Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 81 Penjara Cinta Roxena


__ADS_3

Hari-hari tenang Gerald dan Roxena lewati. Tak ada yang menganggu atau masalah berarti. Semenjak hamil, Roxena mulai meninggalkan dirinya yang seperti biasa, seolah terlahir menjadi sosok yang berbeda. Note, hanya pada Gerald saja. Hingga terkadang, Gerald kewalahan menangani Roxena yang manja. Bahkan Roxena tak segan mengganggu Gerald yang tengah sibuk menyelesaikan tugasnya di rumah.


Tak hanya itu, belakangan ini Roxena rutin menghubungi Gerald saat jam makan siang. Terkadang juga memberi kejutan dengan tiba-tiba datang ke departemen Gerald tanpa pemberitahuan. Tentu saja menunjukkan kedinginan di luar, “apa aku harus membuat pemberitahuan untuk mengunjungi anak perusahaanku?” Yang mana menyiratkan apa butuh izin bertemu dengan suami?


Dan berubah menjadi manja saat sudah berdua. Roxena memiliki hobi baru sekarang yakni mencubit gemas pipi Gerald. Gerald hanya pasrah menerima perlakuan itu. Di tengah kebucinan sejoli itu tentu ada yang kesal dan menderita, tak lain adalah Erin yang harus sering-sering menjadwalkan ulang agenda Roxena. Belum lagi harus menghadapi keterlambatan meeting karena Roxena yang enggan kembali ke kantor ataupun terjebak macet.


Tapi, tetap saja menjadi pembicaraan hangat, terlebih setelah pecahnya postingan Roxena. Ada banyak media yang membahas tentang rumah tangga Roxena yang dinilai sangat harmonis dan saling mencintai terlepas dari rumor tak sedap sebelumnya yang menyebutkan bahwa pernikahan mereka tidak sah dan hanya disetujui oleh satu belah pihak. Postingan Roxena secara universal menghapus semua rumor itu.


“Katanya nanti malam akan ada fenomena langit.” Lily berkata pada Sophia saat keduanya tengah memasak makan malam.


“Really? Fenomena apa?”tanya Sophia penasaran.


“Kita bisa melihat planet dengan mata telanjang. Dikatakan posisinya akan sejajar. Juga ada okultasi venus dan bulan.” Sophia menautkan alisnya tertarik.


“Kita harus melihatnya!”


“Tentu saja!” Lily sangat excited.


Kabar akan adanya fenomena langit itu juga menarik perhatian Gerald. Sayangnya, ia tidak bisa pulang lebih awal. Ada jadwal operasi yang diprediksi selesai melewati jam pulang kerja. Begitu juga dengan Roxena yang harus lembur karena berkas laporan semakin menumpuk.


Tak lama setelah matahari tenggelam, Sophia dan Lily naik menuju rooftop sebab apartemen Roxena ini tak memiliki balkon. Saat tiba di rooftop, keduanya terpana melihat fenomena langit yang begitu indah di mana bulan, jupiter, dan venus berada dalam satu garis lurus. Dapat disaksikan dengan mata telanjang. Keduanya sontak langsung mengabadikan momen itu dengan kamera ponsel masing-masing. Tak lupa juga saling mengambil potret masing-masing dengan latar belakang mempesona itu.


“Ini sangat menakjubkan. Semesta sangat indah dengan pengaturannya!”kagum Sophia.


“Kau benar, Pia. Tuhan menciptakan dunia sedemikian rupa dengan keindahan dan keajaibannya. Sayang, masih banyak makhluk yang tidak bertanggung jawab,” sahut Lily, miris melihat kerusakan yang terjadi di alam. Ia sering mendengar bahwa bencana besar datang sebagai karma perbuatan manusia yang telah melampaui batas, yang tak pernah jera berbuat kerusakan. Namun, meskipun sudah ditegur, tampaknya tidak banyak perubahan.


“Untuk bisa memahami alam dan isinya, untuk bisa menjadi manusia yang baik, manusia itu perlu pedoman. Namun, ya realita tak semanis ekspektasi. Jika hukum atau pedoman benar-benar diindahkan, mana mungkin ada penjahat.” Sophia terkekeh. Merasa dunia terkadang sangat lucu dan tidak adil. Hitam dan putih bercampur, salah dibenarkan, benar disalahkan. Melindungi diri dianggap kejahatan. Celaka karena dicelakai malah tidak dipedulikan. Di balik tajamnya hukum masih ada yang bermain. Siasat licik dibalik tenangnya situasi. Benar, tidak bisa menilai seseorang dari luarnya saja. Harus luar dalam untuk tahu seseorang itu baik atau tidak. Terkadang caranya salah namun niatnya baik. Terkadang juga sebaliknya.


