
Hari sudah berganti. Kondisi Gerald sudah lebih baik daripada sebelumnya. Meskipun, ia belum bisa turun dari ranjang. Dokter Liu datang memeriksa 3 kali sehari. Erin tak datang lagi. Sementara, Gerald selalu bertanya tentang Roxena.
Alasan yang diberikan Dokter Liu terkesan tak masuk akal namun meyakinkan. Dokter Liu mengatakan bahwa Roxena ada urusan mendadak di luar yang tidak bisa ditinggalkan. Dan perawatan Gerald dipercaya pada Dokter Liu.
Kebosanan dan khawatir melanda Gerald. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain makan, minum, dan tidur. Memasuki hari ketiga, barulah Roxena menunjukkan batang hidungnya. Gerald tengah membaca sebuah buku.
"Kau sedang apa?"tanya Roxena dengan memposisikan wajahnya di dekat wajah Gerald.
Gerald terkejut. Kapan Xena masuk? Mengapa aku tidak mendengar langkahnya? Telinga Gerald memerah, wajah Roxena terlalu dekat. Tapi, tak ada keinginan untuk menjauh.
"Buku ini … apa kau paham?"tanya Roxena lagi, setelah melihat isi buku.
"Tidak." Gerald meletakkan buku di sisinya. "Tapi, isinya menarik."
"Oh." Roxena beranjak, beralih duduk di tepi ranjang. Menilik lekat Gerald. Pria itu menjadi salah tingkah. "Lukamu bagaimana?"
"Sudah mulai kering. Dokter Liu merawatku dengan baik."
"Baguslah."
"Omong-omong, Xena. Mengapa kau memiliki buku ini?"tanya Gerald mengalihkan pandangannya pada buku yang ia baca tadi. Roxena mengeryit tak senang. Ia menggembungkan pipinya.
"Apa buku itu lebih penting daripada menanyakan kabarku lebih dulu?!"ketus Roxena.
Eh?
Gerald panik seketika. Ia berusaha untuk menggapai jemari Roxena. Tak ayal, lukanya sedikit tertekan. Gerald tak peduli, ia berhasil menggapainya. Buru-buru menjelaskan.
"Bukan begitu. Aku hanya sedikit penasaran tentang itu. Aku merindukanmu, Xena."
"Aku khawatir padamu. Juga takut jika kau memang tidak peduli padaku. Beberapa hari ini aku menunggu dengan harapan yang tidak pasti."
"Tapi, semua itu sirna saat kau ada di sisiku. Tolong jangan marah. Di dunia ini tidak ada yang bisa menggantikanmu, Xena. Apa kau percaya padaku?"
Roxena tersenyum. "Aku percaya padamu."
"Aku senang," sahut Gerald menarik Roxena dalam pelukannya.
"Maaf, Xena."
__ADS_1
"For?"
"Andai saja aku lebih teliti dan mengingat kata-kata untuk waspada selalu, kau jadi hampir celaka." Gerald menundukkan kepalanya. Ini adalah salah satu hal yang mengusik hatinya.
"Bukan karena kencan kita. Lagipula aku tidak terluka. Meskipun aku tidak senang dengan tindakanmu ini, terima kasih." Ucapan yang tulus. Seketika melegakan hati Gerald. Gerald menggeleng, menyangkal bahwa memang sudah seharusnya ia berbuat seperti ini. Lebih baik ia yang terluka daripada Roxena. Sudah cukup ia melihat Roxena terluka hingga berada di ujung kematian.
*
*
*
Hari sudah sore. Gerald yang bosan di kamar, mengajak Roxena untuk keluar kamar. Roxena mempertimbangkan sesaat sebelum menyetujuinya.
Gerald terpana saat keluar dari kamar. Ia
dipapah oleh Roxena. Empat bangunan berhadapan membentuk bangunan bujur sangkar, dengan menara tinggi keempat penjuru mata angin. Kemudian pepohonan pinus yang menjulang tinggi, berhembus pelan ditiup angin. Dan bendera di setiap sudut yang memancarkan pesona tersendiri.
Warnanya yang perpaduan biru dan putih mendominasi memberikan kesan mewah layaknya istana kerajaan. Roxena terkekeh pelan melihat ekspresi Gerald. Bangunan ini memang ia desain memadukan konsep klasik dan modern, tak berlebihan jika disebut sebagai sebuah istana.
"Apa ini kediamanmu yang lain, Xena? Ini lebih mewah dari kediaman utama Lawrence, atau mungkin istana kerajaan!"seru takjub Gerald. Roxena membawa Gerald duduk di kursi. Menikmati langit sore di balik pucuk pinus.
"Tinggal di sini?" Gerald menajamkan penglihatannya. Ia menilik lekat bangunan ini. Meskipun mewah … ada kesan misterius, mendominasi dan mengerikan dari bangunan ini. Terlebih benderanya. Indah tapi menakutkan.
"Aku pikir ini terlalu luas."
"Benar, ini terlalu luas untuk kita berdua. Jarak dari satu ruang ke ruang lain sangat jauh. Merepotkan," imbuh Roxena menyetujui.
