mulai menjalankan tugas kenegaraannya," lapor Erin, merasa Roxena sudah mendapatkan fokusnya lagi.
"Hm …."
"Pihak kerajaan mengeluarkan pernyataan bahwa Stella akan cuti melakukan aktivitas kenegaraan karena sakit."
"Terlihat sangat jelas."
"Putra Mahkota memang sangat menyayangi Stella. Sayangnya …."
"Kecemburuan tidak mengenal tempat, Erin."
Roxena tidak heran lagi dengan hal tersebut. Karena ia sudah pernah melihat istana yang berlumuran darah karena kecemburuan. Jangankan saudara tiri, saudara kandung yang saling menyayangi pun bisa saling menghianati.
"Bagaimana pergerakan dari Elisa dan Regis? Mereka menginap di mana?"
"Mereka menginap di Royal Hotel, Nona. Untuk pergerakan, untuk sementara mereka belum melakukan apa-apa. Tapi, justru ini mengherankan. Dengan karakter Elisa, dia pasti akan langsung mendatangi Tuan."
"Di sampingnya ada Regis, Erin." Cukup menjawab satu kebingungan Erin.
"Lalu mengenai pergerakan mereka … mungkin setelah kita berangkat ke China."
Erin membulatkan matanya. Ia lupa mengenai hal itu. Gurat kecemasan terlihat jelas. Terheran melihat Roxena yang tenang.
"Apa kita kekurangan orang untuk menjaga suamiku, Erin?"
"Tidak, Nona!"
"Gerald bisa menjaga batasan. Tidak perlu cemas."
*
*
*
"Bersabarlah satu hari lagi, Elisa."
Elisa sangat tidak sabar untuk bertemu dan membawa Gerald pergi dari Madrid.
"Tapi, aku takut Regis."
Elisa takut jika Gerald menolaknya seperti kemarin. "Apapun yang terjadi, kita akan membawanya pergi dari sini."
Elisa berkaca-kaca. Regis sungguh baik padanya. Regis langsung menyusul dirinya. Menahan dirinya untuk tidak berbuat gegabah. Awalnya, Regis menentang keinginan Elisa. Berniat memaksa Elisa untuk kembali ke Luxembourg.
Namun, lagi-lagi Regis dan tidak sanggup melihat air mata Elisa. Mengubur keinginannya sendiri, Regis memutuskan untuk membantu Elisa secara tuntas kali ini.
Dimulai dengan mencari tahu jadwal Roxena. Seakan diberkahi, ternyata dalam waktu dekat Roxena akan terbang ke Shanghai. Disitulah kesempatan untuk bisa menjalankan rencana. Jika bujukan Elisa tidak mempan, maka pemaksaan harus dilakukan.
"Istirahatlah." Elisa mengangguk kemudian kembali ke kamar inapnya. Meninggalkan Regis yang tersenyum kecut setelah Elisa menghilang dari pandangnya.
"Egois jika aku memaksakan kehendakku. Cinta bukan keegoisan. Cinta bukan pemaksaan. Tapi, ketulusan." Bahagia Elisa bukan dengannya tapi dengan Regis.
Di hati Elisa, tidak ada lagi ruang kosong. Sudah terisi penuh dengan Gerald. Regis cemburu pada Gerald bisa menjadi cinta mati Elisa.
"Semoga kau bahagia, Elisa. Meskipun tidak bersama denganku."
"Tuan, Anda terlalu baik. Berkorban tapi tidak dianggap."
"Cinta tidak mengenal batasan. Aku hanya mengikuti isi hatiku."
"Tapi, bagaimana dengan Tuan dan Nyonya Besar, Tuan?" Asisten kembali bertanya.
"Aku akan menjelaskan pada Ayah dan Ibu. Aku yakin mereka tidak akan mempermasalahkannya. Hanya saja mungkin mereka akan menjodohkanku," jawab Regis.
__ADS_1
Sang Asisten turut prihatin dengan asmara Gerald. Padahal bisa memiliki. Tapi, memilih untuk mempersatukan dua insan yang terpisah.
"Tidak ada pengorbanan yang sia-sia. Aku yakin … takdir untukku sudah disiapkan seindah mungkin."