Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 47 Penjara Cinta Roxena


__ADS_3

"Selamat pagi, Prof. Gerald," sapa ramah Dokter Glenn saat Gerald tiba di gedung departemennya.


"Pagi, Dokter Glenn," sapa balik Gerald.


"Bagaimana kondisi pasien?"tanya Gerald pada dokter Gleen. Dokter Glenn bertindak sebagai asisten Gerald.


"Kondisinya cukup stabil, Prof. Saya mengontrol dan menyuntikkan obat sesuai dengan yang Anda resepkan. Jika kondisinya tetap stabil, sebentar lagi akan sadar," jelas Dokter Glenn bersemangat.


"Pantau terus. Sebentar lagi saya akan melakukan pemeriksaan terhadap pasien," ujar Gerald. Dokter Glenn mengangguk paham.


"Oh iya, Prof." Ucapan itu menahan langkah Gerald membuka pintu ruangannya.


"Ya?"


"Saya ingin minta maaf untuk hal kemarin sore, seharusnya saya tidak memaksa Anda minum. Saya … tidak tahu kalau Anda lemah terhadap alkohol," sesal Dokter Glenn seraya membungkuk tubuhnya.


Gerald menatap dingin itu. Ia ingat, dokter Glenn lah yang membujuknya minum walau sedikit.


"Saya harap ini yang terakhir!"ucap Gerald dingin.


"Terima kasih, Prof!"


Gerald masuk ke dalam ruangannya. Dokter Glenn menunggu dengan nafas lega. Tak berselang lama, Gerald keluar dengan jas dokternya. Siap untuk berkeliling menjenguk dan memeriksa pasien yang berada di bawah penanganannya.


*


*


*


"Apa belum tiba juga?"gumam Gerald setelah memeriksa ponselnya. Sudah beberapa kali ia memeriksa ponsel itu, menunggu sesuatu yang tak kunjung muncul.


Padahal ini sudah jam makan siang.


Menatap jam di pergelangan tangannya. Menerka ke negara mana sebenarnya Roxena.


Tiba-tiba hatinya mencelos sedih. Ekspresinya berubah muram. Padahal Roxena sudah berjanji. Atau sebenarnya tidak percaya jika ia sudah menerima semua ini? Padahal sudah ada kesepakatan yang legal?.


Wanita memang sulit dimengerti.


Ahh …. .


Ekspresi Gerald kembali berubah. "Istriku orang sibuk. Ku pikir lebih sibuk dari seorang dokter. Sudahlah, dia orang yang tepat janji. Mungkin urusannya tidak bisa ditunda," monolog Gerald menyemangati dirinya sendiri.


"Eh! Sebentar. Mengapa seperti ini? Hatiku sudah berubah? Aku merindukan dan mengkhawatirkannya. Meskipun aku menyangkalnya, perasaan itu malah semakin kuat."


Gerald frustasi sendiri. Ia mengacak rambutnya kasar. "Aku berharap tabir ku segera terbuka. Aku ingin mengingat masa laluku. Dengan sikapnya, aku pasti menyebabkan banyak benang merah. Aku harus mengubahnya menjadi benang biru! Gerald, tampaknya ini memang karmamu!'


*


*


*


"Negara ekspor memberhentikan tambang diekspor dalam bentuk mentah. Hilirisasi yang dilakukan ini menimbulkan kerugian bagi perusahaan manufaktur terkait. Dan saat ini uni Eropa tengah mengajukan keberatan kepada organisasi perdagangan nasional. Nona, akankah larangan itu dicabut?"


Kasus itu tengah menjadi perbincangan hangat di kalangan perusahaan manufaktur yang berhubungan dengan hasil tambang. Gerakan yang dilakukan negara tersebut tentu berpengaruh besar, perusahaan manufaktur terkait akan terancam sulit bahkan berhenti beroperasi. Dan tentunya akan berujung pada tingginya pengangguran.


"Bersyukur kita tidak memiliki anak perusahaan manufaktur pertambangan. Jika tidak, kita akan mengalami kerugian." Erin menghela nafas lega. Sedang Roxena masih menatap layar tabletnya.


"Yang ingin maju bukan hanya manusia, Erin. Negara juga harus maju untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya."


"Gebrakan yang mereka buat adalah bagian dari misi mereka. Pimpinan mereka berani mengambil resiko sekalipun harus berhadapan dengan organisasi besar dunia."


"Anda benar, Nona! Perusahaan manufaktur mendapat keuntungan dari mengolah bahan mentah. Jika punya bahan mentah sendiri dan membangun pabrik lalu mengekspor dalam bentuk barang setengah jadi, nilainya akan melesat tinggi! Untuk negara berkembang tentu itu sangat membantu! Tapi, di pandangan orang yang membutuhkan barang mentah tentu hal tersebut merupakan pedang. Ahh … Anda benar, Nona. Meskipun suatu negara punya otoritas tinggi, akan sulit bertentangan dengan negara yang memiliki otoritas lebih tinggi. Kecuali jika menjadi negara adidaya yang kuat!" Erin mendengus pelan.