"Mungkin kita bisa menginap sesekali di sini. Di sana-" Gerald menunjuk menara utama tempat Roxena biasa menenangkan diri. "Pasti sangat cocok untuk melihat sunset dan juga langit malam."
Roxena menyetujuinya. "Tapi, Xena sebenarnya ini tempat apa? Sebelumnya aku tidak menyadari. Sekarang aku melihat hal yang seharusnya aku lihat. Bendera itu, apa tempat ini sebuah markas? Dan orang-orang itu adalah anggota? Meskipun indah, bangunan ini terasa menyeramkan. Dan orang-orang itu sangat menghormatimu. Lalu aku ingat, Dokter Liu memanggilmu Lady, bukan Nona. Bukankah Lady sebutan untuk wanita yang bangsawan atau wanita yang memiliki status sosial tinggi? Siapa kau sebenarnya, Xena?"
Seperti yang diharapkan. Mana mungkin Gerald tidak menyadarinya. Dia peka.
Roxena berdiri, maju beberapa langkah dengan kedua tangan di belakang, membelakangi Gerald. Roxena menatap lurus ke depan. Ia sudah memikirkan hal ini cukup matang. Bisa mengelak hanya saja sampai kapan harus mengelak?
"Mungkin kisah hidup dan pekerjaanku sangat klise dengan novel-novel romantis di luaran sana. Identitasku yang kau kenal benar adanya. Aku, Roxena Lawrence merupakan putri tunggal keluarga Lawrence, kepala keluarga serta Presdir Lawrence Group. Tidak ada kebohongan sama sekali di dalamnya. Hanya saja … aku ini sudah hidup dan mati puluhan kali. Selama itu aku belajar satu hal, aku harus mempunyai kekuatan untuk melindungi diriku sendiri."
Gerald mencerna setiap kata yang Roxena lontarkan. Roxena menghela nafasnya pelan. "Hidupku ini tidak mudah. Menjadi pusat perhatian itu merepotkan."
__ADS_1
"Apalagi dengan kehadiran anak di luar nikah itu, aku merasa terancam. Aku memutuskan untuk membangun kekuatanku sendiri. Pengalaman dan kemampuanku sangat membantu. Dan kini sudah hampir 2 dekade kekuatan besar ini berdiri. Di depan menerima rasa hormat di belakang memberikan intimidasi."
Semakin mendekati semakin jantung Gerald berdebar kencang. Ia yakin identitas Roxena ini pasti tidak biasa apalagi normal. Ada satu tebakan dalam benaknya.
"Aku akan memperkenalkan diriku lagi dengan identitas lainku. Aku, Roxena Lawrence, Sang Lady Light and Shadow!"
Gerald mengerjap. Ia asing dengan nama itu. Tapi, yang pasti ia tahu pekerjaan apa itu. Gerald berusaha untuk berdiri. Lalu melangkah dan memeluk Roxena. "Kau hebat, Xena."
Dirinya tak berhak menghakimi pekerjaan Roxena. Sekalipun itu pekerjaan yang mempertaruhkan nyawa. Mafia bukan hanya harus bisa bersaing secara ekonomi namun juga secara kekuatan bela diri atau militer.
Terjawab kini mengapa Roxena sering terluka dan memiliki banyak bekas luka. Dua posisi yang sama-sama tinggi, tak heran memiliki banyak lawan yang ingin menjatuhkan.
"Kau tidak terkejut?"
"Dengan temperamen dan kekuatanmu, aku sama sekali tidak terkejut."
"Kau tidak keberatan?"tanya Roxena lagi.
"Tanganku ini sudah berlumuran banyak darah. Dan akan begitu seterusnya. Sementara kau adalah seorang dokter, pekerjaanku ini bertentangan dengan pekerjaanmu." Roxena memejamkan matanya. Terbayang saat-saat ia menghunuskan senjatanya menghabiskan nyawa musuh.
"Jika kau meragukan pertentangan pekerjaan kita, maka apa bedanya dengan pekerjaan di antara dokter dan tentara? Meskipun mereka dipersiapkan untuk melindungi negara, perang akan memakan banyak korban, baik militer maupun sipil. Aku pikir, itu tidak perlu dipermasalahkan karena aku yakin kau tidak akan membunuh jika tidak diusik."
"Hanya saja aku ingin kau berjanji satu hal padaku." Gerald membalikkan tubuh Roxena. Keduanya saling menatap untuk waktu yang cukup lama.
"Berusaha untuk tidak terluka," pinta Gerald.
Detik itu juga, Roxena langsung memeluk Gerald. Menyandarkan kepalanya pada dada Gerald. Saat itu juga Roxena sudah memutuskan, Gerald adalah satu-satunya rumah untuknya.
Pria berpendidikan ini memahami dirinya. Ya, meskipun sebelumnya sangat bertentangan. "Aku mencintaimu, Xena. Aku mencintaimu." Gerald mengecup lama dahi Roxena.
"Aku juga, Gerald." Roxena mulai mengakuinya.
Sore itu adalah sore yang paling membahagiakan bagi keduanya. Pengakuan itu membuat mereka semakin dekat.
*
*
*
__ADS_1