“Dunia ini penuh dengan tipuan. Namun, aku bersyukur dipertemukan dengan Nona dan juga kau, Pia. Setelah bertemu kalian aku tidak perlu takut dengan dunia. Aku percaya, di dunia yang tidak pasti ini masih ada cinta dan kesetiaan. Masih ada tempat yang benar-benar bisa dijadikan sandaran. Tempat yang hangat di dinginnya kegelapan,” ungkap Sophia, mendongak menatap langit dengan senyum lebarnya. Mengingat masa-masa sulit hidupnya sebelum berubah saat bertemu dengan Roxena kemudian dipasangkan dengan Lily.


“Sebelum bertemu dengan kalian aku tidak punya tujuan hidup. Yang aku pikirkan setiap hari adalah bagaimana caranya bertahan hidup. Sekarang setelah aku bisa bertahan hidup, aku menetapkan tujuanku. Mengabdi seumur hidup pada Nona dan melindungi keluargaku,” tambah Sophia. Hal yang sama juga dirasakan oleh Lily. Keduanya lantas berpelukan erat.


*


*


*


“Ada fenomena di langit, Nona,” beritahu Erin setelah melihat langit malam dari jendela ruangan Roxena.


Roxena menoleh sekilas, tak tertarik untuk mengetahuinya. “Bulan. Jupiter, dan Venus berada dalam satu garis.”


“Apa yang menarik darinya, Erin? Itu hanya fenomena biasa,” sahut Roxena.


“Mungkin karena hal itu jarang terlihat, Nona. Bagi kita mungkin hanya sebuah fenomena. Namun, akan berbeda jika di tangan yang tepat,” sahut Erin. Ia kembali menoleh ke arah ke jendela.


“Astronomi?”terka Roxena.


“Kembalilah bekerja, Erin. Aku sudah sangat merindukan suamiku!”tegas Roxena mulai kesal. Erin mencembik.


“Kemana perginya kedinginan dan rasa benci Anda, Nona?”celetuk Erin yang dibalas dengan tatapan tajam Roxena.

__ADS_1


“Anda jadi orang yang berbeda karena jatuh cinta. Saat ini Anda tengah menjilat ludah Anda sendiri,” ucap pedas Erin, tak peduli dengan tatapan Roxena yang seperti hendak memakannya.


“Aku membencinya. Aku akan membuatnya menderita. Dia akan memilih mati daripada hidup, ke mana semua kata-kata itu meluap, Nona?” Erin tak takut malah semakin menjadi.


“Erin!” Memanggil dengan nada rendah yang dingin.


“Anda sudah mengakuinya, Nona. Bahwa cinta dapat menghancurkan kebencian dan dendam, tidak peduli seberapa keras hati Anda pada akhirnya akan luluh juga,” seru Erin menggebu. Antara memprovokasi atau mengungkapkan fakta, yang pasti wajah Roxena merah padam karenanya. Ia kesal tapi yang dikatakan Erin tak salah.


“Cukup, Erin!”


“Anda malu?”


“Hahaha!!” Erin tertawa puas. Kapan lagi bisa menggoda Roxena seperti ini hingga tak mampu membalasnya? Erin menang.


“Diam kau!”


“Hahaha … Anda harus membuat perayaan, Nona!!” Erin kembali berseru sebelum berlari kecil meninggalkan ruangan Roxena. Roxena meletakkan kasar gelas yang hampir ia lemparkan pada Erin.


“Erin sialan!”gumam Roxena.


Namun ….


Roxena memikirkan kata-kata terakhir Erin. Rasanya tak sabar menunggu pertemuan keluarga di akhir musim gugur. Saat Gerald telah resmi masuk ke dalam keluarga Lawrence maka saat itulah ia bisa membuat perayaan untuk pernikahannya.


*


*


*


“Kau baru pulang?”


“Erin memberiku banyak berkas,” aduh Roxena. Gerald menoleh ke arah mobil Roxena, di mana Erin membuka jendela. Erin memutar bola matanya malas.


“Bukankah sebelumnya juga seperti ini?”heran Gerald.