"Haha … kau benar, Erin. Di dunia ini, yang kuat akan dipandang. Jadi, kita harus mendapatkan otoritas tertinggi hingga menyaingi otoritas negara. Hingga aku tidak perlu lagi menundukkan kepala di depan raja dan ratu. Sampai mereka tidak berani lagi mengusikku dan tunduk di bawah kekuasaanku!" Roxena menyeringai. Ambisinya besar, semakin besar dan berkembang.


"Nona, ucapan Anda seperti hendak menggulingkan pemerintahan."


"Jika tidak … bukankah sebaliknya, Erin? Ah kau lihat kemarin kan, koalisi keluarga ESA dengan keluarga kerajaan terlihat jelas dan tujuan mereka adalah Lawrence Group. Kekuatan yang lebih besar adalah ancaman."


Erin mengangguk paham. "Jadi, jalankan saja rencana kita. Jangan terpengaruh oleh apapun!"ucap Roxena tegas.


"Si, Nona! Saya sudah mengatur semuanya."


Roxena mengangguk paham. Ia kemudian melambaikan tangannya meminta Erin keluar.

__ADS_1


Hari sudah sore. Roxena berada di kamar hotelnya, tadi mengobrol santai ditemani dengan secangkir teh.


Setelah mendarat tadi mereka langsung menuju ke Draco Group untuk membahas kerja sama yang sudah terjalin. Lalu meninjau langsung perusahaan yang diakuisisi. Setelahnya baru ke hotel yang sudah dibooking.


Roxena mengernyitkan dahinya. Sepertinya ia melupakan sesuatu. Sesuatu yang penting.


Mengingat-ingat. Schedule apa saja yang sudah ia lakukan.


"God!!" Roxena memekik.


Ia dengan panik mencari ponselnya.


"Sial-sial! Bagaimana bisa aku lupa!!" Meruntuki kelupaan dirinya.


Mengetikkan pesan yang cukup panjang. Namun, kembali dihapus dan diganti dengan kalimat singkat.


Aku sudah sampai.


Padahal sebelumnya kalimat itu adalah kalimat panjang yang berisi penjelasan rinci. Sayang, dirinya gengsi dan tsundere.


Ya.


Dibalas singkat pula oleh Gerald.


"Hanya Ya?" Dirinya kesal.


Jangan macam-macam!


Aku tahu.


"Aku tanya soal makan? CK, kekanakan sekali. Aktivitasnya hari ini? Buang waktu membacanya lagi. Lalu aku tanya sedang apa, ahhh … bukan urusanku juga!"


"F*uck! Pembicaraan normal apa ini?!"erang Roxena frustasi. Menatap layar chat yang terhenti.


Ding!


Kau … apakah sudah makan?


Roxena membulatkan matanya. "Dia bertanya?"


"Ahh lupakan saja. Dia bertanya aku menjawab."


Sudah.


Kau sendiri?


Ding!


Ini sedang makan.


Apa pekerjaanmu lancar? Kau pasti sangat sibuk. Aku tidak akan mengganggumu lagi.


"Hah?!" Roxena terkejut.


Tapi ….


Ya.


Setelah mengirim itu tidak ada balasan. Hanya ada pemberitahuan pesan telah dibaca.


Roxena menatap ponselnya cukup lama sebelum akhirnya meletakkan kasar di atas sofa. "Aku pasti sudah gila. Pembicaraan kaku itu benar-benar menyebalkan!"


"Perasaan menyebalkan! Mengapa berubah sesukanya? Aku itu membencinya setengah mati mengapa kau malah lemah dan mencintainya?!"hardik Roxena pada dirinya sendiri.


"Penderitaanmu di masa lalu, kehilangan anak, suami, dan keluarga, disebabkan olehnya!! Kau benar-benar tercela jika menaruh perasaan padanya!!"


Roxena memaki dirinya sendiri. Suaranya seperti sebuah raungan. Roxena menundukkan kepalanya.


"Takdir sialan ini!" Kemudian menggeram kesal. "Tetapkan saja takdirku adalah membalas dendam. Jangan kau ubah-ubah lagi! Kau pikir aku senang dengan hidup mati itu, hah?! Saat yang ku kejar dapat kau malah seenaknya membolak-balik hatiku!!"umpat Roxena. Ia benar-benar kesal.


"Takdir sialan, apapun perubahan yang kau buat aku akan tetap pada rencanamu! Coba saja ubah sesukamu, kau tidak akan bisa! Pada akhirnya dia akan mati di tanganku!!"


Mematikan dan berdamai dengan sakit hati yang telah terpatri puluhan kehidupan mana mungkin cukup dengan selembar kesepakatan. Kebenciannya amat besar. Dendamnya telah berakar di dalam setiap sel dalam tubuhnya. Hatinya … akan sulit untuk ditembus. Hanya dengan bersikap patuh mana mungkin merobek tembok kokoh di hati Roxena. Perubahan hanya dalam beberapa hari, itu mustahil kecuali berpura-pura.


Hahh!!


"Meskipun berulang kali aku katakan akan mengikuti alurnya, kekesalanku tidak terbendung lagi." Roxena memejamkan matanya dengan kedua tangan di atas kepalanya.

__ADS_1


Kepalanya berdenyut pusing. Suasana hatinya sangat buruk.


"Ahh … dasar plin-plan. Perasaan kecil itu malah semakin besar."


*


*


*


"Selamat malam, Tuan." Erin dan Sophia menyapa Gerald yang baru pulang kerja. Tadi ada pasien darurat yang harus ia tanganin. Menyebabkan pulang lebih lama.


Belakangan ini, Gerald terbiasa dengan kehadiran Roxena. Memasuki rumah tanpa ada Roxena, rasanya ada yang kosong. Gerald melemparkan kasar tubuhnya di atas sofa, merenggangkan dasinya.


"Makan malam sudah siap, Tuan."


"Aku akan makan sebentar lagi."


Tampaknya ada sesuatu yang mempengaruhi suasana hati Gerald selain Roxena.


Benar. Sebelum pulang tadi ia berbicara dengan orang tua pasien yang melakukan operasi Bentall kemarin. Mereka adalah keluarga bangsawan Spanyol yang dihormati. Mereka memiliki pengaruh di bidang politik dan ekonomi khususnya bidang fashion. Mereka tampak berkuasa.


Dan saat itu pula, teman orang itu menelpon dan dunia memang kecil. Yang merekomendasikan dirinya adalah Walikota Bright, orang tua dari pasien yang pernah ia operasi. Dan Gerald sempat menyapa walikota Bright.


"Prof. Gerald kami berhutang budi pada Anda. Jika Anda membutuhkan bantuan saya, katakan saja. Kami akan membantu dengan sepenuh hati meskipun Anda meminta kebebasan."


Ucapan orang tua pasien itu terngiang di benaknya. Ya, tak dapat dipungkiri keinginan lari masih ada di hatinya. Namun, logikanya menolak. Keinginan itu tidak boleh mengalahkan tekadnya!!


Meskipun itu menggiurkan dan meyakinkan, Gerald tetap tinggal.


"Hah!! Rumit … semakin rumit saja." Bergumam seraya memijat pangkal hidungnya.


Tapi, perasaanku lebih baik jika berbicara dengannya.


Gerald meraih ponselnya. Dicarinya nomor kontak Roxena, berniat mengirim pesan.


Meskipun sibuk jangan paksakan dirimu. Jangan terluka, jangan telat makan. Aku … merindukanmu. Selamat malam.


Seulas senyum Gerald sunggingkan saat ada pemberitahuan pesan sudah dibaca. Dalam hatinya berbunga-bunga. Artinya Roxena menanti pesannya.


Konyol. Khawatirkan dirimu sendiri.


"Kadang es kadang api." Terkekeh pelan.


Tentu. Aku juga masih sayang nyawaku.


Ding.


Nyawamu milikku!!


"Hggh! Apa dia titisan tirani?!"gerutu Gerald.


Selamat malam.


"Ahh?"


Gerald kembali tersenyum.


Iya.


Percakapan itu berakhir. Gerald membawa langkahnya menuju ruang makan.


Selesai makan ia langsung menuju kamar.


Gerald mengingat-ingat hubungan dengan Elisa dulu. Cara mereka berkomunikasi dan cara mereka menyampaikan perasaan.


Kini Gerald sudah membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Sudah mendapatkan jawaban untuk itu. Jika diingat-ingat, Elisa lah yang aktif mendekati dan mengajaknya berkomunikasi. Elisa pula yang aktif menunjukkan perasaan padanya. Gerald terbiasa dengan posisi sebagai penerima.


Melakukan hal diluar kebiasaan tentu hal yang cukup berat.


Roxena dan Gerald sama-sama pasif dalam hubungan mereka. Hubungan mereka memang terjalin tapi hubungan yang terkesan kaku. Harus ada yang memulai dengan intens dan menghilangkan gengsi.


Harus ada yang memulai dengan aktif dan intens.


Itu memang tidak mudah.


"Okay. Sudah ku putuskan!!"

__ADS_1


__ADS_2