“Itu berbeda. Sebelumnya tidak masalah aku pulang atau tidak. Sekarang kan sudah ada dirimu!”jawab Roxena.


“Ah … hehe.”


“Aku sangat lelah,” aduh Roxena lagi.


Tanpa bertanya, Gerald segera menggendong Roxena. Erin yang menyaksikan itu kembali memutar bola matanya. “Suka-suka Anda saja.”


“Sudah makan malam?” Gerald bertanya seraya menurunkan Roxena duduk di sofa.


“Sudah. Tapi, lapar lagi.” Nafsu makannya meningkat.


“Aku belum makan. Ayo makan bersama.”


Lily dan Sophia sigap menghidangkan makan malam. Sejoli itu menikmati makan malam mereka sebelum akhirnya mengistirahatkan tubuh setelah aktivitas seharian.

__ADS_1


*


*


*


“Kau baru pulang, Erin?”sapa Liu yang kebetulan baru kembali ke kamarnya. Kedua orang itu memiliki kamar yang sama. Keduanya bertemu di depan kamar.


“Hm.”


“Apa Lady mengikuti anjuran yang ku buat?”tanya Liu saat keduanya sudah masuk ke dalam kamar, duduk di sofa untuk menghilangkan penat mendera.


“Kau tahu Nona sangat peduli dengan bayinya. Dia menuruti yang kau anjurkan tanpa terkecuali. Teh paginya digantikan dengan jus kiwi. Makan siang dan malamnya teratur. Tidak merokok ataupun minum alkohol. Sayang, hanya emosinya yang tidak berubah,” ungkap Erin, menceritakan pengamatannya belakangan ini pada Liu.


“Baguslah.” Liu tersenyum lega.


“Kira-kira kapan Lady akan memberitahu Senor?”


“Dengan sikap Nona saat ini mungkin akan membiarkan Tuan menyadari sendiri. Ahh aku berharap tidak ada guncangan apapun. Aku ingin waktu berhenti untuk ketenangan ini.” Erin berujar dengan mata yang terpejam rapat.


“Sepertinya akan sulit. Musuh masih berdiri tegak, Erin. Meskipun LS menghancurkan markas Gerakan Misterius itu, menyentuh anggota inti kerajaan bukan hal mudah,” ucap Liu menganalisis.


Hal itu disetujui oleh Erin.


“Oh ya bagaimana kabar Jade? Aku dengar dia tertarik pada Lady kerajaan itu,” tanya Liu penasaran.


“Kau seperti tidak tahu Jade saja. Dia itu mata keranjang!”


“Hahaha … Playboy kelas kakap LS,” imbuh Liu tertawa.


“Entahlah, mendadak aku merasa kasihan pada Stella.” Teman kamar itu tertawa lepas.


“Eh, Erin … aku berencana pulang ke Shanghai selama beberapa hari,” beritahu Liu.


“Benarkah? Kapan? Aku mau ikut!!”


“Hm … sekitar satu minggu lagi. Tapi, apa kau akan mendapat izin, Erin?”ragu Liu, secara Erin kan asisten Roxena, tangan kanan utama.


Erin mengingat-ingat. Tak puas, ia mengambil tablet untuk mengecek jadwal Roxena. Senyumnya sumringah seketika, “aku tidak perlu izin!”


Ternyata Roxena memiliki jadwal pekerjaan ke Shanghai. Keduanya kembali tertawa lepas.


“Kau ingin melihatnya?”goda Liu saat Erin senyum-senyum sendiri. Erin tersipu.


“Ahhh … line 98 sangat mempesona. Tapi, apa mau dengan kita yang line 90 ini?”pikir Liu menggoda Erin.


“Ahhh hentikan, Liu! Itu terlalu jauh!!”


“Padahal kau yang berteriak lantang mau menculiknya. Hati-hati Erin, netizen dan fans China punya kekuatan besar,” beber Liu semakin membuat Erin kalap karena malu. Erin bahkan bersembunyi di balik selimutnya. Tak mampu menahan rasa senang dan malunya.


Liu tertawa puas, Sangat mudah menggoda Erin, cukup gunakan saja aktor favoritnya. Liu kemudian menatap dinding yang penuh dengan poster dan foto aktor favorit Erin. Dengan beragam pose dan ekspresi. Liu menggeleng pelan. Liu lalu melangkah mendekati jendela.

__ADS_1


“Air yang tenang menghanyutkan”, bisiknya pada keheningan.


__ADS_2